Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal
"Apa Intan memakan sesuatu?" tanya Nie saat dirinya sudah di depan calon menantunya.
"Tadi aku hanya memberinya kue, Tan," jawab Rifal jujur.
"Astaga! Nak, apa kamu tidak apa-apa?" Nie mulai cemas dengan keadaan putrinya.
Intan keluar dari kamar mandi, memeluk Mamanya dengan diiringi tangisan. Nie menenangkan putri semata wayangnya yang sedang menangis di dalam pelukanya. Saat Nie menyuruh Intan untuk kembali ke acara, gadis itu menggelengkan kepalanya. Intan memang tipikal manja dengan mama dan papanya saat sesuatu terjadi pada dirinya.
"Yasudah, kalau kamu tidak mau kembali ke acara, kamu istirahat saja di kamar." Intan mengangguk dan meninggalkan Nie dan Rifal.
"Maaf, Tante. Aku tidak tahu kalau Intan tidak suka kue," ucap Rifal dengan perasaan yang bersalah.
"Yasudah, lain kali tanyakan dulu yah. Kamu mau kembali ke acara? Atau ...," tanya Nie
"Mau ke kamar Intan tidak apa-apa kan, Tante?" tanya Rifal sambil tangannya menunjuk ke anak tangga.
"Tidak apa-apa. Selagi kamu tidak berbuat macam-macam. Oia, satu lagi, Intan suka berubah sifatnya. Jadi tante harap kamu tidak membuatnya menangis lagi. Kalau begitu, tante kembali ke depan ya." Nie meninggalkan Rifal. Tanpa menunggu lama, Rifal pun menaiki anak tangga satu persatu.
Setiap pintu sudah dikasih nama, kamar siapa atau ruangan apa. Pemuda itu berjalan sambil membaca papan yang ada di setiap pintu yang ia lewati. Hingga ketemulah ruangan yang ia cari, yaitu kamar Intan.
Rifal mengetuk pintu kamar Intan dengan pelan. Begitu pun dengan Intan, ia pikir adalah mamanya yang datang. Makanya ia langsung suruh masuk karena pintu tidak terkunci. Rifal masuk dengan membawakan air hangat. Ya, laki-laki itu sudah membawa segelas air hangat sebelum menaiki tangga.
Intan masih memenjamkan matanya, perutnya masih merasakan enek yang sama. Sungguh, Rifal telah menyesal melihat calon istrinya yang berwajah pucat tapi tertutupi oleh make up. Pemuda itu duduk di samping Intan, kemudian mengelus rambutnya secara halus.
"Maafkan aku," lirih Rifal. Intan yang mendengar suara laki-laki, ia langsung membuka matanya dan menjauh dari Rifal.
"Loh, Kakak ngapain di sini?" tanya Intan yang sudah memeluk bantal gulingnya sambil berdiri.
"Jangan panggil kakak dong, aku kan bukan kakakmu. Sekarang duduk, kamu masih enek bukan perutmu?" Intan mengangguk pelan, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak. Sekarang Kakak keluar, atau saya yang akan keluar?" Intan mulai sedikit cemas-cemas waspada. Takut dirinya akan ternodai malam ini juga saat hubungannya belum dinyatakan sah oleh negara dan agama.
Rifal bangun dan menghampiri Intan, begitu pula dengan Intan, ia hanya bisa memundurkan langkahnya saat Rifal mendekat. Hingga akhirnya mereka pun kejar-kejaran, perang bantal, bahkan tertawa lepas. Saat sudah lelah, mereka duduk dengan jarak yang cukup jauh.
Tiba-tiba rasa enek itu muncul, dengan cepat Intan masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Rifal yang melihat hal itu pun menghampiri Intan, karena pintu kamar mandi tertutup, Rifal menunggu di depannya. Setelah beberapa saat, gadis itu keluar dengan tubuh yang gontai.
Badan Intan terhuyung-huyung seperti orang mabok. Saat tubuh gadis itu akan terkena lantai, dengan sigap Rifal menggendong calon istrinya. Kemudian ia merebahkan Intan dengan diselimuti sampai leher.
"Apa masih enek?" tanya Rifal. Intan hanya menjawab dengan deheman yang hampir saja tidak terdengar. Sesaat pandangan mata Rifal tertuju pada nakas yang terpampang jelas ada minyak angin. Setelah mengambil minyak angin itu, Rifal menawarkan pijatan. Namun ditolak oleh Intan.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Intan. Rifal berdiri dan membuka pintu. Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya. Ia adalah Nahla, Bunda Rifal.
"Apa kamu tidak ingin pulang?" tanya Nahla. Wanita itu masuk ke kamar Intan. Melihat calon menantunya yang terbaring menatapnya dengan senyuman menjadi iba, "Cepat sembuh anak bunda. Sekarang Intan panggil tante bunda yah." Nahla mengelus rambut Intan, gadis itu hanya menganggukan kepalanya.
"Bunda, apa ayah masih di luar?" tanya Rifal.
"Iya, kami menunggumu. Tapi yang ditunggu-tunggu malah asik berdua," goda Nahla kepada kedua orang yang ada di ruangan itu. "Kalau begitu, bunda pamit dulu yah. Sampai jumpa nanti." Nahla berbalik badan dan siap meninggalkan kamar Intan.
"Terima kasih, Bun," ucap Intan sebelum Nahla menghilang dari balik pintu. Wanita paruh baya itu tersenyum, kemudian menutup pintu.
"Aku pamit pulang, sekali lagi maafkan aku. Lain kali aku ke sini lagi, jangan kangen." Rifal membuka pintu, sebelum menutupnya kembali, Rifal mengedipkan matanya.
Intan dibuat geli oleh tingkah calon suaminya. Kemudian ia pun terlelap dalam mimpi karena sudah mengantuk. Tapi sesaat Intan sadar, ia belum menghapus riasan di wajahnya. Intan langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Setelah berkali-kali menyalakan keran wastafel tapi tidak mengeluarkan air. Dengan cepat Intan berlari menuju kamar mandi yang ada di bawah. Namun Rifal masih menuruni anak tangga, hingga terjadilah mereka jatuh dari tangga.
Intan yang di atas dan Rifal yang berada di bawah. Mata mereka saling menatap, untungnya ruangan itu sudah sepi. Tidak ada yang melihat mereka jatuh. Saat Intan hendak bangun, Rifal malah mempererat pelukannya.
"Maaf, bisa tolong lepaskan aku? Sebelum ada orang yang melihat." Intan berusaha melepas tangan Rifal dari pinggulnya. Tapi justru laki-laki itu malah mempererat.
"No! Biarkan mereka melihatnya." Rifal menggelengkan kepalanya. Intan hanya bisa diam, ia meletakan kepalanya di dada bidang Rifal. Setelah sepuluh menit lamanya, Intan langsung bangun karena Rifal melonggarkan pelukannya.
Intan langsung berlari menuju kamar mandi, sementara itu Rifal berjalan menuju di mana ayah dan bundanya berada. Keluarga Rubin pun pamit pulang. Setelah selesai menghapus riasan di wajahnya, Intan menghampiri Mama dan Papanya.
***
Keesokan paginya di perusahaan Syahputra.
Seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya sambil terus mengetuk meja dengan pena yang ia pegang. Membayangkan acara pertunangannya semalam dengan gadis yang ia rebut ciuman pertamanya. Senyum-senyum sendiri, karena hari ini pekerjaannya sudah selesai.
Deringan ponselnya membuyarkan lamunannya, dilihat nama Putra yang tertera di layar ponselnya. "Ada apa, Put?" tanya Rifal setelah menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya.
"Apa acara semalam lancar?" tanya Putra dari seberang telepon.
"Lancar dong, temanmu yang super ganteng ini kan pandai menakhlukan hati perempuan." Dengan percaya diri Rifal mengatakan kalimat tersebut. "Oia, bagaimana dengan hasil meeting kemarin?"
"Ya gitulah, gagal," jawab Putra dengan nada lesu.
"What?" Rifal yang mendengar kalimat gagal langsung berdiri dari kursi kebesarannya. "Bagaimana bisa?" tanyanya lagi masih dengan nada terkejut.
Bersambung ....
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor