Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tengah kerumunan
Dari dalam kamar terdengar suara pintu toilet terbuka disusul bunyi muntah.
"Huek—huek—"
Ares yang sedang merapikan jas langsung menoleh.
"Maya?" ia segera bergegas ke arah toilet. "Maya!"
Maya membungkuk di depan kloset, satu tangannya mencengkeram tepi wastafel.
"Huek—ugh..."
Ares langsung mengusap punggungnya. "Ya Tuhan... kita ke rumah sakit sekarang."
Maya mengangkat tangan, menolak. "Nggak... Mas... tunggu... Huek—"
Ares panik. "Kamu mual begini masih bilang tunggu?"
Maya menarik napas panjang, lalu menyiram kloset. "Ini... ini biasa," katanya pelan. "Dokter juga bilang, usia dua bulan memang sering begini."
"Tapi kamu kelihatan lemas," bantah Ares.
Maya berdiri perlahan, menyandarkan tubuh ke dinding.
"Aku cuma mual. Bukan apa-apa."
Ares menatapnya ragu. "Yakin nggak perlu ke rumah sakit?"
Maya mengangguk, lalu tiba-tiba menelan ludah.
“Mas…”
“Apa?” Ares langsung siaga.
“Aku… pengin makan ramen.”
Ares terdiam. “Hah?”
“Ramen,” ulang Maya serius. “Yang kuahnya panas.”
Ares menghela napas panjang. “Baru aja muntah, sekarang minta ramen?”
Maya menatap Ares sambil memegang perutnya.
“Katanya… kalau nggak diturutin, nanti anak kamu ileran.”
Ares mengusap wajahnya frustasi, lalu mengangguk pasrah.
“Ya sudah. Tapi cuma sedikit, dan nggak terlalu pedas.”
Mata Maya langsung berbinar.
“Beneran?”
“Iya,” jawab Ares sambil mengambil handuk kecil. “Cuci muka dulu. Habis itu kita pergi.”
Maya tersenyum kecil.
“Makasih, Mas.”
Ares menatapnya sebentar, lalu bergumam lirih,
“Ngidam kamu bikin jantungku copot.”
Tak selang lama, Maya telah siap. Mereka berdua bergegas menuju restoran.
“Kalian mau ke mana?” tanya Amelia, menghentikan langkah Ares dan Maya.
"Maya ngidam, Mah. Ingin makan ramen di restoran," jawab Ares.
"May, jangan yang terlalu pedas. Ingat, ada cucu Mama di perut kamu," ucap Amelia sambil menatap Maya penuh perhatian.
Maya mengangguk pelan. "Iya, Mah."
Amelia lalu mengalihkan pandangannya pada Ares. "Res, kapan pembantu itu datang?" tanya Amelia.
"Besok, Mah," jawab Ares singkat.
"Baguslah."
Setelah pamitan, Ares dan Maya langsung menuju restoran ramen yang berada di dalam mall.
Begitu tiba di kedai ramen, suasana tampak ramai. Banyak pengunjung memenuhi hampir setiap meja, aroma kuah kaldu yang hangat menyebar di udara, membuat perut Maya semakin terasa lapar.
Antrian di kedai ramen itu cukup panjang. Aroma kuah panas dan kaldu memenuhi udara. Ares berdiri di depan, fokus ke papan menu, sementara Maya berdiri sedikit di belakangnya, satu tangan memegang tas, tangan lain refleks melindungi perutnya.
Tiba-tiba Maya merasa ada tatapan yang tidak nyaman.
Ia menoleh.
Seorang perempuan di antrean sebelah menatapnya, bukan sekadar melirik, tapi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pelan. Menilai. Menghakimi.
Maya mengernyit, lalu membalas tatapan itu dengan sorot mata sinis.
Perempuan itu tidak mengalihkan pandangan. Justru menyengir tipis, lalu mendekat ke temannya dan berbisik, cukup keras untuk didengar.
“Eh… itu kan Maya?”
Temannya ikut menoleh.
“Yang selingkuhan itu?”
Maya menegang.
Ares masih belum sadar, sibuk dengan ponselnya.
Perempuan itu kembali berbisik, kali ini lebih jelas.
“Iya. Maya pelakor itu, kan? Yang rebut suaminya Elina… CEO baru Anderson.”
Beberapa kepala langsung menoleh.
“Astaga… yang viral itu?”
“Yang ketahuan pas live?”
Bisik-bisik mulai menyebar seperti api kecil.
“Itu dia?”
“Berani juga muncul ke publik.”
“Kirain sembunyi.”
Maya mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras.
Ares akhirnya menoleh. “Kenapa, May?”
Belum sempat Maya menjawab, seorang pria di belakang mereka bersuara dengan nada mengejek.
“Berani juga, ya,” katanya sambil tersenyum miring. “Meninggalkan berlian demi batu kerikil.”
Ares langsung menoleh tajam. “Maksud kamu apa?”
Pria itu mengangkat bahu.
“Bukan apa-apa. Cuma heran.”
Ia melirik Maya sekilas.
“Cewek beginian kok dibela.”
“Jaga mulut kamu,” suara Ares menurun, berbahaya.
Perempuan tadi terkekeh.
“Loh, kami cuma ngomong fakta. Semua orang juga tahu.”
Ia menatap Maya tanpa malu.
“Pelakor tetap pelakor, mau pakai baju sebagus apa pun.”
Maya menatapnya lurus. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala.
“Ngomong itu pakai otak,” ucapnya dingin. “Kalian tidak tahu apa-apa.”
“Justru tahu,” sahut yang lain.
“Kami nonton sendiri.”
“Live-nya nggak bisa dihapus, Mbak.”
Ares maju setengah langkah, berdiri di depan Maya.
“Cukup,” katanya keras. “Urus hidup kalian sendiri.”
Beberapa orang terdiam, tapi tatapan-tatapan itu masih ada, tajam, menghujat.
Maya menarik napas panjang, menahan gemetar.
“Mas… ayo,” bisiknya pelan. “Aku nggak lapar lagi.”
Ares menoleh, melihat wajah Maya yang tegang.
“Kita tetap makan,” katanya, lebih ke menenangkan diri sendiri.
Ia menatap sekeliling, lalu berkata tegas,
“Dan kalian semua, ingat. Hidup orang lain bukan tontonan selamanya.”
Namun bisik-bisik itu belum sepenuhnya hilang.
Justru satu kalimat terakhir terdengar lirih… tapi menusuk.
“Pantas Elina kelihatan tenang sekarang.”
Maya memejamkan mata sesaat.
Tangannya refleks mengusap perutnya—
bukan karena lapar,
melainkan karena untuk pertama kalinya…
ia merasa takut berada di dunia yang terbuka.
“Mas, aku ingin pulang!” ucap Maya, tak sanggup lagi menahan cacian yang terus ia dengar.
“Tapi, May—”
“Aku mau pulang, Mas. Aku sudah nggak tahan lagi dengan hinaan mereka. Soal ramen, kita bisa pesan,” potong Maya. Setelah itu, ia langsung meninggalkan kedai dengan raut wajah kesal.
Ares pun ikut menyusulnya. Namun, bisik-bisik para pengunjung terus masuk ke dalam telinganya, tajam dan menyakitkan.
“Dasar pelakor.”
"Cowoknya juga bajingan."
Langkah Ares terhenti sesaat, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya ia kembali melangkah pergi mengikuti Maya.