Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Upeti
Mereka akhirnya tiba di toko Harta Langit yang berada di Kota Wuye. Bangunan tersebut cukup besar dan berada di salah satu jalan utama kota. Beberapa anggota Harta Langit yang menjaga tempat itu langsung memberi salam ketika melihat kedatangan Gao Rui dan Sha Nuo.
Gao Rui hanya mengangguk. Bersama Sha Nuo, ia segera masuk menuju salah satu ruangan di bagian dalam.
Ruangan tersebut sebelumnya digunakan Lan Suya untuk memeriksa kepala cabang toko ini. Namun ketika mereka sampai, ternyata hanya Lan Suya yang masih berada di sana. Wanita itu duduk sendirian di sebuah bangku panjang sambil menikmati teh. Cangkir di tangannya perlahan ia letakkan.
Tatapan Lan Suya kemudian tertuju kepada Gao Rui dan Sha Nuo yang baru saja masuk. Tatapannya terlihat tajam. Entah mengapa, Gao Rui dan Sha Nuo langsung merasakan suasana di dalam ruangan itu sedikit berbeda.
Gao Rui berhenti melangkah. Sha Nuo juga terdiam. Lan Suya menatap Gao Rui.
“Dari mana saja kalian?”
Gao Rui menelan ludah.
“Ah...”
Lan Suya melanjutkan dengan nada tenang.
“Ini bahkan sudah lebih dari dua jam kalian berada di luar.”
Gao Rui terdiam. Pikirannya bergerak cepat mencari alasan.
Melihat Gao Rui tidak segera menjawab, Lan Suya menyipitkan matanya.
“Kau tidak membuat masalah baru, kan, Rui’er?”
Gao Rui langsung menoleh kepada Sha Nuo. Sha Nuo hanya menatapnya datar.
Gao Rui kemudian tertawa canggung.
“Tentu aku tidak membuat masalah, Bibi.”
Lan Suya masih menatapnya. Gao Rui buru-buru melanjutkan.
“Kami terlambat karena aku harus menemani Paman Nuo mencari oleh-oleh.”
Sha Nuo langsung menoleh kepada Gao Rui. Dalam hati ia mengumpat lagi.
“Benar-benar mirip gurunya...”
Ia sudah bisa menebak bahwa bocah ini sedang mengarang alasan di depan Lan Suya. Namun Sha Nuo tidak berniat membongkarnya.
Lan Suya menghela napas. Ia sebenarnya tahu Gao Rui sedang menyembunyikan sesuatu. Namun Gao Rui membawa Sha Nuo sebagai alasannya. Ia juga tidak mungkin terus mencecar mereka berdua hanya karena terlambat beberapa waktu.
Akhirnya Lan Suya mengangkat cangkir tehnya kembali.
“Baiklah.”
Ia meminum sedikit teh sebelum berdiri.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat menuju tanah yang akan dibangun Penginapan Kayu Mawar.”
Gao Rui langsung mengangguk.
“Baik, Bibi.”
Lan Suya berjalan keluar terlebih dahulu. Gao Rui dan Sha Nuo segera mengikutinya.
Di luar toko, beberapa orang Harta Langit sudah menyiapkan sebuah kereta kuda. Beberapa pengawal juga telah bersiap untuk ikut dalam perjalanan.
Gao Rui dan Lan Suya naik ke dalam kereta. Sementara itu, Sha Nuo memilih menunggangi kuda sendiri.
Tidak lama kemudian, rombongan tersebut mulai bergerak meninggalkan toko Harta Langit. Kereta kuda perlahan melewati jalan utama Kota Wuye.
Gao Rui duduk di dalam kereta sambil melihat pemandangan kota melalui jendela. Kota Wuye tetap terlihat ramai meskipun mereka telah meninggalkan pusat perdagangan. Para pedagang membuka toko, kereta barang berlalu-lalang, sementara para pendekar berjalan memenuhi jalan.
Gao Rui kemudian teringat tujuan mereka.
“Bibi.”
Lan Suya menoleh.
“Hmm?”
“Di mana lokasi Penginapan Kayu Mawar yang akan dibangun?”
Gao Rui melihat keluar jendela.
“Lokasinya pasti sangat strategis, bukan?”
Lan Suya justru menghela napas.
“Tempatnya memang sangat strategis.”
Gao Rui tersenyum.
“Kalau begitu bagus.”
Lan Suya kemudian menjelaskan sesuatu.
“Namun ada cukup banyak masalah di sana.”
Gao Rui langsung menoleh.
“Masalah?”
Lan Suya mengangguk.
“Beberapa waktu terakhir, ada beberapa kelompok yang mendatangi lokasi pembangunan tersebut.”
“Mereka meminta upeti atas pembangunan penginapan itu.”
Gao Rui mengerutkan kening.
“Upeti?”
“Bukankah itu jelas pungutan liar?”
Lan Suya mengangguk pelan.
“Benar.”
Ia memandang keluar jendela.
“Jumlah upeti yang mereka minta juga cukup tinggi.”
Gao Rui terdiam sejenak.
“Siapa mereka?”
Lan Suya menggeleng.
“Aku belum mengetahui semuanya.”
“Orang-orang cabang juga belum bisa memastikan kelompok mana yang berada di belakang mereka.”
Ia kemudian menatap Gao Rui.
“Karena itu, aku berniat mengeceknya sendiri.”
Gao Rui mengangguk.
“Baik.”
Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.
“Kalau begitu kita lihat saja siapa yang berani meminta uang kepada Harta Langit.”
Lan Suya tidak menjawab. Kereta terus bergerak melewati jalan Kota Wuye. Sha Nuo yang menunggangi kuda di samping kereta hanya mendengar percakapan mereka tanpa ikut campur.
Beberapa waktu kemudian, suasana di sekitar mereka mulai berubah. Lan Suya melihat ke depan.
“Kita sudah sampai.”
Gao Rui segera melihat keluar.
Di hadapan mereka terbentang sebidang tanah yang cukup luas. Beberapa bangunan sementara telah didirikan di sekitar lokasi. Sejumlah pekerja juga terlihat berada di sana.
Namun suasana tempat tersebut tidak terlihat seperti lokasi pembangunan biasa. Beberapa bagian tanah tampak berantakan. Material bangunan tersusun tidak beraturan. Beberapa pekerja bahkan terlihat berbicara dengan wajah cemas.
Kereta kuda akhirnya berhenti. Lan Suya turun terlebih dahulu. Gao Rui menyusul dan Sha Nuo juga turun dari kudanya. Ketiganya berdiri di depan lokasi yang nantinya akan menjadi tempat berdirinya Penginapan Kayu Mawar.
Lan Suya memandang tanah luas tersebut. Tatapannya perlahan menjadi serius.
“Sepertinya masalahnya lebih besar daripada yang aku kira.”
Lan Suya kembali mengamati seluruh lokasi pembangunan. Tatapannya perlahan berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya.
Beberapa tumpukan kayu yang sebelumnya telah dipersiapkan untuk membangun Penginapan Kayu Mawar kini terlihat rusak. Sebagian kayu bahkan patah menjadi beberapa bagian. Batu-batu yang seharusnya digunakan untuk dinding juga berserakan di atas tanah.
Tatapan Lan Suya kemudian beralih kepada bagian fondasi bangunan. Ia langsung menyadari sesuatu. Fondasi yang telah dibuat oleh para pekerja ternyata juga mengalami kerusakan. Beberapa bagian bahkan terlihat seperti sengaja dihancurkan menggunakan kekuatan yang cukup besar.
Gao Rui mengerutkan kening.
“Mereka benar-benar merusak tempat ini...”
Sha Nuo tidak mengatakan apa pun. Tatapannya justru menyapu seluruh area dengan tenang. Ada sesuatu yang tidak beres.
Hal yang paling aneh bukan hanya kerusakan material atau fondasi tersebut. Para pekerja yang berada di lokasi juga tidak terlihat sedang bekerja. Mereka hanya berdiri atau duduk di sekitar bangunan sementara dengan wajah cemas. Tidak ada suara palu. Tidak terdengar suara gergaji. Bahkan tidak terlihat seorang pun yang sedang mengangkat material bangunan.
Lan Suya segera menyadari hal tersebut. Ia berjalan beberapa langkah ke depan.
“Kenapa kalian tidak bekerja?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Beberapa pekerja saling memandang. Seorang pekerja akhirnya menunjuk ke tempat mereka biasa menyimpan peralatan.
“Nyonya...”
Suaranya terdengar gugup.
Lan Suya menoleh.
“Apa yang terjadi?”
Pekerja itu menunjuk ke sebuah bangunan sementara yang berada tidak jauh dari sana.
“Alat-alat pertukangan kami... semuanya hilang.”
Gao Rui langsung terkejut.
“Hilang?”
Pekerja itu mengangguk.
“Kemarin sore masih ada. Namun ketika kami hendak mulai bekerja hari ini, seluruh alat pertukangan sudah tidak ditemukan.”
Lan Suya mengerutkan kening.
“Kapak, palu, gergaji, serta peralatan lainnya?”
“Benar.”
Pekerja itu menundukkan kepala.
“Tidak ada satu pun yang tersisa.”
Lan Suya terdiam. Ia mulai memahami mengapa pembangunan tempat ini terhenti. Kerusakan material mungkin masih bisa diperbaiki. Namun jika alat-alat pertukangan sengaja diambil, jelas ada seseorang yang ingin menghentikan pembangunan ini sepenuhnya.
Lan Suya berjalan mendekati salah satu pekerja yang terlihat paling tua.
“Ceritakan kepadaku dari awal. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Pekerja tersebut tampak ragu. Ia melihat ke sekeliling terlebih dahulu sebelum menjawab.
“Beberapa minggu terakhir, ada orang-orang yang datang ke sini.”
“Mereka meminta kami menghentikan pembangunan.”
Lan Suya menyipitkan mata.
“Orang yang sama dengan mereka yang meminta upeti?”
Pekerja itu mengangguk cepat.
“Sepertinya begitu.”
Lan Suya nampak sedikit kesal.
“Apa yang mereka lakukan setelah kalian menolak?”
Wajah pekerja tersebut semakin tegang.
“Mereka mengatakan bahwa jika kami tetap membangun penginapan ini, kami akan menanggung akibatnya.”
Gao Rui mengepalkan tangannya.
“Jadi mereka mengancam para pekerja?”
Pekerja itu tidak menjawab. Namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.
Lan Suya menarik napas perlahan. Perbincangan terjadi di antara keduanya.
“Berapa banyak orang yang datang?”
“Tidak terlalu banyak. Biasanya sekitar belasan orang.”
“Siapa pemimpin mereka?”
“Kami tidak tahu.”
Pekerja itu baru saja selesai berbicara ketika tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah jalan. Langkah kaki berjumlah banyak terdengar semakin mendekat.
Para pekerja langsung menoleh. Wajah mereka berubah pucat. Gao Rui ikut melihat ke arah yang sama.
“Apa itu?”
Sha Nuo yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka juga mengangkat kepalanya.
Dari kejauhan, terlihat sebuah kerumunan besar sedang bergerak menuju lokasi pembangunan. Jumlah mereka bukan belasan orang. Melainkan ratusan orang.
Mereka memenuhi jalan menuju lokasi pembangunan. Beberapa membawa tongkat, sebagian membawa pedang, golok, serta berbagai senjata tajam lainnya. Suara langkah kaki mereka semakin jelas.
Para pekerja yang sebelumnya berada di lokasi langsung mundur beberapa langkah.
“B-banyak sekali...”
Salah seorang pekerja berbisik ketakutan.
Gao Rui justru tersenyum tipis.
“Sepertinya mereka datang sendiri.”
Lan Suya tidak menjawab. Tatapannya tertuju kepada kerumunan tersebut. Wajahnya terlihat semakin dingin.
Mereka yang meminta upeti ternyata tidak datang sendirian. Mereka bahkan berani membawa ratusan orang ke lokasi yang merupakan milik Harta Langit.
Sha Nuo berdiri dengan tenang di samping Gao Rui. Tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
Kerumunan itu terus mendekat. Beberapa orang di bagian depan mulai mengangkat senjata mereka. Suasana lokasi pembangunan yang sebelumnya hanya dipenuhi kegelisahan kini berubah menjadi tekanan yang jauh lebih berat.
Lan Suya melangkah maju. Tatapannya dingin ketika melihat ratusan orang tersebut.
Gao Rui tersenyum.
“Bibi, sepertinya hari ini kita akan mengetahui siapa sebenarnya yang berada di belakang semua ini.”
Sha Nuo tidak berkata apa-apa. Tangannya perlahan menyentuh gagang salah satu pedang hitam di pinggangnya.
Ratusan orang akhirnya berhenti tidak jauh dari mereka. Seorang pria yang berdiri paling depan mengangkat senjatanya. Tatapannya langsung tertuju kepada Lan Suya.
“Siapa yang bertanggung jawab atas pembangunan tempat ini?”
Lan Suya melangkah satu langkah ke depan.
“Aku.”
Pria itu menyipitkan matanya. Suasana langsung menjadi sunyi. Tatapan ratusan orang kini tertuju kepada Lan Suya.
jgn buat penasaraan