NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Malam Sebelum Akad

Tiara tidak menjawab pertanyaan Arya hari itu.

Dia meraih tasnya dan keluar dengan langkah cepat. Ratna mengejar sambil menyalahkanku karena membuka aib keluarga, sedangkan Bimo hanya berkata kami akan membicarakan uang itu setelah akad. Ketiga koper tetap berada di bagasi ketika mobil mereka meninggalkan halaman.

Satu setengah minggu kemudian, malam sebelum akad tiba.

Rumah yang biasanya tenang dipenuhi kotak bingkisan, tumpukan kursi, dan aroma bunga melati. Tenda resepsi sudah berdiri di halaman. Dari jendela kamarku, kulihat beberapa pemuda desa masih memasang lampu sementara suara ibu-ibu yang menyiapkan bumbu terdengar dari dapur belakang.

Bu Minah duduk bersila di lantai kamarku dengan kebaya putih terbentang di pangkuan. Dia memasukkan benang ke lubang jarum sambil memicingkan mata.

“Ibu, sudah cukup. Jahitannya tidak kelihatan.”

“Bagian pinggangnya masih longgar.”

“Kalau makan banyak besok, justru pas.”

Dia tertawa kecil, lalu kembali menjahit. Jari-jarinya kasar dan gerakannya tidak secepat penjahit di kota, tetapi setiap tusukan dibuat dengan kesungguhan yang membuatku tidak tega mengambil kebaya itu dari tangannya.

“Dulu Ibu pikir tidak akan pernah mengantar kamu menikah,” katanya setelah lama diam. “Waktu tahu kamu tumbuh di Jakarta, Ibu cuma berdoa orang-orang di sana sayang padamu. Ternyata kamu malah dikirim ke sini sendirian.”

“Aku tidak sendirian lagi.”

Bu Minah menatapku. “Kamu sungguh mau menikah dengan Nak Arya? Bukan karena takut pulang ke Jakarta?”

Pertanyaan itu tidak menyinggungku. Justru karena dia ibuku, dia berhak memastikan.

Aku mengusap sulaman kecil di ujung lengan. “Awalnya aku hanya ingin bertahan. Kupikir kalau dia orang baik, kami bisa saling menghormati dan menjalani hidup masing-masing.”

“Sekarang?”

Bayangan kantor peternakan muncul di kepalaku. Jari yang tergores, napas hangat di kulit, telinga Arya yang memerah ketika aku menegurnya. Lalu teringat caranya berdiri di sampingku di depan Bimo, Ratna, dan Tiara, tanpa sekali pun mengambil suaraku.

“Sekarang aku menunggu suara motornya setiap sore,” aku mengaku. “Kalau dia terlambat pulang, aku melihat jam terus. Rasanya tidak seperti sekadar dua orang yang tinggal serumah.”

Bu Minah tersenyum, matanya mengilat. “Berarti Ibu tidak perlu khawatir.”

“Tetap boleh khawatir sedikit.”

“Seorang ibu selalu khawatir.” Dia mengikat benang terakhir. “Ibu cuma menyesal tidak bisa melakukan semua ini sejak kamu kecil. Menjahit seragammu, mengomel kalau kamu pulang terlambat, menyimpan uang untuk pernikahanmu.”

Aku memeluknya dari samping. “Kita tidak bisa menjahit kembali tahun-tahun yang hilang. Tapi Ibu masih bisa membantu memakaikan kebaya ini besok.”

Bu Minah menangis tanpa suara. Aku ikut menangis, lalu kami tertawa karena khawatir mata kami bengkak saat pagi.

Setelah kebaya digantung, dia membantuku memeriksa kotak perhiasan. Semua tercatat, tersegel, dan disimpan di lemari kamarku. Tidak ada satu pun yang dititipkan kepada keluarga Jakarta.

Bu Minah mengeluarkan sebuah saputangan lama dari tasnya. Di salah satu sudut terdapat bunga kecil yang disulam dengan benang merah.

“Ini tidak mahal,” katanya. “Ibu membuatnya waktu masih mengandung. Setelah kamu tertukar, Ibu menyimpannya karena tidak tahu harus diberikan kepada siapa.”

Benangnya sudah pudar dan kainnya tipis dimakan usia. Namun benda itu membuat kotak emas di dekat kami terasa tidak berarti.

“Aku boleh membawanya besok?”

“Memang untukmu.”

Aku melipat saputangan itu dan menyelipkannya ke dalam tas kecil yang akan kubawa saat akad. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu dari hari-hari sebelum aku mengenal nama Bimo dan Ratna yang benar-benar kembali ke tanganku.

Bu Minah lalu menyisir rambutku seperti seorang ibu yang sedang menebus ribuan malam. Dia bercerita bahwa Aan dulu sering menunggu adik perempuannya pulang, padahal bayi yang dibawa rumah sakit bukan aku. Rian dan Rio bahkan pernah bertengkar soal siapa yang akan duduk di sampingku jika suatu hari aku pulang.

“Mereka masih bertengkar soal itu,” kataku.

“Berarti ada beberapa hal yang tidak berubah.”

Kami tersenyum melalui mata yang kembali basah.

“Tidurlah,” kata Bu Minah. “Besok kamu akan duduk lama.”

Aku mengantarnya ke kamar bawah. Raka dan Bayu sudah terlelap bersama Rian dan Rio. Sasa tidur di antara dua bantal, satu tangannya mencengkeram ujung selimut. Rumah mulai senyap setelah pekerja terakhir pulang.

Di lorong lantai dua, aku berpapasan dengan Arya.

Dia baru selesai mandi, rambutnya masih basah. Kami sama-sama berhenti seolah belum pernah bertemu di lorong yang sama.

“Belum tidur?” tanyanya.

“Mau tidur.”

“Besok bangun pagi.”

“Aku tahu.”

Dia mengangguk, tetapi tidak bergerak. Aku juga tidak.

“Mas Arya gugup?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku tersenyum. “Selamat malam.”

“Selamat malam, Laras.”

Namaku mengikutiku sampai ke dalam kamar.

Beberapa menit setelah pintu Laras tertutup, Arya masuk ke ruang kerjanya.

Dia mengunci pintu, lalu membuka laci paling bawah meja dengan kunci kecil yang selalu dibawanya. Di bawah map-map kontrak tersimpan sebuah kartu identitas perwira, beberapa tanda jasa dalam kotak beludru, dan seragam lama yang terlipat rapi.

Jarinya berhenti pada lambang satuan di lengan seragam.

Wajah beberapa lelaki dari masa lalu muncul bersamaan dengan suara tembakan yang sudah bertahun-tahun berusaha dikuburnya. Besok orang-orang lama akan datang. Seragam itu harus dikenakan lagi, bukan untuk tugas, melainkan untuk berdiri di samping perempuan yang belum mengetahui seluruh beban namanya.

Arya menutup kotak tanda jasa dan memasukkan semuanya kembali.

Lalu dia mengunci laci itu sekali lagi, seperti mengunci sebuah masa lalu yang belum pernah dia ceritakan kepada Laras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!