Jessica yang mati penuh penyesalan tiba-tiba kembali ke umur 19 tahun dengan membawa semua ingatannya di kehidupan yang telah ia lalui.
Kali ini, dia tidak akan ditindas lagi, dia akan bersinar dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
"Bagaimana bisa Jessica tahu ada racun di minuman itu?"
"Jessica mendapat nilai sempurna? Bukankah dia selalu peringkat akhir?"
"Aku tidak akan membiarkan Jessica mengambil posisiku, lihat saja, aku akan memberinya pelajaran!"
"Heh! Mau menindasku? Tidak! Jessica kali ini bukan lawan yang sepadan untukmu! Jangan macam-macam kalau tidak mau menyesal!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Penolakan Nyonya Sanjaya
Nolan mengangguk, "itu benar, ada CCTV di basemen apartemen, aku akan menyuruh seseorang untuk memeriksa," ucap Nolan
Tangan Luna secara spontan terkepal, dia dengan cepat berkata, "sepertinya akulah yang salah," Luna mulai terisak, ia memeluk sang ibu dan lanjut berkata, "aku saja yang salah Bu, aku tidak apa-apa, lagi pula ini adalah makan malam keluarga Sanjaya, jangan sampai mengacaukannya. Sebaiknya kita pulang saja," ucap Luna yang jelas tahu kalau Nolan sampai mengecek cctv-nya, maka dia akan ketahuan berbohong.
Kalau sudah begitu, Nolan pasti tidak akan mentolerir kesalahan nya.
Nyonya Balisa tidak setuju, nama baik putrinya harus dikembalikan bahkan jika harus membuang-buang waktu dan merusak makan malam ini untuk mengecek CCTV di basement apartemen, "Tidak! Ibu tidak setuju, kenapa kau harus mengaku salah pada kesalahan orang lain? Ini penghinaan untuk keluarga--"
"Ibu tolong," kata Luna menatap ibunya dengan penuh permohonan akhirnya membuat Nyonya Balisa menghela nafas.
"Hah... Baiklah, lagipula ini bukan masalah besar," Nyonya Balisa berbalik menatap kakek Sanjaya, "kami minta maaf atas ketidaknyamanan makan malam kalian, sekarang kami permisi, putriku perlu ditenangkan," kata Nyonya balita.
Kakek Sanjaya jelas tidak senang atas insiden yang telah terjadi, tetapi mengingat ini makan malam pertama Jessica di rumah mereka, maka dia hanya bisa mengangguk, "ini memang sangat mengganggu, tapi karena sudah seperti ini, sebaiknya masalahnya dihentikan saja sampai di sini. Kalian berdua tidak usah pulang, duduklah dulu, kita makan malam bersama, tidak perlu membahas tentang guci yang telah pecah itu," ucap sang kakek.
"Tidak perlu, kami pulang saja," ucap Nyonya Balisa lalu dengan cepat menarik Luna meninggalkan ruang makan keluarga Sanjaya.
Tetapi sebelum melewati pintu keluar, Nolan berkata, "siapa bilang masalah ini sudah selesai?"
Luna dan ibunya menghentikan langkah mereka, berbalik menatap Nolan, "apa maksudmu?" tanya Nyonya Balisa.
"Video Cctv-nya sudah di sini," kata Nolan mengangkat ponselnya.
Wajah Luna menggelap, kenapa Nolan segitu keras kepala ingin menyelesaikan masalah sepele ini?
"Baguslah kalau Rekaman CCTVnya sudah ada, lalu bagaimana hasilnya? Pasti Jessica yang membawa guccinya 'kan?" Tanya Nyonya Balisa sambil menatap Jessica dengan jijik, yakin sekali putrinya tidak bersalah.
Jessica hanya tersenyum pada Nyonya Balisa, 'untunglah tadi aku memberitahu Nolan tentang guci itu, jadi sekarang Nolan sendiri yang bersikeras menuntut kebenaran,' pikir Jessica dalam hati.
"Silahkan lihat sendiri," kata Nolan mengulurkan ponselnya pada Nyonya Balisa.
