NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Bagus Masuk Kelas dan Operasi Sembunyi-Sembunyi

Pagi itu, kelas 11-IPA-1 (kelasnya Arlan) mendadak sunyi senyap, lebih sunyi daripada kuburan di malam Jumat Kliwon. Penyebabnya bukan karena ada ujian mendadak dari Pak Broto, melainkan karena di barisan paling belakang, duduk seorang pria berumur 35 tahun, berbadan setinggi pintu, memakai safari hitam, dan wajahnya seolah tidak pernah mengenal apa itu senyum.

Pak Bagus benar-benar menjalankan perintah Papa Arlan: Duduk di dalam kelas.

"Ar," bisik Juna yang sengaja numpang lewat depan kelas Arlan bareng Ghea. "Itu pengawal bokap lo beneran ikutan belajar? Dia nggak takut apa disuruh ngerjain soal integral?"

Arlan yang sedang duduk tegak di bangkunya cuma bisa memijat pelan pangkal hidungnya. "Dia cuma duduk, Jun. Tapi auranya bikin satu kelas nggak berani napas."

Ghea mengintip dari balik pintu kelas. Dia melihat Pak Bagus sedang berusaha menyesuaikan tubuh raksasanya di kursi kayu SMA yang sempit. Lututnya mentok ke meja, dan tangannya yang berotot tampak sangat lucu saat memegang pulpen mungil untuk "pura-pura" mencatat.

"Ghe, ini kesempatan kita," bisik Arlan saat dia melihat Pak Bagus sedang sibuk mengelap keringat. "Dia nggak boleh tahu kalau kita masih komunikasi."

"Tenang, Ar. Gue udah punya rencana 'Operasi Penyelundupan Pesan' lewat jalur kantin," jawab Ghea sambil memberikan jempol.

Rencana Ghea kali ini melibatkan Bi Inah, penjual gorengan legendaris di kantin SMA Garuda. Bi Inah adalah orang yang paling baik hati dan paling benci kalau melihat ada anak muda yang cintanya dihalang-halangi (karena beliau penggemar berat sinetron Ikatan Janji Suci).

"Bi, nanti kalau Arlan lewat mau beli bakwan, selipin surat ini di dalem plastik gorengannya ya? Inget Bi, di dalem plastik, jangan di dalem bakwannya. Nanti kemakan sama dia," pesan Ghea serius.

"Beres, Neng Ghea! Bi Inah dukung perjuangan kalian! Hidup cinta monyet!" seru Bi Inah semangat sambil mengangkat sutilnya.

Saat jam istirahat, Arlan keluar kelas dengan Pak Bagus mengekor tepat dua langkah di belakangnya. Arlan berjalan menuju stan Bi Inah dengan wajah datar.

"Bi, bakwan dua. Plastikin," ucap Arlan singkat.

"Siaaap, Den Arlan yang ganteng!" Bi Inah dengan lincah memasukkan dua bakwan dan sebuah kertas kecil yang sudah dibungkus plastik bening agar tidak berminyak.

Arlan menerima plastik itu. Saat dia hendak mengambil kembalian, matanya berserobok dengan Ghea yang sedang pura-pura asyik makan mie ayam di meja seberang. Ghea memberikan kode "ok" dengan jari kelingkingnya (kode rahasia mereka yang baru).

Arlan kembali ke kelas. Di bawah pengawasan Pak Bagus yang matanya setajam elang, Arlan mulai memakan bakwannya. Perlahan, dia mengambil kertas mungil itu dan membacanya di bawah meja.

Isi pesannya:

"Robot, jangan lupa napas. Pak Bagus kelihatan ganteng kalau lagi cemberut gitu, coba lo kasih dia permen biar agak manis dikit. Pulang sekolah nanti, gue tunggu di gudang belakang jam 3 sore. Juna bakal bikin pengalihan isu pakai petasan cabe. SEMANGAT!"

Arlan hampir tersedak bakwannya. Petasan cabe? Juna beneran mau cari mati?

Pukul 15.00 tepat. Arlan keluar dari ruang OSIS diikuti Pak Bagus. Saat mereka melewati lapangan basket, tiba-tiba...

DOR! DOR! PYARRR!

Suara ledakan kecil tapi sangat nyaring terdengar dari arah taman depan. Disusul dengan kepulan asap warna-warni dan suara Juna yang berteriak-teriak histeris, "KEBAKARAN! ADA NAGA DI TAMAN! TOLOOONG!"

Pak Bagus langsung siaga satu. "Den Arlan, tunggu di sini! Saya cek dulu!"

"Tapi Pak—"

"Diam di tempat, Den!" Pak Bagus lari menuju sumber suara dengan kecepatan penuh, otot-otot safarinya terlihat sangat tegang.

Begitu Pak Bagus menghilang di tikungan, Ghea muncul dari balik tempat sampah besar. "CEPET AR! LARI KE GUDANG!"

Mereka berdua lari sekuat tenaga menuju gudang belakang yang sekarang sudah jadi markas darurat penyimpanan arsip. Di dalam sana, di antara bau kertas tua dan debu, mereka akhirnya bisa bicara tanpa pengawasan.

"Gila, Ar! Juna beneran pake petasan asap sisa tahun baru kemarin!" Ghea ketawa ngakak sampai jongkok.

Arlan juga ikut tertawa, sebuah tawa yang sangat lega. "Ghe, lo tau nggak? Pak Bagus tadi di kelas beneran merhatiin penjelasan guru Fisika. Pas guru nanya soal gaya gravitasi, dia hampir mau angkat tangan."

"Hahaha! Bagus dong, siapa tahu nanti dia malah keterima kuliah lagi!" Ghea menatap Arlan. "Gimana di rumah, Ar? Bokap lo masih marah?"

Wajah Arlan sedikit meredup. "Masih dingin, Ghe. HP gue masih disita. Tapi gue ngerasa lebih kuat sekarang. Kejadian di lapangan basket kemarin bikin gue sadar kalau gue punya suara."

Ghea menggenggam tangan Arlan. "Ar, gue udah belajar bab Termodinamika semalam. Meskipun gue cuma ngerti dikit, tapi gue bakal buktiin ke bokap lo kalau gue bukan beban. Gue bakal ikut ujian susulan minggu depan buat perbaiki nilai gue."

Arlan tersenyum, lalu dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku kecil baru. "Ini buat lo. Gue udah rangkumin semua rumus penting pake bahasa yang simpel. Gue namain: Fisika Ala Ghea: Karena Hidup Nggak Harus Kaku."

Ghea menerima buku itu dengan mata berkaca-kaca. "Ar... lo sweet banget sih buat ukuran robot."

Tiba-tiba, suara langkah kaki besar terdengar mendekat ke arah gudang.

"Den Arlan? Den di mana?!" suara Pak Bagus menggelegar. Ternyata pengalihan isu Juna cuma bertahan lima menit!

"Sembunyi, Ghe!" bisik Arlan.

Ghea langsung masuk ke dalam kardus besar bekas tempat kertas akreditasi. Arlan segera mengambil sebuah sapu dan pura-pura sedang membersihkan debu di gudang.

Pintu gudang terbuka lebar. Pak Bagus masuk dengan wajah merah padam, nafasnya tersengal-sengal, dan ada sisa asap warna pink di rambutnya.

"Den... Arlan... kenapa Den ada di sini?" tanya Pak Bagus curiga.

"Saya tadi mendengar suara ledakan, saya pikir gudang ini kena dampaknya. Jadi saya cek ke sini," jawab Arlan dengan wajah paling polos sedunia.

Pak Bagus melihat sekeliling. Matanya tertuju pada kardus tempat Ghea sembunyi yang sedikit bergoyang karena Ghea sedang menahan bersin akibat debu.

"Itu... kardus kenapa gerak-gerak, Den?" Pak Bagus mendekat.

Jantung Ghea rasanya mau copot. Aduh, jangan bersin... jangan bersin...

"Oh, itu... itu mungkin tikus gudang, Pak. Tikusnya gede-gede di sini," kata Arlan cepat.

Pak Bagus mengangkat kakinya, siap menendang kardus itu untuk mengusir tikus. "Biar saya usir, Den!"

"JANGAN PAK!" teriak Arlan. "Itu... itu tikus langka! Jenis Tikus Akreditasi. Kalau Bapak tendang, nanti data sekolah bisa rusak!"

Pak Bagus melongo. "Tikus... akreditasi? Baru denger saya, Den."

"Iya, itu jenis baru. Ayo Pak, kita pulang sekarang. Ayah pasti sudah menunggu," Arlan menarik lengan Pak Bagus keluar dari gudang sebelum kedok mereka terbongkar.

Begitu pintu tertutup, Ghea keluar dari kardus sambil bersin hebat. "HATCHIII! Argh! Tikus akreditasi lo bilang? Kreatif banget lo, Ar!"

Ghea tertawa sendirian di gudang itu. Dia merasa, meskipun hidup mereka sekarang seperti agen rahasia kelas teri, tapi ini adalah momen paling seru dalam hidupnya. Namun, tanpa mereka sadari, Shinta sedang berdiri di balik jendela gudang, merekam seluruh kejadian itu dengan HP-nya.

"Tikus akreditasi ya? Mari kita lihat gimana reaksi Om Hendra liat 'tikus' ini di dalam kardus," gumam Shinta dengan senyum jahatnya.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!