Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9
Setelah makan, jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas. Jam itu tergantung miring sedikit di dinding kayu ruang tengah. Bukan miring mencolok, lebih ke miring yang membuat orang sadar kalau memperhatikannya terlalu lama. Kayunya kusam, kacanya buram, dan jarumnya bergerak seperti orang kelelahan.
Tik… tok… tik… tok…
Detaknya terdengar lebih keras sekarang, atau mungkin ruangan yang terlalu diam membuat suara itu kehilangan pesaing. Tidak ada yang mengusulkan keluar. Padahal biasanya, setelah makan, selalu ada satu dua orang yang ingin cari angin, sekadar berdiri di teras, merokok, atau mengeluh soal sinyal. Malam ini, pintu depan tetap tertutup, seperti batas tak tertulis yang tidak ingin dilanggar siapa pun. Tidak ada yang berani bilang ingin tidur. Bukan karena tidak mengantuk. Mata beberapa orang sudah berat, bahu mulai turun, punggung pegal setelah duduk terlalu lama. Tapi tidur berarti memejamkan mata. Dan memejamkan mata di tempat asing, sunyi, dan terlalu banyak bayangan bukan pilihan yang terasa aman.
Semua hanya duduk dan menunggu. Duduk di atas tikar tipis yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Piring sudah disingkirkan, tapi tidak jauh, masih berada dalam jangkauan tangan, seperti pegangan darurat jika tiba-tiba diperlukan alasan untuk bergerak. Menunggu apa, mereka sendiri tidak tahu. Tidak ada yang mau mengucapkannya, tapi masing-masing menunggu dengan versi harapannya sendiri. Ada yang berharap kantuk datang cepat dan memaksa tidur. Ada yang berharap suara muncul sekalian, supaya ketegangan ini punya ujung. Ada juga yang berharap tidak ada apa-apa sama sekali. Menunggu rasa kantuk, Menunggu suara. Atau menunggu sesuatu terjadi, supaya penantian ini ada gunanya. Lampu kuning di langit-langit berkedip pelan sekali. Tidak cukup jelas untuk disebut berkedip, tapi cukup terasa untuk membuat mata beberapa orang refleks mengangkat.
“Jadi,” kata Udin, berusaha terdengar santai, “kita bikin jadwal tidur ya.”
Nada suaranya dibuat ringan, seperti sedang mengatur giliran piket biasa. Tapi tangannya menggenggam lutut sedikit terlalu erat. Beberapa kepala menoleh. Tidak ada yang langsung menolak. Tapi tidak ada juga yang setuju. Tatapan saling bertemu sebentar, lalu cepat-cepat dialihkan. Seolah siapa pun yang setuju lebih dulu akan otomatis mendapat giliran pertama tidur, dan itu bukan kehormatan.
“Sekarang?” tanya Ani.
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, alisnya terangkat. Bukan menantang, lebih ke memastikan ia tidak salah dengar.
“Iya.”
Udin mengangguk sekali. Singkat. Tegas palsu.
“Padahal belum jam sembilan.”
Kalimat itu jatuh… dan tidak ada yang tertawa.
Biasanya kalimat seperti itu akan dibalas dengan lelucon: “Jam segini mah anak kos baru bangun” atau “Tidur jam sembilan itu pensiunan.” Malam ini, kalimat itu hanya menggantung, seperti fakta yang tidak menyenangkan. Jam masih berdetak.
Tik… tok…
Bunyi pertama muncul tanpa peringatan.
Tok.
Pelan, Pendek, Seperti ada sesuatu menyentuh kayu. Tidak keras, kasar. Tapi terlalu jelas untuk diabaikan. Semua kepala menoleh ke arah yang sama, pintu depan. Gerakannya hampir serempak. Seperti latihan yang tidak pernah mereka lakukan tapi langsung kompak. Udara terasa mengeras. Bukan dingin. Bukan panas. Hanya berat, Seolah ruangan itu menarik napas terlalu lama.
“Angin,” kata Udin cepat.
Kata itu keluar sebelum siapa pun sempat bicara. Seperti refleks.
“Angin ngetok?” balas Bodat.
Nada suaranya datar, tapi alisnya naik sedikit, cukup untuk menunjukkan ia tidak percaya.
“Angin… iseng.”
Udin tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip permintaan maaf.
Tok.
Kali ini terdengar lebih jelas, dekat dan nyata. Tidak ada yang berpura-pura santai lagi. Juned refleks mengangkat kamera. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Layar ponsel menyala, kamera terbuka.
“Gue rekam—”
“JANGAN,” potong Juleha.
Nada Juleha tidak keras. Tapi tegas. Seperti orang yang tahu betul kapan sesuatu tidak seharusnya direkam. Tidak ada histeria dan teriakan yang keluar. Justru ketenangan itu yang membuat Juned langsung berhenti. Juned menurunkan kamera, tapi jarinya masih gemetar. Ia mengusap layar ponselnya sekali, lalu mematikannya. Gerakannya pelan, hati-hati, seperti takut suara klik terlalu keras.
“Tenang,” kata Udin lagi.
Kali ini suaranya sedikit lebih rendah.
“Ini rumah kayu. Suara pemuaian.”
Ia menoleh ke dinding, lalu ke lantai, seperti mencari bukti pendukung.
“Pemuaian jam segini?” tanya Aluh polos.
Nada suaranya jujur. Bukan menyindir.
“Kayu… kedinginan.”
Udin mengangguk lagi, lebih cepat.
“Kayu aja kedinginan, kita gimana?”
Kalimat itu keluar pelan dari arah Surya. Setengah bercanda. Setengah tidak, namun tidak ada satu dari mereka semua yang menjawab. Karena tidak ada jawaban yang terdengar masuk akal.
Moren berdiri, mendekati pintu dengan alat rakitannya—senter rusak yang ditempeli tutup botol dan kabel menjuntai. Alat itu terlihat seperti hasil eksperimen anak SMP yang terlalu percaya diri. Ia mengangkat alat itu sedikit, memamerkannya.
“Tenang,” katanya percaya diri.
Suaranya dibuat mantap, meski bahunya kaku.
“Kalau ada apa-apa, alat ini bunyi.”
“Bunyi apa?” tanya Susi.
Ia memiringkan kepala, menatap alat itu dari ujung rambut sampai kabelnya.
“…aku juga belum tau.”
Beberapa orang tertawa kecil. Tawa itu cepat mati. Tawa yang lahir bukan karena lucu, tapi karena terlalu tegang untuk diam. Bunyi berikutnya datang dari atap.
Krrrsshh…
Seperti ada sesuatu bergeser pelan,bukan jatuh. Bukan juga melompat tetapi bergeser. Suara itu panjang, gesekannya terasa, seolah ada benda berat yang dipindahkan dengan hati-hati. Semua refleks menunduk. Beberapa orang menutup kepala. Beberapa menahan napas.
“ITU APA,” bisik Surya, wajahnya pucat.
“Kucing?” tanya Paijo penuh harap.
Nada suaranya seperti orang yang sudah menyiapkan doa cadangan.
“Ukuran kucing apa yang bunyinya kayak lemari diseret?”
“….”
Tidak ada jawaban. Bahkan Paijo tidak mencoba membela kemungkinan itu lagi. Ithay menyilangkan kaki, mencoba terlihat santai, meski jemarinya berhenti memainkan gitar sejak lama. Gitar itu kini tergeletak di sampingnya, senarnya diam, seperti ikut waspada.
“Kalau ada apa-apa,” katanya ringan, “aku yang maju.”
Bodat menoleh.
“Lu yakin?”
“Lu mau maju?.” Ithay balik nanya
Bodat menghela napas pendek.
“Kalau kamu maju, aku tutup mata.”
Jam menunjukkan pukul delapan empat puluh lima.
Tik… tok… tik… tok…
Bunyi jam terasa semakin lambat, Semakin berat.Seolah setiap detik ditarik paksa. Setiap detik terasa sadar diri.
“Kenapa jamnya berisik banget?” tanya Ani.
Ia menatap jam itu dengan dahi berkerut.
“Itu karena kita fokus,” jawab Juleha.
