Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tak! Tak! Tak!
Suara ketukan keyboard memenuhi kamar Tommy yang remang-remang.
Layar monitornya memantulkan deretan kode hijau yang bergerak sangat cepat.
"Kau pikir bisa mengancamku dengan melacak balik?" gumam Tommy pelan.
"Mari kita lihat seberapa kuat sistem keamanan mafia lokal ini."
Tommy merangkai sebuah algoritma pelacak terbalik menggunakan sisa jejak data PT Bangun Persada.
Dalam waktu kurang dari lima menit, layar hitamnya menampilkan sebuah alamat IP statis.
"Alamat ini mengarah ke sebuah kelab malam eksklusif di pusat kota," analisis Tommy di dalam hatinya.
"Ternyata klien misterius ini adalah sindikat mafia yang membekingi perusahaan ayah Bagas."
Ia tidak berniat membalas pesan ancaman tersebut dengan kata-kata.
Tommy mengunggah sebuah skrip virus perusak data tingkat militer yang ia modifikasi sendiri.
"Kalian ingin aku menghapus rekaman CCTV di kepolisian?" ucap Tommy tersenyum dingin.
"Lebih baik aku menghapus seluruh pangkalan data keuangan kalian sampai ke akar-akarnya."
Klik.
Virus itu terkirim lurus menembus dinding api kelab malam tersebut tanpa halangan.
Hanya butuh sepuluh detik bagi virus itu untuk melumpuhkan seluruh server operasi sindikat itu.
Ting!
[MISI UTAMA SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menghancurkan ancaman siber dan melumpuhkan pangkalan data musuh sepenuhnya.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +5 poin.]
[Poin Sistem bertambah +100 PS.]
[IQ Saat Ini: 126 Kategori: Jenius Awal]
[Poin Sistem Saat Ini: 170 PS]
Tommy memejamkan matanya saat sensasi dingin yang luar biasa tajam menusuk otaknya.
Angka seratus dua puluh enam bukanlah angka sembarangan.
Kini ia secara resmi telah memasuki gerbang kejeniusan yang sesungguhnya.
"Tidur yang nyenyak, para mafia," bisik Tommy sebelum mematikan komputernya.
"Besok aku punya pertunjukan yang lebih penting di dunia nyata."
Keesokan paginya, suasana di gedung konvensi terasa jauh lebih mencekam dari hari sebelumnya.
Hanya tersisa sepuluh sekolah terbaik yang berhasil lolos ke babak final ini.
Nadin terlihat berjalan mondar-mandir di depan aula dengan wajah yang sangat pucat.
"Din, kamu jangan gugup gitu dong, nanti sakit perut lho," tegur Tommy yang duduk santai di kursi tunggu.
"Gimana gue gak gugup, Tom!" balas Nadin dengan suara tertahan.
"Babak final ini ujian tertulis individu, nilai kita berdua bakal digabungin buat nentuin juara satu!"
Tommy mengangguk pelan berpura-pura mengerti.
"Terus masalahnya di mana, Din?" tanya Tommy polos.
"Masalahnya ada di elo, Tommy!" Nadin menunjuk tepat ke dahi Tommy.
"Di dalam sana nanti ada kamera CCTV di setiap bilik, lo gak bisa lagi nebak pakai alasan toren air atau kartun robot!"
"Kalau lo dapat nilai nol, nilai sembilan puluh gue bakal percuma karena total poin kita pasti kalah dari SMA Nusantara!"
Sebelum Tommy sempat menjawab, Leo dan rombongan SMA Nusantara melintas di depan mereka.
"Pagi, Nadin," sapa Leo dengan senyum meremehkan yang sangat menyebalkan.
"Sudah siap menggendong beban berat di dalam ruangan nanti?"
Nadin hanya membuang muka dan tidak merespons sapaan arogan tersebut.
Leo lalu menoleh ke arah Tommy dan tertawa kecil.
"Gue pastikan sekolah udik kalian bakal pulang bawa piala plastik hari ini," ejek Leo terang-terangan.
