Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - Rumah Tua di Kampung Nenek
"Buka dulu pintu-pintu rumahnya," perintah Ibu sambil meletakkan barang belanjaan. "Uang kertasnya lipat dan sisihkan ke sisi sana. Jangan menghalangi di sini."
"Baik, Bu. Yang mana yang kusisihkan dulu, uangnya atau belanjaannya?" tanya Intan sambil mengulurkan tangan. Ibu menaruh bungkusan belanjaan di bangku batu, lalu menjawab santai, "Uangnya. Tiap lembar dilipat sendiri-sendiri, jangan sampai kusut atau kena minyak."
Atas permintaan Ibu itu, Intan memencet hidungnya — rumah tua pengap oleh debu — lalu berjalan membuka pintu dengan pasrah. Ternyata semua pintu di sekeliling halaman terkunci. Ia mencoba satu per satu dan akhirnya membukakan semuanya.
Di bawah terik siang yang menyengat, deretan rumah tua itu tampak seperti berjajar menunggu sesuatu. Atap lempengan batu tulisnya kusam, ditumbuhi rumput liar di celah-celahnya; halaman depannya ditumbuhi pohon jambu yang cabangnya menjuntai ke tanah. Bau kapur barus dan tanah basah bercampur menjadi satu. Bagi orang lain rumah ini hanya bangunan kosong yang lama ditinggalkan, tetapi bagi keluarga Larasati, rumah ini adalah tempat doa-doa pertama pernah dipanjatkan ke langit.
Di halaman, Ibu membawa air, mengelap bangku batu dengan lap kering. Lalu ia menemukan kebodohan anaknya. Intan mengira semua pintu harus dibuka, padahal Ibu hanya ingin membuka dua ruangan: ruang tengah dan dapur.
Ibu tertawa sambil memarahi, "Kusuruh kau buka pintu ruang tengah dan dapur saja! Mengapa pintu kamar ikut kau buka? Kalau tidak ada kerjaan, cepat bekerja. Jangan membuang-buang waktu!"
Intan membeku di depan pintu kamar. Di sanalah dulu ia tidur semasa kecil — kasur tipis di papan kayu, jendela kecil yang selalu ia buka karena kamar itu pengap. Ia masih ingat dinding yang ditaburi kapur untuk menangkal lembap, dan suara lengking sepeda setiap subuh ketika ia ikut menggantang baju di halaman bersama Ibu. Kini kamar itu gelap dan berdebu, seperti setiap ruangan di rumah tua ini. Teguran Ibu membuatnya tersadar; ia berlari kembali ke halaman untuk bekerja.
Entah dari mana ia menemukan dua atau tiga keranjang besar yang ditutupi debu. Intan duduk bersimpuh di samping bangku batu itu sambil melipat kertas emas-perak. Dari dalam rumah terdengar bunyi kayu berpukul-pukulan; bayangan Ibu keluar masuk. Intan tidak mau ditegur lagi, jadi ia mengerjakan lipatan kertas itu dengan sepenuh hati.
Belum selesai melipat satu keranjang, Ibu sudah beres meletakkan perlengkapan sembahyang leluhur. Ia menyalakan dupa lalu memanggil Intan ikut bersembahyang. Intan menatap tangannya yang penuh serpihan perak mengilat, lalu langsung berlari masuk tanpa sempat mencuci tangan. Ia memberi hormat tiga kali dengan khidmat kepada foto-foto leluhur keluarga yang tergantung di ruang sembahyang.
Ibu mengambil dupa dari tangan Intan, lalu memberi hormat beberapa kali sambil menggumamkan doa. Suaranya pelan dan berat, seperti orang yang mengucapkan permintaan paling dalam — restu dari leluhur untuk cucunya yang akan menghadapi ujian masuk sekolah menengah atas.
Ruang sembahyang yang dibukakan tadi kecil dan remang; cahaya masuk hanya dari satu jendela kayu berjeruji. Di dinding tergantung deretan foto leluhur dengan bingkai hitam, wajah mereka serius dan penuh tekad, menyimpan banyak kisah yang tidak pernah sempat diceritakan. Kaki Intan terasa berat sejenak — dulu ia tidak pernah betah berhenti di depan ruangan ini, terlalu takut dengan wajah leluhur yang menatap dingin dari bingkai. Sekarang ia malah ingin duduk memangku lutut di sana lebih lama, menepis debu dari nama-nama yang nyaris ia lupakan.
