NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Begitu mobil dinas Kolonel Yusuf bergerak menjauh dari pekarangan, Sakti langsung menutup pintu ruang tamu dengan rapat. Ia menghela napasnya, mencoba membuang sisa-sisa rasa malu akibat godaan atasannya tadi. Langkah kakinya kemudian terayun perlahan menuju kamar utama, mencari keberadaan sang istri.

Di dalam kamar, Rahma rupanya sedang berlutut di depan lemari baju sederhana. Ia sibuk mengeluarkan pakaian miliknya dan juga seragam serta baju-baju milik suaminya dari dalam koper untuk ditata rapi. Mendengar suara derap langkah kaki Sakti, Rahma menoleh dengan sisa-sisa wajah yang masih agak merona.

"Eh, Kak... Tamunya sudah pulang?" tanya Rahma, mencoba bersikap senormal mungkin untuk menutupi rasa canggungnya akibat insiden gendongan tadi.

Sakti berdehem kecil, lalu berjalan mendekat dan berdiri di samping lemari.

"Sudah, Rahma. Oh iya... nanti sore aku mau mengajak kamu ke pusat perbelanjaan untuk membeli perabotan rumah tangga yang kurang. Tapi... kalau kamu masih lelah, kita bisa menundanya sampai besok. Aku masih ada jatah cuti menikah empat hari lagi."

Rahma mendongak, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa nanti sore saja, Kak. Kebetulan ada beberapa keperluan pribadi dan perlengkapan kuliah yang ingin aku beli juga."

Sakti mengangguk canggung. "Baiklah kalau begitu."

Merasa tidak enak jika hanya melihat istrinya bekerja sendirian, Sakti akhirnya ikut berjongkok di samping Rahma. Dengan tangan kekarnya, ia mulai membantu melipat dan merapikan pakaian-pakaian dinasnya ke dalam lemari. Meski mereka bekerja berdampingan, keheningan di antara keduanya sesekali masih terasa kaku.

Menjelang siang, perut mereka mulai melepaskan protes. Karena perabotan memasak belum ada dan bahan makanan di dapur pun belum komplit, bahkan kulkas dua pintu pemberian unit logistik masih kosong melompong. Sakti memutuskan untuk memesan makanan melalui layanan delivery online.

Bagi Rahma, hal ini sama sekali bukan masalah besar. Sebagai mahasiswi kedokteran yang rasional, ia sangat memaklumi kondisi mereka yang masih didera rasa lelah luar biasa pasca pesta pernikahan dan prosesi pindahan rumah yang menguras energi.

Kini, keduanya duduk berhadapan di kursi meja makan kayu yang sederhana, menikmati sebungkus nasi ayam bakar yang baru saja tiba. Suasana makan siang mengalir tenang, sesekali diselingi obrolan ringan mengenai letak ruangan di asrama tersebut.

Waktu bergulir hingga menjelang sore. Setelah keduanya selesai menunaikan ibadah salat Asar berjamaah di kamar yang kembali mendebarkan dada Rahma saat harus mencium tangan Sakti pasca solat. Lalu mereka segera bersiap-siap.

Sakti telah mengganti pakaiannya dengan kaos polo santai dan celana jins, sementara Rahma tampil manis dengan gamis kasual dan hijab senada. Mereka melangkah keluar rumah menuju mobil pribadinya Sakti, bersiap melengkapi istana kecil mereka.

Perjalanan menuju pusat perbelanjaan terbesar di daerah tersebut terbilang cukup lancar. Lokasinya memang tidak begitu jauh dari area Markas Kodam III/Siliwangi. Cukup ditempuh dalam waktu tiga puluh menit saja, mobil Sakti sudah memasuki area parkir mal, siap memburu segala keperluan rumah tangga mereka.

*

*

Setibanya di dalam pusat perbelanjaan, Sakti dan Rahma memutuskan untuk memprioritaskan barang-barang yang paling penting dan mendesak terlebih dahulu. Mereka bergerak gesit ke area perlengkapan rumah tangga untuk membeli penanak nasi, beberapa pasang piring, sendok, serta peralatan kebersihan standar asrama.

Setelah urusan perabotan utama selesai, Rahma meminta izin untuk bergeser ke toko buku besar di lantai dua guna mencari literatur kedokteran untuk keperluan kuliahnya semester ini. Sakti hanya mengekor tenang di belakang sang istri, mendorong troli belanjaan sambil sesekali memperhatikan Rahma yang tampak begitu serius menelusuri deretan rak. Ia diam-diam takjub melihat istrinya memilah-milah buku medis yang tebalnya bukan main.

Langkah Rahma terhenti di depan sebuah rak tinggi. Matanya berbinar saat menemukan buku panduan anatomi yang ia cari. Sayangnya, buku tebal itu bertengger manis di rak paling atas. Rahma mencoba menggapainya, namun tingginya tidak memadai. Ia bahkan sampai harus berjinjit dengan kedua ujung kakinya, meregangkan tangannya ke atas sekuat tenaga, tetap saja ujung jarinya hanya mampu menyentuh ujung sampul buku.

Tepat saat Rahma hampir menyerah, sebuah bayangan tubuh yang tinggi dan tegap tiba-tiba merapat di belakangnya. Tanpa bersuara, Sakti maju selangkah, berdiri tepat di belakang punggung Rahma hingga menyisakan jarak yang sangat tipis. Tangan kanan Sakti yang kekar terjulur ke atas dengan begitu mudah, langsung meraih buku tebal yang diincar istrinya.