Suaranya tenang, hampir lembut.
“Kalau hati gelisah, suara kecil jadi besar.”
Begitu kalimat itu selesai, Jam berhenti.
Tik… tok…
Tidak ada, Keheningan jatuh seperti selimut tebal. Bukan selimut hangat. Selimut berat, yang menekan dada.
“Eh,” Moren mendekat.
Ia mencondongkan badan ke arah jam.
“Jamnya mati.”
“Barusan masih nyala,” kata Juned.
Ia menelan ludah. Kini Tidak ada anginTidak ada suara atap. Tidak ada detak waktu. Sunyi yang tersisa bukan sunyi kosong.
Pukul sembilan kurang lima. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak. Lalu...,
Satu ketukan. Pelan.
TOK!
Terdengar jelas di pintu depan. Semuanya membeku.
“Jangan jawab,” bisik Udin, wajahnya pucat.
“Jangan buka,” tambah Juleha.
Ketukan kedua menyusul.
TOK!.
Kini terdengar Lebih pelan seperti… ragu. Dari balik pintu, terdengar suara.
“Din…”
Udin menahan napas.
“Din… buka…”
Surya langsung menutup mulutnya sendiri.
“SUARA SIAPA ITU?” bisiknya.
“Itu… mirip Udin,” kata Ani pelan.
Udin menggeleng keras.
“Aku di sini.”
“Din…”
Suara itu mengulang Lebih dekat dan jelas. Bodat berdiri, kakinya gemetar.
“Kalau ini prank,” bisiknya, “aku mukul.”
Ketukan ketiga.
TOK!.
Lalu sunyi, tidak ada suara langkah pergi. Tidak ada suara apa pun. Hanya napas mereka sendiri yang terdengar terlalu keras.
“Tenang,” kata Udin dengan suara bergetar. “Itu… warga.”
“Warga nyebut nama kamu doang?” tanya Susi.
“….”
“Dan suaranya mirip kamu sendiri?”
“….”
Tidak ada jawaban. Waktu berjalan lagi, pelan juga ragu-ragu. Lima menit berlalu,Sepuluh menit tapi tidak ada apa-apa. Dan pelan-pelan, ketegangan turun, tidak hilang, tapi melemah. Seperti pegal yang tidak bisa dipijat.
“Gue mau ke kamar mandi,” kata Anang tiba-tiba.
SEMUA MENOLEH.
“Sekarang?” tanya Palui panik.
“Iya.”
“Sendiri?”
“Enggak.”
Semua terdia, Anang menoleh ke kiri dan kanan.
“…ya sendiri.”
Ia berdiri, membawa senter kecil. Langkahnya menuju belakang rumah terdengar jelas.
Kriet… kriet…
Mereka menunggu. Satu menit, Dua menit. Lalu..
“WOI.”
Suara Anang dari belakang.
“KENAPA?”
“INI AIRNYA NGINAP.”
“MAKSUDNYA?”
“DINGIN TERUS.”
“….”
“Itu normal,” teriak Udin.
“Oh.”
Beberapa detik kemudian, Anang kembali.
“Tenang,” katanya.
“Cuma air dingin.”
“Cuma?” ulang Surya.
“Dan suara.”
“Suara apa.”
“…kayak ada yang nyanyi pelan.”
SUNYI.
“BECANDA,” tambah Anang cepat.
Beberapa tertawa. namun tawa itu hadir tipis dimulut mereka dengan rapuh.
Malam itu, tidak ada yang benar-benar tidur. Ada yang memejamkan mata, ada yang pura-pura tidur. Ada yang menatap langit-langit terlalu lama. Dan di antara suara napas, gesekan kasur, dan kayu yang berderit…
sesekali terdengar bunyi kecil yang tidak jelas asalnya, tidak jelas tujuannya, tapi cukup untuk membuat jantung berdebar. Malam pertama berlalu tidak dengan teriakan, tidak dengan adanya penampakan. Hanya dengan satu kesimpulan yang tidak diucapkan siapa pun, Mereka tidak sendirian.
...🍃🍃🍃🍃...
Bersambung....