Setelah selesai bersembahyang, dua keping uang logam yang dilemparkan Ibu jatuh dalam keadaan satu kepala satu ekor. Itu pertanda baik. Kedua keping itu berkilau di telapak tangan Ibu sebelum dipungut dan disimpan. Dalam tradisi keluarga, satu kepala satu ekor berarti doa didengar. Intan tidak pernah terlalu percaya pada ramalan semacam itu, tetapi hari ini ia merasa dada yang selama ini sesak terasa lebih ringan. Ibu pun segera bergegas pergi membakar kertas emas-perak.
Intan ikut menghela napas lega.
Namun Ibu belum selesai dengan urusannya. Sebelum api pembakaran besar itu dimulai, ia menyempatkan diri membereskan dupa di ruang sembahyang dan menata kembali potret-potret leluhur, memastikan semuanya kembali pada tempatnya sebelum pintu dikunci lagi. Intan membantu mengangkat bangku batu, memperhatikan setiap gerakan Ibu agar tahun depan ia bisa melakukannya sendiri tanpa perlu disuruh.
Kertas sembahyang yang mereka bawa tidak bisa termuat rata dalam tiga keranjang besar; kalau dilipat semua pasti sampai petang. Tempat pembakaran berada tepat di luar ruang sembahyang. Asap tebal dan hawa panas menyergap begitu pintu dibuka.
Api menari-nari di dalam tungku bata yang sudah menghitam oleh bekas bakaran bertahun-tahun. Kertas perak menguncup, lalu menggelung menjadi abu yang terbawa angin siang. Ibu mengambil sebatang besi dan mengaduk-abuk bara agar semua kertas habis terbakar, sementara Intan menjaga agar tidak ada percikan yang terbang ke arahnya.
Ibu menyuruh Intan menjauh. Intan justru ingin membantu. Ia memegang erat tepi keranjang dan mendekat dari waktu ke waktu, tidak yakin apakah sikapnya benar, gugup sekali karena khawatir salah langkah. Keranjang itu dianyam kasar; setiap sudutnya bisa melukai.
Setelah kertas-kertas habis terbakar menjadi abu, Intan baru menyadari jarinya tergores tepi anyaman yang tajam. Darah menetes tipis dari ujung jari telunjuknya.
Intan mengibas-kibaskan tangannya, menahan perih yang menjalar sampai ke pergelangan. Abu masih beterbangan; sekeliling halaman berbau hangus. Ia memandang sisa-sisa kertas yang sudah tinggal serpihan kecil, menghela napas, dan merasa lebih dekat dengan Ibu daripada sebelumnya.
Ibu menatap tangan kecil itu, mengerutkan dahi, lalu berkata, "Aku pergi ke warung desa membeli plester. Kau cuci tanganmu dahulu."
Setelah berkata begitu, Ibu berbalik, membuka pintu halaman, dan bergegas pergi.
Begitu pintu halaman tertutup, sunyi menyergap pekarangan. Intan membasuh jarinya di bak air, memperhatikan goresan merah yang berdenyut pelan. Di kepalanya terbayang kembali wajah-wajah leluhur yang tadi ia hadapi; rasanya seperti mereka ikut menyaksikan anak terakhir keluarga ini tumbuh. Ia menatap ke arah pintu tempat Ibu menghilang — di kehidupan sebelumnya, Ibu sering datang ke rumah ini sendirian tanpa pernah mengajaknya, dan Intan tidak pernah sempat menanyakan ke mana. Kini ia berjanji pada diri sendiri: setiap menjelang ujian, ia akan ikut datang ke sini, membawa telinga dan tangannya sendiri.
Intan menatap jarinya yang mengeluarkan darah. Goresan itu kecil, tetapi cukup untuk membuatnya tersenyum masam. Ia begitu bersemangat membantu sampai tidak sadar tangannya sendiri terluka. Di rumah tua yang berdebu ini, rasa hormatnya kepada leluhur justru tumbuh, dan tekadnya untuk membawa keluarganya pulang lebih sering menjadi semakin bulat.