“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, namun Rania belum juga menampakkan tanda-tanda kembali ke rumah. Hal itu membuat Harsa yang sejak tadi duduk di ruang tengah menjadi gelisah tak menentu. Matanya terus-menerus melirik ke arah jam dinding, lalu beralih menatap pintu utama yang tertutup rapat.
Hari ini, Harsa memutuskan untuk tidak pergi ke kantor sama sekali. Ia sengaja mengambil izin demi menjaga Wulan yang sejak pagi mengeluh kakinya masih sangat kesakitan, sekaligus untuk memantau Gavin. Harsa sudah berulang kali menawarkan untuk membawa Wulan ke rumah sakit agar diperiksa oleh dokter spesialis, tapi Wulan menolak dengan berbagai alasan. Wanita itu bersikeras bahwa ia hanya ingin Harsa yang merawat dan mengobatinya secara langsung.
Saat ini, Ratna sedang sibuk momong Gavin yang mulai bosan di dekat kolam renang halaman belakang.
Sementara itu, di dalam kamar tamu lantai bawah, Harsa terpaksa duduk di tepi ranjang untuk memijat perlahan pergelangan kaki Wulan yang katanya masih sangat nyeri.
“Ah... Mas, pelan-pelan mijitnya. Sakit banget,” rintih Wulan sembari menggigit bibir bawahnya, memasang wajah yang dibuat sesakit mungkin.
Padahal, kenyataannya pijatan Harsa sama sekali tidak sesakit itu. Bahkan, bengkak di kakinya sudah jauh membaik dan hampir tidak terasa apa-apa lagi sejak siang tadi. Wulan tentu tidak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk terus berdekatan dengan kakak iparnya.
“Aku kan sudah bilang dari tadi pagi, Wulan! Kita ke dokter saja ke rumah sakit! Kenapa kamu keras kepala sekali!” ketus Harsa.
Pikiran Harsa sama sekali tidak berada di kamar itu. Fokusnya masih tertuju sepenuhnya pada Rania.
Di mana istrinya saat ini? Mengapa ponselnya tidak aktif saat dihubungi? Apa jangan-jangan Rania sedang pergi menemui Jonathan? Atau justru menemui dokter tampan bernama Bagas yang ia temui di rumah sakit kemarin?
Pikiran-pikiran itu membuat dada Harsa bergemuruh hebat oleh rasa cemburu yang membakar ego pribadinya.
“Buat apa ke dokter sih, Mas? Aku takut banget kalau ke rumah sakit. Nanti ujung-ujungnya malah disuntik atau dikasih obat aneh-aneh. Kamu kan tahu dari dulu aku paling benci sama yang namanya jarum suntik,” ucap Wulan dengan suara yang sengaja dibuat manja.
Sembari berbicara, Wulan menggeser posisi duduknya menjadi lebih condong ke depan. Ia membungkukkan tubuhnya dengan sengaja, memamerkan belahan dadanya yang terekspos jelas tepat di hadapan wajah Harsa.
Ya, Wulan sengaja memakai pakaian yang sangat berani, sebuah gaun tidur satin tipis berpotongan dada rendah bermotif brokat hitam. Sesuatu yang ia ambil diam-diam dari kamar Rania tadi siang saat rumah sedang sepi.
Tersadar dari lamunannya tentang Rania, Harsa mendadak menghentikan usapan tangannya di kaki Wulan. Keningnya mengernyit dalam, matanya menyipit meneliti pakaian yang melekat di tubuh adik iparnya itu.
“Tunggu... Bukankah itu gaun tidur milik Rania?” batin Harsa menyadari sesuatu.
Ingatannya mendadak berputar pada memori beberapa hari lalu. Ia ingat betul pernah membelikan gaun tidur mewah itu sebagai kado pernikahan mereka yang terlambat ia belikan karena kesibukannya. Gaun itu bahkan masih memiliki aroma parfum mawar khas Rania yang samar. Kenapa sekarang justru Wulan yang memakainya?
