"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Tanda-Tanda Bencana
"Awas! Rudal meluncur!"
Sebuah pesawat kertas melayang melintasi ruang makan, mendarat mulus tepat di dalam cangkir kopi espresso milik Cayvion. Cairan hitam pekat itu memercik, menodai kemeja putih yang baru saja disetrika licin oleh binatu.
Dulu, mungkin Cayvion akan meledak marah, memecat seluruh asisten rumah tangga, dan memanggil tim sterilisasi. Tapi pagi ini, dia hanya menghela napas pendek, mengambil pesawat kertas basah itu dengan dua jari, lalu meletakkannya di atas tisu.
"Elio," panggil Cayvion datar, tanpa mengalihkan pandangan dari iPad-nya. "Aerodinamikanya bagus. Tapi targetnya salah. Lain kali incar mangkuk serealmu sendiri."
"Siap, Komandan Papa," sahut Elio santai sambil mengunyah roti selai (selai khusus non-alergi yang mahal).
Hara yang sedang menuangkan susu untuk Elia tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Cayvion Alger sudah berubah. Dia bukan lagi monster yang anti-suara. Dia sudah bermutasi menjadi ayah yang... yah, setidaknya toleran terhadap kekacauan.
Namun, senyum Hara memudar saat melihat notifikasi di ponselnya. Kalender digital berwarna merah menyala.
"Pak," panggil Hara, meletakkan teko susu. Nadanya berubah serius, mode Asisten Pribadi aktif.
"Hm?" gumam Cayvion, matanya sibuk memindai email dari klien Amerika.
"Minggu depan. Tanggal 25. Bapak ingat hari apa?"
Cayvion mengernyit, jarinya berhenti menggulir layar. "Tanggal 25? Rapat evaluasi bulanan? Atau jatuh tempo pembayaran dividen?"
Hara mendesah kasar. "Bukan. Itu ulang tahun Elio dan Elia. Ulang tahun kelima."
Cayvion mengangkat wajahnya. Dia menatap si kembar yang sedang rebutan sosis. Ulang tahun. Lima tahun. Waktu berjalan cepat. Dia melewatkan empat tahun pertama, dia tidak boleh melewatkan yang kelima.
"Oke. Lalu?"
"Saya sudah siapkan pesta kecil di sekolah mereka jam dua belas siang. Tapi sebelum itu, Bapak janji mau jemput mereka jam sebelas. Kita makan siang bertiga—eh, berempat—sebelum potong kue di kelas."
Hara menatap suaminya tajam.
"Ini permintaan khusus Elio. Dia mau pamer ke teman-temannya kalau dia dijemput Papanya, bukan supir. Bapak bisa kan? Kosongkan jadwal jam sebelas sampai jam satu."
Cayvion kembali menatap layar iPad-nya. Email masuk bertubi-tubi. Subject: Delegasi New York - Kedatangan Mendesak.
Klien dari Amerika, Mr. Robert, akan datang minggu depan untuk meninjau proyek smart city. Ini proyek triliunan. Jadwalnya akan gila-gilaan. Tapi, Cayvion melihat jam sebelas di tanggal 25 masih kosong.
"Bisa," jawab Cayvion enteng, sambil mengetik balasan email. "Jam sebelas saya jemput. Lagian Mr. Robert baru mendarat sorenya. Pagi saya aman."
"Bapak yakin?" desak Hara ragu. "Jangan cuma wacana ya, Pak. Kalau Bapak ingkar janji kali ini, Elio bakal ingat sampai dia tua. Dia pendendam lho, persis Bapak."
"Saya ingat, Hara. Saya bukan orang pikun," Cayvion menutup iPad-nya, berdiri, dan mengecup puncak kepala Elia sekilas. "Jam sebelas teng saya ada di gerbang sekolah. Masukkan ke jadwal."
"Saya nggak bisa masukkan ke jadwal Bapak," Hara mengingatkan. "Saya cuti setengah hari di tanggal 25 buat dekorasi kelas dan urus katering. Sekretaris pengganti saya yang pegang akses kalender Bapak."
"Ya sudah, nanti saya bilang ke sekretaris baru itu. Siapa namanya? Nina? Nana?"
