Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Lama Terbuka Lagi
Hujan berhenti, tapi bekasnya tidak langsung mengering.
Kia berdiri di depan jendela apartemennya malam itu, memandang lampu kota yang berkilau seperti tidak peduli pada apa pun. Tangannya memegang ponsel, layar masih menyala menampilkan satu nama yang sejak tadi tidak ia sentuh.
Daffa.
Pertemuan sore tadi seharusnya berakhir sederhana. Ngopi, basa-basi, lalu pulang dengan jarak aman. Tapi kenyataannya tidak pernah sesederhana itu—tidak ketika masa lalu ikut duduk di meja yang sama.
Kia menghembuskan napas pelan. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia beri nama. Bukan marah. Bukan rindu. Lebih seperti luka lama yang disentuh kembali—tidak berdarah, tapi perihnya langsung menjalar.
Ia menutup tirai, memutus pandangan dari luar, lalu menjatuhkan diri ke sofa.
Kenangan datang tanpa diundang.
Suara pintu rumah kecil yang dulu selalu dibanting.
Tatapan Tara yang penuh kebencian.
Tangisan ibunya yang ditelan malam.
Dan Daffa—selalu berdiri di tengah, mencoba menenangkan, tapi tak pernah benar-benar memihak.
Kia memejamkan mata.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa setelah enam tahun?
Ponselnya bergetar.
Bukan Daffa.
Ibu.
Kia mengernyit. Sudah hampir tengah malam.
“Iya, Bu?”
Suara di seberang terdengar ragu. “Kia… kamu sehat?”
“Kia baik,” jawabnya cepat, refleks lama. “Kenapa?”
Ibunya terdiam sejenak. “Ibu lihat foto kamu di media sosial. Reuni sekolah.”
Jantung Kia berdetak sedikit lebih cepat. “Iya. Kebetulan.”
“Kamu ketemu Tara?”
Pertanyaan itu pelan, tapi berat.
“Iya,” jawab Kia jujur. “Dan Daffa.”
Hening.
“Ibu harap…” Ibunya berhenti, lalu melanjutkan dengan nada hati-hati, “…kamu nggak memaksakan diri.”
Kia menutup mata. “Ibu pikir aku belum sembuh?”
“Ada luka yang sembuh,” jawab ibunya lembut, “tapi tetap meninggalkan bekas. Ibu cuma nggak mau kamu pura-pura kuat lagi.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Kia kira.
“Aku nggak pura-pura,” katanya pelan. “Aku cuma… nggak tahu harus ngerasain apa.”
Ibunya menghela napas. “Itu juga bentuk luka, Nak.”
Setelah telepon ditutup, Kia duduk lama dalam keheningan.
Ia tidak menangis.
Tapi ada sesuatu yang retak perlahan.
Di sisi lain kota, Tara berdiri di depan cermin kamarnya.
Apartemen kecil itu sunyi. Tidak ada suara ibu, tidak ada rumah besar, tidak ada fasilitas yang dulu ia anggap biasa. Hanya dirinya sendiri—dan bayangan perempuan yang pernah begitu ia benci.
Ia menyentuh pantulan wajahnya.
Lebih dewasa. Lebih tenang. Tapi matanya masih menyimpan rasa bersalah yang tidak sepenuhnya hilang.
Pertemuan dengan Kia tadi sore tidak berjalan buruk. Bahkan jauh lebih baik dari yang ia takutkan.
Justru itu yang membuatnya gelisah.
Karena ia melihat sesuatu di mata Kia—bukan kebencian, tapi kelelahan.
Dan Tara tahu, sebagian besar kelelahan itu… berasal darinya.
Ponselnya bergetar.
Daffa:
Kamu udah sampai rumah?
Tara membalas singkat.
Tara: Udah.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Daffa:
Gue harap tadi nggak terlalu berat buat lo.
Tara tersenyum pahit.
Tara:
Berat itu udah jadi bagian hidup gue.
Titik-titik muncul lama, lalu hilang.
Daffa:
Gue tau gue nggak bisa memperbaiki masa lalu. Tapi gue nggak mau nambah luka baru.
Tara membaca pesan itu berulang kali.
Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Tara:
Kadang luka itu kebuka bukan karena orang lain, tapi karena kita akhirnya berani ngelihatnya.
Tidak ada balasan setelah itu.
Keesokan harinya, Kia kembali ke rutinitasnya.
Kantor, rapat, target, angka-angka yang selalu masuk akal. Dunia yang bisa ia kendalikan. Dunia tanpa drama keluarga.
Hingga nama itu kembali muncul.
“Kia?”
Ia menoleh.
Daffa berdiri di depan mejanya.
Di kantor.
Dengan setelan rapi dan wajah yang terlalu familiar.
“Apa yang lo lakuin di sini?” tanya Kia, refleks berdiri.
Daffa tersenyum canggung. “Kerja.”
Kia mengerutkan kening. “Jangan bercanda.”
“Serius,” jawab Daffa. “Perusahaan gue baru kerja sama sama tempat lo. Gue project lead-nya.”
Kia ingin tertawa. Atau marah. Atau pergi.
“Ini kebetulan yang buruk,” gumamnya.
“Atau kebetulan yang jujur,” balas Daffa pelan.
Kia menatapnya tajam. “Lo sengaja?”
“Enggak,” jawab Daffa cepat. “Gue juga baru tahu lo kerja di sini.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Rekan kerja Kia mulai melirik, penasaran.
“Kita bisa ngomong nanti?” tanya Daffa.
Kia mengangguk kaku. “Nanti.”
Tapi dadanya sudah terasa tidak nyaman.
Karena dunia yang rapi itu… mulai retak.
Malamnya, Kia pulang lebih larut.
Ia membuka pintu apartemen dengan langkah berat, lalu berhenti saat melihat sebuah kotak kecil di depan pintu.
Tanpa nama pengirim.
Ia mengangkatnya, masuk, lalu membuka perlahan.
Di dalamnya, ada sebuah buku catatan lama.
Sampulnya usang.
Kia mengenalinya.
Buku itu milik ibunya.
Dan di halaman pertama, ada tulisan tangan yang membuat napasnya tercekat.
“Untuk Kiandra,
jika suatu hari kamu siap membaca ini.”
Tangannya gemetar.
Ia duduk, membuka halaman demi halaman.
Tentang malam-malam panjang saat ibunya menangis sendirian.
Tentang rasa takut kehilangan.
Tentang keputusan menerima Tara dulu—bukan karena lemah, tapi karena ingin memutus rantai kebencian.
Air mata akhirnya jatuh.
Pelan.
Tanpa suara.
Di halaman terakhir, ada satu kalimat yang membuat dadanya sesak:
“Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi memilih berhenti menyakiti diri sendiri.”
Kia menutup buku itu.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, ia menangis bukan karena marah—tapi karena lelah menyimpan semuanya sendiri.
Di luar, hujan turun lagi.
Dan di suatu tempat, Tara menatap langit dari jendelanya, merasakan hal yang sama.
Luka lama memang terbuka lagi.
Tapi mungkin…
kali ini bukan untuk saling melukai.
Melainkan untuk akhirnya sembuh.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya