Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara derit roda troli pembersih bergesek dengan lantai keramik putih rumah sakit terdengar berisik.
Arka mendorong troli itu dengan langkah pelan, tatapannya kosong menatap lantai koridor yang berkilau karena cairan karbol.
"Hei, dokter idiot! Jangan jalan di tengah-tengah jalanan orang sibuk!" teriak seorang perawat senior sambil menepis bahu Arka dengan kasar.
Arka hanya mengerjap-nerjap lambat, kepalanya sedikit miring ke samping seperti orang linglung yang tidak mengerti situasi.
"Maaf... saya tidak lihat." Arka dengan suara pelan dan sedikit terbata-bata.
Perawat itu mendengus sinis lalu melengos pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.
Di dunia kedokteran yang dipenuhi orang-orang jenius dan berjas putih rapi, kehadiran Arka dianggap sebagai sebuah lelucon semesta.
Semua orang di Rumah Sakit Medika Sentosa tahu kalau Arka adalah lulusan kedokteran yang lolos karena kasihan dan kasak-kusuk masa lalu.
Otaknya sering dianggap tumpul, responsnya lambat, dan perilakunya sering kali memancing gelak tawa orang di sekitarnya.
"Dokter Arka! Kenapa lantai di depan ruang operasi utama masih basah?!" bentak suara bariton yang angkuh dari ujung koridor.
Dr. Dimas Mahendra, Sp.BTKV, berjalan mendekat dengan dagu terangkat tinggi dan tatapan meremehkan.
Ia adalah dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular paling berbakat di rumah sakit ini sekaligus musuh utama bagi siapa saja yang tidak selevel dengannya.
"Sebentar lagi selesai, Dok," jawab Arka sambil menunduk lesu dan memainkan tangannya sendiri secara canggung.
"Selesai? Kau pikir rumah sakit ini tempat pembuangan sampah untuk orang dungu sepertimu?" cemooh dr. Dimas dengan suara keras sengaja agar para koas yang lewat bisa mendengarnya.
Beberapa mahasiswa koas yang berdiri di belakang dr. Dimas langsung terkikik geli menertawakan penderitaan Arka.
"Sudah bodoh, kerjanya lambat lagi, kenapa pihak rumah sakit tidak memecatnya saja ya?" bisik salah seorang koas perempuan kepada temannya.
"Mana berani, kabarnya dia itu cucu titipan dari salah satu donatur tua bangka yang pikun," balas temannya dengan nada mencemooh.
Dr. Dimas tersenyum miring melihat Arka yang hanya diam mematung tanpa perlawanan berarti.
Bagi dr. Dimas, menginjak-injak harga diri Arka adalah hiburan gratis di tengah melelahkannya jadwal operasi harian.
"Ambilkan kotak instrumen bedah di ruang steril sekarang juga, dan gerakkan kakimu yang seperti siput itu!" perintah dr. Dimas sambil menendang ember air pel di dekat kaki Arka.
Prang!
Air sabun tumpah membasahi lantai bersih yang baru saja dipel oleh Arka.
Para mahasiswa koas kembali tertawa melihat betapa tidak berdayanya Arka diperlakukan semena-mena.
"Baik, Dok. Saya ambilkan," ucap Arka pelan dengan kepala tetap menunduk dalam.
Arka berbalik badan dan melangkah pergi menuju ruang steril dengan punggung yang sedikit membungkuk.
Di balik rambut berantakan dan ekspresi wajahnya yang tampak kosong dan bodoh, tidak ada satupun orang yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
Tatapan mata Arka yang tadinya sayu tiba-tiba berubah tajam bagai pisau bedah yang dingin sepersekian detik.
"Tindakan yang kekanak-kanakan dari seorang spesialis bedah yang merasa dirinya paling hebat," gumam Arka pelan di dalam hatinya.
Bagi Arka, cacian, makian, dan tawa meremehkan itu sudah menjadi makanan sehari-es sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di dunia kedokteran.
