NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pertengkaran di Tengah Malam

Setelah mandi panjang yang sedikit membantu memulihkan kondisi fisiknya, Liam akhirnya merebahkan diri di ranjangnya, berharap bisa segera terlelap dan melupakan hari yang begitu melelahkan dan penuh kesialan itu. Namun harapan untuk mendapatkan istirahat yang tenang kembali kandas ketika cahaya terang dari layar ponsel Helena terus berkedip-kedip di sampingnya, mengganggu kegelapan kamar yang seharusnya membantu Liam untuk segera tertidur.

Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Helena masih duduk bersandar di kepala ranjang, jari-jarinya sibuk menggulir layar ponselnya dengan cepat, sesekali tersenyum atau bergumam kecil menanggapi apa pun yang sedang ia lihat di media sosial.

"Helena," gumam Liam lelah, mencoba memejamkan matanya meski cahaya dari ponsel Helena terus mengganggu penglihatannya yang sudah terpejam. "Bisakah kau mengecilkan kecerahan layarmu? Aku benar-benar butuh tidur malam ini."

"Sebentar lagi," jawab Helena tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, jarinya masih sibuk menggulir berbagai unggahan yang menampilkan barang-barang mewah dari berbagai influencer ternama. "Aku sedang melihat koleksi tas terbaru yang baru saja dipamerkan salah satu influencer favoritku."

Liam menghela napas panjang, mencoba bersabar meski rasa lelah dan frustrasi yang telah menumpuk sepanjang hari mulai menggerogoti kesabarannya. Ia membalikkan tubuhnya, mencoba mengabaikan cahaya ponsel dengan menutupi wajahnya menggunakan bantal, namun suara notifikasi dan gumaman kecil Helena yang terus terdengar setiap beberapa menit membuat usahanya untuk tertidur menjadi sia-sia.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Helena tiba-tiba duduk lebih tegak, matanya berbinar penuh semangat menatap layar ponselnya. "Liam! Lihat ini, tas Birkin edisi terbatas ini benar-benar cantik. Aku harus memilikinya."

Liam, yang sudah hampir tertidur meski dengan susah payah, terpaksa membuka matanya kembali mendengar seruan antusias itu. "Helena, ini sudah hampir tengah malam. Bisakah kita membicarakan ini besok saja?"

"Tapi ini edisi terbatas, Liam! Kalau aku tidak segera memesannya sekarang, stoknya akan habis," ucap Helena tidak sabar, sudah membuka aplikasi belanja daring di ponselnya untuk segera melakukan pemesanan. "Harganya memang cukup mahal, tapi ini benar-benar sepadan dengan kualitasnya."

"Seberapa mahal?" tanya Liam, mulai merasakan firasat tidak menyenangkan mendengar nada bicara Helena yang terdengar begitu bersemangat untuk membeli sesuatu tanpa terlalu memikirkan konsekuensinya.

"Hanya sekitar tiga puluh lima ribu dolar," jawab Helena santai, seolah angka sebesar itu adalah jumlah yang begitu remeh untuk dibicarakan.

Mata Liam membelalak mendengar angka tersebut, kesabarannya yang sudah menipis sepanjang hari akhirnya benar-benar habis. "Tiga puluh lima ribu dolar untuk sebuah tas? Helena, ini sudah kesekian kalinya dalam minggu ini kau membeli barang dengan harga fantastis semacam ini!"

"Ini investasi, Liam," bantah Helena, sedikit terkejut dengan reaksi Liam yang tidak biasa itu. "Tas-tas seperti ini nilainya akan terus meningkat seiring waktu. Lagi pula, kau kan mampu membelikannya untukku."

"Bukan itu masalahnya," ucap Liam, bangkit dari posisi berbaringnya, kini benar-benar terjaga sepenuhnya oleh kombinasi kelelahan dan kekesalan yang telah lama terpendam. "Sejak kau tinggal di sini, aku sudah menghabiskan ratusan ribu dolar hanya untuk belanjaanmu, Helena! Pakaian, perhiasan, tas, sepatu—semuanya bertumpuk begitu saja di kamar ini tanpa henti!"

Helena mengerutkan dahi, tidak menyangka Liam akan mengungkit masalah pengeluaran dengan nada seketus itu. "Kau tiba-tiba mempermasalahkan uang sekarang? Aku pikir kau senang memanjakanku, Liam."

