Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Perintah dari Kegelapan
Suara klik dari tarikan pelatuk di balik pintu itu menggantung di udara, lebih nyaring daripada detak jantung Kayra yang berpacu liar.
"Tiarap!" perintah pria beralis luka itu.
Ia menurunkan tubuh besar sang bos dari bahunya dengan sangat hati-hati, menyandarkannya pada dinding lorong yang basah. Pistolnya kini mengarah lurus ke pintu besi, siap memuntahkan peluru pada siapa pun yang berani muncul dari balik sana.
Kayra merayap mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh pergelangan tangan sang pasien. Ia perlu memastikan pria ini tidak mati karena syok setelah guncangan hebat tadi. Namun, saat jarinya menyentuh kulit pria itu, sebuah tangan dingin dan kasar justru menyambar lengan jas putih Kayra.
Cengkeraman itu tidak sekuat tadi, namun tekanannya terasa penuh peringatan.
"Jangan ... lewat pintu itu.” Suara pria itu terdengar lagi. Kali ini lebih rendah, serak, namun memiliki kejernihan yang mengerikan. Ia tidak sedang mengigau.
Pria beralis luka itu menoleh cepat. Matanya membelalak melihat bosnya sudah membuka mata di tengah kegelapan total. "Tuan Harry ... Anda sadar?"
Kayra membeku. Harry. Akhirnya, sebuah nama terucap di tengah kekacauan ini.
"Enzo," Harry memanggil pria beralis luka itu dengan napas yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya yang pucat tampak seperti perjuangan melawan rasa sakit yang luar biasa.
"Mereka ... sudah menunggu di gang. Jika kau buka pintu itu ... kita selesai."
"Tapi Tuan, mereka sudah menjebol gudang farmasi di belakang kita! Kita terjepit!" Enzo tampak frustrasi. Keringat bercampur darah menetes dari dahinya.
Harry terbatuk, sebuah suara kecil yang membuat Kayra meringis karena ia tahu betapa sakitnya tarikan otot di dada pria itu setelah operasi besar. "Pipa pembuangan ... di sisi kiri lorong ini. Ada lubang kontrol menuju tangki septik lama yang sudah kering."
Kayra mengerutkan kening. "Tangki septik? Itu mustahil. Lubangnya terlalu sempit dan udaranya beracun jika masih ada gas metana!"
Harry memutar kepalanya dengan perlahan, menatap Kayra. Di tengah kegelapan, matanya berkilat seperti obsidian yang tajam. "Dokter ... jika kau ingin hidup, berhenti ... menjadi dokter sejenak. Menjadi tikus lebih baik daripada menjadi mayat."
Kayra terdiam. Logika medisnya berteriak bahwa memindahkan pasien pasca-operasi jantung ke dalam lubang pembuangan adalah tindakan bunuh diri.
Namun, suara tembakan yang kembali menggema dari arah gudang farmasi, menandakan musuh sudah berhasil melewati barikade lemari besi, memaksanya bungkam.
"Lakukan, Enzo!" perintah Harry.
Enzo segera bergerak. Ia meraba dinding kiri lorong yang gelap hingga tangannya menemukan sebuah penutup besi bulat yang tertutup tumpukan kayu lapuk. Dengan tenaga yang tersisa, ia mencungkil penutup itu hingga terbuka. Bau tanah dan udara pengap yang menyengat keluar dari sana.
"Kosong. Sudah lama tidak dipakai," lapor Enzo.
"Mia, Freya, masuk duluan!" perintah Kayra tegas. Kedua asistennya yang sudah menangis tanpa suara itu segera merangkak masuk dengan gemetar.
Kini giliran Harry. Enzo mencoba mengangkat tubuh Harry kembali, namun pria itu mendesis kesakitan. Jahitan di dadanya mulai merembeskan darah segar lagi, menodai kain perban yang baru saja dipasang Kayra.
"Biar aku yang menahan bagian atas tubuhnya!" Kayra segera mengambil posisi. Ia menyelipkan tangannya di bawah ketiak Harry, menopang bahu bidang pria itu.
Saat tubuh mereka bersentuhan, Kayra bisa merasakan panas tubuh Harry yang mulai naik, tanda awal demam akibat trauma bedah. Namun, ia juga merasakan sesuatu yang lain, detak jantung Harry yang kuat namun tidak beraturan, seolah-olah pria ini sedang memaksa jantungnya sendiri untuk terus berdenyut demi bertahan hidup.
"Satu... dua... tiga!"
Mereka menggeser tubuh Harry masuk ke dalam lubang kontrol yang sempit. Kayra masuk terakhir, tepat sebelum Enzo menutup kembali penutup besi itu dan menutupinya dengan kayu lapuk untuk menyamarkan jejak.
