Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sisa-Sisa yang Tak Lagi Sama
Lampu lobi kantor pusat Dirgantara Group masih bersinar terang, namun bagi Maya, segalanya tampak buram. Ia terus melangkah menembus pintu kaca, mengabaikan panggilan Arlan yang menggema di belakangnya. Suara langkah sepatu Arlan yang terburu-buru mengejarnya di atas trotoar terdengar seperti detak jantung yang panik.
"Maya! Berhenti!"
Arlan berhasil meraih lengan Maya tepat di depan gerbang keluar. Tarikannya tidak kasar, namun penuh permohonan. Begitu Maya berbalik, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan: Arlan Dirgantara, pria yang selalu tampak tak tersentuh, kini berdiri di depannya dengan mata yang basah dan napas yang tersenggal.
"Lepas, Pak Arlan," ucap Maya dingin. Ia sengaja menggunakan panggilan formal itu untuk membangun kembali jarak yang sempat runtuh.
"Jangan panggil aku begitu, May. Tolong..." Arlan menggeleng, suaranya parau. "Aku... aku minta maaf. Aku sudah menjadi orang paling bodoh sedunia karena lebih mempercayai fitnah daripada hatiku sendiri."
Maya tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan rasa pedih. "Minta maaf? Setelah kamu mengusirku di tengah hujan? Setelah kamu memperlakukanku seperti sampah di depan selingkuhanmu itu?"
"Sandra bukan siapa-siapa, May! Dia hanya bagian dari masa lalu yang aku gunakan untuk melarikan diri darimu!" Arlan mencoba menggenggam kedua tangan Maya, tapi Maya segera menariknya kembali.
"Masalahnya bukan cuma Sandra, Lan. Masalahnya adalah kamu nggak pernah benar-benar mengenalku," suara Maya mulai bergetar. "Lima tahun aku hidup dalam ketakutan karena ingin melindungimu. Dan saat kita bertemu lagi, hal pertama yang kamu lakukan adalah berasumsi bahwa aku adalah orang jahat. Cinta macam apa yang nggak punya ruang untuk sedikit saja rasa percaya?"
Arlan terdiam. Kata-kata Maya menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun. Ia menatap tangannya yang kosong, lalu menatap Maya yang kini tampak begitu asing—bukan karena jarak, tapi karena luka yang ia torehkan sendiri.
"Aku akan membereskan semuanya, May. Sandra sudah kupecat, aku akan melaporkan penggelapannya ke polisi. Aku akan menebus semua waktu yang hilang," janji Arlan dengan nada putus asa.
"Beberapa hal nggak bisa ditebus dengan uang atau laporan polisi, Arlan," Maya menghapus air matanya dengan kasar. "Rumah tua di Dago itu... kamu bilang kamu ingin merestorasinya supaya nggak rubuh. Tapi kamu lupa, pondasi yang paling penting bukan semen atau kayu, tapi kepercayaan. Dan pondasi kita sudah hancur total malam itu di Dago."
Maya berbalik, kali ini benar-benar pergi. Ia menyetop taksi yang lewat dan masuk ke dalamnya tanpa menoleh lagi. Dari kaca belakang, ia melihat Arlan yang masih berdiri mematung di pinggir jalan, kehujanan, tampak seperti puing-puing dari bangunan yang gagal ia selamatkan.
Seminggu berlalu. Maya mengundurkan diri dari proyek renovasi itu. Ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta, menjauh dari semua kenangan pahit di Bandung. Namun, saat ia sedang mengemas barang-barangnya di apartemen kecilnya, seseorang mengetuk pintu.
Bukan Arlan yang muncul, melainkan Pak Jaka, mandor tua dari proyek Dago.
"Mbak Maya... Pak Arlan minta saya kasih ini ke Mbak," ujar Pak Jaka sambil menyerahkan sebuah kunci besar dan sebuah surat.
Maya ragu sejenak sebelum membukanya. Di dalam surat itu hanya ada satu kalimat dengan tulisan tangan Arlan yang rapi namun tampak ragu:
"Rumah itu sudah selesai. Bukan aku yang menyelesaikannya, tapi kenangan kita. Datanglah sekali saja, setelah itu aku janji nggak akan mengganggumu lagi."
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ego Maya. Sore harinya, ia kembali ke Dago. Begitu sampai di depan gerbang, Maya tertegun. Rumah tua yang tadinya kusam dan menyeramkan itu kini berubah menjadi sangat indah. Dindingnya putih bersih, jendela-jendelanya berkilau, dan tanaman rambatnya ditata dengan sangat apik.
Maya masuk menggunakan kunci itu. Di dalam, tidak ada perabot mewah. Arlan justru mempertahankan furnitur lama yang sudah direstorasi dengan sangat halus. Namun, yang membuat jantung Maya berhenti berdetak adalah dinding di ruang tengah.
Arlan tidak mengecatnya dengan warna polos. Ia menyewa seorang seniman mural untuk melukis seluruh perjalanan mereka di sana. Mulai dari pertemuan pertama di kampus, malam-malam di bawah hujan, hingga saat Arlan memberikan kalung perak itu.
Dan di tengah-tengah mural itu, ada sebuah ruang kosong dengan tulisan:
"Setelah kamu menjadi asing, aku baru sadar bahwa aku tak pernah benar-benar mengenal diriku sendiri tanpamu. Rumah ini milikmu, Maya. Aku hanya penjaganya."
Maya jatuh terduduk di lantai kayu yang wangi pernis itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Di sudut ruangan, ia melihat jaket windbreaker Arlan yang dulu sempat ia pakai, terlipat rapi di atas kursi, dengan foto photobox mereka di atasnya.
Arlan tidak ada di sana. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak muncul. Namun, kehadiran Arlan terasa di setiap inci ruangan itu.
Tiba-tiba, ponsel Maya berdering. Sebuah pesan dari Arlan:
"Aku ada di teras belakang. Aku nggak akan masuk kalau kamu nggak minta. Aku cuma mau tanya satu hal... apa rumah ini masih punya ruang untuk orang asing sepertiku?"
Maya menatap pintu belakang yang tertutup. Ia tahu, memaafkan itu sulit. Tapi melihat semua usaha Arlan, melihat bagaimana pria itu menghancurkan egonya sendiri untuk membangun kembali "rumah" mereka, Maya menyadari satu hal.
Terkadang, kita harus menjadi asing terlebih dahulu, agar bisa jatuh cinta kembali dengan cara yang lebih benar.
Maya berdiri, berjalan menuju pintu belakang, dan membukanya perlahan. Di sana, di bawah langit Bandung yang mulai jingga, Arlan sedang berdiri menatap lembah, tampak ragu dan takut. Begitu Arlan menoleh dan melihat Maya, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya.
"Selamat pulang, Maya," bisik Arlan.
Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah maju dan memeluk Arlan erat, membiarkan aroma kayu cendana itu kembali menjadi dunianya. Kali ini, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kamera mata-mata, hanya ada dua orang yang sedang belajar untuk saling mengenal kembali.
Reruntuhan yang Terakhir
Maya baru saja hendak melangkah menuju teras belakang untuk menemui Arlan, saat sebuah aroma yang sangat ia kenali menusuk hidungnya. Bukan parfum Arlan, bukan juga bau kayu pernis.
Bau bensin.
Mata Maya membelalak saat melihat cairan bening mengalir dari bawah celah pintu ruang kerja Arlan, merembes ke karpet wol yang baru saja dipasang. Di ujung lorong, sosok wanita dengan rambut berantakan dan tatapan mata yang sudah kehilangan kewarasan berdiri memegang korek api gas.
"Sandra?" Maya berbisik ngeri.
"Kalau aku nggak bisa memiliki Arlan, nggak ada satu pun orang yang boleh punya dia. Termasuk kamu, dan rumah terkutuk ini!" teriak Sandra histeris. Wajah cantiknya kini tampak mengerikan di bawah cahaya lampu yang temaram.
"Sandra, jangan gila! Letakkan korek itu!" Arlan muncul dari teras belakang, wajahnya langsung menegang melihat situasi di depannya.
"Mundur, Arlan!" Sandra menyalakan pemantik itu. Api kecil itu menari-nari, seolah mengejek mereka. "Kamu menghancurkan karirku, namaku, dan cintaku demi wanita yang sudah menjual dirinya? Kamu jahat, Lan!"
"Sandra, dengerin aku..." Arlan mencoba melangkah maju dengan hati-hati. "Kamera itu, uang yayasan... kamu yang melakukannya sendiri. Jangan buat keadaan jadi lebih buruk."
"Keadaan sudah nggak bisa lebih buruk lagi!" Sandra melemparkan korek api itu ke arah karpet yang sudah basah oleh bensin.
Wush!
Api seketika menjilat dinding kayu yang baru saja dipoles. Dalam hitungan detik, ruang tengah itu berubah menjadi neraka kecil. Asap hitam pekat mulai memenuhi ruangan, mencekik napas.
"Maya, keluar!" teriak Arlan. Dia mencoba menarik tangan Maya, tapi Maya justru berlari ke arah ruang kerja Arlan.
"Kotak kayu itu, Lan! Foto kita!" teriak Maya. Dia tidak peduli dengan api yang mulai merambat ke langit-langit. Benda-benda itu adalah satu-satunya bukti bahwa mereka pernah bahagia.
"Maya, jangan! Tinggalkan saja!"
Maya menerjang masuk ke ruangan yang sudah mulai panas. Ia menyambar kotak kayu milik ibunya dan foto photobox yang tergeletak di meja. Namun, saat ia berbalik, sebuah balok kayu dari plafon runtuh tepat di depan pintu, menghalangi jalan keluarnya.
"Arlan!" Maya terbatuk, asap mulai memenuhi paru-parunya.
"Maya! Pegang tanganku!" Arlan muncul di balik kobaran api, ia menendang reruntuhan balok itu dengan kaki telanjangnya, tidak peduli pada kulitnya yang mulai melepuh. Dengan tenaga yang tersisa, Arlan menarik Maya keluar dari kepungan api, mendekapnya erat sambil menerobos pintu depan.
Mereka tersungkur di rumput halaman depan yang basah oleh embun malam. Di belakang mereka, rumah tua Dago itu terbakar hebat. Sandra sudah menghilang, melarikan diri ke dalam kegelapan malam sebelum polisi datang.
Maya terbatuk-batuk, mendekap kotak kayu itu di dadanya. Arlan segera memeriksa keadaan Maya, wajahnya penuh abu dan keringat.
"Kamu gila ya? Kenapa demi benda ini kamu hampir mati?" suara Arlan bergetar karena marah sekaligus lega.
Maya menunjukkan foto photobox mereka yang sudah sedikit gosong di bagian pinggirnya. "Karena aku nggak mau kita jadi asing lagi, Lan. Aku nggak mau kehilangan satu-satunya bukti kalau kamu pernah mencintaiku dengan tulus."
Arlan tertegun. Di tengah cahaya merah api yang melahap rumah hasil restorasinya, ia justru melihat sesuatu yang lebih indah di mata Maya. Ia menarik Maya ke dalam pelukannya, mencium keningnya lama sekali.
"Rumahnya bisa dibangun lagi, Maya. Tapi kamu... nggak ada gantinya," bisik Arlan.
Tiba-tiba, suara sirine pemadam kebakaran dan polisi mendekat. Arlan memegang wajah Maya dengan kedua tangannya, mengunci tatapan mereka.
"Besok, kita nggak akan bicara soal proyek, soal kontrak, atau soal Sandra. Kita akan bicara soal kita. Tanpa rahasia, tanpa ego. Kamu mau?"
Maya tersenyum di tengah air matanya, ia mengangguk pelan. "Aku mau. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Jangan pernah panggil aku 'aset perusahaan' lagi."
Arlan terkekeh pelan, tawa pertamanya yang benar-benar tulus sejak lima tahun lalu. "Janji. Kamu bukan aset, Maya. Kamu adalah pemilik tunggal dari perusahaan hatiku yang paling berantakan."
Di bawah langit Bandung yang dihiasi sisa-sisa api dan suara sirine, mereka menyadari bahwa terkadang, segalanya memang harus benar-benar hancur dan terbakar, agar yang tersisa hanyalah kemurnian perasaan yang tak lagi bisa dimanipulasi oleh siapa pun.