NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Han Feng tersenyum. Senyum yang tipis, dingin, dan provokatif.

Han Lie merasakan jantungnya berdetak kencang karena amarah. Orang yang seharusnya mati, orang yang seharusnya cacat, kini berdiri di sana dengan tatapan merendahkan.

Han Feng mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju meja pendaftaran utama. Di sana duduk Tetua Mo, seorang tetua yang dikenal tegas dan kaku, bertanggung jawab atas verifikasi peserta.

"Nama," kata Tetua Mo tanpa melihat, sibuk menulis di buku besar.

"Han Feng," jawab suara tenang itu.

Tangan Tetua Mo berhenti bergerak. Pena bulunya melayang di atas kertas. Perlahan, Tetua Mo mengangkat kepalanya, menatap pemuda di depannya. Tetua Mo bisa merasakan vitalitas yang kuat dan padat dari tubuh Han Feng, jauh berbeda dari "sampah sakit-sakitan" yang dia ingat.

"Han Feng..." ulang Tetua Mo, matanya menyipit menilai. "Kau ingin mendaftar?"

"Tentu saja. Apakah ada aturan yang melarang?"

"Tidak ada," jawab Tetua Mo kaku. "Tapi ada syarat. Sesuai aturan baru tahun ini, untuk mengurangi jumlah peserta yang tidak kompeten, setiap pendaftar harus memiliki kultivasi minimal Tingkat 4 dan lulus Uji Kekuatan."

Tetua Mo menunjuk ke samping meja, di mana berdiri sebuah pilar batu hitam setinggi dua meter. Itu adalah Pilar Pengukur Kekuatan. Di tengah pilar itu terdapat bantalan kulit. Ketika dipukul, pilar itu akan menyala dan menunjukkan angka yang merepresentasikan kekuatan pukulan dalam satuan Jin (kg).

"Syarat minimal adalah pukulan seberat 800 Jin (setara Tingkat 4)," jelas Tetua Mo. "Banyak murid cabang yang gagal dan pulang menangis hari ini. Kau yakin ingin mencoba dan mempermalukan dirimu sendiri?"

"Cukup pukul saja, kan?" tanya Han Feng, mengabaikan peringatan itu.

"Silakan," Tetua Mo bersandar di kursinya, siap melihat kegagalan.

Di atas panggung, Han Lie berdiri. "Biarkan dia mencoba! Aku ingin melihat bagaimana dia mematahkan tangannya sendiri saat memukul batu itu!"

Kerumunan menahan napas. Semua mata tertuju pada Han Feng.

Han Feng berdiri di depan pilar batu itu. Han Feng tidak memasang kuda-kuda. Han Feng tidak menyalurkan Qi. Han Feng bahkan tidak melepaskan pedang berat di punggungnya yang pasti mengganggu keseimbangan.

Han Feng hanya mengangkat tangan kanannya dengan santai, mengepalkannya, lalu mengayunkannya ke arah bantalan pilar itu. Gerakannya lambat dan malas, seolah sedang mengusir lalat.

"Dia meremehkan ujian ini!" teriak seorang murid.

Tapi sesaat sebelum kepalan tangan Han Feng menyentuh bantalan itu, otot lengan Han Feng menegang sedikit.

Dhuaaaar!

Suara ledakan keras menggema di alun-alun.

Bukan suara bug tumpul seperti pukulan biasa, melainkan suara ledakan sonik. Bantalan kulit di pilar itu meledak hancur seketika.

Seluruh pilar batu hitam seberat lima ton itu bergetar hebat, lalu terangkat sedikit dari tanah sebelum jatuh kembali dengan dentuman berat.

Angka-angka di indikator sihir pilar itu berputar gila-gilaan, begitu cepat hingga menjadi kabur, sebelum akhirnya berhenti di angka maksimal yang bisa diukur oleh alat itu.

[5.000 Jin +++]

Sebenarnya kekuatan Han Feng jauh di atas itu (kekuatan 50 banteng setara puluhan ribu Jin), tapi alat pengukur tingkat rendah ini memiliki batas. Jarum indikatornya bengkok dan berasap.

Hening.

Lagi-lagi keheningan mutlak.

Tetua Mo melompat berdiri dari kursinya, matanya melotot seolah melihat hantu. Mulutnya ternganga lebar hingga bisa menelan telur angsa.

"Lima... Lima ribu Jin?" gumam Tetua Mo dengan suara bergetar. "Dan alatnya... rusak?"

5.000 Jin adalah batas kekuatan fisik murni untuk Pembentukan Tubuh Tingkat 9. Tapi Han Feng melakukannya dengan pukulan santai? Tanpa Qi yang terlihat meledak-ledak?

Han Feng menarik tangannya kembali, meniup debu kulit yang menempel di buku-buku jarinya.

"Ups," kata Han Feng datar. "Sepertinya aku menggunakan tenaga sedikit berlebihan. Apakah ini lulus, Tetua?"

Tetua Mo menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap Han Feng dengan pandangan baru—pandangan ketakutan bercampur hormat. "L-Lulus. Tentu saja lulus. Ini lencanamu."

Tetua Mo menyerahkan sebuah pelat kayu dengan nomor urut peserta kepada Han Feng. Tangannya sedikit gemetar saat memberikannya.

Han Feng mengambil pelat itu dan mengangguk singkat. Dia kemudian berbalik, menatap langsung ke arah Han Lie yang kini berdiri kaku di atas panggung dengan wajah pucat pasi.

Han Feng mengangkat pelat nomor itu ke arah Han Lie, lalu membuat gerakan menyayat leher dengan jarinya perlahan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Han Feng berbalik dan berjalan pergi meninggalkan alun-alun, membelah kerumunan yang kini menatap punggungnya dengan penuh kekaguman dan kengerian.

"Dewa Naga telah kembali," bisik seorang murid senior dari cabang sampingan. "Langit Kota Awan Terapung akan berubah."

Di atas panggung, Han Lie meremas pagar batu hingga retak. Wajahnya merah padam karena amarah dan penghinaan. Dia merasa seperti baru saja ditampar di depan ribuan orang tanpa Han Feng perlu menyentuhnya.

"Lima ribu Jin..." desis Han Lie. "Bagaimana mungkin? Sebulan yang lalu dia bahkan tidak bisa mengangkat ember air! Obat ajaib apa yang dia makan?!"

Seorang pria tua berjubah hitam muncul di belakang Han Lie. Itu adalah Tetua Gui, penasihat pribadi ayah Han Lie.

"Tuan Muda, tenanglah," bisik Tetua Gui dengan suara serak. "Kekuatan fisiknya memang mengejutkan. Kemungkinan dia menemukan warisan Kultivator Fisik di hutan. Tapi ingat, Kultivator Fisik memiliki kelemahan fatal."

"Apa?" tanya Han Lie kasar.

"Mereka tidak bisa bertarung jarak jauh dan gerakan mereka kaku," jelas Tetua Gui. "Kekuatan kasarnya mungkin besar, tapi di hadapan Teknik Pedang Keluarga Han yang lincah dan serangan Qi jarak jauh Tuan Muda, dia hanyalah sapi dungu yang kuat. Jangan biarkan dia mengintimidasi mental Tuan Muda."

Han Lie menarik napas dalam-dalam, menenangkan gejolak di dadanya. Penjelasan itu masuk akal.

"Kau benar, Tetua," kata Han Lie, kepercayaan dirinya perlahan kembali. "Dia hanya orang barbar yang mengandalkan otot. Di arena nanti, aku akan menunjukkan padanya bahwa kekuatan sejati berasal dari teknik dan Qi, bukan dari tenaga kuli."

Han Lie menatap punggung Han Feng yang menjauh.

"Nikmati momen kecilmu, Han Feng. Tiga hari lagi, saat turnamen dimulai... aku akan mematahkan setiap tulang di tubuhmu satu per satu di depan mata semua orang."

Han Feng tidak langsung pulang ke gubuknya. Dia berjalan menuju perpustakaan klan.

Sekarang dia sudah terdaftar, langkah selanjutnya adalah persiapan strategi. Han Feng tahu Han Lie dan tetua lainnya tidak bodoh. Mereka akan menganalisis kekuatan fisiknya dan menyiapkan penangkal.

"Mereka pikir aku hanya Kultivator Fisik bodoh," batin Han Feng sambil tersenyum licik. "Itu bagus. Biarkan mereka berpikir begitu. Saat mereka sibuk menyiapkan pertahanan fisik, aku akan membakar mereka dengan api yang baru saja kupelajari."

Han Feng menyentuh dadanya, di mana Gerbang Naga Api di dalam tubuhnya berdenyut pelan, menunggu untuk dilepaskan.

Perang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!