NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Perisai Di Balik Cadar

Minggu-minggu berlalu begitu cepat di Pesantren Al-Ikhlas, seolah waktu berlari mengejar bayang-bayang kegelisahan yang menyelimuti penghuninya. Pasca insiden pengkhianatan Fikri, suasana di ndalem tampak tenang di permukaan, namun ada ketegangan yang halus namun nyata di balik tawa kecil bayi Zahra. Hannan menjadi jauh lebih protektif, bahkan cenderung menutup diri dari dunia luar demi menjaga keamanan istri dan anaknya.

Amara, yang kini semakin mantap dengan cadarnya, merasakan perubahan atmosfer itu. Ia bukan lagi wanita yang lemah dan hanya bisa bersembunyi di balik punggung suaminya. Meskipun raganya berada di dalam lingkungan pesantren yang suci, pikirannya terus berkelana memikirkan bagaimana cara melindungi keluarga kecilnya dari ancaman Bastian yang tidak terlihat namun terasa sangat dekat.

Setiap pagi, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri, Amara sering menghabiskan waktu di perpustakaan pribadi milik Kiai Abdullah. Ia tidak lagi mencari kitab-kitab kuning tentang fikih atau tasawuf, melainkan mulai mendalami kembali pengetahuan tentang dunia luar, bisnis, dan hukum yang pernah ia pelajari setengah hati saat di California.

"Kamu mencari sesuatu yang khusus, Amara?" tanya Ummi Salamah suatu pagi, mendapati menantunya sedang serius membaca sebuah majalah ekonomi dan beberapa dokumen lama tentang wakaf pesantren.

Amara tersentak, lalu tersenyum di balik cadarnya.

"Hanya ingin belajar, Ummi. Amara merasa...

pesantren ini butuh perlindungan bukan hanya secara batin, tapi juga secara hukum dan ekonomi. Ancaman dari luar terkadang datang lewat celah yang tidak kita duga."

Ummi Salamah mengusap bahu Amara dengan lembut. Beliau merasakan kedewasaan yang tumbuh begitu cepat pada diri menantunya. "Mas Hannan sudah mengurus semuanya, Nak. Kamu jangan terlalu membebani pikiranmu."

"Mas Hannan sudah memikul terlalu banyak beban, Ummi. Amara ingin menjadi penopang, bukan sekadar beban tambahan," jawab Amara mantap.

Selama minggu-minggu itu, Amara mulai melakukan pergerakan kecil secara mandiri. Melalui bantuan Aisyah, adik iparnya yang lebih lincah dalam urusan teknologi, Amara mulai melacak pergerakan perusahaan-perusahaan yang baru saja masuk ke wilayah kabupaten mereka. Instingnya mengatakan bahwa Bastian tidak akan datang dengan membawa senjata atau kekerasan langsung, melainkan akan menggunakan kekuatannya yang paling besar: uang dan pengaruh bisnis.

"Mbak Amara, lihat ini," bisik Aisyah suatu sore saat mereka duduk di gazebo belakang. "Ada sebuah perusahaan baru bernama Shatila Corp. Namanya mirip dengan nama Zahra, kan? Perusahaan ini sedang gencar membeli lahan-lahan di sekitar pesantren kita untuk dijadikan kawasan industri."

Jantung Amara berdegup kencang. Penggunaan nama 'Shatila' bukan sebuah kebetulan. Itu adalah pesan terang-terangan dari Bastian untuknya. Sebuah pesan yang mengatakan: "Aku tahu nama anakmu, dan aku sedang mengepung rumahmu."

"Aisyah, tolong cari tahu siapa pemilik saham terbesarnya. Gunakan semua akses yang kamu punya, kalau perlu minta bantuan teman-teman kuliahmu di kota," perintah Amara dengan nada yang tidak pernah didengar Aisyah sebelumnya. Ada ketegasan seorang wanita yang sedang terdesak.

Amara tahu, jika ia hanya diam, pesantren ini akan tercekik secara ekonomi. Lahan-lahan di sekitar pesantren adalah sumber pangan dan area perluasan asrama. Jika dikuasai oleh Bastian, maka Al-Ikhlas akan terisolasi.

Di sisi lain, romansa antara Amara dan Hannan tumbuh di tengah kecemasan itu. Hannan, yang merasakan istrinya semakin sering melamun, berusaha memberikan perhatian ekstra. Malam itu, Hannan membawakan sebuah kado kecil untuk Amara setelah bayi Zahra tertidur pulas.

"Untukmu," ucap Hannan lembut, menyerahkan sebuah kotak beludru.

Saat dibuka, isinya adalah sebuah bros emas berbentuk bunga mawar yang sangat indah, namun di tengahnya terdapat batu zamrud hijau yang melambangkan ketenangan.

"Indah sekali, Mas. Tapi untuk apa?" tanya Amara.

Hannan menarik Amara ke dalam pelukannya, menghirup aroma minyak wangi mawar yang selalu melekat pada jilbab istrinya.

"Untuk mengingatkanmu bahwa di balik cadar dan keraguanmu, kamu adalah perhiasan paling berharga yang Allah titipkan padaku. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Amara. Aku melihatmu sering di perpustakaan sampai larut malam."

Amara menyandarkan kepalanya di dada Hannan, mendengar detak jantung pria yang sangat ia cintai itu. "Aku hanya ingin melindungi kita, Mas. Aku tidak ingin menjadi penyebab kehancuran pesantren ini."

Hannan mengecup puncak kepala Amara. "Pesantren ini berdiri di atas fondasi doa ribuan santri, bukan hanya selembar foto atau ancaman seorang pria pengecut. Jika dunia ini menyerangmu, maka dunia harus melewati aku terlebih dahulu."

Keesokan harinya, Amara membuat keputusan besar. Ia meminta izin kepada Kiai Abdullah untuk mengelola unit usaha kecil milik santriwati yang selama ini hanya berjalan apa adanya. Ia ingin memperkuat kemandirian ekonomi para santriwati agar mereka tidak mudah tergiur oleh tawaran kerja dari perusahaan-perusahaan luar yang mulai masuk.

"Amara, ini tugas yang berat. Kamu yakin bisa mengurus Zahra sambil mengelola unit usaha?" tanya Kiai Abdullah dengan nada ragu namun penuh perhatian.

"Rida Abah adalah kekuatan saya. Saya ingin membuktikan bahwa wanita di pesantren juga bisa menjadi perisai bagi agamanya," jawab Amara dengan penuh hormat.

Amara mulai mengatur strategi. Ia mengubah cara pemasaran produk konveksi dan kerajinan tangan pesantren. Ia menggunakan jaringan lama yang ia miliki di kota untuk mendapatkan pembeli tetap dengan kontrak yang menguntungkan. Secara tidak langsung, Amara sedang membangun

"temeng ekonomi" untuk melawan invasi bisnis Bastian.

Namun, di tengah kesibukannya, sebuah panggilan telepon dari nomor luar negeri masuk ke ponsel rahasia yang ia temukan di laci lama meja kerja mendiang ibunya—nomor yang hanya diketahui oleh orang-orang dari masa lalunya.

Dengan tangan gemetar, Amara mengangkat telepon itu.

"Halo, Amara. Nama perusahaan baruku bagus, bukan?" suara dingin Bastian terdengar di seberang sana. "Aku memberimu waktu dua minggu untuk menyerahkan diri dan membawa putriku ke hadapanku. Jika tidak, aku tidak hanya akan membeli lahan di sekitar pesantrenmu, aku akan membeli seluruh sejarah keluargamu dan membumihanguskannya lewat jalur hukum."

Amara memejamkan mata, air matanya jatuh namun wajahnya tetap tegak. "Bastian, kamu boleh memiliki uang, tapi kamu tidak akan pernah memiliki jiwaku atau putriku. Selamat datang di peperangan yang akan kamu sesali."

Amara menutup telepon itu dengan kasar. Ia menatap ke arah masjid pesantren di mana suara azan mulai berkumandang. Ia menyadari bahwa peperangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia harus menjadi lebih cerdik dari Bastian, lebih kuat dari rasa takutnya, dan tetap menjadi istri yang salihah bagi Hannan di tengah badai yang siap menerjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!