Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Bintil Hitam di Tengah Cahaya
Sinar matahari pagi baru mulai menyebar ke sudut-sudut kantor ketika Sultan tiba dengan wajah yang sedikit kusam dan mata yang menunjukkan kelelahan. Malam sebelumnya dia begadang hingga larut untuk menyelesaikan proposal akhir program kerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia, bersama dengan tim kerja yang telah dibentuk beberapa hari yang lalu. Alya sudah menyiapkan kopi hangat dan makanan kecil untuknya sebelum dia pergi, dengan penuh perhatian mengingatkan suaminya untuk tidak terlalu memaksakan diri.
“Saya akan coba pulang lebih cepat malam ini, sayang,” ujar Sultan dengan suara yang sedikit lemah saat dia mencium dahi istri nya. “Proposalnya sudah hampir selesai, tinggal beberapa bagian kecil yang perlu diperbaiki saja.”
Namun ketika dia membuka pintu ruang kerjanya, dia menemukan sekretarisnya, Dika, sedang berdiri dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar sambil memegang beberapa berkas kertas. Pria muda tersebut yang telah bekerja dengan Sultan selama tiga tahun lebih tampak sangat terkejut dan cemas.
“Pak Sultan… maafkan saya,” ujar Dika dengan suara yang bergetar saat melihat bosnya masuk. “Ada sesuatu yang salah dengan dokumen-dokumen program kita. Semua data penting tentang kelompok pelaku usaha kreatif lokal, perhitungan anggaran, dan bahkan proposal kerja sama yang sudah kita siapkan ternyata telah bocor dan menyebar ke beberapa perusahaan kompetitor.”
Sultan merasa darahnya membeku dan kakinya hampir tidak mampu menopang berat tubuhnya. Dia segera mendekati meja sekretaris dan mengambil berkas yang ada di tangan Dika. Di sana tertulis bukti bahwa dokumen-dokumen rahasia mereka telah dikirim melalui email ke beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sama, termasuk perusahaan yang baru saja masuk ke pasar Jawa Timur dan dikenal dengan praktik kompetisi yang tidak sehat.
“Kapan kamu menemukan ini?” tanya Sultan dengan suara yang tenang namun penuh dengan tekanan. Dia mencoba tetap tenang meskipun hati nya sedang berdebar kencang dan pikirannya berputar cepat mencari kemungkinan penyebab kebocoran ini.
“Baru beberapa menit yang lalu, Pak,” jawab Dika dengan mata yang berkaca-kaca. “Saya sedang memeriksa inbox kantor untuk mengirimkan proposal ke pihak pemerintah ketika menemukan bahwa email dengan lampiran dokumen lengkap telah dikirim kemarin malam tanpa sepengetahuan saya. Saya segera memeriksa log aktivitas komputer dan menemukan bahwa ada akses tidak sah ke sistem kita sekitar pukul dua pagi.”
Sultan segera masuk ke ruang kerjanya dan membuka komputer pribadinya. Dia dengan cepat mengakses sistem keamanan kantor dan memeriksa riwayat akses yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Benar saja, ada beberapa aktivitas mencurigakan yang menunjukkan bahwa seseorang telah memasuki sistem mereka menggunakan kredensial yang sah, namun dari alamat IP yang tidak dikenal.
“Siapa saja yang memiliki akses penuh ke sistem kita?” tanya Sultan dengan suara yang jelas dan tegas, sementara matanya terus fokus pada layar komputer yang menampilkan data log aktivitas.
“Selain Anda dan saya, Pak,” jawab Dika yang sudah berdiri di belakangnya, “hanya ada tiga orang lagi yang memiliki akses penuh: Pak Anton dari bagian keuangan, Bu Lina dari bagian operasional, dan Pak Rio dari bagian pengembangan bisnis.”
Sultan menghela napas dalam-dalam dan menutup matanya sebentar. Dia tidak bisa membayangkan bahwa salah satu dari orang-orang yang telah bekerja dengan dia selama bertahun-tahun bisa melakukan hal seperti ini. Pak Anton yang selalu ramah dan membantu setiap orang, Bu Lina yang seperti ibu bagi semua anggota tim, atau Pak Rio yang pernah bersama dia melalui berbagai kesulitan dalam mengembangkan program-program sebelumnya.
“Jangan beritahu siapapun tentang hal ini untuk saat ini, Dika,” ujar Sultan dengan suara yang tenang namun penuh tekad. “Kita perlu menyelidiki ini dengan hati-hati agar tidak menyebabkan kekacauan di dalam kantor atau merusak kerja sama yang sudah kita bangun dengan PT. Citra Kreatif Indonesia. Kamu bisa mulai memeriksa semua aktivitas email dan sistem dari tiga orang tersebut selama satu minggu terakhir.”
Setelah Dika pergi, Sultan duduk terdiam di kursinya, mencoba mengumpulkan pikiran dan mengingat setiap detail yang mungkin dia lewatkan. Dia memikirkan bagaimana dokumen-dokumen tersebut bisa bocor hanya beberapa hari sebelum mereka akan menyerahkan proposal akhir kepada pemerintah daerah dan PT. Citra Kreatif Indonesia. Jika informasi tersebut benar-benar telah jatuh ke tangan kompetitor, maka semua usaha dan harapan yang telah mereka bangun selama ini bisa hancur berkeping-keping.
Tak lama kemudian, telepon di mejanya berdering dengan keras. Dia melihat nama yang muncul di layar – Rina Wijaya dari PT. Citra Kreatif Indonesia. Suaranya yang biasanya tenang dan profesional kini terdengar sangat marah dan kecewa ketika Sultan menjawab panggilan tersebut.
“Pak Sultan, apa yang sedang terjadi?” ujar Rina dengan suara yang jelas menunjukkan kemarahan. “Kami baru saja menerima informasi bahwa perusahaan kompetitor telah mengajukan proposal yang hampir sama dengan kita kepada pemerintah daerah, bahkan dengan detail yang lebih rinci dan anggaran yang lebih rendah. Bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui semua rencana kita dengan begitu jelas?”
Sultan merasa wajahnya menjadi panas karena rasa malu dan kemarahan yang campur aduk. Dia segera menjelaskan tentang kebocoran dokumen yang baru saja ditemukan dan bahwa mereka sedang menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas hal ini.
“Saya sungguh menyesal dengan yang terjadi, Bu Rina,” ujar Sultan dengan suara yang penuh penghianatan. “Saya berjanji bahwa kita akan segera menemukan siapa yang melakukan ini dan akan mengambil tindakan yang sesuai. Saya juga akan memastikan bahwa kerja sama kita tidak akan terpengaruh oleh hal ini.”
Namun Rina tampaknya sulit untuk meyakinkannya. “Kita sudah menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mengembangkan program ini, Pak Sultan,” ujarnya dengan nada yang lebih dingin. “Manajemen perusahaan saya sekarang mulai meragukan keamanan data kerja sama kita. Mereka bahkan mempertanyakan apakah kerja sama ini masih layak untuk dilanjutkan.”
Setelah panggilan telepon berakhir, Sultan merasa tubuhnya lemas dan duduk kembali di kursinya. Dia tahu bahwa kehilangan kerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi program mereka dan bagi semua pelaku usaha kreatif lokal yang telah mengharapkan bantuan dari program tersebut. Dia segera menghubungi tim kerjanya untuk mengadakan rapat darurat, namun sebelum itu, dia memutuskan untuk berbicara satu per satu dengan tiga orang yang memiliki akses penuh ke sistem mereka.
Pertama kali dia memanggil Pak Anton, yang segera datang ke ruang kerjanya dengan wajah yang penuh kebingungan. Ketika Sultan menjelaskan tentang kebocoran dokumen dan bahwa nama Pak Anton termasuk dalam daftar orang yang memiliki akses penuh, wajah pria berusia lima puluhan tersebut menjadi merah karena marah dan kesal.
“Pak Sultan, bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu?” ujar Pak Anton dengan suara yang penuh emosi. “Saya telah bekerja dengan Anda selama lima tahun lebih. Saya melihat betapa keras Anda bekerja untuk membantu masyarakat, bagaimana Anda selalu memprioritaskan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa merusak semua usaha itu!”
Sultan melihat mata Pak Anton yang penuh dengan kejujuran dan keyakinan. Dia tahu bahwa sekretaris keuangan nya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. “Saya percaya pada Anda, Pak Anton,” ujarnya dengan suara yang lebih lembut. “Saya hanya perlu memastikan bahwa semua kemungkinan telah saya periksa. Apakah Anda tahu ada sesuatu yang mencurigakan di kantor akhir-akhir ini?”
Pak Anton menggeleng dan menghela napas dalam-dalam. “Saya tidak tahu apa-apa tentang kebocoran ini, Pak,” jawabnya dengan suara yang tenang kembali. “Namun saya memang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan beberapa aktivitas Pak Rio akhir-akhir ini. Dia sering begadang sendirian di kantor, bahkan ketika tidak ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Saya juga pernah melihatnya sedang berbicara dengan seseorang di telepon dengan suara yang sangat pelan, seolah-olah dia tidak ingin didengar oleh orang lain.”
Setelah Pak Anton pergi, Sultan memanggil Bu Lina. Wanita yang telah bekerja dengan dia selama empat tahun lebih datang dengan wajah yang penuh kekhawatiran dan segera menangis ketika mengetahui alasan dia dipanggil.
“Pak Sultan, saya swear kepada Tuhan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang ini,” ujar Bu Lina dengan suara yang bergetar. “Saya sudah menganggap kantor ini sebagai rumah kedua dan semua teman kerja sebagai keluarga saya sendiri. Saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa menyakiti keluarga ini atau merusak program yang telah kita bangun dengan susah payah.”