Menyadari kemana arah mata Harsa tertuju, Wulan merasa menang di dalam hati. Tebakannya sangat tepat, Harsa pasti sedang memperhatikan bentuk tubuhnya di balik gaun yang ia kenakan.
Wulan tentu tidak akan memberi tahu Harsa bahwa ia menemukan kado gaun itu tergeletak begitu saja di dalam kotak sampah sudut kamar Rania tadi pagi, lengkap dengan kertas ucapan manis dari Harsa yang sengaja dibuang oleh Rania. Baginya, itu adalah berkah untuk memikat pria ini.
“Kenapa, Mas? Kok kamu mendadak diam saja dari tadi? Pijatannya kenapa berhenti?” tanya Wulan dengan nada menggoda. Ia mengangkat tangannya, menyingkap rambut panjangnya yang hitam ke belakang pundak secara perlahan, sengaja menampakkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang mulus.
Harsa menelan ludah dengan susah payah, jakunnya tampak naik turun dengan cepat menyaksikan pemandangan sen-sual di depannya. Meskipun warna kulit Wulan tidak seputih dan semulus kulit pualam milik Rania, tetap saja, Harsa adalah seorang pria normal dewasa yang memiliki has-rat dan sudah lama tidak mendapatkan kehangatan bio-logis.
Harsa baru tersadar sepenuhnya, bahwa selama satu tahun terakhir ini, ia hampir tidak pernah lagi menyentuh atau bermesraan dengan Rania di atas ranjang karena seluruh waktu dan energinya habis terkuras untuk mengurus Gavin dan memenuhi panggilan Wulan.
Suasana di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat panas dan benderang oleh ketegangan yang intim. Udara terasa berputar begitu pekat, membuat napas Harsa mulai memburu pendek.
“Astaga... tahan, Harsa, tahan! Ini godaan setan!” batin Harsa, mencoba sekuat tenaga menepis perasaan aneh dan gai-rah liar yang mulai merayapi akal sehatnya.
Sialnya, kedekatan fisik dan wangi lavender dari tubuh ek-sotis Wulan membuat Harsa tak bisa menahan sesuatu yang mulai terasa sesak dan menegang di balik celana panjangnya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
“Mas, kamu berkeringat banyak sekali. Gerah, ya?" ucap Wulan dengan suara yang teramat lirih.
Tanpa izin, jemari lentik Wulan terulur menyentuh lengan kekar Harsa. Sentuhan itu terasa dingin nan membakar. Perlahan tapi pasti, jemari Wulan mulai merambat naik ke atas, menyusuri pundak, melewati leher, dagu, hingga berakhir mengusap lembut kening Harsa yang basah oleh keringat.
Tubuh Harsa seketika merinding hebat mendapat perlakuan seronok seperti itu dari adik iparnya sendiri. Saraf-saraf di tubuhnya bergejolak hebat antara nafsu dan sisa rasa bersalahnya sebagai suami Rania.
Tepat sebelum akal sehatnya benar-benar hilang terbakar godaan, Harsa langsung menyentak kasar tangan Wulan hingga terlepas, lalu buru-buru beranjak dari duduknya hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Aku keluar dulu,” ujar Harsa menahan napasnya yang tidak beraturan. Ia membuang muka ke arah lain, tidak berani lagi menatap mata Wulan. “Lain kali, kalau keluar kamar atau di dalam rumah ini, pakai pakaian yang benar dan sopan, Wulan! Jangan pakai baju seperti ini lagi!”
Setelah melayangkan nasihat tegas dengan wajah yang panas dingin, Harsa langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar tamu dengan terburu-buru.
“Kena kamu, Mas! Aku yakin kamu menginginkanku.” Wulan tersenyum tipis.
padahal Harsa sdh mulai sadar naif dan manipulatif nya seorang wulan eh dia dgn bangga nya memerkan tentang dia sebagai calon istri dan lgsg bertabrakan dgn pemilik oerusahaan🤣dasar wulan bodoh masih pede lg bilang calon istri🤣🤣
kemiskinannya😌😌