NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berlatih Tanding

Keesokan harinya, cahaya matahari pagi menyelinap lembut ke halaman kediaman Tetua Bei. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, dan udara terasa sejuk, segar, seolah memberi dorongan diam-diam bagi siapa pun yang berniat berlatih dengan sungguh-sungguh.

Gao Rui sudah berada di sana sejak awal. Tubuhnya berdiri tegap di tengah halaman batu, napasnya teratur. Kedua kakinya menapak mantap, bahunya rileks, namun seluruh tubuhnya menyimpan kesiagaan tersembunyi. Hari ini ia tidak membawa senjata apa pun. Tangannya kosong.

Ia tengah melanjutkan latihan teknik tangan kosong yang baru dipelajarinya. Setiap gerakan terlihat sederhana di mata orang awam. Pukulan lurus, sapuan tangan, dorongan telapak namun di balik kesederhanaan itu tersembunyi aliran tenaga yang presisi. Gao Rui mengulang satu rangkaian gerakan berkali-kali, dari lambat ke cepat, dari halus ke tegas, berusaha merasakan inti dari teknik tersebut, bukan sekadar meniru bentuk luarnya.

Di sisi halaman, Tetua Bei berdiri dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Jubahnya berkibar ringan tertiup angin pagi. Seperti biasa, ia memperhatikan tanpa banyak bicara, tatapannya tajam namun tenang, layaknya seorang pengawas latihan yang tidak hanya menilai gerakan, tetapi juga niat dan pemahaman Gao Rui.

Waktu berlalu. Matahari naik sedikit lebih tinggi. Akhirnya, Gao Rui menghentikan gerakannya. Ia berdiri diam, lalu menghembuskan napas panjang. Bahunya sedikit naik turun, bukan karena lelah fisik, melainkan karena pikirannya terasa buntu.

Tetua Bei mengangkat alisnya sedikit.

“Mengapa kau berhenti?” tanyanya datar, suaranya tidak keras, namun cukup untuk memecah keheningan halaman.

Gao Rui menoleh dan memberi hormat singkat. Wajahnya tampak berpikir.

“Teknik ini… sulit kupahami sepenuhnya, Tetua,” katanya jujur. “Jika hanya berlatih sendiri, rasanya ada sesuatu yang hilang.”

“Oh?” Tetua Bei menatapnya lebih dalam. “Apa yang hilang?”

“Tekanan,” jawab Gao Rui tanpa ragu. “Tanpa lawan tanding, aku hanya menebak-nebak. Aku tidak tahu apakah arah seranganku tepat, apakah reaksiku cukup cepat, atau apakah celah yang kubuka akan mematikan… atau justru berbahaya bagiku sendiri.”

Untuk sesaat, Tetua Bei terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat sangat tipis, hampir tak terlihat.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “bagaimana jika aku yang menjadi lawan tandingmu?”

Mata Gao Rui sedikit membelalak. Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Ia segera menenangkan diri, lalu mengangguk mantap.

“Jika Tetua bersedia, aku tidak akan menolak.”

“Baik,” kata Tetua Bei singkat.

Ia melangkah ke tengah halaman. Tidak ada aura yang ditekan, tidak ada tekanan yang dilepaskan. Ia hanya berdiri dengan santai, seolah seorang pria tua yang sedang menunggu cucunya mendekat. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Gao Rui semakin waspada.

“Serang,” perintah Tetua Bei.

Gao Rui menarik napas, lalu melangkah maju. Tubuhnya bergerak ringan. Pukulan pertamanya meluncur lurus ke depan, sederhana namun cepat. Tetua Bei mengangkat tangannya dan menghadang dengan satu gerakan kecil, hampir tanpa usaha.

Tidak berhenti di situ, Gao Rui segera menyusul dengan sapuan tangan ke samping, diikuti dorongan telapak ke arah dada. Rangkaian serangannya mengalir tanpa jeda, memanfaatkan teknik tangan kosong yang sedang ia pelajari.

Namun setiap serangan itu, baik cepat maupun lambat selalu tertahan.

Tetua Bei bergerak minimal. Kadang hanya memiringkan tubuh, kadang memutar pergelangan tangan, kadang menahan dengan telapak terbuka. Semua serangan Gao Rui dihadang dengan presisi yang nyaris sempurna, seolah Tetua Bei sudah tahu arah gerakannya bahkan sebelum ia benar-benar bergerak.

Kening Gao Rui sedikit berkerut. Ia meningkatkan kecepatan, mencoba mengubah ritme. Pukulan yang semula lurus berubah menjadi sudut miring, serangan depan disusul dengan serangan balik dari bawah. Namun tetap saja, tidak satu pun yang menembus pertahanan Tetua Bei.

“Jangan hanya memikirkan mengenai jurus,” kata Tetua Bei di sela-sela gerakan mereka. “Rasakan lawanmu.”

Gao Rui mengertakkan gigi pelan. Ia mengingat kata-kata itu. Perlahan, ia berhenti mengejar bentuk teknik. Ia mulai memperhatikan posisi kaki Tetua Bei, pusat gravitasinya, arah pandangannya. Serangannya pun mulai berubah lebih tajam, lebih terarah.

Tetua Bei masih menghadang semuanya. Namun kali ini, tatapannya sedikit berbeda.

Latih tanding itu berlanjut, halaman kecil dipenuhi suara benturan ringan antara tangan dan lengan. Tidak ada kekuatan berlebihan, tidak ada niat melukai. Namun bagi Gao Rui, setiap hadangan adalah pelajaran nyata, jauh lebih berharga daripada latihan sendirian.

Di bawah pengawasan langsung Tetua Bei, pemahaman Gao Rui tentang teknik tangan kosong itu perlahan mulai terbentuk, bukan di kepalanya saja, tetapi di seluruh tubuhnya.

Latih tanding itu berlangsung hingga matahari perlahan bergeser ke barat. Bayangan pepohonan di halaman kediaman Tetua Bei memanjang, dan hawa hangat siang mulai berubah menjadi sejuk sore.

Akhirnya, Tetua Bei mengangkat tangannya sedikit.

“Cukup,” katanya.

Gao Rui segera menghentikan gerakannya. Ia mundur setengah langkah, lalu menunduk hormat. Napasnya sedikit memburu, dan keringat tipis membasahi pelipisnya. Meski tubuhnya terasa berat, matanya justru tampak lebih jernih dibandingkan pagi tadi.

Tetua Bei menatapnya sejenak, lalu mengangguk perlahan.

“Untuk hari ini, itu sudah cukup. Kau sudah mulai memahami inti dasarnya. Jangan memaksakan diri.”

“Terima kasih atas bimbingannya, Tetua,” jawab Gao Rui tulus.

Tetua Bei hanya melambaikan tangan, memberi isyarat agar ia beristirahat. Gao Rui pun membereskan dirinya. Saat ia melangkah meninggalkan halaman, rasa lelah baru benar-benar terasa. Lengannya pegal, kakinya sedikit gemetar, namun ada kepuasan tenang yang mengalir di dadanya.

Sore harinya, setelah membersihkan diri dan mengatur napas, Gao Rui berpamitan.

“Aku akan kembali dulu, Tetua.”

Tetua Bei mengangguk singkat dari dalam paviliun.

“Pergilah. Besok lanjutkan lagi.”

Gao Rui melangkah keluar dari kediaman itu. Jalan setapak yang biasa ia lewati kini terasa lebih sunyi, diterangi cahaya senja yang lembut. Langkahnya tidak cepat. Tubuhnya memang lelah, namun pikirannya terasa ringan.

Belum jauh berjalan, ia melihat sosok ramping di depan. Seorang gadis dengan jubah sederhana berwarna pucat tengah melangkah santai, rambutnya tergerai di punggung.

“Gao Rui?”

Ia menoleh.

“Xue Yi?”

Gadis itu berhenti dan menatapnya, lalu tersenyum tipis.

“Kebetulan sekali. Kau juga ke arah ini?”

“Iya,” jawab Gao Rui sambil mengangguk. “Baru selesai latihan.”

“Aku juga sedang menuju kediaman temanku,” kata Xue Yi ringan. “Arah kita sepertinya sama.”

Mereka pun berjalan berdampingan. Suasana di antara mereka tenang, tanpa kecanggungan. Langit senja di atas kepala perlahan berubah jingga.

Beberapa langkah kemudian, Gao Rui teringat sesuatu. Matanya sedikit berbinar.

“Oh, iya…”

Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu menggerakkan arah cincin ruang di jarinya. Cahaya samar berkilat, dan sesaat kemudian sebuah boneka beruang kecil muncul di tangannya. Bentuknya sederhana, bulunya cokelat lembut, dengan pita kecil di lehernya.

Xue Yi terkejut.

“Itu…?”

“Aku baru saja pulang dari Kota Yanjing,” kata Gao Rui sambil menyerahkan boneka itu padanya. “Aku membeli beberapa oleh-oleh. Ini… untukmu.”

Xue Yi menatap boneka itu sejenak, lalu menatap Gao Rui. Matanya sedikit membesar, jelas tidak menyangka.

“Ah....tunggu,” Gao Rui segera menambahkan, agak canggung. “Jangan salah paham. Aku memberikannya sebagai teman. Tidak ada maksud lain.”

Untuk sesaat, Xue Yi terdiam. Lalu bibirnya melengkung membentuk senyum yang lembut. Ia menerima boneka itu dengan kedua tangan.

“Terima kasih,” katanya pelan. “Aku tidak menyangka.”

Ia menunduk sedikit, menatap boneka beruang itu, lalu mendongak kembali.

“Aku menyukainya.”

Gao Rui menghela napas lega tanpa ia sadari.

“Syukurlah.”

Mereka kembali berjalan. Boneka beruang itu kini dipeluk ringan di dada Xue Yi. Senja semakin dalam, dan langkah mereka perlahan menghilang di jalan yang sama. Sederhana, tenang, dan tanpa perlu banyak kata.

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!