NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Saat King Goblin itu akhirnya menampakkan diri, monster bertubuh besar tersebut mengeluarkan teriakan keras yang mengguncang hutan. Tanpa ragu, ia langsung mengayunkan senjata besarnya ke arah Wakasa.

Namun—

Swoosh!

Dalam sekejap, tubuh Wakasa sudah menghilang dari lintasan serangan itu.

Dengan ekspresi tenang, Wakasa muncul tepat di belakang kepala King Goblin.

“Sword… berakhir sudah.”

Cahaya dingin menyelimuti pedangnya.

Slash—!

Satu tebasan bersih memutus kepala King Goblin. Tubuh raksasa itu ambruk ke tanah dengan suara berat, menandai akhir pertarungan.

“Akhirnya selesai.”

Wakasa menoleh ke sekeliling hutan yang kini sunyi.

“Sepertinya… aku mengalahkan terlalu banyak.”

Ia berjongkok dan mengambil batu kristal dari tubuh King Goblin dan goblin-goblin lainnya. Setelah memastikan semuanya aman, Wakasa memanggil layar status miliknya.

✦ STATUS WAKASA ✦

Kecepatan: 100 / 100

Pukulan: 100 / 100

Kekuatan Sihir: 100 / 100

Kemampuan Bertarung: 100 / 100

Pertahanan: 100 / 100

Teknik Berpedang: 100 / 100

Mystery: - / -

Penghilang Keberadaan: 70 / 100

Kebal Racun: 60 / 100

Pemulihan Tubuh: 90 / 100

Wakasa mengamati perubahannya dengan wajah santai.

“Penghilang keberadaan naik dua puluh… pemulihan tubuh bertambah lima.”

“Sepertinya akan maksimal setelah beberapa monster lagi.”

Ia menghela napas kecil.

“Kebal racun tidak naik… berarti aku harus melawan monster beracun.”

Tubuhnya terasa ringan.

“Berkat pemulihan tubuh, aku sama sekali tidak merasa lelah.”

Setelah itu, Wakasa bersiap kembali ke ibu kota.

“Aku menyelesaikan misi ini terlalu cepat… bahkan belum tengah hari.”

Ia menatap langit dan awan yang perlahan bergerak.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Wakasa tiba di gapura besar pintu masuk ibu kota.

“Apa aku beli makan dulu… atau ke kantor petualang?”

“Hmm… ke kantor petualang dulu saja.”

Begitu masuk ke dalam guild, suasana langsung terasa ramai seperti biasa.

“Selamat siang, Sakura-san.”

“Oh, Wakasa-kun! Selamat datang. Cepat sekali kau menyelesaikan misinya.”

(ujar Sakura sambil tersenyum)

“Eem… aku hanya bertemu sedikit goblin.”

Dengan santai, Wakasa mengeluarkan batu-batu sihir hasil buruannya.

Sakura terdiam.

Matanya membesar melihat jumlah batu sihir yang sangat banyak—namun satu di antaranya langsung mencuri perhatiannya. Batu sihir itu berwarna kuning cerah, memancarkan aura berbeda.

“Wakasa-kun… ini…”

“Jangan bilang ini batu sihir King Goblin?”

“Ah… emmm, iya. Aku kebetulan bertemu dengannya.”

Sakura memegang kepalanya dengan satu tangan.

“Haaah… aku seharusnya sudah terbiasa, tapi tetap saja…”

“Hahaha.”

(Wakasa tertawa kecil)

“Tunggu sebentar ya, aku ambilkan hadiahnya.”

“Oke.”

Sambil menunggu, Wakasa berjalan ke papan misi. Ia membaca beberapa permintaan, sampai sebuah kertas menarik perhatiannya.

“Membasmi tikus di Desa Viloran.”

“Misi peringkat E…?”

“Kenapa belum ada yang mengambil?”

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—

“Wakasa-kun!”

(teriak Sakura dari balik konter)

“Baik, aku datang.”

Wakasa kembali sambil membawa kertas misi itu.

Sakura menyerahkan kantong koin padanya.

“Ini hadiahnya.”

“Dan Wakasa-kun… selamat.”

Ia tersenyum bangga.

“Mulai sekarang, kau resmi naik menjadi Petualang Ranking C.”

“Boleh aku pinjam kartu petualang mu untuk memperbarui statusnya?”

“Tentu, silakan.”

Tak lama kemudian, kartu petualang Wakasa kembali ke tangannya.

Tulisan pada kartu itu kini berubah:

RANKING: C

Wakasa menatap kartu tersebut sejenak.

“Ranking C, ya…”

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Perjalananku… baru saja dimulai.”

"Anu, Sakura-san… kenapa misi ini belum ada yang mengambilnya?"

Wakasa mengangkat selembar kertas misi dan menunjukkannya ke arah Sakura.

Sakura melirik kertas itu sekilas, lalu tersenyum kecil seolah sudah menduga pertanyaan tersebut.

"Oh, itu ya… karena itu misi peringkat E."

"Upahnya kecil, dan desa itu baru akan memasuki musim panen, jadi mereka belum sanggup membayar lebih."

Wakasa terdiam sejenak.

(Benar juga… misi peringkat E. Tidak heran para petualang mengabaikannya.)

Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

"Tapi kalau hama itu dibiarkan…"

"Bukankah hasil panen desa itu justru akan semakin sedikit?" —ucap Wakasa sambil menatap Sakura.

Ekspresi Sakura berubah sedikit lebih serius.

"Kau benar."

"Jumlah hama itu sangat banyak, dan hanya petualang dengan sihir yang bisa memusnahkan mereka."

"Masalahnya, dengan jumlah sebanyak itu, energi sihir yang dibutuhkan tidak sebanding dengan upahnya."

Kata-kata itu membuat ruangan terasa lebih berat.

Wakasa mengepalkan tangannya pelan.

(Jika tidak ada yang membantu… desa itu akan benar-benar hancur.)

"Aku harus membantu mereka."

Suaranya pelan, namun penuh tekad.

Wakasa mengangkat wajahnya dan menatap Sakura dengan serius.

"Sakura-san, aku akan mengambil misi ini."

"Eeh?"

"Kau yakin? Upahnya benar-benar kecil, loh."

Wakasa hanya mengangguk mantap.

"Eeem."

Sakura menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum lembut.

"Baiklah. Tunggu sebentar."

Cap stempel menempel kertas misi itu.

"Ini misinya."

"Terima kasih, Sakura-san."

Wakasa berbalik dan berjalan keluar dari kantor petualang dengan langkah cepat.

Namun baru beberapa langkah…

"…Tunggu."

Ia berhenti mendadak.

"Aku tidak tahu di mana Desa Viloran berada."

Wakasa menggaruk pipinya dengan ekspresi canggung.

Saat itulah ia melihat sebuah kereta kuda di kejauhan, bersiap meninggalkan kota.

"Eh—tunggu!"

Wakasa langsung berlari menuju kereta tersebut, menandai awal perjalanannya menuju desa yang terlupakan.

“Permisi,” ucap Wakasa sambil mendekati kereta kuda yang sedang berhenti di pinggir jalan.

“Apakah Anda bisa mengantar saya ke Desa Viloran?”

Kusir kuda itu—seorang pria paruh baya dengan topi jerami nya—melirik Wakasa sekilas sebelum tersenyum kecil.

“Oh? Kebetulan sekali. Aku memang akan melewati desa itu.”

Mata Wakasa langsung berbinar.

“Benarkah? Kalau begitu aku ingin ikut. Berapa ongkosnya?”

Kusir itu terkekeh pelan sambil menepuk leher kudanya.

“Tak perlu bayar. Aku memang akan melewati desa itu.”

“Eeh, serius?” Wakasa tampak terkejut, lalu menundukkan kepala dengan senyum tulus.

“Terima kasih banyak, Anda benar-benar menolongku.”

“Naiklah,” kata sang kusir sambil mengangkat tali kendali.

“Kita berangkat sekarang.”

Wakasa segera menaiki kereta kuda itu. Tak lama kemudian, roda kayu berderit pelan, dan kereta pun mulai berjalan meninggalkan jalan berbatu.

Angin sepoi-sepoi menyapu wajah Wakasa, sementara matanya menatap jauh ke depan—menuju Desa Viloran, tempat petualangan barunya akan segera dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!