Di dalam tangki septik tua yang kering itu, suasana menjadi sangat sunyi. Hanya ada suara napas yang bersahutan. Mereka duduk di atas lantai semen yang dingin dalam kegelapan total. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu besi di ujung lorong tadi ditendang hingga jebol.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan membabi buta terdengar dari lorong yang baru saja mereka tinggalkan. Musuh-musuh itu rupanya menembaki ruang kosong karena mengira Harry dan rombongannya masih bersembunyi di balik kegelapan lorong.
Kayra memeluk lututnya, berusaha menahan napas agar tidak bersuara. Di sampingnya, ia bisa merasakan tubuh Harry yang bersandar pada dinding semen. Pria itu bernapas pendek-pendek.
"Kau ... dokter bedah yang baik," bisik Harry tiba-tiba. Suaranya hampir tidak terdengar, hanya seperti hembusan angin di telinga Kayra.
Kayra menoleh, meski ia tidak bisa melihat wajah Harry dengan jelas. "Bagaimana kau tahu aku dokter bedah?"
"Tanganmu …." Harry meraih tangan kanan Kayra dalam kegelapan. Ia menyentuh ujung jari Kayra dengan sangat pelan. "Hanya ahli bedah, yang punya cengkeraman seperti ini. Aku bisa merasakannya di dalam dadaku, Dokter. Sesuatu yang asing ... tanganmu yang masuk ke sana untuk menarikku kembali dari neraka."
Kayra tersentak. Jadi Harry sadar saat ia melakukan open-heart massage?
"Aku hanya melakukan pekerjaanku," jawab Kayra dingin, meredam debar jantungnya. "Tugasku sekarang adalah memastikan kau tidak mati. Jangan banyak bicara, Harry."
Pria itu terkekeh serak diselingi ringisan nyeri.
"Harry," ia mengulang namanya sendiri, seolah asing. "Enzo memang ceroboh jika panik. Dia baru saja memberimu kunci menuju neraka dengan menyebut nama itu, Dokter."
"Aku tidak butuh namamu untuk tahu kau adalah masalah besar," balas Kayra tanpa emosi. "Nama itu takkan menyelamatkanmu jika kau terus membuang energi untuk bicara."
Enzo menyalakan senter redup, wajahnya tegang. "Tuan Harry, kita harus pergi. Luca akan menyisir tempat ini jika tidak menemukan mayat Anda."
Luca. Kayra mencatat nama itu, dalang di balik pertumpahan darah ini.
"Mobil puskesmas ada di gang belakang," bisik Harry parau. "Kuncinya di laci meja depan. Ambil sekarang."
"Tapi Tuan, itu bunuh diri! Mereka menjaga area depan!"
"Enzo …." Harry menarik napas panjang, menahan nyeri hebat. "Ledakkan tangki oksigen di ruang medis sebagai pengalih. Saat mereka panik, ambil kunci mobil itu."
Kayra terbelalak. "Kau ingin meledakkan puskesmasku?"
Harry menoleh, senyum tipisnya tampak dingin di bibir yang membiru. "Dokter, tempat ini sudah hancur sejak peluru pertama ditembakkan. Sekarang, kita bicara tentang harga sebuah nyawa."
Kayra terbungkam melihat keyakinan di mata pria itu, dia tidak sekadar lari, dia sedang membalas di tengah sisa hidupnya.
Enzo mengangguk, lalu menyerahkan pistol cadangan kepada Kayra.
"Jaga bosku! Jika ada yang mencoba masuk, tembak saja. Jangan berpikir!" perintah Enzo sebelum merayap keluar.
Kayra menatap senjata dingin di tangannya dengan mual. Tangannya diciptakan untuk menyembuhkan, bukan mencabut nyawa.
Namun, saat Enzo menghilang dalam kegelapan, Kayra sadar dunia damainya di Elara telah musnah sepenuhnya.
Kayra meringkuk bersama Mia dan Freya yang gemetar. Mereka berempat terjebak dalam kesunyian mencekam, dengan Harry sebagai pusat gravitasi, sang iblis yang nyawanya digenggam Kayra, sekaligus predator yang menjadi satu-satunya pelindung mereka.
"Siapa kau sebenarnya?" bisik Kayra.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Kayra, menekankannya ke dada yang terbebat perban. Di sana, di balik kulit dingin, Kayra merasakan detak jantung yang liar dan penuh amarah.
"Aku adalah orang ... yang akan membuatmu merindukan ... ketenangan Elara, Dokter," gumamnya sebelum kembali kehilangan kesadaran.