Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Shakala Fathan Elgio Genova, berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Zakira. Gadis manis yang ia temui tanpa sengaja di perusahaannya. Zakira adalah salah satu karyawan di perusahaannya.
Namun, sayangnya saat ia mengutarakan niatnya untuknya melamar gadis itu. Terjadi kesalahpahaman, antara Fathan dan Mamanya. Nyonya Yulia, yang adalah Mamanya Fathan. Malah melamar Nabila, yang tidak lain sepupu dari Zakira. Nyonya Yulia, memang hanya mengenal sosok Nabila, putri Kanayah dan Jhonatan. Mereka adalah rekan bisnis dan keluarga mereka memang sangat dekat.
Nyonya Yulia juga mengenal dengan baik keluarga bakal calon besannya. Akan tetapi, ia tidak pernah tahu, kalau keluarga itu memiliki dua orang anak perempuan. Terjadi perdebatan sengit, antara Fathan dan sang Mama yang telah melakukan kesalahan.
Nabila yang sudah lama menyukai Fathan, menyambut dengan gembira. Sedangkan Zakira, hanya bisa merelakan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha mawik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35.
Abizar tiba di rumahnya, tepat dini hari. Bayangan wajah polos Zakira bermain di ujung matanya. Begitu pula, gambaran sosok Fathan yang terpuruk terus bermain-main di ingatan. Tepat setelah azan subuh berkumandang, barulah Abizar dapat memejamkan matanya.
Abizar terbangun, saat mendengar suara dering ponselnya. Satu notif masuk, dari Soni. Asisten Fathan itu, memberitahu kalau keadaan bosnya sudah baik-baik saja. Abizar menarik napas lega, setidaknya saat ini Fathan dapat menjalani harinya seperti biasa.
Tidak seperti sebelumnya, saat pemuda itu dikecewakan oleh orang yang dicintainya beberapa tahun lalu. Memang tidak separah ini, hanya saja mengubah sifat Fathan yang sebelumnya ramah, menjadi angkuh.
Abizar melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Ia melihat, Ibunya sedang duduk menikmati sarapannya.
Tap... tap... tap...
Pandangan wanita enam puluh tahun itu, terarah ke sumber suara. Dengan senyum dan tatapan hangat, ia menyambut putra semata wayangnya.
"Selamat pagi, Bu!" sapa Abizar.
"Pagi. Ayo, sarapan," ajak sang Ibu.
Abizar hanya menjawab dengan anggukan kepala. Menarik kursi dan mulai duduk di hadapan Ibunya. Setelahnya, tidak ada percakapan antara Ibu dan anak itu. Suasana sunyi, hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
"Bu, lusa kita akan pulang," ucap Abizar.
Setelah sekian detik ia mengumpulkan keberanian, akhirnya ia buka suara juga. Rosa menatap dalam wajah putranya.
"Pulang?" kata Rosa mengulang ucapan Abizar.
Pemuda itu mengangguk pelan.
"Tiba-tiba sekali?" Cetus Rosa lagi.
"Urusan Abi, di sini sudah selesai. Itu artinya, kita harus pulang," sahut Abizar.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan tersenyum pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Lalu, bagaimana kerja sama kamu sama Fathan?" tanya Rosa.
Abizar menarik napas dalam dan mengembus kasar. "Kerja sama itu batal, Ma."
"Apa, batal?" ucap Rosa.
Abizar kembali mengangguk pelan.
"Tapi, kenapa? Bukanya, kalian udah sepakat dan yakin kalau itu akan berhasil?" tanya Rosa heran.
"Proyek itu, tidak bisa menembus pasar," ucap Abizar.
Akan tetapi, Rosa tidak percaya begitu saja dengan pengakuan putranya. Ia yakin, pasti ada sesuatu yang Abizar sembunyikan. Namun, ia tidak akan bertanya lagi. Rosa yakin, suatu saat pemuda itu pasti akan mengatakan alasannya.
****
"Bil!" panggil Nabila.
Nabil menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Nabila tersenyum dan melangkah setengah berlari kemudian mendekati saudaranya.
