Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Deru mesin motor sport milik Alano memecah keheningan area parkir SMA Nusantara yang mulai lengang. Sore itu, langit berwarna oranye keunguan, menciptakan suasana yang seharusnya romantis, namun bagi Ayra, ini adalah ujian mental yang sangat berat.
Ayra duduk di jok belakang yang cukup tinggi, membuat posisinya mau tidak mau condong ke depan. Tangannya mencengkeram erat jaket kulit hitam yang dikenakan Alano. Ia bisa merasakan tekstur kasar jaket itu, sekaligus merasakan hangatnya tubuh Alano di baliknya.
"Udah siap, Ay?" tanya Alano melalui balik helm full-face miliknya. Suaranya terdengar sedikit teredam, tapi masih sangat jelas di telinga Ayra.
"I-iya, jalan aja," jawab Ayra pendek.
Begitu Alano menarik gas, motor itu meluncur keluar dari gerbang sekolah. Guncangan awal membuat tubuh Ayra sedikit terdorong ke depan, membuat dadanya hampir menempel pada punggung Alano. Ayra segera menarik tubuhnya ke belakang, mencoba menciptakan jarak aman.
Namun, mengendarai motor sport dengan posisi tegak itu mustahil. Ayra merasa posisinya sangat canggung. Ia menggeser duduknya ke arah belakang jok, tapi setiap kali Alano mengerem atau melewati polisi tidur, tubuhnya kembali merosot ke depan.
Ayra terus menggeser duduknya. Ia merasa tidak nyaman dengan kedekatan fisik ini. Jantungnya berdegup kencang, dan ia merasa wajahnya pasti sudah sangat merah karena sirkulasi udara di balik helmnya sendiri terasa panas.
"Ay, lo kenapa sih? Gelisah amat kayak cacing kepanasan," tegur Alano saat mereka berhenti di lampu merah. Alano melirik dari kaca spion, melihat Ayra yang sibuk membenahi posisi duduk dan rok abu-abunya.
"Nggak apa-apa! Jok motor kamu tuh nggak enak, licin!" seru Ayra, mencari alasan.
Alano terkekeh. Ia tahu betul Ayra sedang salah tingkah. "Bukan joknya yang licin, Ay. Hati lo aja yang lagi nggak stabil. Sini, maju dikit. Lo duduk di ujung belakang gitu malah bahaya, bisa jatuh kalau gue gas dadakan."
"Enggak, udah pas kok gini!" Ayra bersikeras, meskipun ia harus memegang pegangan besi di belakang motor dengan kaku.
Lampu hijau menyala. Alano sengaja menarik gas sedikit lebih kental dari biasanya. Motor itu menyentak maju.
"Aaa!" Ayra memekik kecil. Karena kaget, kedua tangannya refleks melepaskan pegangan besi dan langsung memeluk pinggang Alano dengan sangat erat. Wajahnya terbenam sepenuhnya di punggung kokoh Alano.
Alano tersenyum puas di balik helmnya. Ia bisa merasakan tangan mungil Ayra melingkar di perutnya, dan ia juga merasakan deru napas Ayra yang tidak beraturan di punggungnya.
"Nah, gitu kan enak. Gue jadi nggak khawatir lo mental," ucap Alano santai, suaranya kini terdengar lebih lembut.
Ayra ingin melepaskan pelukan itu, tapi ia terlalu takut untuk jatuh. Akhirnya, ia menyerah. Ia membiarkan tangannya tetap di sana, menggenggam jaket Alano kuat-kali ini bukan karena takut jatuh, tapi karena ia merasa... nyaman.
Aroma parfum maskulin Alano yang bercampur dengan bau matahari dan keringat tipis entah kenapa terasa sangat menenangkan. Ayra memejamkan matanya sejenak. Ia teringat kejadian-kejadian belakangan ini. Alano yang membelanya di depan Rendy, Alano yang menjaganya saat sakit, dan akun Instagram rahasia itu.
Apakah benar cowok yang sedang memboncengku ini adalah 'playboy' yang sering aku maki? batin Ayra.
"Ay," panggil Alano di tengah kebisingan jalan raya.
"Apa?" sahut Ayra, kini suaranya sudah lebih tenang.
"Gue tau lo masih nganggep gue sepupu. Gue juga tau lo mungkin ngerasa aneh kalau kita lebih dari itu. Tapi asal lo tau, gue nggak pernah ngerasa sedeket ini sama siapapun kecuali sama lo."
Ayra terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tangannya di pinggang Alano sedikit melonggar karena ia mulai merasa haru.
"Kenapa harus aku, Lan? Di sekolah kan banyak cewek yang lebih cantik, lebih asyik, nggak kaku kayak aku," tanya Ayra, menyuarakan rasa penasarannya selama ini.
Alano memperlambat kecepatan motornya saat mereka memasuki kawasan kompleks perumahan. "Cantik itu relatif, Ay. Tapi yang bisa bikin gue ngerasa pengen pulang cuma lo. Dari sepuluh tahun lalu, pas lo kasih gue cokelat itu, gue udah tau kalau rumah gue bukan cuma bangunan tembok, tapi lo."
Ayra menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Alano terasa sangat jujur dan dalam, jauh dari kesan tebar pesona yang biasanya ia lakukan di lapangan basket.
Motor berhenti tepat di depan pagar rumah Papa Johan. Ayra turun dari motor dengan gerakan yang sedikit kaku. Ia melepas helmnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin.
Alano juga melepas helmnya, ia menatap Ayra dengan tatapan yang sangat hangat. "Makasih ya udah mau pulang bareng."
Ayra menatap sepatunya sendiri, tidak berani menatap mata Alano. "Makasih juga udah dijemput."
"Ay," panggil Alano lagi.
Ayra mendongak. "Ya?"
"Malem ini... jangan liatin Instagram gue mulu ya. Mending istirahat, besok kita ada latihan basket, gue mau lo nonton di pinggir lapangan."
"Ih! Siapa juga yang mau nonton!" seru Ayra, wajahnya kembali merah padam.
Alano tertawa lepas, ia mengacak rambut Ayra untuk kesekian kalinya hari itu. "Gue tunggu besok. Dadah, Ayang!"
Alano langsung memutar motornya masuk ke rumahnya sendiri, sementara Ayra berdiri terpaku di depan pagar. Ia memegang pipinya yang terasa panas.
"Duh, Ayra... kamu beneran kena sihir si Alano ya?" gumamnya pada diri sendiri.
Saat ia melangkah masuk ke rumah, ia berpapasan dengan Papa Johan. "Eh, Ayra? Baru pulang? Tadi diantar Alano?"
"I-iya, Pa. Tadi kebetulan searah," jawab Ayra gugup.
Papa Johan tersenyum penuh arti. "Alano itu anak baik, Ay. Papa percaya sama dia buat jagain kamu."
Ayra hanya mengangguk cepat dan langsung lari menuju kamarnya. Di dalam kamar, ia melempar tasnya dan merebahkan diri di kasur. Ia melihat ke arah balkon. Dari sana, ia bisa melihat jendela kamar Alano yang mulai menyala.
Malam itu, Ayra sadar satu hal: rasa tidak nyamannya di atas motor tadi bukanlah karena jok yang licin atau posisi yang salah, tapi karena ia mulai takut jika suatu saat nanti, ia tidak bisa lagi merasakan punggung itu sebagai tempatnya bersandar.