NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:19
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Drama

Selasa pagi datang tanpa drama. Tidak ada hujan sisa semalam yang membuat aspal basah, dan tidak ada alarm yang harus dimatikan paksa berulang kali. Raka bangun tepat pada dering kedua, duduk di tepi tempat tidur, dan merasakan punggungnya sedikit lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Mungkin efek dari soto Betawi kemarin, atau mungkin karena ia mulai tidur tanpa memeriksa galeri foto di ponselnya selama dua malam berturut-turut.

Rutinitas paginya masih sama, namun ada pergeseran ritme yang halus. Saat berdiri di depan lemari pakaian, Raka tidak menghabiskan waktu lima menit hanya untuk menatap deretan kemeja dengan tatapan kosong. Biasanya, ia akan secara otomatis meraih kemeja biru muda—warna yang pernah dikatakan mantan kekasihnya membuat kulit Raka terlihat lebih cerah. Hari ini, tangannya bergerak melewati warna biru itu dan menarik kemeja abu-abu tua yang jarang ia sentuh.

Kainnya terasa agak kaku karena terlalu lama digantung, baunya pun hanya bau lemari kayu, bukan pewangi pakaian floral yang biasa ia cium di kemeja favoritnya. Raka memakainya, mengancingkannya sampai ke leher, dan menatap cermin. Sosok di pantulan itu terlihat sedikit lebih suram, tetapi terasa lebih jujur.

"Oke," gumamnya pelan. Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan hari ini, ditujukan pada dirinya sendiri.

Perjalanan menuju kantor dihabiskan dengan berdiri di gerbong kereta yang padat. Raka tidak menyumpal telinganya dengan *earphone*. Ia membiarkan suara bising perbincangan penumpang, pengumuman stasiun otomatis yang datar, dan decit roda kereta mengisi kepalanya. Ia melihat seorang bapak tua yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, dan sekelompok anak SMA yang tertawa keras membahas tugas sekolah. Dunia di sekitarnya begitu hidup, bising, dan tidak teratur. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Raka merasa menjadi bagian kecil dari kekacauan itu, bukan penonton yang terpisah di balik kaca tebal.

Sesampainya di kantor, atmosfer dingin pendingin ruangan langsung menyambut. Raka duduk di kubikelnya, menyalakan komputer, dan mulai bekerja. Bayu belum terlihat, mungkin masih terjebak di lobi atau sedang merokok di area parkir.

Pukul dua belas siang, kepala Raka muncul dari balik partisi kubikel tepat saat Bayu berjalan mendekat.

"Padang?" tanya Bayu singkat, alisnya terangkat menantang.

Raka berkedip. Kemarin Soto Betawi, sekarang Nasi Padang. Bayu sepertinya sedang dalam misi wisata kuliner atau sekadar ingin menaikkan kolesterol Raka. Namun, alih-alih menolak dan menyarankan *food court* yang lebih bersih dan tenang, Raka mengangguk.

"Boleh. Tapi jangan yang terlalu jauh."

Restoran Padang itu terletak di ruko belakang gedung kantor. Udaranya panas dan lembap, bercampur dengan aroma tajam gulai, cabai hijau, dan asap rokok dari area luar. Pelayan yang membawa tumpukan piring di lengan kiri bermanuver dengan lincah di antara meja-meja sempit. Suara piring beradu kencang mendominasi ruangan.

Mereka mendapat meja di sudut dekat kipas angin dinding yang berputar malas. Raka menatap hamparan lauk yang disajikan. Rendang yang menghitam, ayam pop pucat, dan daun singkong rebus yang hijau pekat.

"Makan pakai tangan, Ka. Biar afdal," ujar Bayu sambil mencuci tangannya di mangkuk kecil berisi air jeruk nipis.

Raka terdiam menatap jari-jarinya sendiri. Ada memori yang melintas cepat—sebuah kilatan visual yang tajam. Dulu, mantannya sangat anti makan menggunakan tangan langsung di tempat umum. *“Bau sabunnya nggak bakal hilang sampai sore, Ka. Nanti kalau pegang tangan aku jadi bau terasi,”* begitu katanya dulu, selalu menyodorkan sendok dan garpu yang sudah ia lap dua kali dengan tisu basah.

Raka menelan ludah, merasakan hantu keraguan itu mencengkeram pergelangan tangannya. Ia hampir saja mengangkat tangan untuk meminta sendok pada pelayan. Namun, ia melihat Bayu yang sudah dengan santai menyuwir ayam pop, tidak peduli dengan minyak yang menempel di jari.

Raka menarik napas panjang, menghirup aroma kuah gulai yang kental. Ia mencelupkan jari-jarinya ke dalam mangkuk cuci tangan, lalu mulai mengaduk nasi dan kuah di piringnya dengan tangan telanjang.

Sensasinya aneh namun nyata. Panas nasi, tekstur lengket kuah santan, dan serat daging rendang yang ia cubit terasa langsung di kulitnya. Itu adalah sensasi primitif yang memaksanya hadir di masa kini. Tidak ada perantara logam dingin antara dirinya dan makanannya.

"Gimana kerjaan? Si Bos masih rewel soal laporan bulanan?" tanya Bayu di sela suapan.

"Lumayan," jawab Raka setelah menelan kunyahannya. "Tapi tadi pagi gue nemu formula Excel yang bikin rekapnya jadi otomatis. Jadi aman."

"Wah, serius? Boleh tuh di-*share*. Gue masih manual, capek mata gue," sahut Bayu antusias.

Percakapan mengalir ringan. Tidak ada pembahasan tentang kesedihan, tidak ada pertanyaan tentang "kenapa Raka sering melamun". Hanya keluhan-keluhan standar karyawan korporat tentang gaji, atasan, dan kemacetan Jakarta. Raka menyadari bahwa ia menikmati ini—kenormalan yang membosankan ini. Rasa pedas dari sambal ijo membakar lidahnya, membuatnya berkeringat, tapi itu membuatnya merasa hidup.

Selesai makan, mereka berjalan kembali ke kantor. Raka mencium bau tangannya sendiri. Aroma sabun cuci tangan restoran yang wangi jeruk sintetik bercampur tipis dengan bau bumbu rempah. Anehnya, ia tidak merasa perlu buru-buru mencucinya lagi dengan sabun mahal di toilet kantor. Ia membiarkan bau itu ada sebagai bukti bahwa ia baru saja makan siang yang enak dengan seorang teman.

Sore harinya, sekitar pukul tiga, suasana kantor mulai melambat. Raka sedang merapikan berkas fisik di mejanya ketika ia mendengar suara berisik dari arah mesin fotokopi di ujung lorong. Seseorang mendesah frustrasi, diikuti suara kertas ditarik paksa.

Raka menoleh. Itu Rini, anak magang di divisi pemasaran. Dia tampak panik, rambutnya sedikit berantakan, dan ada noda tinta hitam kecil di ujung jarinya. Tumpukan kertas berserakan di lantai di dekat kakinya.

Raka yang dulu, Raka versi dua minggu lalu, mungkin akan pura-pura tidak melihat. Ia akan memasang *earphone* dan kembali tenggelam dalam dunianya sendiri, menganggap masalah orang lain hanyalah gangguan. Tapi hari ini, perutnya kenyang oleh nasi Padang dan ia memakai kemeja abu-abu yang membuatnya merasa berbeda.

Raka berdiri, lalu berjalan mendekat.

"Macet lagi?" tanya Raka datar.

Rini tersentak kaget, hampir menjatuhkan stapler yang dipegangnya. "Eh, Mas Raka. Iya, Mas. Kertasnya nyangkut di dalam, padahal ini harus dibagiin buat *meeting* setengah jam lagi." Wajah gadis itu pucat karena panik.

Raka mengangguk pelan. Ia berjongkok di depan mesin besar itu, membuka panel samping dengan gerakan terlatih. Hawa panas mesin menerpa wajahnya.

