NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Tahu

Elia terus menatap kertas tebal berukuran A3 di tangannya. Tidak ada keterangan apa pun di sana. Hanya nama sebuah toko dan gambar perhiasan terbaru yang tercetak rapi. Namun, ketenangan yang ia paksakan sejak tadi perlahan runtuh. Hatinya tak bisa diam, dipenuhi prasangka yang semakin mengusik. Ada sesuatu yang terasa janggal, dan sekeras apa pun ia mencoba menepisnya, rasa curiga itu justru kian menguat.

“Bau parfum dan kertas ini benar-benar membuat hatiku tidak tenang,” gumamnya pelan.

Mungkin jika Elia memandang pernikahan ini sama seperti Dave, sekadar ikatan di atas kertas. Ia tak akan merasakan sesak yang kini menggerogoti dadanya. Namun kenyataannya berbeda. Bagi Elia, pernikahan bukan sekadar status, melainkan janji. Dan justru karena itulah, kegelisahan ini terasa semakin menyakitkan.

Daripada terus memikirkan hal-hal yang hanya membuat kepalanya semakin pening, Elia memilih mengalihkan diri dengan kembali mengerjakan pekerjaannya. Setidaknya, kesibukan bisa sedikit meredam kegelisahan yang sejak tadi menggerogoti pikirannya.

Hari ini tepat dua tahun perayaan pernikahan Angel dan Billy. Setelah mengajaknya makan malam romantis beberapa hari lalu, Billy menyempatkan diri mampir ke sebuah toko perhiasan sepulang dari kantor. Ia memilih perhiasan dari koleksi terbaru juga yang termahal.

Kebetulan, itu adalah barang terakhir yang tersedia. Tidak ada lagi stok tersisa, karena sebelumnya telah dibeli oleh pelanggan lain. Namun justru karena itulah, perhiasan itu terasa semakin istimewa di mata Billy. Sebuah hadiah yang ia harap mampu membuat Angel tersenyum di hari istimewa mereka.

“Sayang, aku punya sesuatu untukmu,” ucap Billy sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.

“Apa itu?” tanya Angel, rasa penasaran langsung terlukis di wajahnya.

“Tutup matamu,” titah Billy lembut. Angel pun menurut, memejamkan kedua matanya.

“Sekarang buka matamu,” lanjut Billy. Angel membuka kedua matanya. Seketika, senyum bahagia merekah di wajahnya saat melihat benda berkilauan di dalam kotak perhiasan berbentuk hati.

“S-sayang, ini indah sekali,” ucap Angel dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih salah satu cincin dan mengenakannya di jari tengah. “Ini sangat indah,” lanjutnya sambil memandangi kilau perhiasan itu.

“Selamat hari anniversary, Sayang,” ucap Billy ceria.

Angel menutup mulutnya yang menganga. “Ternyata kau mengingatnya. Kukira sudah lupa.”

“Mana mungkin aku lupa, Sayang. Ini tanggal spesial kita,” jawab Billy.

Angel melepas kalung yang sedang ia kenakan, lalu menggantinya dengan yang baru. Billy mengambil kotak perhiasan itu sejenak untuk membantunya memasang kalung.

“Kalung ini sangat cocok denganmu, Sayang,” puji Billy sambil mengecup leher jenjang yang mulus itu dengan lembut.

Angel membalik badan "Terimakasih, Sayang. Aku suka sekali hadiah ini".

"Sama-sama, sayang".

Beberapa saat keduanya saling menautkan bibir. Hingga membuat Billy langsung membawa Angel ke tempat tidur. "Karena hari ini aku cuti, aku ingin berduaan dengan mu". Ucap Billy lalu menciumi leher Angel dan membuatnya kegelian.

Selesai bermesraan, Angel berdiri di balkon kamarnya. Tubuhnya terbalut jubah tidur berwarna merah, rambutnya tergerai tertiup angin. Tatapannya mengarah ke luar, menikmati cuaca siang itu yang lumayan terik.

Hari ini genap dua tahun pernikahannya. Ia bahagia dengan semua yang telah ia miliki. Perhatian, cinta, dan kejutan manis dari Billy. Namun di balik senyum itu, ada satu ruang kosong di hatinya. Sebuah kerinduan yang belum terisi, yaitu kehadiran buah hati.