Merasa ada pergerakan di belakangnya, Rahma refleks membalikkan badannya.

Deg!

Tanpa disengaja, gerakan memutar itu justru membuat wajah mereka kembali berada dalam jarak yang teramat dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Sakti terpaku memegang buku di atas kepala Rahma, sementara Rahma mendongak dengan napas yang seketika tertahan. Keduanya saling menatap dalam keheningan selama beberapa detik di antara lorong rak buku. Rona merah pekat langsung terbit di pipi keduanya, sebuah sinyal kegugupan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi malam ini.

"K... Kalau kamu butuh bantuan, panggil aku saja, Rahma... Eh... Jangan pernah merasa sungkan," ujar Sakti memecah kekakuan, suaranya agak berat dengan senyuman tipis yang dipaksakan agar terlihat tenang.

"I... Iya, Kak. Maaf," jawab Rahma gugup, buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah kepanasan.

Sakti menyerahkan buku tebal itu ke tangan Rahma, lalu segera melangkah mundur dan menjauh beberapa langkah. Ia pura-pura melihat buku di rak lain demi mengontrol detak jantungnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini benteng pertahanannya selalu terasa rapuh dan ia mendadak sering gugup jika berada terlalu dekat dengan istrinya sendiri.

Selesai dari toko buku, mereka beralih ke sebuah toko pakaian yang cukup luas. Rahma berniat membeli beberapa potong pakaian dalam yang baru. Mengingat sebagian besar pakaian dalamnya yang sudah agak lama tidak layak pakai dan sengaja ia tinggalkan di lemari kamar lamanya, ia tentu butuh persediaan baru untuk di asrama nanti. Sementara itu, Sakti izin bergeser ke lorong pria untuk mencari beberapa kaos santai dan celana rumahan. Mereka pun akhirnya berpencar sejenak.

Rahma berjalan ke sudut khusus wanita, asyik memilah-milah pakaian dalam dengan model yang lucu.

"Apakah yang motif Hello Kitty masih ada ya? Perasaan sekarang susah banget nyari yang motif itu, padahal kan lucu banget," gumam Rahma pelan pada dirinya sendiri.

Setelah membongkar beberapa gantungan, matanya berbinar. Ia akhirnya menemukan benda yang dicari: sebuah bra dengan motif karakter kesukaannya yang dipadukan dengan aksen renda yang sangat manis.

"Wah... Akhirnya ketemu juga! Eh... Tapi sepertinya ukurannya agak kecil tidak ya? Ah, aku coba dulu deh," ujarnya polos.

Tanpa pikir panjang, Rahma mengangkat bra tersebut dan menempelkannya di luar pakaian ke bagian dadanya untuk mengira-ngira ukuran. Metode mengukur manual ini sering sekali ia tiru dari ibunya saat mereka dulu berbelanja pakaian dalam di toko dekat pasar dalam ruangan. Rahma benar-benar melakukannya dengan santai tanpa beban.

Namun, yang tidak disadari oleh Rahma, Sakti yang sudah selesai memilih kaosnya ternyata berjalan mendekat. Pria itu sempat berputar-putar di toko yang luas ini hanya untuk mencari keberadaan istrinya. Dan tepat saat Sakti melangkah di lorong pakaian wanita, matanya langsung menangkap basah pemandangan Rahma yang sedang menempelkan bra Hello Kitty berenda itu di dadanya sendiri.

Seketika, Kapten Sakti Prawira Kusuma terkejut bukan main. Matanya membelalak sempurna, jakunnya naik turun seketika. Dengan gerakan refleks militer, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah samping, benar-benar tidak berani menatap ke arah depan lagi.

Rahma yang menyadari bayangan tinggi suaminya mendadak muncul di dekat rak langsung menoleh. Begitu tersadar dirinya tertangkap basah sedang memegang dan mencoba bra di depan suaminya, Rahma panik setengah mati. Dengan gerakan kikuk, ia buru-buru melepaskan pegangannya pada bra tersebut dan menaruhnya kembali asal-asalan di atas box besar penampung barang.

Suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat canggung dan hening. Sakti masih setia memalingkan wajahnya, menatap kosong ke arah gantungan baju daster di sebelahnya dengan telinga yang sudah merah padam sampai ke leher.

'Aih... Bisa-bisanya si Rahma mencoba benda seperti itu di tempat umum? Sudah seperti ibu-ibu saja yang sering belanja benda seperti itu di pasar,' ucap Sakti heboh di dalam hatinya, berusaha keras menghapus bayangan visual yang baru saja terekam di otaknya. 'Tapi... kalau dilihat-lihat tadi, ukurannya lumayan juga... Woy, Sakti! Apa yang ada di dalam otakmu?! Kau jangan gila! Jaga pikiranmu!'

Sakti merutuki pikirannya sendiri yang mendadak melantur ke mana-mana, sementara di sampingnya, Rahma hanya bisa berdiri kaku sambil berpura-pura sibuk merapikan jilbabnya, menahan rasa malu yang rasanya ingin membuat bumi runtuh saat itu juga.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
sakti bilang aj udah cinta, pake acara gengsi segala, benar kt Salma klu udah di ambil orang baru deh nyesel
Teh Euis Tea
yg sabar Sakti km mah ganas main sosor aj
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ketangkap basah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!