"Iya, Kak Leo, semoga tebakanku hari ini beruntung lagi ya," jawab Tommy dengan wajah ceria tanpa dosa.
Leo mendengus kasar.
"Gak ada yang namanya keberuntungan di babak final, dasar idiot," umpat Leo sebelum masuk ke dalam aula.
"Perhatian seluruh peserta final, harap segera menempati bilik meja kalian masing-masing!" suara panitia menggema dari pengeras suara.
Tommy dan Nadin segera masuk ke dalam aula utama.
Aula itu kini telah diubah, lima puluh meja dihilangkan dan diganti dengan dua puluh bilik transparan yang terpisah jauh.
Di setiap bilik terdapat satu buah kamera pengawas yang menyorot langsung ke arah meja peserta.
"Semoga berhasil, Tom, tolong jangan kosongin lembar jawaban lo," bisik Nadin penuh harap sebelum mereka berpisah menuju bilik masing-masing.
"Siap, Din," jawab Tommy mengangkat ibu jarinya.
Tommy duduk di kursinya dan menatap lembar soal tebal beserta Lembar Jawaban Komputer di atas meja.
Terdapat seratus soal pilihan ganda dari berbagai mata pelajaran tingkat olimpiade nasional.
"Waktu kalian seratus dua puluh menit," umumkan ketua dewan juri dari depan.
"Kalian tidak diperbolehkan menoleh atau melakukan gerakan mencurigakan."
"Ujian dimulai dari sekarang!"
Suara desiran kertas yang dibalik serempak memenuhi aula yang sangat sunyi itu.
Tommy membuka halaman pertama dan mulai membaca soalnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Otak jeniusnya memindai lima halaman sekaligus hanya dalam waktu kurang dari satu menit.
"Terlalu mudah," batin Tommy menganalisis tingkat kesulitan soal tersebut.
"Jika Nadin mengerjakan ini, dia maksimal akan mendapat skor delapan puluh lima."
Tommy memejamkan matanya sejenak dan menggunakan skill Kalkulasi Lintasan Fisik untuk memantau gerakan Leo dari bilik seberang.
Melalui pantulan kaca dan irama goresan pensil Leo, Tommy bisa memperkirakan kecepatan menjawab musuhnya itu.
"Leo akan mendapat nilai sembilan puluh, dan rekannya akan mendapat delapan puluh," hitung Tommy di dalam kepalanya.
"Total nilai SMA Nusantara adalah seratus tujuh puluh poin."
"Untuk menang, aku harus menyumbang minimal delapan puluh enam poin agar total nilai kami seratus tujuh puluh satu."
Tetapi Tommy menyadari sebuah masalah besar.
Jika ia tiba-tiba mendapat nilai delapan puluh enam yang nyaris sempurna, semua orang pasti akan menuntut investigasi.
Apalagi dengan adanya kamera pengawas yang menyorot jelas bahwa ia tidak menyontek sama sekali.
"Aku harus membuat nilai tinggi ini terlihat seperti sebuah kecelakaan estetika," batin Tommy tersenyum dingin.
Ia memperhatikan desain Lembar Jawaban Komputer di depannya.
Ada seratus baris bulatan pilihan ganda dari A sampai E yang berjejer rapi ke bawah.
Otak jenius Tommy langsung menyimulasikan jutaan pola visual yang bisa dibentuk dari bulatan-bulatan tersebut.
Ia mencocokkan pola gambar visual itu dengan letak jawaban yang benar dari seratus soal di buku.
"Pola gambar bintang bersudut lima," gumam Tommy pelan menemukan celah yang ia cari.
Jika ia menghitamkan bulatan-bulatan itu hingga membentuk gambar bintang simetris raksasa di atas kertas, ia akan tidak sengaja mengenai delapan puluh delapan jawaban yang benar.
"Sempurna," batin Tommy.
Ia mengambil pensil dua B miliknya dan mulai menghitamkan bulatan-bulatan itu tanpa membaca soalnya sama sekali.
Ia terus menghitamkan bulatan dengan sangat cepat, melompat dari nomor sepuluh ke nomor lima puluh hanya untuk mengikuti pola garis bintang.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