Nyonya Balisa lalu mengambil ponsel itu, tapi Luna dengan sengaja menyenggol tangan ibunya hingga ponsel terjatuh.
"Astaga, maafkan aku, aku tidak sengaja," kata Luna membungkuk mengambil ponsel yang terjatuh, ia merasa lega ketika layar ponsel itu retak dan tak bisa lagi menyala.
Dia pun mengembalikan ponsel tersebut pada Nolan, "aku sungguh minta maaf, juga untuk insiden malam ini. Maafkan aku Jessica, apa pun hasilnya, akulah yang salah, karena bagaimana pun juga aku yang ditugaskan menjemputmu tapi aku malah lalai memastikan kau membawa hadiah yang tepat. Sekali lagi saya minta maaf, permisi," kata Luna dengan suara serak sebelum berlari pergi sambil mengusap air matanya.
"Sayang, jangan menangis, tunggu ibu!" Nyonya Balisa mengejar putrinya.
Nyonya Sanjaya hendak berdiri untuk mengejar dua orang itu, tetapi kemudian dia dihentikan oleh kakek Sanjaya, "Kau mau ke mana? Duduk dan makan!" Perintah kakek Sanjaya.
"Tapi..." Nyonya Sanjaya tidak bisa membiarkan hubungannya dengan Nyonya Balisa kacau hanya gara-gara seorang perempuan yang baru saja datang ke rumah mereka, tetapi setelah melihat tatapan Ayah mertuanya, dia tidak bisa berkata apapun lagi dan dengan enggan kembali duduk.
Makan malam yang seharusnya hangat itu pun berubah menjadi dingin, suara dentingan garpu dan sendok yang beradu menjadi pengiring makan malam tersebut, tidak ada lagi yang memulai percakapan.
Jessica tersenyum, 'Aku tahu semua orang dilema Antara Aku dan Luna, Luna adalah anak yang sudah dianggap seperti bagian dari keluarga Sanjaya sejak kecil, sementara aku dibawa oleh Nolan kemari dan telah menyelamatkan nyawa kakek Sanjaya, tidak ada yang berharap ada satu pihak yang benar-benar salah atas kejadian itu. Sayang sekali Luna harus Selamat hari ini, tapi lain kali tidak ada yang bisa menolong mu!' pikir Jessica dalam hati.
Setelah makan malam, Jessica dan Nolan dipanggil ke ruangan sang kakek, mereka berbincang hangat sesaat sebelum akhirnya kedua orang itu keluar dari ruangan kakek Sanjaya.
Mereka ditemui oleh Nyonya Sanjaya, "Ayah mu memanggilmu di ruang kerjanya," ucap Nyonya Sanjaya pada Sang putra.
Nolan menatap Jessica, "tunggu aku di ruang tamu," kata Nolan dijawab anggukan Jessica, jadi pria itu segera pergi.
Setelah Nolan pergi, Nyonya Sanjaya langsung menatap Jessica dengan ketidaksenangannya, baru hari ini perempuan ini datang ke rumah, tapi hampir mengacaukan hubungan keluarga Sanjaya dengan keluarga Balisa. Dia tidak bisa mentolerir apa yang terjadi hari ini jadi Nyonya Sanjaya berkata, "ikut aku sebentar."
"Baik, Bu," kata Jessica segera mengikuti perempuan di depannya, 'sekarang situasinya benar-benar berubah dari kehidupan sebelumnya, kalau begitu mungkin saja aku dan anakku bisa tetap selamat meski masuk ke keluarga Sanjaya ini. Yang perlu kulakukan mulai saat ini adalah terus menempel pada kakek agar Kakek bisa melindungi aku dan anakku sampai kelak anakku sudah bisa melindungi dirinya sendiri,' pikir Jessica dalam hati.
Kedua perempuan yang berjalan beriringan itu akhirnya tiba di ruang baca, itu adalah ruangan yang di kehidupan sebelumnya hanya pertama kali di masuki Jessica, lalu setelah itu dia tidak pernah diizinkan menginjakkan kaki di tempat itu.
'Ruangan ini masih segar dalam ingatanku, sama seperti dulu, Tapi sayangnya dulunya ruangan ini hampir terbakar gara-gara ulah Luna yang kemudian menuduhku yang hendak membakar ruangan ini, bahkan buku-buku yang dulu dibuang karena sudah terlalap api masih ada di sini,' pikir Jessica dalam hati sambil menatap rak buku yang berada di sisi kiri.
Keduanya duduk di sofa, lalu Nyonya Sanjaya berkata, "kalau kau disukai Nolan dan ayah mertuaku, maka bukan berarti aku juga akan menyukaimu. Keluarga kami sudah bertahun-tahun memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Balisa, tapi di hari pertama kedatanganmu sudah menjadi renggang begini. Kau bahkan berani menuduh Luna melakukan hal yang tidak tidak. Aku mengenal Luna dengan sangat baik, Dia adalah anak yang sangat baik, berprestasi dan memiliki masa depan yang cerah, dia pun dididik dengan baik oleh keluarga Balisa, jadi tuduhan yang kau berikan padanya tadi itu tidak ada yang akan mempercayainya. Panggilan "ibu" juga, Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Aku harap kau mengerti kata-kataku ini."
Jessica mengukir senyuman tipes di wajahnya, dengan kata lain Nyonya Johar mengatakan padanya bahwa dia tidak merestui hubungannya dengan Nolan dan tidak ingin ada pertemuan di lain waktu.
"Nyonya, Sepertinya anda sudah salah paham padaku," Jessica berdiri, berjalan ke arah sebuah rak dan menarik sebuah buku tebal dari sana, itu adalah buku berbahasa Perancis yang berisi tentang tata krama seorang perempuan.
"Tata krama yang kita terapkan di rumah dan di luar rumah bisa saja berbeda. Seseorang di luar rumah bisa saja berbeda saat berada di rumahnya sendiri dan kita tidak pernah bisa menilai seseorang hanya dari tampak luarnya saja," ucap Jessica kembali duduk, membuka buku di tangannya, "itu adalah salah satu petikan dari buku ini. Aku yakin anda pasti sudah banyak kali membaca buku ini dan ada banyak pembelajaran hidup yang ada di dalamnya, tapi sayang sekali hanya sebagian orang yang diberi kemampuan untuk mendalami isi sebuah buku dalam kehidupan sehari-harinya," ucap Jessica meletakkan buku di atas meja.
Wajah Nyonya Sanjaya menjadi tidak senang, apakah perempuan ini baru saja menyinggungnya di hari pertama pertemuan mereka? Sungguh berani!
"Mengerti bahasa di dalam buku itu saja kau mungkin tidak bisa, tapi kau berani menggunakan kata-katanya di hadapanku? Biar ku beritahu, sekali Aku berbicara maka selamanya akan seperti itu, tidak ada yang yang akan mengubahnya," ucap Nyonya Sanjaya mempertegas ucapannya dan sekaligus mempertegas posisinya bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengizinkan atau selamanya melarang Jessica berhubungan dengan keluarga mereka.
Jessica berdiri, "kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Nyonya berumur panjang dan mendapat keberkahan," kata Jessica lalu melangkah meninggalkan Nyonya Sanjaya.
"Sayang," ucap Nolan yang menyambut Jessica tepat ketika pintu ruang baca dibuka.
"Bisakah kita pulang sekarang? Aku sedikit lelah," kata Jessica.
"Tentu saja, ayo," ucap Nolan segera merangkul Jessica meninggalkan tempat itu.
Nyonya Sanjaya yang memperhatikannya pun hanya bisa terdiam, 'apa yang sudah dia lakukan Jessica sampai Nolan benar-benar memperlakukannya sebaik itu? Bahkan pada Luna saja dia tidak pernah begitu, tapi pada perempuan ini... Aku harus mencari tahu latar belakangnya dengan benar dan mengetahui hal apa yang telah dilihat putraku padanya,' pikir Nyonya Sanjaya dalam hati, tidak bisa begitu saja membiarkan putranya terjebak dengan seorang perempuan yang tidak memiliki etika dan attitude yang baik seperti Jessica.
kata balik keduli ini ga di prediksi sama Jessica
maling teriak maling😎
semangat thor 💪