DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: JEJAK DI PEKARANGAN BELAKANG
Dini dan Ranti seketika menahan napas, merapatkan tubuh mereka ke sisiku di atas tempat tidur saat gesekan halus itu terdengar kembali dari koridor tengah.
Bulu kudukku meremang hebat meresapi keheningan kaku yang mendadak mencekam di dalam kamar.
Krrrit...
Suara gesekan tipis itu berbunyi kaku dari bawah daun pintu kayu kamar tidur anak-anakku.
"Bu... suaranya pindah ke bawah pintu kamar kita?" bisik Dini dengan bibir gemetar.
"Iya, Din. Tetap diam di samping Ibu, jangan bersuara," sahutku pelan sembari menggenggam erat jemari kedua putriku.
"Bu, baunya juga makin pekat menyusup dari celah pintu," gumam Ranti menahan tangis.
"Aroma tanah basah itu seperti berada tepat di depan kamar kita," lanjut Ranti sangat pelan.
Aku mengarahkan sorot lampu senter di tangan kananku persis ke arah celah bawah pintu kayu kamar.
Cahaya kuning temaram menerangi permukaan ubin semen yang masih bersih tanpa noda.
Berbeda dengan pintu samping, di bawah pintu kamar ini tidak muncul rembesan cairan merah tua.
Suara gesekan itu perlahan-lahan mereda, lalu menghilang menembus keheningan koridor tengah.
Meskipun keheningan kembali mengendap, tak ada satu pun dari kami yang berani memejamkan mata.
Kami bertiga duduk berdampingan menempel pada dinding kamar hingga fajar menyingsing di ufuk timur.
Hawa dingin malam merayap pelan menyusup kulit, membuat tubuh kami bertiga terasa membeku kaku.
Setiap detak jarum jam dinding di ruang tengah seolah beradu dengan detak jantungku di dalam kegelapan.
Sinar matahari pagi hari Minggu tanggal 8 perlahan menyusup masuk melintasi kaca jendela depan.
Suara azan Subuh dari pengeras suara mushola gang telah lama berlalu, menggantikan kegelapan malam yang menekan.
Aku memutar selot besi pintu kamar anak-anak dengan gerakan amat perlahan.
Klek!
Daun pintu kayu terbuka pelan, memperlihatkan koridor tengah rumah kami yang terang oleh cahaya pagi.
Aku melangkah perlahan menuju lorong samping, diikuti Dini dan Ranti yang berjalan mengekor di belakangku.
Kehangatan sinar matahari pagi di luar jendela beradu kaku dengan sisa ketegangan yang masih memenuhi ruang tengah.
Langkah kaki kami beralas sandal kain bergerak pelan di atas ubin semen yang dingin.
"Aduh, Bu... lihat lantai di depan pintu samping itu," bisik Dini menunjuk ubin semen.
"Tanah merah semalam sudah mengering jadi kerak tebal," lanjut Dini memandangi lantai dengan raut wajah memucat.
Di atas ubin semen lorong samping, rembesan cairan semalam telah berubah menjadi kerak tanah merah kusam.
Lapisan kerak tanah basah yang mengering itu meninggalkan bekas garis melengkung yang kasar di atas semen.
Tepat di bagian bawah daun pintu kayu, terlihat goresan kaku sepanjang beberapa sentimeter yang mengikis cat cokelat.
"Goresannya kaku banget, Bu. Seperti dicakar pakai benda keras atau kuku tebal," gumam Ranti menatap bekas goresan.
"Iya, Ran. Bekasnya memang nyata dan terasa kasar waktu disentuh," sahutku membungkuk memeriksa lantai.
Aku jongkok lebih dekat tanpa menyentuhnya lagi. Bau tanah basah masih samar menempel di udara, meskipun matahari sudah cukup tinggi dan lorong samping mulai terasa hangat.
"Permukaan kayu pintu ini mengelupas kusam, persis kena gesekan benda keras," tambahku memegang tepi daun pintu.
"Bu, kalau pagar depan rumah Tante Maya masih digembok rantai besi, dari mana asal tanah merah ini?" tanya Dini heran.
"Berarti ada jalan lain yang belum kita lihat, Bu," lanjut Dini menatapku lurus.
"Itu yang harus kita tanyakan dan laporkan sama Pak RT pagi ini, Din," jawabku menegaskan keputusan.
"Kalian berdua rapikan rumah dulu, Ibu mau langsung jalan ke rumah Pak RT," lanjutku meminta anak-anak bersiap.
"Dini ikut Ibu ke rumah Pak RT, nggih? Supaya ada yang mendampingi Ibu," pinta Dini menawarkan diri.
"Iya, Din. Ayo kamu ikut Ibu. Ranti tetap di rumah dan jangan buka pintu untuk siapa pun," sahutku mengangguk setuju.
"Pastikan semua selot pintu terkunci rapat dari dalam dan jangan buka pintu untuk siapa pun," pesanku pada Ranti.
Pukul tujuh lebih tiga puluh menit pagi, aku dan Dini melangkah menyusuri aspal gang menuju rumah Pak RT.
Udara pagi Kota Malang terasa sejuk, namun bayangan tebal di sekitar pekarangan rumah Maya masih terasa membisu.
Beberapa tetangga yang menyapu halaman depan menyapa kami dengan senyuman hangat ramah.
Di teras depan rumahnya, Pak RT sedang duduk di kursi rotan membaca koran pagi sembari menikmati teh hangat.
"Pak RT, wonten hal penting ingkang kedah kulo laporkan," sapaku pelan dari balik pagar pekarangan.
"Wonten kaperluan mendesak ingkang kedah dipun priksa teng rumah sebelah," lanjutku dengan nada suara penuh keseriusan.
Pak RT meletakkan koran di atas meja porselen, lalu menengok kaget ke arah kami berdua.
Bu RT yang baru keluar dari pintu depan membawa nampan kue basah ikut menghentikan langkahnya.
"Oalah, Bu Sari sama Mbak Dini. Wonten menopo, Bu?" tanya Pak RT heran.
"Kok wajahnya tegang banget pagi-pagi begini?" lanjutnya memandangi raut muka kami.
"Mari meluncur masuk dulu, Bu. Duduk di teras sini," ajak Bu RT meletakkan nampan di meja.
Aku dan Dini duduk di kursi kayu teras rumah Pak RT dengan dada yang masih terasa agak berdebar.
Pak RT memandangi raut wajah kami berdua, menyadari ada hal yang tidak biasa sedang terjadi.
Hawa tenang teras rumah Pak RT perlahan-lahan berubah tegang oleh laporan yang hendak kusampaikan.
"Wonten kejadian punapa teng rumah Njenengan, Bu Sari?" tanya Pak RT menatapku lurus.
"Tadi malam tepat jam dua belas malam, ada ketukan keras tiga kali di pintu samping rumah kulo, Pak RT," jawabku membuka laporan.
Pak RT dan Bu RT seketika saling pandang dengan kening berkerut dalam.
"Jam dua belas malam? Pintu samping rumah Njenengan yang berbatasan sama lorong Maya?" tanya Pak RT menegaskan.
"Inggih, Pak RT. Ketukannya kencang banget, diikuti suara gesekan kaku di ambang pintu," sahutku memperjelas.
"Bukan cuma ketukan, Pak RT. Ada suara parau yang mengaku sebagai Tante Maya dari balik pintu," timpal Dini cepat.
"Suara itu bilang mau mengembalikan uang belanja tiga puluh ribu karena hari ini sudah tanggal delapan," lanjut Dini menyampaikan fakta.
Bu RT menepuk dadanya sendiri, memperlihatkan raut wajah kaget dan prihatin yang amat dalam.
"Masya Allah... Tante Maya?" cetus Bu RT cemas.
"Tapi rumahnya kan masih tergembok rapat dari luar sejak hari Rabu sore?" lanjutnya kebingungan.
"Kemarin siang kan juga ada penagih utang dari Toko Bangunan Subur yang datang nyari Mas Rian," tambah Bu RT mengingatkan.
"Inggih, Bu RT. Penagih utang kemarin bilang Rian punya utang semen sama besi lima belas juta lebih," sahutku membenarkan.
"Tapi yang aneh, setelah suara itu bicara, ada rembesan cairan tanah merah basah yang keluar dari celah pintu samping kulo," lanjutku menatap Pak RT.
Pak RT berdiri dari kursi rotannya, mengelus dagunya dengan raut wajah yang kian memudar ketenangannya.
Matanya menatap lurus ke arah lorong gang tempat rumah kami berdiri membisu.
"Tanah merah basah? Di ubin semen lorong samping Njenengan, Bu?" tanya Pak RT terkejut.
"Inggih, Pak RT. Sekarang tanahnya sudah kering jadi kerak merah kusam dan ada bekas goresan kaku di pintu," jawabku mantap.
"Iki mboten iso dibiarkan. Kita harus cek langsung ke pekarangan rumah sebelah sekarang juga," tegas Pak RT mengambil kunci master gang.
"Kulo panggil Pak Wo sekalian supaya ada yang mendampingi kita periksa lorong samping," lanjut Pak RT beranjak dari teras.
Pukul sembilan pagi, Pak RT, Pak Wo, Bu RT, aku, dan Dini berkumpul di depan pagar pekarangan rumah Maya.
Pak Wo, pria paruh baya bertubuh tegap yang menjabat seksi keamanan warga, memegang erat senter besar di tangannya.
Sinar matahari pagi menyinari pagar besi rumah Maya yang tampak kusam dan hening.
Pak RT mendekati pintu pagar besi yang terkunci rapat dari luar.
"Lihat ini, Bu Sari. Gembok perak sama rantai besinya masih utuh terpasang rapat," ujar Pak RT menunjuk gembok.
"Mboten ada bekas dirusak atau dipotong. Gembok ini benar-benar masih terkunci rapat dari luar," lanjut Pak RT memegang rantai.
"Kalau pagar depan terkunci rapat begini, lewat mana orang bisa masuk ke dalam pekarangan?" tanya Pak Wo heran.
"Mari kita periksa lorong samping rumah Bu Sari dulu," ajak Pak Wo melangkah menuju gang sempit.
Rombongan kami melangkah menyusuri lorong semen yang dihimpit oleh dinding rumahku dan dinding rumah Maya.
Pak RT dan Pak Wo berjongkok di depan pintu samping rumahku, memperhatikan secara saksama ubin semen di bawah ambang pintu.
"Benar kata Bu Sari. Ini kerak tanah merah basah yang sudah mengering," gumam Pak Wo menyentuh lantai.
"Dan goresan di kayu pintu ini masih baru banget, catnya mengelupas kasar," tambah Pak Wo menunjuk bekas goresan.
"Aneh banget... Dari sini kita belum tahu tanah ini datang dari mana. Coba kita periksa bagian belakang rumah Maya," ujar Pak RT bingung.
"Pak Wo, coba panjat tembok pembatas belakang dekat dapur Maya, tolong intip pekarangan belakangnya," minta Pak RT pada Pak Wo.
Pak Wo mengangguk, mengambil bangku kayu dari teras rumahku untuk menopang pijakan kakinya.
Ia memanjat perlahan, melongokkan kepalanya melintasi dinding semen pembatas yang berbatasan dengan pekarangan belakang Maya.
Suasana di lorong samping mendadak hening saat kami semua menanti hasil intipan Pak Wo.
Pak Wo menajamkan pandangannya ke arah pekarangan belakang rumah Maya yang tertutup rumput liar.
Hembusan angin pagi membelai dedaunan pohon mangga, menambah keheningan kaku di sekitar lorong.
"Pak RT... coba Njenengan lihat ini," bisik Pak Wo dengan nada suara yang mendadak berubah tegang.
"Wonten menopo, Pak Wo? Ada hal aneh di belakang?" tanya Pak RT menengadah kaget.
"Inggih, Pak RT. Pintu kayu dapurnya terbuka sedikit. Dari sini saya belum bisa memastikan bagaimana pintu itu bisa terbuka," balas Pak Wo.
"Jejaknya kelihatan mengarah dari sekitar selokan pembuangan," lanjut Pak Wo menerangkan.
Bu RT seketika menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, terperanjat mendengar penjelasan Pak Wo.
Dini merapatkan posisinya di sisiku, memandangi dinding pembatas dengan mata melebar tegang.
"Pintu dapur belakangnya terbuka renggang?" tanya Pak RT memastikan sekali lagi.
"Iya, Pak RT. Pintunya memang kelihatan terbuka sedikit, tapi dari atas sini saya mboten bisa lihat lebih jauh ke dalam," balas Pak Wo.
Pak RT menarik napas panjang, merapikan letak pecinya dengan raut wajah yang sangat serius.
Keresahan yang mendalam membayang di raut mukanya menyadari kondisi rumah sebelah yang makin janggal.
"Ini sudah masuk hari Minggu tanggal delapan. Rian sama Maya sama sekali mboten ada kabar, dan nomor Rian juga mboten bisa dihubungi," ujar Pak RT tegas.
"Kalau sampai nanti sore mboten ada kejelasan dari Rian atau keluarganya, kulo bakal lapor lan koordinasi ke Polsek," lanjut Pak RT menetapkan langkah.
"Dini setuju sama Pak RT. Kejadian ini sudah makin mboten wajar. Lebih baik segera dicari tahu sebelum ada masalah lain," timpal Dini.
"Iya, Pak RT. Keselamatan warga gang kita memang harus diutamakan," sahutku menganggukkan kepala setuju.
Pak Wo turun dari bangku kayu, menepuk-nepuk tangannya yang berdebu dari dinding semen.
Pak RT memandangi gembok perak di pagar depan rumah Maya sekali lagi sebelum melangkah pulang.
"Bu Sari, kalau nanti malam ada suara atau ketukan aneh lagi, langsung pukul tiang listrik gang atau panggil kulo," pesan Pak RT sebelum berpisah.
"Inggih, Pak RT. Matur nuwun sanget atas bantuannya pagi ini," balasku menghaturkan terima kasih.
Rombongan Pak RT dan Pak Wo melangkah kembali menuju jalan utama gang.
Aku dan Dini membawa bangku kayu kembali ke teras rumah kami, lalu mengunci pintu depan rapat-rapat.
Di ruang tengah, Ranti menyambut kami dengan wajah cemas yang dipenuhi berbagai pertanyaan.
Aku mendudukkan diri di meja makan porselen, memandangi kalender dinding yang terpampang kaku di samping lemari.
Lingkaran spidol hitam di angka 8 pada lembaran kalender kini tepat berada di hari ini—hari Minggu tanggal 8.
Meskipun fajar telah menyingsing dan hari terang benderang, ganjalan tebal di dadaku sama sekali tidak berkurang.
Keberadaan Maya masih belum jelas. Jejak tanah merah dari belakang rumahnya juga belum menjawab bagaimana suara itu bisa sampai ke pintu rumahku.
Ketika aku berdiri beranjak menuju dapur untuk menyeduh teh hangat, pandangan mataku tanpa sengaja menatap celah bawah pintu samping sekali lagi.
Di balik kerak tanah merah kusam yang mengering di atas ubin semen, tampak selembar potongan kain perca kusam terselip kaku di sudut ambang pintu.
Aku berhenti.
Sekilas, kain ini mengingatkanku pada kain perca basah yang masih kukunci di laci meja rias.
Aku belum tahu apakah keduanya berkaitan.
---