Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Sisi menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Ia lelah, benar-benar lelah. Ia tidak mengerti kenapa hidupnya harus berantakan seperti ini.
Sisi menenggelamkan wajahnya ke bantal dan membiarkan air matanya mengalir. Tangis itu bukan karena kesedihan semata, melainkan amarah yang menumpuk. Lucu rasanya, ia sempat berpikir dirinya sudah kebal terhadap kata-kata apa pun, tapi ternyata tidak. Ia hanya membohongi diri sendiri. Luka itu masih ada.
Tentu saja, ia manusia.
Sisi menyeka air matanya dengan kasar. Ia sudah melewati terlalu banyak masalah. Ia tidak akan membiarkan hal ini membuatnya runtuh.
Ia bangkit untuk membersihkan diri, namun pintu kamarnya kembali terbuka.
Tidak sopan. Tidak pernah mengetuk pintu. Benar-benar menjengkelkan.
“Apa lagi?” tanya Sisi lelah.
Lucien berdiri di ambang pintu dengan wajah datar.
“Catat nomorku,” perintahnya singkat.
Sisi terdiam sejenak sebelum mengambil ponselnya.
“Oke. Sebutkan,” katanya dingin.
Ia tidak ingin memperpanjang percakapan dengan pria itu.
“0339*******,” ucap Lucien.
“Sudah?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Sisi singkat.
“Telepon aku.”
Sangat mengatur. Sialan.
Sisi menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, Lucien mengangkat telepon itu. Setelah merasa puas, pria itu langsung keluar dari kamar tanpa pamit, bahkan tidak menutup pintu.
Sisi mendengus kesal dan berjalan untuk menutup pintu. Namun, ia hampir melompat kaget karena Lucien kembali berdiri di depannya.
“Ada apa lagi?” tanya Sisi bingung.
“Aku lupa mengingatkan. Mulai sekarang kau harus pulang sebelum jam sepuluh malam,” ucap Lucien datar.
Apa ia mengira Sisi anak kecil?
“Kalau aku tidak?” tantang Sisi.
“Jangan coba-coba kembali,” jawab Lucien dingin sebelum berbalik.
Sisi hanya mengangkat bahu.
Rasanya seperti remaja yang dihukum. Sial benar hidup ini.
***
Sisi bangun sangat pagi ketika Lucien masih tidur. Ia jelas tidak berniat menghabiskan waktu seharian di mansion. Ia berencana pergi ke rumah Aleta. Bukan karena ingin menghindari Lucien, melainkan karena berada di rumah yang sama dengan pria itu selalu berakhir dengan perang.
Dengan sangat hati-hati, Sisi membuka pintu kamar rahasianya. Setiap langkah dijaga, seperti sedang kabur dari rumah dan takut tertangkap basah.
Sedikit lagi.
Satu langkah lagi menuju kebebasan...
“Apa yang kau lakukan?” suara dingin itu menghentikannya. “Kau sangat marah sampai ingin kabur dariku?”
Iya, ingin sekali Sisi menjawab begitu. Tapi ia menahan diri. Ia tidak ingin menyulut api neraka pagi-pagi.
Sisi menarik napas dan berbalik. Lucien sedang mengenakan setelan bisnis lengkap dengan dasi. Pria itu tampan, tidak bisa disangkal, namun tetap iblis. Kalau saja sifatnya tidak setajam itu, mungkin Sisi termasuk wanita yang akan mengaguminya. Tapi itu mustahil.
“Selesai menatapku?” tanya Lucien sambil menyeringai tipis.
“Belum. Putar badanmu,” jawab Sisi asal.
Lucien mendecak dan kembali menghadap cermin.
Sisi melirik koper kecil di dekatnya.
“Kau mau ke mana?” tanyanya serius.
“Perjalanan bisnis,” jawab Lucien malas. Ponselnya berdering, dan ia menjauh untuk menjawab.
Begitu Lucien membelakangi, Sisi langsung melompat kegirangan dalam hati. Ia meninju udara kecil-kecil. Terima kasih, Tuhan.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Lucien sambil menoleh.
Tangan Sisi masih terangkat. Ia buru-buru berpura-pura berolahraga.
“Olahraga. Cepat pergi. Dadah,” usir Sisi dengan senyum lebar.
“Akhirnya aku tidak perlu melihat wajahmu lagi,” gerutu Lucien.
“Sama” balas Sisi manis sambil mengedipkan mata.
Lucien menatapnya tajam sebelum benar-benar pergi.
Sisi mungkin satu-satunya istri yang bahagia ketika suaminya pergi dinas. Kalau bisa, Lucien sebaiknya kerja di luar negeri selamanya.
Namun sebelum masuk kamar, Sisi melihat sesuatu di meja, paspor Lucien.
Astaga.
Dengan refleks cepat, ia mengambil paspor itu dan berlari ke bawah. Ia harus mengejarnya. Tidak boleh sampai perjalanan bisnis itu gagal.
Ia terengah ketika melihat mobil Lucien hampir keluar gerbang.
“TUNGGU!” teriak Sisi sambil melambaikan paspor.
Mobil itu berhenti. Lucien turun dan bersandar pada mobil dengan tangan terlipat, seperti model iklan. Sisi menggelengkan kepala, menegur dirinya sendiri.
“Kau tidak mau aku pergi?” goda Lucien.
Sisi memutar bola mata dan mengangkat paspor.
“Aku tidak mau kebebasanku tertunda karena perjalananmu batal,” jawabnya sarkastis.
Seseorang tiba-tiba muncul di samping Lucien. Pria itu tampan, rapi, dan terlihat sopan.
“Ini Istrimu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Oh, dia lucu,” gumam Sisi tanpa sadar.
“Iya,” jawab Lucien singkat.
“Aku Sisi. Kau siapa?” tanya Sisi.
“Draven Maddox,” jawab pria itu ramah. “Sekretaris sekaligus kekasih Lucien. Senang bertemu denganmu, Nyonya Muda.”
Sisi membeku.
“Kekasih?” ulangnya pelan.
Ia menunggu bantahan. Tapi tidak ada.
Lucien bahkan langsung masuk ke mobil tanpa menjelaskan apa pun.
“Kami harus pergi sekarang, Nyonya Muda. Kami akan terlambat ke bandara,” ujar Draven sambil melangkah pergi.
Sisi spontan menarik pergelangan tangannya.
“Apa hubungan kalian sebenarnya?” tanyanya tajam.
Draven melirik Lucien sekilas sebelum tersenyum samar.
“Kami menjalin hubungan homoseksual,” jawabnya ringan.
Dunia Sisi seolah runtuh.
“Jangan bilang--”
“Draven, masuk!” bentak Lucien tergesa.
Draven melambaikan tangan kecil sebelum masuk ke mobil, meninggalkan Sisi terpaku di tempat.
Sisi berdiri kaku, pikirannya kacau.
Jadi… Lucien gay?
Ia mengingat kembali semua sikap pria itu, dingin pada perempuan, marah tanpa sebab, menolak sentuhan.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Ya Tuhan.
Yang lebih menyakitkan dari pernikahan ini adalah mengetahui bahwa suaminya tidak pernah menginginkan perempuan.
Dan kini, Sisi harus hidup dengan kenyataan itu.