Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Sisa-Sisa Harga Diri
Jakarta yang megah selalu terasa menakutkan bagi mereka yang datang dengan kekalahan. Sinta berdiri di depan terminal bus dengan tas jinjing yang resletingnya sudah rusak. Wajahnya yang dulu selalu dipoles make-up mahal kini kusam, terpapar debu gudang semen tempatnya bekerja.
Kepergiannya dari Semarang bukanlah rencana yang matang. Ia melarikan diri karena sudah tidak kuat diteror Doni dan Ibunya Rangga yang terus-menerus menagih uang "jatah" yang sebenarnya tidak pernah ada. Sinta merasa seperti sedang diperas oleh hantu dari pria yang bahkan tidak pernah memberinya status istri sah.
"Rangga bisa berubah, Mbak Sari. Dia cuma butuh kasih sayang yang nggak menuntut kayak Senja," kalimat itu terngiang kembali di telinga Sinta, membuatnya ingin berteriak dan memukul kepalanya sendiri.
Ia teringat betapa sombongnya ia dulu saat menampung Rangga di rumahnya yang nyaman. Ia memanjakan Rangga, memberikan akses ke tabungannya, bahkan membiarkan Rangga menggunakan sertifikat rumahnya sebagai jaminan hanya karena Rangga berjanji akan membangun bisnis bersama. Sinta ingin membuktikan pada dunia, terutama pada Senja, bahwa ia adalah "pemenang" yang berhasil menjinakkan pria yang gagal di tangan Senja.
Kenyataannya? Sinta bukan pemenang. Ia hanya tempat persinggahan gratisan yang dieksploitasi sampai kering, lalu ditinggalkan saat ia mulai sakit-sakitan dan jatuh miskin.
Dengan sisa uang di kantongnya, Sinta mencari alamat kantor Senja yang ia dapatkan secara tidak sengaja dari berkas-berkas lama yang pernah dibawa Doni. Ia tidak ingin meminta uang. Ia juga tidak ingin merusak hidup Senja. Ada satu hal yang jauh lebih menyiksa batinnya daripada kemiskinan: Rasa Malu.
Sinta sampai di depan gedung kantor Senja sore itu. Ia berdiri jauh di seberang jalan, bersembunyi di balik tiang listrik, memperhatikan Senja yang keluar dari lobi didampingi oleh seorang pria tampan dan berkelas—Aditya.
Senja terlihat begitu bersinar. Langkah kakinya mantap, dagunya terangkat, dan senyumnya terlihat tulus. Kontras yang luar biasa dengan Sinta yang kini menyerupai gelandangan intelektual.
"Dia benar-benar sudah kembali ke dunianya, sementara aku tenggelam di duniaku sendiri," bisik Sinta lirih. Air matanya jatuh, mencuci debu yang menempel di pipinya.
Sinta teringat saat ia sering mencibir Senja di belakang. Ia bilang Senja terlalu kaku, terlalu "bos", dan tidak tahu cara melayani pria. Sekarang ia sadar, Senja bukan kaku, tapi Senja punya standar. Sedangkan dirinya? Ia merendahkan standarnya sampai ke lantai demi seorang pria yang bahkan tidak sanggup membelikannya obat saat ia tipes.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil patroli polisi melintas, mengingatkan Sinta pada berita penangkapan Doni kemarin yang ia baca di portal berita lokal. Sinta tahu, cepat atau lambat, polisi atau keluarga Rangga yang lain akan mencarinya sebagai saksi atau sasaran perasan baru.
Ia memberanikan diri mendekat ke arah area parkir saat Aditya sudah pergi dan Senja sedang berdiri sendirian menunggu supirnya.
"Mbak... Mbak Senja..." panggil Sinta dengan suara yang nyaris hilang tertelan bisingnya knalpot Jakarta.
Senja menoleh. Matanya membelalak kaget. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa wanita kucel di depannya ini adalah Sinta, sahabat yang dulu selalu tampil fashionable bersamanya.
"Sinta? Kamu... kenapa bisa ada di sini?" tanya Senja. Suaranya tidak mengandung kebencian, tapi lebih ke arah keterkejutan yang mendalam.
Sinta langsung berlutut di aspal, tepat di depan sepatu Senja yang mahal. "Mbak... aku nggak mau apa-apa. Aku cuma mau minta maaf. Aku bebal, Mbak. Aku nggak dengerin Mbak Sari. Aku pikir aku hebat bisa bikin Rangga berubah, ternyata aku cuma bodoh."
Senja mundur selangkah, bukan karena jijik, tapi karena ia merasa miris melihat kehancuran seorang wanita yang dulu begitu ia percayai sebagai sahabat.
"Bangun, Sin. Jangan begini di depan umum," ucap Senja sambil mencoba menarik bahu Sinta.
"Nggak, Mbak. Biar aku begini. Aku pantas begini. Aku sudah kehilangan rumahku, Mbak. Rangga gadein semuanya. Aku dipecat. Aku kerja di gudang... dan sekarang Doni kejar-kejar aku terus karena Mas Rangga di penjara butuh uang. Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Mbak."
Senja menghela napas panjang. "Sinta, aku sudah bilang di pesan singkat kemarin. Jangan biarkan dirimu terseret lebih jauh. Kamu harusnya lapor polisi, bukan lari ke Jakarta."
"Aku takut, Mbak. Aku malu sama Mbak Sari, malu sama temen-temen kantor lama kita. Semua orang tahu aku merebut Rangga dari Mbak, dan sekarang semua orang juga tahu aku kena karmanya." Sinta terisak hebat, bahunya berguncang.
Senja menatap Sinta dengan pandangan yang sangat kompleks. Di satu sisi, wanita ini adalah pengkhianat yang merusak kepercayaannya. Di sisi lain, Sinta adalah korban dari manipulasi Rangga yang sama dengan yang pernah ia alami—hanya saja Sinta mengalaminya dengan dosis yang lebih fatal karena Sinta tidak punya "rem" logika sama sekali.
"Dengarkan aku, Sin," Senja berjongkok, menyamakan tingginya dengan Sinta. "Aku nggak akan membantu kamu secara finansial. Aku nggak mau namaku dikaitkan lagi dengan masalah kamu dan Rangga. Tapi, aku punya satu alamat rumah aman di pinggiran Jakarta, milik kenalanku. Kamu bisa tinggal di sana sementara, bekerja sebagai pengelola kebersihan, dan yang paling penting, kamu harus jadi saksi kunci untuk memperberat hukuman Rangga dan Doni. Itu satu-satunya cara supaya mereka berhenti mengganggu kamu."
Sinta mendongak. "Mbak... Mbak masih mau nolong aku setelah semua yang aku lakuin?"
"Aku ngelakuin ini bukan untuk kamu, Sinta. Aku melakukan ini untuk memastikan para parasit itu tidak punya celah lagi untuk mengganggu siapa pun. Termasuk kamu," jawab Senja tegas.
"Sekarang bangun. Hapuskan air mata kamu. Jadilah wanita yang punya harga diri sedikit saja, meskipun sisa-sisa."
Sinta berdiri dengan gemetar. Ia melihat Senja yang kini sudah benar-benar "selesai" dengan masa lalunya. Senja menolongnya bukan karena kasih sayang sahabat, tapi karena prinsip moral seorang manusia.
Tapi, tanpa mereka sadari, dari kejauhan, seseorang sedang mengamati mereka. Seseorang yang mengenakan topi hitam dan masker, memegang kamera jarak jauh. Ia memotret momen Sinta yang bersimpuh di kaki Senja.
Keesokan harinya, sebuah berita viral muncul di grup-grup WhatsApp arsitek Jakarta dengan judul yang provokatif:
"SISI GELAP ARSITEK PRESTISIUS: SENJA AMARA DIDUGA MENINDAS MANTAN KARYAWANNYA HINGGA BERSIMPUH MEMINTA AMPUN DI JALANAN."
Foto itu dipotong sedemikian rupa sehingga Senja terlihat angkuh dan Sinta terlihat sangat terzalimi.
Konflik semakin memanas: Bagaimana Senja membersihkan namanya tanpa harus membongkar aib Sinta yang sebenarnya? Dan siapa sebenarnya orang di balik kamera itu?
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