NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Marriage for starts

...SELAMAT MEMBACA!...

Dara harus menepis semua perasaan ragu dalam hatinya, demi melakukan keinginan kedua orang tua. Tidak peduli bagaimana nantinya kehidupan berjalan bersama seseorang yang tak dicintai. Baginya, terjadilah bila itu memang sudah takdir.

Gaun mewah itu dikenakan olehnya, rambut pun sudah ditata dan diberi hiasan pernak-pernik membuatnya terlihat anggun. Namun, suasana hati masih tak kunjung membaik. Takut, ragu, dan senang kalut menjadi satu.

Dara menunduk dalam, duduk di kursi menghadap ke jendela. Dia berada di sebuah kamar vila, yang menjadi tempat pernikahannya berlangsung. Pemandangan indah terlihat dari sini, suasana damai di pedesaan asri.

Pada akhirnya, Dara menetapkan hatinya dan mengulas senyum lebar. Gadis itu bangkir dari kursi. Dia menghembuskan napas panjang sembari melihat pantulan dirinya di kaca, terlihat cantik sekali.

Tidak lama setelahnya terbangun dari ilusi buruk soal rumah tangganya nanti, sang bunda menjemput untuk membawanya turun ke tempat yang menjadi titik acara pernikahan itu.

Lelaki tampan berwajah tegas itu membenahi kancing lengan bajunya. Setelan jas berwarna hitam melekat di tubuhnya, rambut hitam tertata rapi membuatnya terlihat lebih rupawan dari biasanya. Pangeran ini akan menjadi suami Dara. Dia berdiri di sudut halaman sambil melihat tamu berdatangan.

Beberapa orang melemparkan senyum kepada calon pengantin itu. Dino pun membalasnya, sebagai rasa hormat, meski sebenarnya tersenyum berlebihan bukanlah jati dirinya.

Semua pandangan tertuju kepada pengantin wanita, yang berjalan dituntun oleh sang bunda. Awalnya, Dara memasang wajah datarnya. Namun, Bila memperingatkannya agar melukiskan senyum terbaik.

Cantik. Kalimat tersebut yang berada di benak para tamu ketika melihat Dara, tak terkecuali. Bahkan, Dino sampai tidak berkedip memandangnya dengan mata bulat. "Ayo, Dino," ajak Pamu, sang papa.

Mata yang berbinar melihat dua pengantin berjalan menuju altar. Gaun Dara serta setelan jas Dino membuat mereka terlihat sangat cocok. Mereka serasi. Para tamu pun memuji kecantikan Dara dan ketampanan Dino.

Dara menggandeng tangan Dino, sembari berjalan dan melihat tamu berdiri di samping mereka. Jantung Dara berdetak kencang, dia ingin berteriak. "Tegang, ya?" celetuk Dino, lantas membuat Dara mendongak sejenak.

"I--iya," jawab Dara dengan gugup.

Langit cerah, awan putih melayang di atas sana. Matahari ikut tersenyum menyaksikan dua insan itu telah resmi menjadi suami-istri. Semua orang di sana bersorak dan bertepuk tangan, membuat suasana semakin meriah.

Dara dan Dino saling melemparkan senyum. Mereka bersamaan memegang seikat bunga indah dan segar, membelakangi para tamu untuk melakukan acara lempar bunga. Setengah dari tamu menantikan bunga itu mendarat, sedangkan lainnya menikmati hidangan.

Dara dan Dino berhitung bersama. "1, 2, 3." Lalu, bunga itu dilemparkan ke belakang, kemudian mereka berbalik badan.

Tangan para tamu mengudara, bersiap menangkap bunga yang melayang itu. Namun, tidak ada. Bunga tersebut jatuh ke tanah dan membuat semua orang kecewa juga tertawa keras.

Pengantin baru itu berdiri menyambut tamu yang berdatangan, juga melayani mereka sebagai tanda terima kasih.

Gelegar suara motor mendekat, kemudian terhenti di depan vila. Dino lantas mengembangkan senyum saat melihat anggota gengnya datang. Sedangkan Dara yang tidak tahu, dia memandang Dino dengan penuh tanya.

Terlihat Mahen berdiri di antara mereka. Berjalan dengan tegap, berpenampilan rapi berbeda seperti biasa. Bama juga berbaur di sana.

"Maaf, Pak Ketua, kita telat karena baru pulang sekolah," ujar Mahen, sambil berjabat tangan dengan Dino.

"Gak apa-apa, yang penting kalian dateng," ucap Dino.

Mereka saling melemparkan senyum. Lalu, pandangan para anggota geng Ultimate Phoenix itu tertuju pada si cantik yang berdiri di samping Dino. "Bu Bos!" sapa Mahen. Dara hanya membalas dengan senyum simpul.

"Selamat atas pernikahannya ya, Kak," ujar Aga. Karaga Dewana, anggota divisi satu sebagai wakil.

"Makasih, Ga."

"Boleh langsung sikat makanan, Bos?" Itu suara nyaring Mahen. Dia langsung berhamburan ke dalam saat mendapat anggukan dari sang ketua.

Anggota lain pun mengikuti, kecuali Angga yang masih berdiri di sana. Lelaki itu mengulurkan tangan. "Selamat, ya! Do'ain biar gue cepet nyusul!" katanya.

Dino hanya tersenyum simpul.

Angga, dia menatap Dara dengan tatapan yang aneh. Seperti, sudah mengenalinya. "Gue kayak pernah lihat istri lo, Bos," celetuk Angga.

Dara pun sama terkejutnya, tetapi dia tidak ingat. "Oh, ya? Di mana?" tanya Dara.

"Gue juga lupa," jawab Angga. Dia menggaruk tengkuknya lehernya, sambil mencoba mengingat.

Tidak semua anggota geng Ultimate Phoenix datang, jika hadir seluruhnya, maka akan seperti kapal pecah pesta pernikahan Dino. Hanya 15 anggota, termasuk anggota inti.

Percayalah, Mahen kalap melihat makan-makan lezat itu berjejer rapi. Dia melahap tanpa henti hingga mulutnya penuh. Beberapa anggota juga melayaninya, hanya saja Mahen terlihat paling bersemangat.

"Jangan malu-maluin lo, Mahen!" peringat Bama, yang tengah duduk di samping Mahen. Raut wajahnya terlihat kesal melihat temannya itu.

Mahen tidak terima, dia mendengus. "Makan aja! Lo sebenernya doyan, kan?" ketusnya.

"Sialan lo." Bama mengumpat, kemudian menyuapi mulutnya dengan sepotong kue nanas. "Enak," gumamnya.

"Darwin kapan pulang?" Pertanyaan itu terlontar dari Dino, kepada Angga yang tengah menikmati sepotong kue.

"Katanya lusa," jawab Angga.

Dino mengangguk paham, kemudian mencomot pancake di atas meja. "Gue minta tolong lo buat urus mereka dulu selama dua hari. Gue mau ngajak istri gue liburan," ujar Dino.

Angga menarik kedua sudut bibirnya. "Kaget banget gue, ada cewek yang bisa luluhin hati lo."

Dino menghela napas berat mendengarnya. "Gue juga cowok."

.....

Acara pernikahan tersebut berjalan dengan lancar dan meriah. Berswa foto untuk mengabadikan momen, tidak terlewatkan bagi si cantik Dara yang kini telah bersuami.

Make-up di wajahnya sudah dihapus, dia juga berganti pakaian santai. Dara berdiri di halaman, bersama Dino di sampingnya. Gadis itu melihat sekelilingnya dihiasi bunga-bunga cantik. "No, boleh minta bunganya buat dibawa pulang?" ujar Dara.

Dino terdiam sejenak mendengar nama panggilan itu, ini kali pertama Dara memanggil namanya. Dino memandangi wajah melas istrinya itu. "Buat apa?" tanya Dino.

"Aku suka bunga."

Dino menganggukkan kepala. "Mau dibawa pulang semua?" tawar Dino, sontak membuat Dara menggeleng kuat.

"Ambil yang masih segar, aja! Itu banyak yang layu."

Dino melenggang dari sana, mendekati karangan bunga dan menarik beberapa tangkai bunga. Dara memandang dari jauh sosok lelaki yang menjadi suaminya. "Semoga nanti, aku bisa cinta, ya," gumam Dara, pelan.

.....

Dara gugup sekali, ketika menginjakkan kaki di lantai rumah barunya. Dino ternyata sudah membelinya, jauh hari sebelum perjodohan itu dilakukan. Gadis tersebut melangkah masuk dengan sedikit hati-hati.

"Ra, lo gak bawa baju ganti?" tanya Dino, sontak membuat Dara menoleh.

Manik gadis itu membulat. "Koper aku ada di bagasi mobil Ayah," pekik Dara.

"Ketinggalan?" Dara mengangguk cepat.

"Ya udah, pakai baju gue aja dulu." Lalu, Dino melangkah sambil menarik kopernya memasuki sebuah kamar.

Dara terdiam di luar kamar, melihat punggung Dino yang menjauh. "Kamarku ... di mana?" tanya Dara.

Dino berbalik badan, mengigit bibir saat menatap ke arah Dara. "Malam ini, kita satu kamar dulu." Seruan Dino sontak membuat Dara melebarkan mata. "Kamarnya ada dua, yang satu belum dibersihin," sambung Dino.

Rumah yang sederhana. Minimalis. Catnya berwarna putih, sungguh biasa saja seperti Dino. Beberapa perabotan sudah ada. Terdapat satu kamar mandi di dapur. Dua kamar tidur di sebelah ruang tengah dan satunya berada di samping dapur. Sedikit kotor dengan debu-debu menempel di tembok.

"Gue gak sempet bersihin kamar kedua, soalnya waktunya mepet," ujar Dino, memasuki kamar. Karena wajah Dara terlihat tidak bersemangat, Dino pun merasa canggung. "Gue tidur di sofa aja."

Lelaki itu mengambil satu bantal di ranjang, kemudian membawanya ke sofa yang terdapat di pojok kamar.

Malam yang sunyi, Dara tidak bisa tidur di dalam ruangan yang asing baginya. Dia sulit untuk beradaptasi. Dara mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, melirik sekilas ke arah Dino.

Lelaki itu tidur dengan tidak nyaman dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Wajahnya terlihat kelelahan, bibirnya sedikit terbuka. Dara menatapnya lamat, hatinya seakan tersentuh.

Matanya sudah berat, tetapi sulit untuk memejamkannya. Dara mencoba lagi, menutup kelopak mata dan memasuki alam mimpi.

🐰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!