Setelah baca juga jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs..... like, vote or comment
Jingga... kesetiaanmu akan selalu mengiringi datang dan perginya mentari, tidaklah bisa diragukan lagi. Kalaupun tidak nampak itu hanya sekedar bersembunyi di balik mendung, tapi bukan untuk meninggalkan Sang mentari.
Jingga... seperti halnya warna indah yang selalu menggantung di kala terbit dan terbenamnya mentari. Seperti itulah kesetiaanmu, ketika menunggu seorang Alando yang tak menginginkan perjodohan itu.
Jingga Andini, Gadis kecil yang di jodohkan dengan Alando Mahesa Putra karena kesepakatan keluarga dari kaum Ningrat. Penolakan Alando, perbedaan usia dan karakter mampukah menghadirkan cinta dalam pernikahan mereka?
Jika sepasang nama sudah tertaut dalam takdir dan perasaan, lantas kalian bisa apa? pergi atau saling menyakiti pun percuma.
Alando' s Pov
Aku merindukanmu Jingga...
Jika saja aku mudah mengenali perasaanku, aku tidak akan mungkin kehilanganmu. Seperti kemarin, kamu akan tetap tinggal untuk selalu menungguku di sana, bersama warna jingga yang selalu memberi harapan pada setiap kehidupan.
Jingga, aku akan selalu menunggumu seperti kamu yang selalu setia menungguku.
Aku mencintaimu Jingga Andini.
Jingga's Pov
Memang berat aku berpisah denganmu. Tapi aku bisa apa? Jika kamu tidak bisa mencintaiku. Mengikatmu dalam perasaanku dan hubungan ini, maka tidaklah benar.
Aku mencintaimu, dulu dan sekarang. Aku masih mencintaimu dengan cinta yang sama.
Tidak pernah menyangka jika pernikahan mampu menghadirkan Cinta diantara mereka. Tapi bisakah kekuatan cinta mereka menemukan latar belakang Jingga yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kehancuran Jingga
"Mas Alan.... " lirihnya dengan dada yang semakin terasa sesak, saat mata itu menatap dengan jelas dua orang yang sedang duduk di dekat jendela.
Air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa ditahan lagi, saat matanya menatap Alan bersama perempuan lain. Segera Jingga berbalik, dia ingin sekali segera pergi meninggalkan tempat itu secepatnya, tak sengaja tangannya menyenggol tempat tisu di meja yang ada di dekatnya hingga terjatuh.
"Jingga...!" panggil Daniah merasa heran, saat melihat Jingga sudah berlari keluar dengan tergesa.
"Ada apa dengan Jingga? " ujar Tyara masih bingung melihat kepergian Jingga dengan menangis. Tapi, gadis tomboy itu tak berfikir panjang lagi, dia langsung mencoba mengejar Jingga keluar.
Mata Perak kebiruan itu melihat sekelebat bayangan Jingga, yang keluar dengan langkah seribu. Tapi, lelaki yang saat ini menatap keluar itu masih meragu hingga terdengar kasak-kusuk obrolan Nelly dan Tyara yang masih berdiri dengan ekspresi yang terlihat bingung.
Alan berdiri ingin memastikan, apa benar itu Jingga. Tapi, tangannya ditahan oleh Deandra.
"Please, Al. Tolonglah, dengarkan aku! Aku benar-benar bingung. " ujar Dea dengan wajah memelas, berharap Alan kembali duduk dan mendengarkan kembali apa yang dia katakan.
"Sorry, Dea. Ada yang perlu aku selesaikan sekarang!" tanpa menunggu tanggapan perempuan berambut panjang dengan model curly itu, Alan pergi menghampiri Nelly dan Tyara.
"Kalian teman Jingga, kan? " tanya Alan terlihat begitu serius. Lelaki berahang tegas itu mengalihkan pandangannya pada Daniah yang baru saja tiba dari arah luar.
