Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Waktu tinggal tiga hari, dan paviliun Yuxin sudah berubah seperti medan perang kecil-kecilan. Gulungan kain sutra bertumpuk di satu sudut, contoh-contoh hidangan dicicipi lalu dicoret dari daftar, dan Mama Rong berjalan mondar-mandir sambil menggumamkan daftar protokol seperti mantra.
"Nona, coba cicipi yang ini," Xiao Yan menyodorkan sepiring kue kecil, "menurut hamba enak, tapi Mama Rong bilang terlalu manis untuk tamu dari utara."
"Terlalu manis bagaimana?" Yuxin mencicipi sedikit, mengunyah pelan. "Rasanya biasa saja."
"Itu dia masalahnya," sahut Mama Rong dari seberang ruangan, tanpa menoleh, "lidah orang utara lebih sensitif pada gula. Kalau mereka anggap manis berlebihan, mereka akan bilang Anda sengaja memanjakan diri sementara rakyat kelaparan. Entah kenapa logikanya begitu, tapi sudah seperti itu dari dulu."
Xiao Yan mengangkat bahu, menatap kue di piring dengan curiga seolah benda itu baru saja mengkhianatinya.
Di tengah kesibukan itu, seorang dayang istana datang membawa kabar bahwa Gu Yueran ingin berkunjung. Yuxin sedikit mengerutkan kening, tapi tetap mempersilakan.
Gu Yueran masuk dengan senyum manis, membawa sekeranjang bunga segar. "Aku dengar kau sedang repot mempersiapkan jamuan. Aku bawakan bunga teratai dari kolam pribadiku, siapa tahu bisa membantu dekorasi mejamu."
"Terima kasih," Yuxin menjawab hati-hati, tidak sepenuhnya memercayai kebaikan yang datang tiba-tiba ini.
Di meja kerja, sebuah poci sedang berisi racikan teh khusus yang baru setengah jadi, campuran yang sudah dicoba Yuxin dan Mama Rong sejak pagi, hasil dari tiga kali gagal sebelum akhirnya menemukan takaran yang pas untuk disajikan pada Permaisuri Xuan nanti. Racikan itu tidak bisa diulang sembarangan, karena daun teh langka yang dipakai hanya tersisa sedikit, dikirim khusus dari provinsi barat.
Yueran melangkah mendekati meja itu, pura-pura mengamati bunga-bunga di sekitarnya, lalu dengan gerakan yang terlihat begitu wajar, lengan bajunya tidak sengaja menyenggol poci teh, membuat poci itu oleng dan tumpah, racikan teh yang belum sempurna itu mengalir ke lantai, tumpah tak bersisa.
"Aduh, maafkan aku!" Yueran mundur cepat, tangannya menutup mulut, matanya membulat seolah terkejut dengan perbuatannya sendiri.
Yuxin menahan napas, menatap tumpahan teh itu dengan rasa frustrasi yang susah payah dia tahan. Racikan hasil kerja keras sejak pagi, lenyap begitu saja dalam sedetik.
"Tidak apa-apa," Yuxin mencoba bicara tenang, meski suaranya sedikit tegang, "aku hanya perlu meracik ulang..."
"Kau marah padaku, ya?" potong Yueran cepat, suaranya mendadak bergetar, matanya berkaca-kaca menatap Yuxin seolah baru saja dimarahi habis-habisan. "Aku tahu, aku memang ceroboh. Maafkan aku, Yuxin, aku hanya ingin melihat-lihat persiapanmu, aku tidak bermaksud merusak apapun."
"Aku tidak bilang kau sengaja," Yuxin mencoba menjelaskan, tapi Yueran sudah terlanjur mundur ke arah pintu, dan berpura-pura mengelap pipinya.
Di lorong luar, dua dayang yang kebetulan lewat berhenti, menoleh penasaran mendengar suara tangis itu.
"Maaf, aku permisi dulu," Gu Yueran buru-buru keluar, sengaja melewati kedua dayang itu sambil menyeka matanya, memastikan mereka melihat wajahnya yang basah air mata sebelum menghilang di ujung lorong.
Mama Rong, yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan, menatap tumpahan teh di lantai dengan mata menyipit. "Nona, lengan baju Nona Gu tadi lebih lebar dari biasanya sebelum mendekat ke arah meja. Dan arah dia berdiri terlalu jauh untuk tersenggol tanpa sengaja."
Yuxin menghela napas, berjongkok memeriksa sisa racikan teh yang masih bisa diselamatkan dari pecahan daun yang berserakan di lantai. "Aku tahu, Mama Rong. Tapi membuktikannya di depan umum itu soal lain."
Kabar itu menyebar lebih cepat dari yang diduga, dan dengan versi yang jauh lebih dramatis dari kejadian sebenarnya.
Keesokan paginya, beberapa dayang istana sudah berbisik-bisik di sepanjang lorong, membicarakan bagaimana calon Putri Mahkota membentak Gu Yueran yang baik hati hanya karena sebuah kecelakaan kecil.
Keesokan harinya, Li Chen datang ke paviliun Yuxin, langkahnya seperti biasa, tenang tanpa terburu-buru.
"Bagaimana persiapannya?" tanyanya, matanya mengedar ke seisi ruangan, melihat gulungan kain dan catatan Mama Rong yang masih berserakan di meja.
"Masih banyak yang harus diselesaikan," Yuxin menjawab, menunjukkan sisa racikan teh yang baru dia susun ulang sejak pagi. "Racikan untuk Permaisuri Xuan sempat tumpah kemarin, jadi aku harus mengulang dari awal."
Li Chen mengangkat alis, mendekat memeriksa daun teh yang tersisa di wadah. "Tumpah bagaimana?"
" Nona Gu berkunjung kemarin," Yuxin menjelaskan, nadanya datar, tidak berusaha membesar-besarkan, "dia menyenggol pocinya, racikan yang belum selesai jadi tumpah semua."
Li Chen diam sejenak, memperhatikan Yuxin dari ujung mata, mencoba membaca apakah ada yang disembunyikan di balik nada tenang itu. "Sengaja atau tidak sengaja?"
"Menurutmu?" Yuxin balik bertanya, tidak ingin terlihat terlalu cepat menuduh.
Li Chen menatapnya lama, lalu baru bicara pelan, "Baru saja aku lewat paviliun Ibu Suri. Gu Yueran ada di sana, bercerita pada beberapa selir, katanya kau membentaknya sampai dia menangis hanya karena kecelakaan kecil."
Yuxin menghentikan kegiatannya sejenak, menatap Li Chen. "Aku tidak membentaknya. Aku bahkan belum sempat bicara apa-apa sebelum dia sudah menangis duluan."
"Aku tahu," Li Chen menjawab singkat, tidak butuh penjelasan panjang untuk memercayainya. "Makanya aku ke sini, bukan untuk bertanya apa yang terjadi, tapi untuk memberitahumu bahwa cerita itu sudah sampai ke telinga beberapa orang penting, lebih baik kau berhati-hati saat bertemu mereka."