Mereka mengira Arka adalah dokter idiot yang tidak tahu apa-apa tentang anatomi tubuh manusia.
Mereka tidak tahu bahwa di dalam laci meja lokernya tersimpan sebuah sertifikat bedah internasional tingkat tertinggi yang bahkan belum pernah disentuh oleh profesor senior manapun di rumah sakit ini.
Arka membuka pintu ruang steril dengan tangan kanannya yang gemetar pura-pura kaku.
Ia mengambil kotak instrumen bedah dengan cara yang canggung, sengaja menjatuhkan satu buah pinset kecil ke lantai untuk menjaga sandiwara kebodohannya.
Kring!
Pinset itu berdenting nyaring di lantai keramik ruang steril.
"Aduh... tangan saya licin," gumam Arka dengan suara sengaja dilemahkan.
Seorang perawat di dalam ruangan itu mendengus kesal sambil memungut pinset tersebut dan melemparkannya kembali ke dalam kotak.
"Makanya kalau kerja pakai mata, jangan pakai dengkul, Dokter Arka!" gerutu perawat itu ketus.
"Iya, maaf ya Mbak," balas Arka dengan senyum polos yang terlihat sangat bodoh.
Arka kembali berjalan keluar membawa kotak instrumen dengan langkah yang tidak beraturan.
Sesampainya di koridor utama, dr. Dimas sudah menunggu sambil melipat tangan di dada dengan wajah masam.
"Lama sekali! Kau ini menyita waktu berhargaku saja!" sambar dr. Dimas begitu Arka mendekat.
"Maaf, Dok. Tadi kotaknya agak berat," alasan Arka dengan nada bicara yang terdengar gugup.
"Cepat bawa ke ruang operasi tiga, ada pasien darurat yang harus segera dipersiapkan!" perintah dr. Dimas dengan nada mengusir.
Dr. Dimas berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Arka sendirian di koridor yang mulai sepi.
Arka menatap punggung dr. Dimas yang berjalan menjauh dengan senyum tipis yang terukir sangat cepat di sudut bibirnya.
"Silakan sombong sepuasmu sekarang, Dimas," batin Arka dengan tenang.
"Karena sebentar lagi, meja operasi itu akan menjadi tempat di mana aku meremukkan seluruh kesombonganmu tanpa sisa."
Beberapa saat kemudian, suara sirine ambulans terdengar meraung-raung memasuki halaman IGD Rumah Sakit Medika Sentosa.
Suasana tenang di rumah sakit seketika berubah menjadi kacau dan penuh kepanikan.
Para perawat dan dokter jaga berhamburan berlari menuju pintu masuk IGD untuk menyambut pasien baru yang datang dalam kondisi kritis.
Dr. Dimas yang tadinya hendak beristirahat langsung berbalik arah dan berlari kencang menuju ruang IGD.
"Ada apa ini?!" tanya dr. Dimas dengan suara lantang kepada perawat yang mendorong brankar darurat.
"Kecelakaan beruntun di jalan tol, Dok! Pasien mengalami cedera parah di bagian dada dan pendarahan internal hebat!" lapor perawat itu dengan napas tersengal-sengal.
Wajah dr. Dimas langsung pucat pasi saat melihat monitor tanda vital pasien yang terus berbunyi dengan ritme mengkhawatirkan.
Beep... beep... beep...
Kondisi pasien berada di ambang kematian dan tingkat keberhasilan operasinya hampir menyentuh angka nol persen.
"Sial! Kalau pasien ini mati di tanganku, reputasiku sebagai dokter bedah terbaik bisa hancur!" batin dr. Dimas mulai panik luar biasa.
Para dokter senior lainnya yang ikut mengerumuni brankar hanya bisa menggelengkan kepala tanda menyerah.
Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengambil risiko untuk melakukan operasi pada kasus serumit ini.
Arka berdiri di sudut ruangan, memperhatikan kekacauan itu dengan tatapan mata yang tenang dan dingin di balik topeng kebodohannya.