Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Junior dan senior
Ketukan di pintu kayu memecah keheningan pagi. Ye Chan membuka gerendel, menemukan Yuen Fang berdiri dengan napas agak memburu di ambang pintu.
"Master Zhan Ya sudah tiba di Kota Sungai Abu," bisik Yuen Fang tanpa basa-basi.
Ye Chan tidak menunjukkan keterkejutan di wajahnya. Ia hanya melangkah mundur, membiarkan juniornya masuk ke dalam kamar penginapan yang sempit.
"Ia datang sendiri. Tidak membawa rombongan sekte," tambah Yuen Fang sambil menutup pintu rapat-rapat. "Dia sangat menantikanmu, Tetua."
"Iya, aku tahu," sahut Ye Chan datar. Ia merapikan lipatan lengan bajunya yang abu-abu. "Namun kenapa? Apa yang membuatnya sangat ingin menemuiku setelah semua rumor yang terjadi?"
"Tetua, kami tidak mungkin mempercayai itu," sela Yuen Fang cepat. "Lebih baik kami mempercayai ayam jantan bertelur daripada mempercayai rumor murahan itu."
Yuen Fang menatap Ye Chan dengan penuh harap. Ia melangkah lebih dekat. "Kumohon, Masterku sangat ingin menemuimu."
Ye Chan terdiam sejenak. Angin pagi yang dingin berembus melalui celah jendela, membawa bau tanah basah. Ia memikirkan posisi Zhan Ya di sekte.
"Kau takut menemuinya?" tanya Yuen Fang, mencoba membaca keraguan di wajah gurunya.
"Aku hanya tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya," jawab Ye Chan pelan.
Yuen Fang tersenyum tipis. Ekspresi tersebut jarang sekali ia tunjukkan belakangan ini.
"Kalau begitu, untuk sekali ini jangan menjadi tetua," tutur Yuen Fang hangat. "Jadilah Ye Chan, seorang yang dulu sangat dekat dengan seniornya."
Ye Chan menatap Yuen Fang itu. Ia mengembuskan napas panjang. Ia mengangguk pelan, menyetujui ajakan tersebut.
***
Dua jam perjalanan menyusuri gang-gang sempit Kota Sungai Abu berlalu dengan cepat. Aroma dupa kayu cendana langsung menyambut Ye Chan saat ia melangkahkan kaki melewati pintu gerbang halaman belakang sebuah kediaman terpencil.
Langkah kakinya terasa ringan namun penuh kewaspadaan. Langkah Yuen Fang memandu di depannya, menuntun menuju bangunan utama yang sunyi.
Zhan Ya sedang duduk di dekat meja rendah, membaca beberapa gulungan kertas laporan perjalanan. Begitu pintu geser terbuka, tangannya langsung membeku di udara.
Ia menurunkan gulungan kertas itu perlahan. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Ye Chan yang berdiri di ambang pintu.
Keheningan yang dingin seketika menyelimuti ruangan pengap itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara untuk beberapa saat.
Zhan Ya berdiri. Jubah birunya berdesir lembut menyapu lantai kayu saat ia melangkah mendekat.
Ye Chan hanya berdiri diam, membiarkan wanita itu menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengangguk singkat sebagai sapaan.
Zhan Ya tidak membalas anggukan itu. Ia mengulurkan tangan, menempelkan dua jarinya yang dingin langsung ke pergelangan tangan Ye Chan untuk mengalirkan Qi.
Ye Chan merasakan aliran energi hangat merambat masuk ke dalam meridiannya yang sempat rusak parah. Ia tidak menolak pemeriksaan fisik yang tiba-tiba ini.
Aliran Qi Zhan Ya bergetar halus saat merasakan jalur meridian Ye Chan yang carut-marut. Matanya sedikit meredup, menyiratkan keprihatinan yang mendalam.
"Kau benar-benar masih hidup," ucap Zhan Ya, suaranya terdengar bergetar namun tetap berusaha terdengar tegas.
"Butuh usaha lebih untuk diriku bisa mati, Senior," sahut Ye Chan dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Zhan Ya menarik kembali tangannya. Ia memberi isyarat agar mereka duduk di kursi kayu dekat jendela. Teh hangat segera disajikan oleh Yuen Fang yang memilih berdiri di sudut ruangan.
"Aku terlempar ke jurang Lembah Kekacauan," ujar Ye Chan memulai cerita bohong yang sudah ia siapkan. "Meridianku hancur. Butuh waktu lama untuk bisa menggerakkan tubuh kembali."
Ia tidak menyebutkan keberadaan Giok Kehampaan yang terhubung langsung dengan jiwanya. Rahasia itu terlalu berbahaya untuk dibagikan kepada siapa pun.
Zhan Ya mendengarkan tanpa memotong. Ia mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Ye Chan. Ia tahu pria di depannya ini menyembunyikan sesuatu. Namun ia memilih tidak mendesak.
"Muridmu, Shi Zhong sungguh meraih banyak hal sejak kepergianmu," kata Zhan Ya setelah keheningan singkat kembali tercipta. "Kekuatannya meningkat pesat. Bahkan banyak terus sekte meliriknya."
"Aku tahu," jawab Ye Chan tenang. "Yuen Fang sudah menceritakan sebagian besarnya kepadaku."
"Banyak murid yang melupakan jasamu," lanjut Zhan Ya. Matanya menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. "Mereka menyebutmu pengkhianat karena hasutan Shi Zhong, mengecapmu sebagai seorang pengkhianat yang memanfaatkan bakat muridnya untuk keuntungan pribadi, hingga mengkhianati anggota sekte ketika di Lembah Kekacauan."
Ye Chan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Mengapa kau tidak mempercayai rumor itu?" tanya ia penasaran.
Zhan Ya mengangkat wajahnya. Ia menatap lurus ke arah Ye Chan dengan pandangan yang tidak tergoyahkan.
"Karena aku mengenalmu lebih lama daripada kebanyakan orang di sekte itu," jawab Zhan Ya tegas. "Kau tidak akan pernah menjual kehormatanmu demi kekuatan, kau hanya seorang junior yang terlalu hati-hati."
Ye Chan tertegun sejenak mendengarnya. Rasa hangat menjalar di dadanya, meredakan sedikit ketegangan yang selama ini ia bawa dalam pelarian.
Matahari mulai bergerak ke barat, memancarkan cahaya jingga di halaman kediaman yang dipenuhi tanaman obat. Mereka berjalan perlahan di sepanjang koridor kayu yang terbuka.
Zhan Ya tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada bekas goresan kecil yang mengering di punggung tangan Ye Chan. Goresan itu didapat saat Ye Chan mengambil misi baru-baru ini.
"Kau masih suka mengabaikan hal-hal kecil," tegur Zhan Ya sambil merogoh kantong sutranya. Ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna hijau. "Pakai salep ini."
"Ini hanya luka gores biasa," tolak Ye Chan halus. "Aku punya persediaan obat pemulih sendiri di penginapan."
Zhan Ya tidak mendengarkan penolakan itu. Ia langsung meraih tangan Ye Chan, mengoleskan salep dingin itu dengan gerakan yang sangat lembut.
Yuen Fang yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka memperhatikan interaksi tersebut dalam diam. Ia menyadari tatapan Zhan Ya kepada Ye Chan sangat berbeda dari biasanya.
Itu adalah pandangan penuh kelembutan yang dalam. Zhan Ya menyembunyikan perasaan itu di balik sikap dinginnya selama ini.
"Kau selalu seperti itu sejak dulu," gumam Zhan Ya tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Ye Chan. "Seolah semua berada di bawah kendalimu, tapi goresan seperti ini saja kau tetap lalai."
Ye Chan terkekeh pelan. Ia mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa canggung baginya.
"Kau masih suka mengomel, Senior," balas Ye Chan santai.
Zhan Ya mendongak, menatapnya dengan senyum tipis yang langka.
"Kau juga masih belum banyak berubah."
Malam pun tiba, menyelimuti Kota Sungai Abu dengan kegelapan yang pekat. Yuen Fang sudah berpamitan untuk beristirahat di kamarnya, meninggalkan mereka berdua di balkon lantai atas yang menghadap ke halaman dalam.
Angin malam berembus kencang, menggoyahkan lampion merah yang tergantung di tiang balkon. Sunyi terasa begitu tebal di antara mereka.
"Dulu," buka Zhan Ya perlahan, memecah keheningan malam. "Aku selalu mencari berbagai alasan konyol hanya untuk bisa berbicara denganmu di aula sekte."
Ye Chan menoleh. Ia sedikit terkejut dengan kejujuran tiba-tiba dari seniornya itu.
"Aku ingat," sahut Ye Chan dengan tawa kecil. "Kupikir kau hanya ingin memastikan adik juniormu ini tidak membuat kekacauan di perpustakaan."
Zhan Ya tidak membantah ucapan itu. Ia hanya tersenyum kecil, membiarkan matanya menatap gemerlap bintang di langit malam yang bersih.
"Apakah kau pernah memikirkan seseorang selama berada di Lembah Kekacauan?" tanya Zhan Ya tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat pelan, hampir tenggelam oleh deru angin malam.
Ye Chan terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan tersebut. Ingatannya kembali pada masa-masa sulit di mana ia harus merangkak di antara tumpukan mayat dan monster.
"Aku lebih banyak memikirkan cara agar bisa bertahan hidup keesokan harinya," jawab Ye Chan jujur.
Sinar kekecewaan melintas cepat di mata Zhan Ya sebelum ia sempat menyembunyikannya dengan membuang muka. Ia menatap pagar kayu balkon dengan jemari yang meremas jubahnya tipis.
"Kalau begitu, mungkin sekarang waktunya kau mulai mengingat orang-orang yang menunggumu," ucap Zhan Ya dengan nada yang sarat akan makna terselubung.
Ye Chan mengernyitkan dahi. Ia tidak menangkap isyarat romantis yang baru saja dilontarkan oleh wanita di sampingnya itu. Ia hanya menganggapnya sebagai bentuk kepedulian seorang sahabat lama yang setia.
Mereka berpindah ke ruang latihan kecil yang terletak di sudut bangunan utama kediaman tersebut. Hanya ada sebuah matras jerami dan satu lampu minyak yang menyala temaram di sana.
"Perlihatkan sirkulasi Qi milikmu sekarang," pinta Zhan Ya sambil mengambil posisi duduk bersila di depan Ye Chan.
Ye Chan menahan gerakannya sejenak. Ia merasa enggan memperlihatkan bahwa kultivasinya saat ini berada di tingkat puncak pengumpulan Qi, jauh di bawah tingkat puncak pembentukan inti milik Zhan Ya.
Zhan Ya menangkap keraguan itu dari tatapan mata Ye Chan yang menyipit.
"Aku tahu kau sengaja menyembunyikan kekuatan aslimu saat ini," ujar Zhan Ya tanpa berniat mendesak lebih jauh. "Aku tidak akan memaksamu menunjukkannya jika kau belum siap."
Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir dari dalam kantong penyimpanannya. Saat dibuka, aroma tanaman herbal berumur ratusan tahun langsung menguar memenuhi ruangan.
"Ini adalah Pil Pemurni Jiwa tingkat menengah," jelas Zhan Ya sambil menggeser kotak itu ke hadapan Ye Chan. "Ini bisa membantu mempercepat pemulihan fondasi meridianmu yang rusak."
Ye Chan menatap pil berharga itu dengan ragu. "Ini terlalu berharga untuk diberikan begitu saja kepada kultivator yang hancur seperti aku."
"Aku tidak peduli seberapa lemah dirimu sekarang," potong Zhan Ya cepat. Nadanya terdengar sangat tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Bagi diriku, kau tetap orang yang sama seperti dahulu."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Ye Chan. Ia membisu dalam waktu yang cukup lama. Ia menatap pil itu, lalu perlahan mengulurkan tangan untuk menerimanya dengan rasa hormat yang mendalam.
Cahaya matahari pagi yang hangat mulai menembus tirai tipis di ruang tengah kediaman tersebut pada keesokan harinya.
Yuen Fang berjalan melewati koridor. Ia menemukan Ye Chan serta Zhan Ya sedang duduk bersama di dekat meja teh, mengobrol dengan santai seperti masa-masa indah mereka di sekte dahulu.
Sebuah senyum lebar terkembang di wajah Yuen Fang saat melihat pemandangan langka tersebut dari kejauhan. Keputusannya membawa Ye Chan kemari memang sangat tepat.
Ye Chan menyesap tehnya yang hangat. Berada di tempat ini membuatnya merasa memiliki rumah kembali setelah sekian lama hidup dalam pelarian yang melelahkan.
Ketukan keras di gerbang depan tiba-tiba menghancurkan kehangatan pagi itu dengan seketika.
Seorang pelayan penginapan berlari masuk ke dalam halaman dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
"Tuan Yuen Fang!" teriak pelayan itu dengan suara gemetar ketakutan. "Ada utusan dari sekte utama baru saja tiba di gerbang Kota Sungai Abu!"
"Mereka membawa lencana Shi Zhong," tambah pelayan itu sambil berlutut lemas. "Dan mereka sedang mencari keberadaan Anda berdua!"
Ye Chan meletakkan cangkir tehnya dengan sangat pelan di atas meja kayu.