"Nadia, Pak," koreksi Hara. "Dia anak baru. Bapak harus tegas kasih instruksinya. Dia agak... grogi kalau lihat Bapak."
"Tenang saja. Urusan gampang," Cayvion menyambar jasnya. "Ayo berangkat. Elio, Elia, salam sama Papa."
Anak-anak menyalami tangan Cayvion. Elio menatap ayahnya lekat-lekat.
"Awas bohong ya, Pa. Bohong itu dosa, nanti hidungnya panjang kayak Pinokio. Kalau hidung Papa panjang, nanti jelek."
"Papa tidak pernah ingkar janji bisnis, Elio," jawab Cayvion percaya diri. "Dan ini bisnis serius."
***
Kantor Alger Corp sedang dalam mode siaga satu.
Lantai eksekutif sibuk luar biasa mempersiapkan kedatangan delegasi Amerika. Orang-orang berlarian membawa berkas, telepon berdering di mana-mana.
Cayvion berjalan cepat menuju ruangannya, diikuti oleh Nadia, sekretaris junior yang menggantikan peran Hara sementara untuk urusan administratif. Nadia tampak kewalahan membawa tumpukan map, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia gemetar tiap kali berada dalam radius satu meter dari Bos Besar.
"Nadia," panggil Cayvion tanpa menoleh, langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Ya, Pak! Siap, Pak!" Nadia nyaris menjatuhkan tablet di tangannya.
"Catat ini. Prioritas utama," Cayvion membuka laptopnya, matanya langsung fokus pada data pasar saham yang bergerak liar. Konsentrasinya terpecah.
"Satu, siapkan berkas presentasi untuk Mr. Robert. Revisi halaman lima sampai sepuluh. Dua, booking restoran VVIP untuk makan malam kedatangan tanggal 25 malam. Tiga..."
Cayvion berhenti sejenak, teringat pesan Hara tadi pagi.
"...tanggal 25 pagi, jam sebelas. Blokir jadwal saya."
Nadia mengangguk cepat, jarinya gemetar mengetik di tablet. "Baik, Pak. Blokir jadwal jam sebelas. Untuk keperluan apa, Pak? Supaya saya bisa kasih keterangan di sistem."
"Acara pribadi. Jemput anak," gumam Cayvion pelan, sambil mengangkat telepon kabel yang berdering nyaring di mejanya.
Kring! Kring!
"Halo? Cayvion berbicara," Cayvion langsung masuk ke mode bahasa Inggris. "Oh, Mr. Robert! Glad to hear from you!"
Nadia berdiri kaku di depan meja. Dia baru saja mengetik 'Jam 11: Jemput...' ketika ponsel kantor di saku blazernya bergetar hebat. Panggilan dari Divisi Katering untuk acara makan malam delegasi.
Nadia panik. Dia mengangkat telepon itu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang tablet.
"Halo? Apa? Menu Lobster-nya habis? Aduh, jangan dong! Pak Cayvion bisa marah!" Nadia berbisik panik ke ponselnya, melupakan instruksi terakhir bosnya.
Dia berbalik badan, sibuk berdebat dengan pihak katering sambil berjalan keluar ruangan agar suaranya tidak mengganggu Cayvion yang sedang menelepon klien.
Di layar tablet yang dia pegang, kursor masih berkedip di kolom kalender tanggal 25. Kalimatnya belum selesai diketik. Dan tombol 'Save' belum ditekan.
Karena terlalu gugup mengurus katering, jari jempol Nadia tanpa sengaja menyentuh tombol 'Cancel' di layar sentuh itu.
Pop-up konfirmasi muncul: Discard changes?
Tanpa melihat, Nadia menekan 'Yes' karena dia pikir itu konfirmasi pesanan Lobster.
Kalender digital Cayvion untuk tanggal 25 jam 11:00 kembali bersih. Putih. Kosong.
Di sistem perusahaan, jam itu terbaca sebagai: Available Slot.
Di dalam ruangan, Cayvion menutup telepon dengan senyum puas. Dia pikir perintahnya sudah dilaksanakan. Dia pikir dia ayah yang hebat yang bisa menyeimbangkan karir dan keluarga.
Dia tidak tahu, bencana baru saja dimulai dari satu ketukan jari yang salah.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri