Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Badai di Puncak Bukit
Hujan turun seperti tumpahan tinta hitam di atas lereng bukit Bandung. Petir menyambar, menerangi siluet pepohonan pinus yang bergoyang hebat dihantam badai. Devan memacu motornya di atas jalanan setapak yang licin, ban motornya tergelincir beberapa kali di atas lumpur, namun ia tidak mengurangi kecepatan. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: rumah kayu kecil di puncak sana, tempat dunianya sedang dipertaruhkan.
Setibanya di halaman rumah, pemandangan itu menghancurkan hati Devan. Penjaga yang ditinggalkan Baron tergeletak tak berdaya. Pintu rumah yang ia bangun dengan penuh kasih kini terbuka lebar, menampakkan kegelapan di dalamnya.
Devan turun dari motor, membiarkan mesinnya tetap menyala sebagai satu-satunya sumber cahaya temaram. Ia melangkah masuk, kakinya menginjak serpihan kaca dan foto pernikahan mereka yang bingkainya sudah pecah.
"Reno! Aku di sini! Lepaskan Lia!" teriak Devan. Suaranya bergema, bersaing dengan deru guntur di luar.
Dari kegelapan di lantai atas, terdengar suara tawa yang kering dan tajam. Reno muncul di balkon dalam, memegang bahu Lia yang tangannya terikat ke belakang. Wajah Lia penuh dengan bekas air mata, namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa saat melihat Devan.
"Devan... jangan!" seru Lia, suaranya parau.
"Diam, Manis," bisik Reno sambil menempelkan moncong pistol ke pelipis Lia. "Lihatlah suamimu. Sang Serigala Hitam yang dulu sangat aku segani, sekarang basah kuyup dan tampak menyedihkan karena seorang wanita."
Devan mengangkat koper hitam itu tinggi-tinggi. "Dokumennya ada di sini. Semua bukti yang bisa membuatmu kembali ke penjara seumur hidup ada di tanganku. Ambil ini, dan biarkan Lia pergi."
Reno tersenyum sinis. "Kau pikir aku hanya ingin dokumen itu? Tidak, Devan. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan kehormatan, kehilangan keluarga, dan membusuk dalam penyesalan. Jatuhkan koper itu dan berlututlah!"
Tanpa ragu, Devan menjatuhkan koper itu dan berlutut di atas lantai kayu yang dingin. Ia tidak peduli pada harga dirinya. Di depan matanya, ada dua nyawa yang jauh lebih berharga dari sekadar martabat seorang mantan ketua geng.
Reno memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang bersembunyi di balik bayangan untuk mendekat dan menghajar Devan. Devan tidak melawan. Ia menerima setiap hantaman sepatu dan balok kayu di tubuhnya. Ia meringis saat luka lamanya kembali terbuka, darah merembes membasahi kemeja flanelnya.
"Hentikan! Kumohon hentikan!" teriak Lia histeris. Ia meronta, dan dalam kekacauan itu, ia merasakan pisau lipat mawar yang masih ada di sakunya.
Lia menyadari bahwa Reno terlalu fokus menikmati penderitaan Devan. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian agar tidak menarik perhatian, Lia mulai menggerakkan tangannya yang terikat, mencoba meraih pisau lipat itu. Meski perutnya yang membesar menyulitkan gerakannya, keinginan untuk melindungi suaminya memberikan kekuatan tambahan.
Klik. Pisau itu terbuka. Lia mulai mengiris tali tambang yang melilit pergelangan tangannya.
Di bawah, Devan sedang sekarat. Wajahnya penuh darah, namun matanya tetap terkunci pada Lia. Ia melihat Lia sedang melakukan sesuatu. Devan segera menyadari rencana istrinya. Ia harus memberikan pengalihan.
"Reno!" Devan berteriak sambil terbatuk darah. "Kau tahu kenapa kau selalu kalah dariku? Karena kau tidak pernah punya sesuatu untuk diperjuangkan selain dirimu sendiri! Kau kesepian, Reno! Kau akan mati dalam kesepian!"
Amarah Reno terpancing. Ia mendorong Lia ke lantai dan menuruni tangga dengan cepat, bermaksud untuk menghabisi Devan sendiri. "Kau pikir kau sangat hebat?! Aku akan membunuhmu di depan istrimu!"
Tepat saat Reno sampai di depan Devan dan mengangkat senjatanya, Lia berhasil memutus talinya. Ia berdiri di balkon atas dan berteriak, "Devan, sekarang!"
Lia melemparkan pot bunga besar dari balkon tepat ke arah Reno. Pot itu pecah mengenai bahu Reno, membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat. Itulah celah yang dibutuhkan Devan.
Dengan sisa tenaganya, Devan menerjang kaki Reno dan membantingnya ke lantai. Mereka bergulat di tengah ruang tamu yang hancur. Devan menggunakan brass knuckle peraknya, menghantam rahang Reno dengan kekuatan penuh. Pistol Reno terlempar ke sudut ruangan.
"Ini untuk setiap detik ketakutan yang kau berikan pada istriku!" Devan melayangkan pukulan beruntun.
Namun, Reno berhasil meraih sebilah kayu tajam dari reruntuhan pintu dan menusukkannya ke paha Devan. Devan mengerang, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya. Saat Reno hendak menusuk lagi, sebuah suara tembakan terdengar.
DOR!
Reno terdiam. Ia menatap dadanya yang mulai bersimbah darah. Di ambang pintu, Baron berdiri dengan napas terengah-engah, memegang pistol yang masih berasap. Di belakangnya, puluhan anggota Black Roses telah mengepung rumah itu.
Reno tumbang, napasnya perlahan menghilang bersama hujan yang mulai mereda.
Devan tidak memedulikan musuhnya lagi. Ia menyeret tubuhnya menuju tangga, di mana Lia sedang berusaha turun dengan gemetar. Mereka bertemu di tengah tangga, berpelukan di tengah reruntuhan rumah mereka yang kini sunyi.
"Kamu tidak apa-apa? Anak kita?" bisik Devan sambil menyentuh perut Lia dengan tangan yang bergetar.
"Kami baik-baik saja, Devan... kita selamat," Lia menangis di pundak Devan.
Baron mendekat, ia meletakkan jaketnya di bahu Lia. "Maaf kami terlambat, Bos. Kami harus membereskan sisa-sisa anak buah Reno di kaki bukit dulu."
Devan menatap Baron, lalu menatap dokumen yang berserakan. "Bawa semua ini, Baron. Serahkan pada pihak berwenang. Pastikan Clara, Marco, dan semua yang terlibat tidak akan pernah menyentuh cahaya matahari lagi. Dan setelah itu... bubarkan organisasi ini secara permanen. Aku ingin mawar hitam ini benar-benar tertidur."
Baron mengangguk khidmat. "Siap, Bos. Ini adalah perintah terakhir yang akan kami jalankan dengan bangga."
Malam itu, lereng bukit kembali tenang. Ambulans datang membawa Devan dan Lia ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Saat fajar menyingsing, kabut perlahan menghilang, menampakkan pemandangan lembah yang indah.
Di dalam kamar rumah sakit, Devan terbangun dan menemukan Lia sedang menatapnya dengan senyum paling tulus yang pernah ia lihat.
"Kita akan membangun kembali rumah itu, kan?" tanya Lia.
Devan menggenggam tangan Lia, mencium cincin perak di jarinya. "Bukan hanya rumah, Lia. Kita akan membangun masa depan yang tidak akan pernah tersentuh oleh badai lagi. Dan setelah aku sembuh, aku punya satu janji yang harus kutepati."
"Apa itu?"
"Menjadikanmu istriku secara resmi di depan Tuhan dan semua orang. Tanpa jaket kulit, tanpa raungan motor... hanya aku dan kamu."