"Apa yang keluar tadi itu, Jingga? " tanya Alan, matanya beralih menatap Daniah yang sudah kembali masuk ke dalam untuk menghampiri kedua temannya.
"Iya, dia sudah menghilang! " ujar Daniah dengan rona putus asa.
"Astaga, Jingga! " Alan kemudian membayar tagihan ke kasir. Gegas, langkah panjang membawanya keluar, berharap masih bisa menemukan Jingga.
Alan masih menoleh ke kanan-kiri mencoba mencari ke mana arah perginya Jingga. Tapi tidak juga menemukan sosok yang dia cari saat itu, membuat Alan tak ingin berlama-lama dalam pertimbangan. Lelaki bertubuh atletis itu masuk ke dalam mobil, mencoba peruntungan menemukan Jingga dengan menelusuri sepanjang jalan menuju ke rumah. Dia yakin jika Jingga akan pulang ke rumah, karena istrinya itu tidak terlalu mengenal kota ini.
###
Jingga berhenti berlari di sebuah gang sempit yang cukup sepi, tubuhnya terasa lemas, rasanya seperti kehilangan semua tenaga. Tapi, ingatannya sangat kuat ketika me-replay kembali adegan saat jemari lentik memegang lengan kokoh suaminya dan cerita kehamilan Deandra dari Nelly.
Jingga's Pov
Hatiku hancur, saat ini benar-benar hancur. Aku pikir kamu adalah laki-laki yang baik, yang pantas aku tunggu, tapi ternyata aku salah. Jika hanya berpacaran saja, mungkin aku bisa mengerti, tapi kamu sudah sejauh itu, Mas Alan. Aku tak sebaik wanita lain, yang bisa menerima semua dengan lapang dada. Apalagi ada calon buah cinta kalian. Aku tak bisa! membayangkan saja aku sudah tidak tahan.
Mas Alan, jika hanya untuk mengejar mimpimu aku bisa menunggu sampai kapanpun, untuk kamu bisa mencintaiku. Tapi ini bukan lagi soal mimpi. Sungguh aku kecewa! Aku tak bisa, lebih baik aku pergi dari kehidupanmu.
Jingga kembali menangis, hatinya seperti di remas begitu saja. Bahkan, saat ini jantungnya seperti ditikam dengan seribu sembilu, membuat rasa sakit yang hampir tak bisa ditahannya.
Waktu terus bergulir, Perempuan yang masih menangis itu bersandar pada sebuah pagar tembok yang menjulang tinggi di sebuah gang sempit tanpa menyadari jika sore mulai merambat menuju petang, bahkan mendung yang semakin menggelapkan keadaan pun sudah terabaikan olehnya. Jika bukan karena rintik hujan yang menetesi sebagian dari kulitnya, mungkin dia tidak sadar jika hujan akan segera turun. Jingga terus memikirkan apa yang akan terjadi, hubungan pernikahan, keluarga besar dan perasaannya sendiri.
"Lebih baik aku pergi, Mas! Ada seseorang yang akan lahir dan itu adalah haknya untuk memilikimu. " gumamnya lirih mewakili rasa hatinya yang sudah sangat terluka.
###
Di tempat lain, tepatnya di dalam rumah minimalis dengan tergesa Alan menaiki tangga menuju kamar Jingga. Tapi ternyata, di sana tidak ada siapapun. Masih berdiri di depan kamar Jingga, Alan memainkan kunci mobilnya dan berfikir ke mana dia akan mencari istrinya.
"Jingga, jangan membuatku cemas! Bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan ini dengan keluarga? " lirihnya dengan perasaan bingung yang memenuhi hatinya.
Alan memutuskan untuk kembali mencari Jingga. Kakinya berjalan menuruni tangga dengan gesit, dia kembali membawa mobil Jeepnya untuk menelusuri jalanan, berharap bisa menemukan Jingga secepatnya.
Hati yang semakin mencemaskan Jingga, apalagi saat petang dan hujan menyatu menjadi satu. Dengan perasaan gelisah, matanya masih mengolak-alik jalanan yang saat ini sedang dilaluinya.
Alan' s Pov
Jingga ada apa denganmu? Dari kemarin sikapmu sungguh aneh. Apa yang membuatmu menatapku begitu dingin. Bahkan, kamu pun berusaha menghindar dariku. Apa kamu tau ternyata itu membuatku kecewa. Apa aku sudah melukaimu? tapi maafkan aku, jika perasaan memilikimu memaksaku untuk menciummu. Apa karena itu juga kamu sangat marah padaku?
Jingga, ku harap kamu baik-baik saja. Aku begitu mencemaskanmu. Pulanglah! kamu boleh menghukumku, tapi jangan membuatku merasa bingung seperti ini.
Alan terus melajukan mobilnya dengan sangat pelan, menelusuri jalan yang sudah mulai basah. Sesekali dia berhenti, mencoba menelpon Jingga tapi tidak ada tanggapan, itu membuatnya semakin bingung hingga dia mencoba menghubungi beberapa temannya untuk membantu mencari keberadaan Jingga.
###
Rintik hujan mulai membasahi bumi, perempuan yang saat ini sudah kehilangan tujuannya pun terus berjalan tak tentu arah. Dia belum ingin pulang, karena dia tidak tau apa yang akan dilakukannya saat tiba di rumah itu. Belum lagi, jika harus bertemu lelaki yang sudah mematahkan hati dan semua harapannya selama ini. Hancur, semuanya sudah melebur hingga tak ada yang tersisa lagi.
Jingga berjalan dengan menyeret totebagnya, tubuhnya semakin lemas, bahkan pandangannya semakin mengabur saat hujan deras terus mengguyur. Jalan memang terlihat lenggang hingga membuat perempuan itu menyebrangi jalan tanpa harus mempedulikan apapun.
"Chhhiiiiiitttt.....! "
"Aaaarrrghhhhhh......! " pekikan keras suara perempuan itu menggema, menghentikan sejenak mobil yang sudah membuatnya terpental dan tersungkur di aspal. Menyadari seseorang menjadi korbannya, mobil sedan itu memilih kabur meninggalkan Jingga yang tergeletak di jalan.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu berbondong-bondong mendekati perempuan yang sudah tak sadarkan diri. Termasuk beberapa kendaraan yang akan melintas terpaksa berhenti, memastikan apa yang sedang terjadi.
Alan membuka pintu mobilnya saat seseorang berjalan dan mengetuk pintu mobilnya.
"Mas, tolong bawa ke rumah sakit, ada korban tabrak lari! " ucap seseorang diantara hujan yang mengguyurnya.
Alan masih bingung, tetapi dia membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampiri korban. Darah yang terlihat tercecer membuatnya tergesa mendekati korban.
" Jingga...! " Lelaki itu tersentak kaget, Aliran darahnya seperti berhenti mengalir, bahkan jantungnya seperti berhenti berdetak saat mengetahui istrinya sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang menggenang di sekitar kepala.
Alan membawa Jingga dengan ditemani satu orang yang sudah lebih awal menolong Jingga menuju rumah sakit. Perasaan cemas saat ini membuatnya gugup, Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali di lihatnya wajah pucat yang saat ini memejamkan mata.
"Oh Tuhan.... " keluhnya ketika hampir tak bisa mengendalikan kekhawatiran dalam hatinya.
bersambung...
Jangan lupa ya gengs tinggalkan jejak ... teri. a kasih untuk like dan votenya.
oh ya, ditunggu ya masih banyak part selanjutnya....
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
ntah lompat ntah terlalu cepat ceritanya pindah ke yg lainnya tanpa di tuntaskan terlebih dahulu.
dan ini kan jingga lagi amnesia, masa sama temen² kampus nya dia ingat bahkan untuk pulang juga sudah dibolehkan utk naik taksi.
meski terbilang masih seperti bocah... tapi hati seorang istri sudah terluka...
ea ea ea