"Ini sensornya kotor, jadi dia narik dua kertas sekaligus," gumam Raka. Ia menarik kertas yang terjepit dengan hati-hati agar tidak robek dan tertinggal di dalam rol.

Saat Raka berdiri dan menutup kembali panel mesin, Rini berada tepat di sampingnya, membungkuk untuk mengambil kertas yang jatuh.

"Makasih banyak ya, Mas Raka. Duh, aku udah mau nangis rasanya," ujar Rini sambil tersenyum lega.

Saat itulah Raka mencium baunya.

Rini tidak memakai parfum mahal. Baunya manis dan lembut, seperti *vanilla* dan kue yang baru dipanggang. Sangat kontras dengan memori olfaktori Raka tentang mantannya yang selalu berbau *citrus* segar atau bunga melati yang elegan.

Bau *vanilla* itu asing. Tidak memicu kenangan apa pun. Tidak ada memori Raka yang tersimpan dalam frekuensi wangi ini.

Untuk sesaat, Raka terdiam, memproses informasi sensorik itu. Dulu, segala sesuatu yang berbeda dari mantannya akan membuatnya merasa salah, seolah dunia ini tidak pada tempatnya. Tapi kali ini, wangi *vanilla* itu hanya... wangi *vanilla*. Netral. Tidak menyakitkan, tapi juga tidak memabukkan. Itu hanya aroma orang lain, manusia lain yang hidup di garis waktu yang sama dengannya saat ini.

"Lain kali kalau mau fotokopi banyak, dikipas dulu kertasnya biar nggak nempel," saran Raka, suaranya terdengar sedikit serak namun tenang.

"Siap, Mas. Makasih tipsnya," Rini mengangguk sopan, lalu bergegas pergi dengan tumpukan kertasnya.

Raka kembali ke mejanya. Ia duduk dan menatap layar komputer yang menampilkan *screensaver* jam digital. Detik demi detik berganti. Ia baru saja melakukan interaksi sosial murni tanpa bantuan Bayu, dan ia berhasil melewatinya tanpa terseret arus melankolia.

Malam itu, di apartemennya yang sunyi, Raka duduk di sofa. Ia tidak langsung mandi. Ia membiarkan kelelahan kerja meresap ke dalam otot-ototnya. Televisi menyala dengan volume kecil, menayangkan berita malam yang tidak ia perhatikan.

Tangannya meraih ponsel. Biasanya, di jam segini, ia akan menggulir media sosial tanpa tujuan atau menatap riwayat *chat* lama yang tidak pernah ia hapus. Tapi bayangan makan siang tadi kembali muncul. Rasa pedas sambal ijo, tawa Bayu yang renyah, dan bau tangan yang kini sudah hilang tergantikan sabun mandi.

Raka membuka aplikasi pesan, mencari nama Bayu. Jempolnya melayang ragu di atas layar. Ini wilayah baru. Biasanya Bayu yang memulai, Bayu yang mengajak, Bayu yang bertanya. Mengirim pesan duluan berarti mengakui bahwa ia membutuhkan koneksi itu. Mengakui bahwa ia ingin pertemanan ini berlanjut.

Dengan gerakan cepat sebelum keberaniannya surut, Raka mengetik kalimat singkat.

*Tadi nama rumah makannya apa? Sambalnya boleh juga.*

Ia menekan tombol kirim.

Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang, menanti respons. Bukan debaran cinta, melainkan debaran kecemasan sosial yang wajar.

Ponselnya bergetar tiga detik kemudian.

*RM Surya Minang. Kenapa? Nagih lo? Besok sate ayam depan kantor pos, gas?*

Sudut bibir Raka terangkat sedikit. Sangat sedikit, hingga mungkin tidak terlihat jika ada orang lain di ruangan itu. Tapi rasanya cukup untuk membuat dadanya terasa lapang.

"Gas," gumam Raka pelan sambil mengetik balasan yang sama.

Ia meletakkan ponselnya di meja, mematikan televisi, dan bersiap tidur. Garis waktunya masih berjalan, dan untuk hari ini, ia berhasil berjalan beriringan dengannya, bukan tertinggal di belakang.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!