NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: TANGAN SATRIA YANG MEMBANTU

#

Aku dan Adrian masih duduk di lantai koridor.

Tangisan Adrian udah mereda. Tapi matanya masih merah. Napasnya masih tersengal.

Aku berdiri. Aku ulurin tangan ke Adrian.

"Dri, ayo berdiri."

Adrian liat tanganku. Dia pegang tanganku. Aku bantu dia berdiri.

Kami berdua berdiri di tengah koridor yang masih sepi.

"Dri... ibumu harus bayar berapa di puskesmas?"

Adrian ngusap mata pake lengan baju. "Dokternya bilang... sekitar dua ratus ribu. Buat jahit luka, obat, sama perawatan satu malam. Tapi bokap gue gak punya, Sat. Gaji belum turun. Tabungan habis."

Dua ratus ribu.

Aku masukin tangan ke saku celana. Aku raba dompet lusuh yang isinya uang hasil kerja seminggu di warung Pak Hadi.

Tiga ratus lima puluh ribu.

Uang ini seharusnya buat fotokopi berkas beasiswa besok. Buat cetak surat keterangan tidak mampu. Buat beli amplop. Buat ongkos ke kelurahan.

Tapi...

Tapi aku liat Adrian. Cowok yang udah nganggap aku teman. Cowok yang udah bela aku waktu semua orang ngehina aku. Cowok yang ngajarin aku arti persahabatan.

Ibunya sekarang lagi kesakitan di puskesmas.

Dan aku punya uang.

Aku keluarin dompet. Aku buka. Aku ambil semua uang di dalamnya.

Aku sodorkan ke Adrian.

"Ini. Buat ibumu."

Adrian natap uang di tanganku. Matanya melebar.

"Sat... ini... ini uang lu kan? Lu butuh ini buat..."

"Buat ibumu, Dri. Ambil."

Adrian geleng cepet. "Gak bisa, Sat. Gue gak bisa terima. Lu sendiri butuh. Lu harus fotokopi berkas. Lu harus ke kelurahan. Lu butuh uang ini."

Aku pegang tangan Adrian. Aku masukin uang itu ke tangan dia. Aku genggam tangannya kuat.

"Dri... lu udah nganggap gue teman kan?"

Adrian ngangguk pelan. Matanya berkaca-kaca lagi.

"Kalau lu nganggap gue teman... terima uang ini. Ini yang teman lakuin. Saling bantu saat susah. Lu udah bantuin gue waktu gue sendirian. Sekarang giliranku bantuin lu."

Air mata Adrian jatuh lagi. Dia pegang uang itu dengan tangan gemetar.

"Sat... lu... lu terlalu baik... gue... gue gak tau harus bales gimana..."

"Gak usah dibales. Kita teman. Teman gak perlu balesan."

Adrian peluk aku tiba-tiba. Erat banget. Dia nangis di pundak aku.

"Terima kasih, Sat... terima kasih... lu sahabat terbaik yang pernah gue punya..."

Aku belai punggung Adrian. "Sama-sama, Dri. Sekarang lu pergi ke puskesmas. Bayar biaya ibumu. Jangan sampe ibumu nunggu lama."

Adrian lepas pelukan. Dia lap air matanya. Dia senyum. Senyum yang penuh terima kasih.

"Gue pergi dulu ya, Sat. Lu... lu jaga diri."

Adrian lari keluar sekolah.

Aku berdiri sendirian di koridor.

Dompetku kosong.

Gak ada uang sepeser pun.

Aku tutup mata.

"Ya Allah... aku udah gak punya uang lagi. Tapi kumohon... kumohon selamatkan ibu Adrian. Dia orang baik. Keluarganya orang baik. Jangan ambil dia. Kumohon..."

Doaku pelan. Hanya angin pagi yang mendengar.

***

Sepanjang hari itu, aku gak bisa konsentrasi belajar.

Pikiranku kemana-mana.

Uangku habis. Aku harus fotokopi berkas besok atau lusa. Tapi gak ada uang.

Aku harus kerja lagi. Kerja lebih banyak. Lebih keras.

Pulang sekolah, aku langsung lari ke warung Pak Hadi.

Pak Hadi lagi beres-beres meja.

"Satria? Tumben dateng sore gini. Biasanya kan malem."

"Pak Hadi... boleh gak aku kerja sekarang? Sampai tengah malam. Aku... aku butuh uang banyak."

Pak Hadi natap aku. Dahinya berkerut. "Butuh uang buat apa? Kamu kenapa?"

"Buat... buat fotokopi berkas beasiswa, Pak. Harus dikumpulin Senin depan."

Pak Hadi ngangguk pelan. "Ooh... beasiswa itu. Oke. Kamu kerja aja. Tapi jangan sampe tengah malam. Kamu masih sekolah. Jangan sampe sakit."

"Gak papa, Pak. Aku kuat."

Aku langsung cuci piring. Dari jam empat sore sampe jam dua belas malam.

Delapan jam non stop.

Tanganku sakit. Merah semua. Kulitnya mulai melepuh di beberapa bagian karena kena air panas terus menerus. Deterjen yang keras bikin kulit makin perih.

Tapi aku terus cuci.

Piring demi piring.

Gelas demi gelas.

Pak Hadi berkali-kali nyuruh aku istirahat. Tapi aku tolak.

"Gak papa, Pak. Aku masih kuat."

Tengah malam, aku selesai. Pak Hadi kasih aku delapan puluh ribu.

"Ini. Kamu hebat, Satria. Gak ada anak seusiamu yang sekuat kamu."

Aku terima uang itu dengan tangan yang gemetar. Tanganku perih banget.

"Terima kasih, Pak."

Aku pulang jalan kaki. Jalanan gelap. Sepi. Dingin.

Sampai rumah, ibu udah tidur. Ayah juga tidur. Aku gak bangunin mereka.

Aku langsung tidur. Tapi cuma tidur tiga jam. Jam setengah empat aku udah bangun lagi buat bantu ayah.

***

Begitu terus selama seminggu.

Setiap hari aku sekolah. Pulang sekolah langsung kerja di warung sampe tengah malam. Tidur cuma tiga jam. Bangun pagi bantu ayah. Berangkat sekolah lagi.

Tanganku makin parah. Kulitnya melepuh di banyak tempat. Ada yang sampe luka terbuka. Perih banget. Tapi aku tutupin pake plester.

Di sekolah, aku mulai gak kuat.

Hari Senin, pelajaran Fisika, aku ketiduran di kelas.

Kepala aku jatuh ke meja.

BRAK.

Pak Ahmad, guru Fisika, berhenti nerangin. Dia liat aku.

"Satria! Kamu tidur di kelas saya?!"

Aku bangun kaget. Mata aku masih setengah merem.

"Ma... maaf, Pak..."

"Maaf? Kamu pikir maaf cukup? Kamu menghina saya! Keluar!"

Aku berdiri dengan kaki yang lemes. Aku jalan keluar kelas.

Di belakang, aku denger tawa.

Bagas. Keyla. Temen-temen geng mereka.

"Kebanyakan begadang di kolong jembatan kali, Pak!"

"Atau kebanyakan mikir mau makan apa besok!"

"HAHAHA!"

Pak Ahmad diem aja. Dia gak tegur mereka.

Aku berdiri di luar kelas. Bersandar di dinding. Kepalaku pusing banget.

Mata aku berat.

Aku pengen tidur.

Tapi gak boleh. Gak boleh tidur.

Aku harus kuat.

***

Hari Rabu.

Pelajaran Matematika.

Bu Sari lagi nulis soal di papan tulis.

Aku duduk di bangku paling belakang. Kepala aku pusing. Penglihatan aku mulai kabur.

Aku coba fokus. Tapi gak bisa.

Tiba-tiba semuanya gelap.

***

Aku buka mata.

Putih.

Langit-langit putih.

Aku di mana?

Aku coba gerakin kepala. Sakit.

"Satria... Satria bangun..."

Suara perempuan. Lembut.

Aku toleh.

Bu Ratna. Dia duduk di sebelah kasur. Mukanya khawatir.

"Bu... saya... saya di mana?"

"Di UKS. Kamu pingsan di kelas tadi. Untung Adrian langsung bawa kamu ke sini."