"Aku memang senang memanjakanmu," jawab Liam, suaranya mulai meninggi, "tapi ada batasnya, Helena! Kau bahkan tidak pernah bertanya bagaimana kabar bisnisku hari ini, tidak pernah peduli dengan apa pun selain belanja dan media sosial! Sepertinya satu-satunya hal yang benar-benar kau pedulikan hanyalah bagaimana cara menghabiskan uangku!"

Kata-kata itu membuat Helena terdiam sejenak, wajahnya berubah menjadi sedikit memerah karena tersinggung oleh tuduhan yang begitu langsung tersebut. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu padaku, Liam? Aku sudah mengorbankan begitu banyak untuk kembali bersamamu!"

"Mengorbankan apa tepatnya?" balas Liam, kesabarannya benar-benar telah habis sepenuhnya. "Aku sudah memberikanmu segalanya sejak kau kembali, Helena! Rumah mewah, gaya hidup yang selalu kau inginkan, bahkan aku baru saja melamarmu meski kau menolak cincin yang kupilih dengan begitu susah payah! Tapi yang kudapatkan sebagai balasannya hanyalah tuntutan yang terus bertambah dan ketidakpedulian terhadap apa pun yang sedang kualami!"

"Jadi sekarang kau menyesali keputusanmu untuk kembali bersamaku?" tanya Helena, suaranya mulai terdengar defensif, matanya menyipit penuh amarah.

"Aku tidak bilang begitu," jawab Liam, meski jauh di lubuk hatinya, keraguan yang telah lama tertanam sejak insiden lamaran beberapa hari lalu kini semakin membesar. "Aku hanya ingin kau sedikit lebih bijaksana dalam mengelola pengeluaran, Helena. Bahkan setiap hari yang kualami hari ini begitu kacau tanpa seseorang yang bisa membantuku dengan hal-hal sederhana, sementara kau sibuk berbelanja tanpa henti tanpa memikirkan apa pun selainnya!"

"Kalau begitu, kenapa kau tidak meminta mantan istrimu untuk kembali mengurusimu?" balas Helena sinis, kata-katanya begitu tajam dan penuh sarkasme. "Bukankah dia selalu begitu sempurna dalam mengurus segala kebutuhanmu, Liam? Mungkin kau memang salah memilih wanita untuk dijadikan pasangan hidupmu!"

Kata-kata itu membuat Liam terdiam, terkejut dengan betapa cepatnya Helena mengungkit tentang Brooklyn dengan nada yang begitu sinis, seolah menyadari sesuatu yang begitu jelas namun enggan ia akui secara terbuka.

"Ini bukan tentang Brooklyn," ucap Liam akhirnya, meski suaranya terdengar kurang meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri. "Ini tentang bagaimana kau seharusnya lebih bertanggung jawab dengan pengeluaran yang terus meningkat ini."

"Baiklah kalau begitu," ucap Helena tajam, melempar ponselnya ke atas ranjang dengan gerakan kesal. "Jika kau merasa terbebani dengan kebutuhanku, mungkin aku memang tidak seharusnya berada di sini! Mungkin kau memang lebih membutuhkan seseorang yang bisa menuruti semua keinginanmu tanpa pernah membantah, seperti mantan istrimu yang begitu penurut itu!"

"Aku tidak pernah bilang aku ingin kau seperti Brooklyn," bantah Liam, meski entah kenapa perbandingan itu terus muncul dalam pikirannya sepanjang hari, sebuah kenyataan yang mulai membuatnya semakin bingung dengan perasaannya sendiri.

"Tapi itu yang tersirat dari setiap kata yang baru saja kau ucapkan!" balas Helena, air mata mulai menggenang di matanya, meski kali ini Liam tidak sepenuhnya yakin apakah air mata itu murni ekspresi kesedihan ataukah sekadar taktik lain untuk memenangkan perdebatan ini.

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat, suasana kamar yang tadinya hanya diterangi cahaya ponsel kini terasa begitu tegang dan dingin, jauh berbeda dari kehangatan yang selalu mereka rasakan sebelumnya sejak Helena kembali ke dalam kehidupan Liam.

"Aku lelah, Helena," ucap Liam akhirnya, suaranya terdengar begitu letih, baik secara fisik maupun emosional. "Mari kita bicarakan ini besok saja ketika kepala kita berdua sudah lebih tenang."

Helena tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhnya menjauh dari Liam dengan gerakan kesal, meninggalkan keheningan yang begitu canggung menyelimuti kamar mereka malam itu. Liam sendiri berbaring dalam kegelapan, matanya menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa pun, pikirannya dipenuhi kebingungan dan keraguan yang semakin hari semakin sulit ia abaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!