NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Malam Sebelum Akad

Tiara tidak menjawab pertanyaan Arya hari itu.

Dia meraih tasnya dan keluar dengan langkah cepat. Ratna mengejar sambil menyalahkanku karena membuka aib keluarga, sedangkan Bimo hanya berkata kami akan membicarakan uang itu setelah akad. Ketiga koper tetap berada di bagasi ketika mobil mereka meninggalkan halaman.

Satu setengah minggu kemudian, malam sebelum akad tiba.

Rumah yang biasanya tenang dipenuhi kotak bingkisan, tumpukan kursi, dan aroma bunga melati. Tenda resepsi sudah berdiri di halaman. Dari jendela kamarku, kulihat beberapa pemuda desa masih memasang lampu sementara suara ibu-ibu yang menyiapkan bumbu terdengar dari dapur belakang.

Bu Minah duduk bersila di lantai kamarku dengan kebaya putih terbentang di pangkuan. Dia memasukkan benang ke lubang jarum sambil memicingkan mata.

“Ibu, sudah cukup. Jahitannya tidak kelihatan.”

“Bagian pinggangnya masih longgar.”

“Kalau makan banyak besok, justru pas.”

Dia tertawa kecil, lalu kembali menjahit. Jari-jarinya kasar dan gerakannya tidak secepat penjahit di kota, tetapi setiap tusukan dibuat dengan kesungguhan yang membuatku tidak tega mengambil kebaya itu dari tangannya.

“Dulu Ibu pikir tidak akan pernah mengantar kamu menikah,” katanya setelah lama diam. “Waktu tahu kamu tumbuh di Jakarta, Ibu cuma berdoa orang-orang di sana sayang padamu. Ternyata kamu malah dikirim ke sini sendirian.”

“Aku tidak sendirian lagi.”

Bu Minah menatapku. “Kamu sungguh mau menikah dengan Nak Arya? Bukan karena takut pulang ke Jakarta?”

Pertanyaan itu tidak menyinggungku. Justru karena dia ibuku, dia berhak memastikan.

Aku mengusap sulaman kecil di ujung lengan. “Awalnya aku hanya ingin bertahan. Kupikir kalau dia orang baik, kami bisa saling menghormati dan menjalani hidup masing-masing.”

“Sekarang?”

Bayangan kantor peternakan muncul di kepalaku. Jari yang tergores, napas hangat di kulit, telinga Arya yang memerah ketika aku menegurnya. Lalu teringat caranya berdiri di sampingku di depan Bimo, Ratna, dan Tiara, tanpa sekali pun mengambil suaraku.

“Sekarang aku menunggu suara motornya setiap sore,” aku mengaku. “Kalau dia terlambat pulang, aku melihat jam terus. Rasanya tidak seperti sekadar dua orang yang tinggal serumah.”

Bu Minah tersenyum, matanya mengilat. “Berarti Ibu tidak perlu khawatir.”

“Tetap boleh khawatir sedikit.”

“Seorang ibu selalu khawatir.” Dia mengikat benang terakhir. “Ibu cuma menyesal tidak bisa melakukan semua ini sejak kamu kecil. Menjahit seragammu, mengomel kalau kamu pulang terlambat, menyimpan uang untuk pernikahanmu.”

Aku memeluknya dari samping. “Kita tidak bisa menjahit kembali tahun-tahun yang hilang. Tapi Ibu masih bisa membantu memakaikan kebaya ini besok.”

Bu Minah menangis tanpa suara. Aku ikut menangis, lalu kami tertawa karena khawatir mata kami bengkak saat pagi.

Setelah kebaya digantung, dia membantuku memeriksa kotak perhiasan. Semua tercatat, tersegel, dan disimpan di lemari kamarku. Tidak ada satu pun yang dititipkan kepada keluarga Jakarta.

Bu Minah mengeluarkan sebuah saputangan lama dari tasnya. Di salah satu sudut terdapat bunga kecil yang disulam dengan benang merah.

“Ini tidak mahal,” katanya. “Ibu membuatnya waktu masih mengandung. Setelah kamu tertukar, Ibu menyimpannya karena tidak tahu harus diberikan kepada siapa.”

Benangnya sudah pudar dan kainnya tipis dimakan usia. Namun benda itu membuat kotak emas di dekat kami terasa tidak berarti.

“Aku boleh membawanya besok?”

“Memang untukmu.”

Aku melipat saputangan itu dan menyelipkannya ke dalam tas kecil yang akan kubawa saat akad. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu dari hari-hari sebelum aku mengenal nama Bimo dan Ratna yang benar-benar kembali ke tanganku.

Bu Minah lalu menyisir rambutku seperti seorang ibu yang sedang menebus ribuan malam. Dia bercerita bahwa Aan dulu sering menunggu adik perempuannya pulang, padahal bayi yang dibawa rumah sakit bukan aku. Rian dan Rio bahkan pernah bertengkar soal siapa yang akan duduk di sampingku jika suatu hari aku pulang.

“Mereka masih bertengkar soal itu,” kataku.

“Berarti ada beberapa hal yang tidak berubah.”

Kami tersenyum melalui mata yang kembali basah.

“Tidurlah,” kata Bu Minah. “Besok kamu akan duduk lama.”

Aku mengantarnya ke kamar bawah. Raka dan Bayu sudah terlelap bersama Rian dan Rio. Sasa tidur di antara dua bantal, satu tangannya mencengkeram ujung selimut. Rumah mulai senyap setelah pekerja terakhir pulang.

Di lorong lantai dua, aku berpapasan dengan Arya.

Dia baru selesai mandi, rambutnya masih basah. Kami sama-sama berhenti seolah belum pernah bertemu di lorong yang sama.

“Belum tidur?” tanyanya.

“Mau tidur.”

“Besok bangun pagi.”

“Aku tahu.”

Dia mengangguk, tetapi tidak bergerak. Aku juga tidak.

“Mas Arya gugup?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku tersenyum. “Selamat malam.”

“Selamat malam, Laras.”

Namaku mengikutiku sampai ke dalam kamar.

Beberapa menit setelah pintu Laras tertutup, Arya masuk ke ruang kerjanya.

Dia mengunci pintu, lalu membuka laci paling bawah meja dengan kunci kecil yang selalu dibawanya. Di bawah map-map kontrak tersimpan sebuah kartu identitas perwira, beberapa tanda jasa dalam kotak beludru, dan seragam lama yang terlipat rapi.

Jarinya berhenti pada lambang satuan di lengan seragam.

Wajah beberapa lelaki dari masa lalu muncul bersamaan dengan suara tembakan yang sudah bertahun-tahun berusaha dikuburnya. Besok orang-orang lama akan datang. Seragam itu harus dikenakan lagi, bukan untuk tugas, melainkan untuk berdiri di samping perempuan yang belum mengetahui seluruh beban namanya.

Arya menutup kotak tanda jasa dan memasukkan semuanya kembali.

Lalu dia mengunci laci itu sekali lagi, seperti mengunci sebuah masa lalu yang belum pernah dia ceritakan kepada Laras.

1
Neny Risdiani Dewi
ini orang cari gara².... ayo Raka hajaar💪
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!