Sementara itu, Billy yang baru saja keluar dari bilik mandi melangkah ke arah kulkas. Ia mengambil dua botol bir dingin, berniat menikmatinya bersama sang istri.

Ssrrtt!

Suara botol yang dibuka Billy membuat Angel menoleh. Ia tersenyum, lalu melangkah mendekat ke arah suaminya. Tanpa perlu berkata apa pun, Billy langsung menyodorkan satu botol ke tangan Angel.

“Cheers,” ucap mereka bersamaan, diiringi senyum yang saling mengerti. Keduanya lalu meneguk minuman itu perlahan, menikmati kebersamaan yang terasa hangat.

Angel meletakkan botol bir itu di atas meja. Ia kembali menatap ke luar jendela, wajahnya tampak murung. Melihat perubahan itu, Billy pun ikut meletakkan botol di tangannya lalu melangkah mendekati Angel.

“Sayang, kenapa?” tanyanya lembut dari belakang.

Angel hanya menggeleng pelan tanpa berkata apa pun.

“Wajahmu terlihat sedih. Kenapa? Apa kau tidak bahagia?” tanya Billy lagi, memastikan.

“Tidak, Sayang. Bukan begitu,” jawab Angel cepat, seolah takut disalahpahami.

“Lalu kenapa? Ini hari anniversary pernikahan kita yang kedua,” ujar Billy.

Angel mengangguk pelan. Tiba-tiba ia memeluk Billy dengan erat. “Maafkan aku, Sayang,” ucapnya lirih sebelum isaknya pecah.

Billy terkejut. Ia melepaskan pelukan itu sejenak agar bisa menatap wajah istrinya.

“Sayang, kenapa kau menangis?”

“Kau sudah memberiku hadiah, kau juga

menyayangiku dengan tulus. Tapi… tapi aku belum bisa memberikan yang kau mau. Aku belum bisa memberimu keturunan, Billy.” Tangis Angel semakin menjadi.

Billy kembali mendekap tubuh istrinya dengan hangat, menenangkan.

“Sayang, aku tidak pernah menuntut apa pun darimu, termasuk soal anak. Ada atau tidaknya anak dalam hidup kita, itu tidak akan mengurangi perasaanku padamu,” ucapnya tulus.

Ucapan itu justru membuat Angel semakin merasa bersalah. Ia tahu, selama ini Billy tak pernah menuntutnya untuk segera hamil, tak pernah memaksanya menjalani program apa pun. Namun tetap saja, bagi seorang perempuan, ada luka sunyi ketika belum mampu memberikan buah hati dalam pernikahan yang ia cintai sepenuh hati.

Billy menyeka air mata yang membasahi pipi Angel, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.

“Sudah, Sayang. Jangan menangis. Lebih baik kita bersiap dari sekarang,” ujarnya menenangkan.

Angel menatap Billy dengan heran. “Maksudmu?”

Billy melangkah ke arah nakas, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. “Aku sudah memesan dua tiket. Kita berangkat ke Maldives lusa nanti".

Kedua mata Angel langsung berbinar. “Sayang… jadi kita akan liburan?”

Billy merangkul bahu istrinya. “Lebih tepatnya liburan sekaligus honeymoon, Sayang. Untuk merayakan dua tahun kebersamaan kita.”

Angel memeluk tubuh Billy dengan erat. “Oh, Sayang… terima kasih banyak.”

“Terima kasih saja tidak cukup,” balas Billy dengan senyum menggoda.

Angel terdiam, lalu mendongak menatap wajah suaminya. “Maksudmu?”

“Maksudku,” ucap Billy sambil mengangkat tubuh Angel ke dalam pelukannya, “bagaimana kalau kita melakukannya satu ronde lagi?”

Teriakan kecil Angel pun menggema, disusul tawa yang memenuhi kamar mereka.

Sementara itu, Elia tengah dalam perjalanan menuju toko perhiasan fancy tersebut. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Bahkan saat bekerja tadi, konsentrasinya terus buyar, seolah pikirannya tertambat pada satu hal yang sama.

Elia ingin tahu berapa harga perhiasan itu dan apakah masih tersedia. Pada lembar kertas yang sempat ia lihat, tertera tulisan Limited Edition, yang berarti stoknya sangat terbatas. Justru itulah yang membuat hatinya semakin gelisah. Jika perhiasan itu benar-benar langka, lalu untuk siapa Dave membelinya?

Sesampainya di depan toko perhiasan, Elia segera melangkah masuk. Seorang staf langsung menyambutnya dengan senyum ramah.

“Apakah barang yang ini masih ada?” tanya Elia sambil menunjukkan gambar pada kertas yang kini tampak sedikit kusut.

Staf itu memperhatikan gambar tersebut sejenak, lalu menggeleng pelan. “Oh, maaf, Nona. Barang ini sudah habis. Kemarin ada dua orang yang membelinya. Kebetulan, toko kami memang tidak memproduksi koleksi ini dalam jumlah banyak.” terang nya.

“Dua orang?” gumamnya pelan.

“Uhm… apa aku boleh tahu siapa dua orang yang Anda maksud?” lanjut Elia ragu. “Maksudku, apakah yang membelinya laki-laki?”

Staf toko itu mengerutkan kening, sorot matanya berubah sedikit waspada. “Maaf, Nona. Kami tidak bisa memberikan informasi mengenai pelanggan,” jawabnya sopan sambil menangkupkan kedua tangannya.

Elia mengangguk kecil. “Baiklah, terima kasih.”

“Sama-sama,” balas sang staf.

Elia pun melangkah keluar dari toko dengan rasa kecewa yang tak bisa ia sembunyikan. Setidaknya, ia sudah mendapatkan satu gambaran pembeli perhiasan itu berjumlah dua orang.

Namun ketidakpastian justru semakin menyesakkan. Ia tak tahu berapa banyak stok yang awalnya dikeluarkan toko tersebut. Apakah memang hanya dua buah sejak awal, atau masih ada lainnya yang terjual tanpa ia ketahui.

Dan di tengah kebingungan itu, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. Apakah salah satu dari dua pembeli itu adalah Dave?

Saat hendak menyalakan mesin mobil, ponsel Elia tiba-tiba berdering. Ia menghentikan gerakannya, lalu meraih ponsel dari dalam tasnya.

Nama yang tertera di layar membuatnya terdiam sejenak. "Kak Angel" gumam nya.

"Hallo?"

[Hallo Elia, apa kau sedang sibuk]

"Eh tidak Kak, ada apa?"

[Lusa nanti aku dan Billy akan pergi ke Maldives. Bagaimana kalau kau dan Dave ikut bersama kami?] ujar Angel dari seberang telepon dengan nada antusias.

“Wah, dalam rangka apa Kak Billy mengajakmu ke Maldives?”

[Hari ini tepat dua tahun hari pernikahan kami. Billy mengajakku ke Maldives lusa nanti sebagai hadiah kedua,] jawab Angel dengan nada bahagia.

“Ya ampun, romantis sekali. Selamat hari pernikahan ya, Kak Angel dan Kak Billy. Semoga langgeng sampai kakek-nenek,” ucap Elia tulus.

[Terima kasih, Elia. Kalau begitu, bagaimana? Kau dan Dave bisa ikut, tidak?]

“Aku harus menanyakan hal ini langsung kepada Dave. Mau atau tidaknya, nanti akan aku kabari,” jawab Elia.

[Kalau dia menolak, bilang padaku. Aku sendiri yang akan memarahi anak itu,] kata Angel setengah bercanda, namun terdengar meyakinkan.

Selesai mengobrol di telepon, Elia menyalakan mesin mobilnya. Terik matahari yang menyengat membuat tenggorokannya terasa kering, dan tanpa sadar pikirannya melayang pada sesuatu yang manis dan dingin.

“Sepertinya menikmati es krim di cuaca terik ini sangat cocok,” gumamnya pelan.

Dengan pikiran yang sedikit teralihkan, Elia pun melajukan mobilnya, meninggalkan area pertokoan. Meski kegelisahan di hatinya belum sepenuhnya reda.

Niatnya sih hanya ingin membeli ice cream. Tapi saat disana aroma dari setiap menu yang tersaji membuat Elia lupa diri. Ternyata kedai tersebut kini tak hanya menyiapkan kudapan dingin dan manis. Tapi ada varian menu makanan berat lainnya.

"Aku pesan spaghetti carbonara, air mineral dan satu cangkir ice cream coklat strawberry". Pinta nya pada seorang pelayan.

"Ada lagi tambahan nya?" tanya

"Itu saja"

"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Nona". Pelayan tersebut kemudian berlalu dari hadapan Elia.

Sambil menunggu pesanannya dibuat, Elia menyempatkan diri mengirim pesan kepada Dave. Setelah itu, ia juga menghubungi Sarah, menanyakan perihal keberangkatannya ke luar kota.

Ponsel Dave berbunyi, menandakan pesan masuk. Ia meraih benda pipih itu dan langsung membuka isinya.

Elia: Selamat makan siang, Dave. Jangan lupa minum obat dan vitaminnya. Jaga kesehatanmu.

Dave: 👍

Elia tersenyum kecil saat melihat balasan itu—meski hanya sebuah tanda jempol. Setidaknya, ia tetap mendapat respons. Dan bagi Elia, itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dave meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerja. Perutnya mulai berbunyi, pertanda ia harus segera mengisinya dengan makanan. Seperti biasa, sebelum makan Dave terlebih dahulu meminum obat mag-nya.

“Bekal apa lagi yang dia siapkan kali ini?” gumamnya sambil mengeluarkan beberapa kotak bekal.

Saat kotak-kotak itu dibuka, tampak isinya adalah kimbap. Makanan khas Korea yang bentuknya mirip sushi, namun lebih besar dengan isian yang lebih beragam. Dave tersenyum tipis.

“Anak itu sepertinya sudah terkena virus Korea,” katanya pelan.

Tak hanya kimbap, Elia juga menyiapkan japchae dan kimchi yang tingkat kepedasannya disesuaikan, tidak terlalu menyengat. Seperti biasa, selalu memperhatikan kondisi lambungnya.

Saat sedang asyik menikmati makan siang, ponsel Dave bergetar di atas meja. Ia melirik layar sekilas, dahi nya langsung berkerut saat melihat nama yang tertera, Angel.

“Hallo,” jawabnya singkat.

[Dave, apa kau sedang sibuk?]

“Tidak. Aku sedang makan siang sekarang. Ada apa?”

[Oh, maaf, aku tidak tahu.]

“Katakan saja. Ada apa?” Dave memotong, suaranya terdengar datar.

[Hari ini tepat hari anniversary pernikahanku dengan Billy. Rencananya lusa nanti aku dan dia akan pergi liburan ke Maldives. Apa kau dan Elia bisa bergabung dengan kami?]

Dave terdiam sejenak. Garpu di tangannya berhenti di udara.

“Oh ya eh, selamat hari pernikahan untukmu dan kakak iparku,” ucapnya akhirnya. “Tapi untuk ikut bergabung… aku harus memikirkannya dulu.”

[Terima kasih. Tapi kau harus ikut bergabung dengan kami. Kalau tidak, aku akan melaporkannya pada Mom.]

Dave langsung terbatuk kecil, nyaris tersedak. Ia menepuk dadanya pelan sambil menghela napas.

“Kau ini… sedikit-sedikit selalu melapor pada Mom,” gerutunya.

[Biarkan saja. Lagi pula, setelah menikah kau bahkan belum pernah mengajak Elia bulan madu, kan? Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau dan Elia harus ikut.]

Panggilan itu berakhir begitu saja, meninggalkan Dave menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.

Ancaman Angel bukanlah hal baru, tapi kali ini terasa berbeda. Entah mengapa, kata bulan madu justru membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena Elia, melainkan karena rahasia yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Dan Dave tahu, perjalanan ke Maldives itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang tak lagi bisa ia kendalikan.

Sama halnya dengan Dave, Elia pun kini menikmati menu yang ia pesan tadi, meski pikirannya terus melayang ke mana-mana.

“Sayang, jangan lari-lari!” seru seorang wanita dengan nada panik ketika anaknya tiba-tiba berlari ke arah meja orang lain setelah terlepas dari gendongannya.

Elia yang menjadi sasaran bocah itu spontan mengerutkan kening. “Anak ini kan—”

“Nadhine?”

“Elia?”

Pertemuan tak disengaja itu membuat Elia dan Nadine saling berpelukan. “Ya ampun, tidak kusangka kita akan bertemu di sini,” ucap Nadine dengan wajah penuh keterkejutan.

“Aku juga. Oh ya, anakmu semakin aktif saja,” ucapnya sambil memangku bocah itu. “Mau es krim?” tawarnya lembut.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Nadine.

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Aku juga. Kukira kau sedang tidak ada di Bangkok.”

Elia mengerutkan kening. “Tentu saja aku ada di sini. Ini tanah kelahiranku.”

“Maksudku, kukira kau sedang bulan madu bersama suami kayamu itu,” ujar Nadine sambil terkekeh, jelas bernada bercanda. Ia tahu betul siapa suami Elia. Seorang pengusaha kaya raya yang profilnya kerap terpampang di berbagai majalah bisnis.

Elia tersenyum getir. Di mata orang-orang, hidupnya tampak begitu bahagia. Memiliki suami tampan dan kaya raya. Namun mereka tak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik semua itu.

Di balik senyum yang Elia tampilkan, tak lebih dari kepalsuan. Sebuah topeng yang ia kenakan untuk menipu dunia, agar tak seorang pun mengetahui keadaan sebenarnya.

Pesanan Nadine pun datang. Satu cangkir es krim, sorbet, dan waffle. Ia menikmati hidangan itu sambil mengobrol, sesekali menyuapi anaknya dengan penuh perhatian.

“Oh ya, Elia,” Nadine menoleh tiba-tiba, “sudah ada tanda-tanda mau hamil belum?” tanyanya polos.

Elia menggeleng pelan. “Aku masih menundanya.”

“Kenapa? Apa ini keinginan suamimu?”

“Lebih tepatnya, keinginan kami berdua".

“Uhm… aku tahu,” Nadine menyipitkan mata sambil tertawa penuh arti. “Pasti kalian ingin menikmati masa-masa pacaran, kan?"

Elia terkekeh pelan. “Ya, bisa dibilang begitu. Kau tahu sendiri, aku menikah dengan Dave karena perjodohan. Jadi kami tidak pernah benar-benar merasakan yang namanya pacaran.”

Nadine mengangguk paham sambil menikmati es krim di mulutnya. “Kau benar. Nikmatilah selagi belum punya buntut. Kalau sudah, kau akan kerepotan seperti aku,” katanya, berusaha memahami kondisi Elia.

“Oh ya, siapa nama anakmu? Aku lupa,” tanya Elia.

“Namanya Ariana,” jawab Nadine.

“Mirip dengan nama penyanyi wanita terkenal dari Amerika?”

“Iya,” Nadine tertawa kecil. “Soalnya waktu hamil aku sering menyanyikan lagu-lagunya, meski suaraku terdengar fals.”

Elia ikut tertawa mendengar pengakuan itu. Setidaknya, pertemuan yang tak disengaja ini berhasil menghiburnya, memberinya jeda singkat dari beban pikiran yang sejak tadi mengusik hati.

“Ya ampun, mulutmu kotor sekali,” omel Nadine pada anaknya.

“Sini, biar aku bersihkan.”

Elia mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya. Tanpa ia sadari, selembar kertas bergambar perhiasan ikut terbawa keluar.

“Wah, itu kan perhiasan limited edition dari Toko Fancy,” ujar Nadine spontan, membuat Elia tertegun sesaat.

“Apa Dave menghadiahkan itu untukmu sebagai kado pernikahan?” lanjut Nadine penasaran.

“Oh, bukan. Aku menemukannya di saku jas miliknya.”

“Hmm… mungkin dia diam-diam ingin memberikannya padamu.”

Elia tersenyum kecil. Bayangan menakutkan yang tadi mengusik pikirannya perlahan memudar. Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah semua ini hanya firasat dan kecemburuannya yang berlebihan.

“Toko Perhiasan Fancy?” Nadine melirik kembali kertas itu. “Letaknya tak jauh dari sini, lho.”

“Kau tahu kan, barang dari sana stoknya sangat terbatas. Dan harganya juga fantastis.”

Elia menatap Nadine dengan wajah serius, menunggu kelanjutan ucapannya.

“Berapa memang?”

“Dua juta baht.”

Elia terperangah. Angka itu terdengar begitu besar untuk sebuah perhiasan. Ya, meski ia tahu, masih ada yang jauh lebih mahal dari itu. Tetap saja nominal tersebut cukup membuat dadanya terasa sesak.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!