"Mau ke mana?" tanya Nabila. Pasalnya, ia melihat tampilan Nabil yang rapi.
"Gue mau ke butik, antar ini." Nabil mengangkat map biru yang ada ditangannya.
"Punya, Mama?" tanya Nabila.
"Iya, tadi Mama telepon dan bilang kalau berkasnya ketinggalan," jawab Nabil.
"Aku ikut, ya!" pinta Nabila.
Nabil menautkan kedua alisnya heran.
"Lu, mau ikut ke butik?" tanya Nabil.
Nabila mengangguk cepat.
"Gue bakal lama di sana, seharian mungkin," kata Nabil lagi.
"Gak apa-apa, aku bosan di rumah setiap hari. Keluar palingan kuliah, pulangnya manyun di rumah," keluh Nabila.
Sejak kejadian kemarin, Nabila mendapat hukuman dari Kanayah. Ia tidak diizinkan keluar rumah selain kuliah. Di rumah pun ia hanya sendirian. Jangan ditanya, kemana perginya bayangan Nabila yang sering bersamanya.
Setelah Nabila mendapat hukuman dari Mama nya, Sukma seakan lepas tangan dan tidak mau tahu apapun tentang Nabila. Kalau dulu, jika Nabila dihukum. Sukma adalah orang pertama yang akan membelanya. Bahkan, ia bermain melanggar larangan Kanayah.
"Dayang-dayang, lu mana?" potong Nabil.
"Dayang-dayang, siapa?" tanya Nabila.
"Itu, yang sering bersama lu, biasanya," jawab Nabil.
Nabila tampak berpikir sejenak, kemudian ia pun paham siapa yang dimaksud Nabil.
"Maksud kamu Oma? Oma lagi keluar, dia akhir-akhir ini sibuk banget," jelas Nabila.
Nabil berpikir sejenak, kemudian ia pun mengiyakan permintaan Nabila.
"Ya, udah ayok!" ajak Nabil.
"Yes!" Nabila melompat kegirangan.
"Eh, jangan senang dulu!" cetus Nabil.
Nabila melihat ke arah Nabila dengan tatapan bingung.
"Ganti pakaian, lu. Gue gak mau, bawa lu ke butik dengan pakaian seperti ini," kata Nabil lagi.
"Tapi, tungguin aku, ya!" pinta Nabila.
"Iya, gue tungguin," sahut Nabil.
Nabila pun kembali berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Dua puluh menit kemudian, Nabila pun turun dengan pakaian yang lebih sopan.
"Nah, gitu dong! Kalau gini, kan gak malu-maluin gue," ucap Nabil asal.
"Bawel banget, sih!" protes Nabila.
Nabil hanya tersenyum menanggapi ucapan saudarinya.
"Eh, kalian mau ke mana?" tanya sukma, yang baru saja pulang berbelanja.
"Oma! Lho, katanya Oma belanja? Mana belanjanya?" Tanya Nabila heran.
Pasalnya, saat sebelum pergi tadi. Sukma mengatakan akan berbelanja kebutuhannya.
"Gak jadi!" sahut Sukma dengan ketus. Wajahnya, tiba-tiba melirik ke arah Nabil.
"Lho, kenapa?" tanya Nabila.
"Ini semua pasti ulah mama kamu," tuding Sukma.
"Lho, kok mama? Kan, mama gak tau apa-apa," sela Nabil.
"Pasti, ulah mama kamu," tuding Sukma.
"Jangan asal tuduh, Oma! Kalau mama tau, mama pasti ngamuk," sahut Nabil.
"Lalu siapa lagi, hanya mama kamu yang selalu menganggu kesenangan saya," jawab Sukma.
"Emang mama ngapain?" tanya Nabil penasaran.
"Gara-gara mama kamu, saya gak bisa belanja dan gagal membeli tas keluaran terbaru. Dan yang lebih bikin saya jengkel, saya malah diejek teman-teman saya karena gak bisa beli tas itu," ungkap Sukma.
"Oma yang gagal beli tas, kok nyalahin mama, sih?" sela Nabila.
"Ya, jelas salah mama kalian. Soalnya, dia memblokir kartu pemberian papa kalian," jawab Sukma.
Nabil terdiam, ia terlihat mengingat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, mamanya memang pernah mengatakan, kalau akan memblokir semua kartu milik Nabila dan Oma Sukma. Nabil mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ternyata, mama udah melangkah," batin Nabil.
Sukma terus saja berceloteh panjang lebar, menyalahkan Kanayah. Ia benar-benar, marah dengan tindakan Kanayah.
"Eh, kalian mau ke mana?" tanya Sukma.
"Kita mau ke butik," jawab Nabila.
"Butik? Butik, mama kalian?" tanya Sukma lagi.
Nabila menjawab anggukan cepat.
"Oma ikut!" seru Sukma.
"Jangan!" tangan Nabil.
"Lho, kenapa?" tanya Sukma.
"Kita ke butik, cuma mau ngantar map ini aja." Nabil menunjukkan benda yang ada di tangannya.
"Tidak apa-apa, Oma tau, setalahnya kalian pasti pergi ke rumah Kiano, kan?" tebak Sukma.
"Gak! Abis dari butik, aku mau antarin Nabila ke perpustakaan kota," kilah Nabil. Ia tidak akan membiarkan Sukma ikut bersama mereka. Bisa perang dunia, kalau sampai mamanya bertemu dengan Sukma.
Setelah melalui perdebatan yang panjang. Nabil yang tetap pada keputusannya, meninggal Sukma yang tampak semakin kesal dengan tingkah Kanayah dan nabil.
"Dasar, anak sama ibu, sama aja. Awas kalian, akan aku balas perbuatan kalian ini," umpat Sukma.
*****
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana yang terlihat asri. Tampak pria tua duduk dengan tatapan yang menatap ke hamparan kebun yang ada dibelakang rumahnya. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia juga terlihat menyeka air matanya.
Ya, Kendra saat ini ada di rumah peninggalan mertuanya. Ia tersenyum, ketika mengingat kenangan manis bersama sang istri. Ia sedih, bila mengingat kembali perpisahannya dengan perempuan yang akan selalu menjadi satu-satunya di hati Kendra.
"Opa!" ucap Zakira.
Kendra tersenyum melihat Zakira, yang nyaris mewarisi wajah mendiang sang istri.
"Masuk, yuk! Kita sarapan," ajak Zakira.
Kendra mengangguk pelan, kemudian beranjak.
"Apa menu kita hari ini, Wi?" tanya Kendra pada Tiwi, asisten yang ia bawa die rumah Kiano.
"Ikan bakar, lalapan, sayur asem, tempe tahu goreng sama sambal, Opa!" jelas Tiwi, yang umurnya tidak berbeda jauh dari Zakira.
Tiwi, adalah anak salah satu pelayan yang bekerja di ruang Kiano. Baik Tiwi maupun Zakira, keduanya bisa dekat, karena teman bermain semasa mereka kecill.
"Wah, sedap sekali kedengarannya," ucap Kendra.
"Ayo, kita santap, Opa. Keburu dingin," ajak Tiwi lagi.
Kendra mengangguk pelan. Ketiganya pun mulai menikmati sarapan pagi mereka dengan nikmat. Sesekali terdengar suara mereka tertawa.
"Ra, apa Opa boleh tanya sesuatu?" ucap Kendra buka suara.
Saat ini keduanya sedang bersantai, di balai-balai yang ada di samping rumah.
"Boleh! Opa mau, nanya apa?" jalan Zakira.
"Tapi, kamu harus janji, untuk menjawab jujur semua pertanyaan dari Opa," pinta Kendra.
Zakira berpikir sejenak. Meskipun, ia bisa menebak pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh pria tua yang selalu menjadi idolanya, setelah Daddy dan kakaknya.
"Kira, janji akan jawab semua pertanyaan dari Opa," sahut Zakira.
"Sebenarnya, ada hubungan apa, antara kamu dan Fathan?"