Adrian.

Aku coba bangun. Tapi Bu Ratna pegang bahu aku.

"Jangan bangun dulu. Kamu harus istirahat. Kamu kelelahan, Satria. Dokter UKS bilang kamu kurang tidur sama kurang gizi."

Kurang tidur. Kurang gizi.

Iya. Aku emang kurang keduanya.

Aku tidur cuma tiga jam sehari. Aku makan cuma sekali sehari. Itupun cuma nasi sama kecap atau garam.

Pintu UKS terbuka.

Adrian masuk. Mukanya pucat. Matanya merah.

"Sat... lu udah sadar..."

Adrian mendekat. Dia duduk di sebelah kasur. Dia pegang tangan aku.

Tanganku yang luka-luka.

Adrian liat luka-luka di tangan aku. Matanya melebar.

"Sat... tangan lu... kenapa...?"

Aku tarik tangan aku. "Gak papa. Cuma lecet dikit."

"Lecet dikit?! Ini luka bakar! Ini melepuh! Lu... lu kerja apa sampe kayak gini?!"

Bu Ratna juga liat tangan aku. Dia tutup mulut. Matanya berkaca-kaca.

"Satria... kamu... kamu kerja di mana sampai tanganmu seperti ini?"

Aku diem. Gak mau jawab.

Adrian nangis. "Ini gara-gara gue kan? Lu kerja keras gara-gara lu kasih uang lu ke gue. Lu kerja buat ngumpulin uang lagi. Dan lu... lu sampe kayak gini..."

Adrian nangis makin keras.

Bu Ratna liat Adrian. "Adrian! Kamu... kamu terima uang dari Satria?!"

Adrian ngangguk sambil nangis. "Iya, Bu... Nyokap gue sakit. Gue gak punya uang. Satria kasih semua uang hasil kerja dia ke gue. Dan sekarang dia... dia kayak gini gara-gara gue..."

Bu Ratna ngelus kepala Adrian. "Adrian... kamu harus belajar menghargai pengorbanan temanmu. Satria melakukan ini karena dia peduli sama kamu."

Adrian pegang tangan aku. Dia nangis di tangan aku yang luka.

"Maafin gue, Sat... maafin gue... gue egois... gue terima uang lu tanpa mikir lu bakal susah kayak gini..."

Aku senyum. Meskipun kepala aku masih pusing. Meskipun badan aku lemes.

"Gak papa, Dri. Teman sejati... selalu ada saat susah. Lu gak egois. Lu cuma... lu cuma butuh bantuan. Dan gue seneng bisa bantuin lu."

Adrian nangis makin keras. Dia peluk aku.

Bu Ratna juga nangis. Dia lap matanya pake jilbabnya.

"Kalian... kalian anak-anak yang luar biasa... Di tengah dunia yang kejam ini... kalian masih punya hati yang tulus..."

Aku tutup mata.

Capek.

Badan aku capek.

Tapi hati aku... hati aku hangat.

Karena aku punya teman.

Teman yang beneran peduli.

***

Aku tidur di UKS sampe sore.

Jam lima sore aku bangun. Kepala udah gak pusing lagi. Badan masih lemes. Tapi udah mendingan.

Bu Ratna dan Adrian masih di sana. Mereka duduk di kursi sambil nunggu aku bangun.

"Sat... lu udah bangun. Gimana? Udah enakan?"

Aku ngangguk. "Udah."

Bu Ratna berdiri. "Satria... ibu sudah hubungi ibumu. Ibu bilang kamu pingsan. Ibumu khawatir. Kamu harus langsung pulang."

Ibu tau?

Oh tidak.

Ibu pasti khawatir setengah mati.

Aku langsung berdiri. Tapi kaki aku lemes. Aku hampir jatuh.

Adrian pegang bahu aku. "Pelan-pelan, Sat. Lu masih lemes."

Aku jalan pelan keluar UKS. Adrian bantuin aku jalan.

Bu Ratna nganterin kami sampe gerbang sekolah.

"Satria... kamu jangan memaksakan diri. Kamu masih muda. Tubuhmu butuh istirahat. Jangan kerja terlalu keras. Ibu tau kamu butuh uang. Tapi kesehatan lebih penting."

Aku ngangguk. "Terima kasih, Bu."

Bu Ratna senyum. "Sama-sama, Nak. Kalau kamu butuh bantuan apa-apa, bilang ibu. Ibu akan bantu sebisanya."

Aku senyum. Untuk pertama kalinya, aku ngerasa ada guru yang beneran peduli sama aku.

***

Adrian nganterin aku sampe ke gang rumah.

"Sat... gue gak akan lupain ini. Gue janji suatu hari nanti gue akan bales kebaikan lu."

Aku geleng. "Gak usah dibales, Dri. Kita teman. Teman gak perlu balesan."

Adrian senyum. Tapi matanya masih sedih.

"Lu istirahat ya. Jangan kerja dulu sampe lu bener-bener sehat."

Aku ngangguk.

Adrian pergi.

Aku masuk ke rumah.

Ibu langsung peluk aku. Erat banget. Dia nangis.

"Satria... Satria kenapa? Kenapa kamu pingsan? Kamu kenapa, Nak...?"

Aku peluk ibu balik. "Aku gak papa, Bu. Cuma capek aja. Udah sehat sekarang."

Ibu lepas pelukan. Dia liat muka aku. Dia liat tangan aku yang luka.

"Tangan kamu... kenapa...?"

Aku sembunyiin tangan aku di belakang. "Gak papa, Bu. Cuma lecet dikit."

Ibu pegang tangan aku. Dia liat luka-luka di sana. Air matanya jatuh.

"Satria... kamu kerja apa sampe kayak gini...? Ibu... ibu gak mau kamu kayak gini... Ibu gak mau kamu sakit gara-gara kerja keras..."

Aku peluk ibu lagi. "Aku gak papa, Bu. Aku kuat. Aku janji aku gak akan sakit lagi."

Ibu nangis di pelukan aku.

Kami berdua nangis.

Dan di kasur, ayah juga nangis. Dia denger semuanya. Dia liat semuanya. Tapi dia gak bisa berbuat apa-apa.

Dia cuma bisa nangis dalam diam.

***

Malam itu, aku gak bisa tidur.

Aku terbaring di kasur tipis. Mata menatap langit-langit yang bocor.

Tetesan air jatuh ke ember.

Tok. Tok. Tok.

Aku mikir tentang beasiswa.

Seleksi tinggal empat hari lagi.

Aku harus fotokopi berkas besok. Harus ke kelurahan.

Tapi aku masih lemes. Badan aku masih sakit.

Aku tutup mata.

Dalam gelap, aku bermimpi.

Aku berdiri di sebuah ruangan putih. Kosong. Gak ada apa-apa.

Di tengah ruangan ada sebuah meja. Di atas meja ada formulir beasiswa.

Aku jalan mendekat. Aku mau ambil formulir itu.

Tapi tiba-tiba, ada sosok gelap muncul dari balik meja.

Sosok tanpa wajah. Hitam pekat. Tangannya panjang.

Dia ambil formulir itu.

Dia merenggut dari tanganku.

"Ini bukan untukmu."

Suaranya dalam. Menakutkan.

Aku teriak. "Kembalikan! Itu punyaku!"

Sosok itu ketawa. Tawa yang menggema di seluruh ruangan.

"Kamu pikir kamu bisa menang? Kamu hanya anak miskin. Kamu tidak punya apa-apa. Kamu tidak layak."

Formulir di tangannya terbakar. Jadi abu. Melayang di udara.

Aku jatuh berlutut. Menangis.

"Tidak... tidak..."

***

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Keringat dingin membasahi dahi.

Jantung berdetak cepat.

Mimpi buruk.

Aku duduk. Aku pegang dada.

"Itu cuma mimpi... cuma mimpi..."

Tapi kenapa rasanya... rasanya nyata banget?

Aku liat jendela. Langit masih gelap.

Tapi aku tau. Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.

***

*Andri: "Kadang tangan yang paling terluka adalah tangan yang paling banyak memberi. Tapi justru luka itulah yang jadi saksi, bahwa kamu pernah hidup bukan hanya untuk dirimu sendiri."*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!