Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Taruhan di Atas Darah
Setelah menempuh perjalanan melewati padang rumput yang gersang, Li Yuan dan Dong Dong tiba di depan sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari tulang binatang purba. Inilah Kota Kasino Maut, sebuah wilayah otonom yang anehnya dibiarkan berdiri oleh Kekaisaran karena menjadi tempat perputaran informasi dan artefak gelap.
Di kota ini, emas tidak memiliki nilai. Satu-satunya mata uang yang berlaku adalah Esensi Qi dan Informasi.
"Ingat, Dong Dong," bisik Li Yuan sambil merapatkan jubahnya. "Jangan memancing keributan. Kita di sini hanya untuk mencari petunjuk tentang pedang kedua, Pedang Cahaya Abadi."
"Aku tahu, Bos. Tapi bau arak dan buah persik di sini sangat menggoda." sahut Dong Dong sambil mencoba bersembunyi di balik kerah baju Li Yuan.
Mereka melangkah masuk. Suasana kota itu sangat liar. Di setiap sudut, para kultivator terlihat sedang bertaruh di atas meja batu—bukan bertaruh uang, melainkan bertaruh masa hidup atau tingkat kultivasi mereka. Jika kalah, lawan akan menyedot Qi pemenang hingga ia menjadi manusia biasa.
Li Yuan menuju ke sebuah bar bawah tanah yang dikenal sebagai Paviliun Rahasia. Di sana, duduk seorang pria tua dengan mata yang tertutup kain hitam, dikenal sebagai Si Penjudi Buta. Konon, ia tahu letak setiap benda legendaris di dunia ini.
Li Yuan duduk di depannya. "Aku butuh lokasi pedang kedua."
Si Penjudi Buta tersenyum sinis, memperlihatkan gigi-giginya yang menguning. "Banyak yang datang menanyakan hal itu, Nak. Tapi apakah kau punya modal untuk bertaruh? Informasi tentang pedang itu sebanding dengan sepuluh tahun masa hidupmu."
"Aku tidak bertaruh dengan nyawaku," jawab Li Yuan dingin. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi darah Jenderal Feng Gao yang sempat ia ambil saat perang. "Darah seorang ahli Manifestasi Roh Puncak yang telah terkontaminasi petir hitam. Ini taruhanku."
Si Penjudi Buta tertegun. Ia mengendus botol itu dan tangannya bergetar. "Kekuatan yang luar biasa... Baik! Mari kita mainkan satu permainan. Jika kau menang, lokasi itu milikmu. Jika kalah, pedang di pinggangmu itu akan jadi milikku."
Permainannya sederhana: Sebuah dadu spiritual yang akan dilempar ke atas meja yang dialiri tekanan Qi yang sangat kuat. Siapa pun yang bisa menahan dadu itu agar tetap di atas meja tanpa hancur oleh tekanan Qi, dialah pemenangnya.
Si Penjudi Buta mulai melepaskan auranya. Manifestasi Roh Tingkat 4. Meja itu mulai bergetar hebat, memancarkan cahaya biru yang menekan udara. Ia melempar dadu itu. Dadu tersebut berputar liar, dihimpit oleh energi yang bisa meremukkan baja.
Li Yuan tidak bergerak. Ia hanya menatap dadu itu. Di dalam pikirannya, ia berkomunikasi dengan Pedang Hitam Takdir.
“Bantu aku menstabilkan ruang ini.” batin Li Yuan.
Tiba-tiba, aura ungu kehitaman yang sangat halus keluar dari jari Li Yuan. Ia tidak melawan tekanan Qi si orang tua, melainkan menelannya. Udara di sekitar meja mendadak menjadi sangat sunyi seolah-olah waktu berhenti. Dadu itu melambat dan mendarat dengan angka tertinggi tepat di tengah meja tanpa lecet sedikit pun.
Si Penjudi Buta terbelalak. "Kau... kau bukan hanya menahan tekananku, kau menghisapnya? Siapa kau sebenarnya?"
"Pemenang." jawab Li Yuan singkat.
Si Penjudi Buta menghela napas panjang, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Li Yuan. "Pedang Cahaya Abadi tidak berada di tangan manusia. Ia tertancap di puncak Menara Gading, yang kini telah tenggelam di bawah Danau Cermin Perak. Tapi berhati-hatilah, Kekaisaran telah mengirim Letnan Yan, sang pembantai dari Sayap Perak, untuk menjaga danau itu."
Tepat setelah informasi itu diberikan, pintu Paviliun Rahasia hancur berkeping-keping.
"Bocah pembunuh Jenderal! Akhirnya kami menemukanmu!"
Sekelompok prajurit elit dengan baju zirah hitam-emas menyerbu masuk. Di depan mereka berdiri seorang pria muda dengan wajah pucat dan pedang tipis yang memancarkan aura es. Inilah Letnan Yan.
"Li Yuan," Letnan Yan berkata dengan suara setajam es. "Kekaisaran tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh. Menyerahlah sekarang, atau kota ini akan menjadi makam massal."
Li Yuan berdiri perlahan. Pedang Hitam Takdirnya mulai berdenyut, seolah-olah merasakan kehadiran musuh yang sebanding.
"Dong Dong, sepertinya kita tidak bisa pergi dengan tenang." ucap Li Yuan sambil melepas kain rami yang membungkus pedangnya.
"Baguslah!" raung Dong Dong sambil memanjangkan tongkatnya, menghancurkan meja judi di depannya. "Aku sudah bosan dengan bau orang tua ini!"
Pertempuran di Kota Perjudian Jiwa pecah. Li Yuan melesat ke arah Letnan Yan, menciptakan ledakan energi yang menghancurkan seluruh Paviliun. Di luar sana, ribuan mata menatap dengan ngeri; mereka menyadari bahwa legenda baru sedang bertarung melawan otoritas tertinggi dunia.