Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di Rumah Anggur
Liora melangkah cepat melintasi lorong-lorong sempit berbau cuka dan kayu lapuk. Hiraisin mengikutinya dari belakang dengan langkah tanpa suara, menjaga jarak tiga langkah sembari terus mengawasi bayangan bangunan di sekeliling mereka.
Setelah berbelok di sebuah gang buntu yang remang-remang, Liora berhenti di depan sebuah pintu kayu tebal berukirkan garis-garis samar. Ia mengetuk papan pintu itu dengan pola khusus: tiga ketukan perlahan, disusul dua ketukan cepat.
Kriiet...
Pintu berderit terbuka secara otomatis, memperlihatkan tangga batu curam yang meliuk turun ke dalam tanah. Bau harum akar obat langka dan aroma kayu cendana mendadak menyapu bau busuk kota perbatasan yang menyengat.
"Masuklah. Tempat ini terlindungi oleh formasi peredam suara," ucap Liora seraya melangkah turun terlebih dahulu.
Hiraisin menyusul masuk, memperhatikan dinding-dinding batu gua di sekelilingnya yang dipasang lampu minyak perunggu. Di bawah sana, terdapat sebuah ruangan luas yang tertata rapi. Meja-meja kayu tebal dipenuhi oleh botol ramuan, timbangan kuno, serta tumpukan kitab pengobatan yang tersusun rapi di rak-rak tinggi.
"Ini adalah tempat persembunyian rahasia Ordo Penjaga di Kota Angin Kelam," kata Liora sembari melepas jubah keemasannya dan menggantungnya di dekat pilar kayu. "Di atas tanah, tempat ini hanya dikenal sebagai kedai rempah tua yang bangkrut."
Hiraisin menyandarkan pedang patahnya di samping meja kayu besar, lalu menatap Liora dengan pandangan menyelidik.
"Bagaimana seorang tabib ordo bisa berada di kota yang dipenuhi bajingan dan pembunuh ini?" tanya Hiraisin datar.
Liora menuangkan air teh herbal hangat ke dalam dua cangkir tanah liat. Ia menyerahkan salah satu cangkir kepada Hiraisin sebelum duduk di hadapannya.
"Tugasku adalah memantau pergerakan jaringan pasar gelap dan mencari petunjuk keberadaan tiga Artefak Kilat Purba yang hilang," jelas Liora tenang. "Dua minggu lalu, berita tentang pembantaian Sekte Awan Putih sampai ke telingaku. Aku tahu, jika Segel Petir terbangun, sang pewaris pasti akan berhadapan dengan orang-orang yang menghancurkan rumahnya."
"Dan orang itu adalah Gani," sela Hiraisin dengan suara tertahan.
"Benar," Liora mengangguk pelan. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius. "Tetapi menyergap Gani di tengah kota ini sama saja dengan bunuh diri, Hiraisin. Kau harus tahu siapa yang berdiri di belakangnya sekarang."
Liora membuka sebuah gulungan perkamen kulit domba di atas meja. Perkamen itu memperlihatkan denah rumit dari sebuah bangunan megah bertingkat lima yang berdiri tepat di pusat kota.
"Rumah Anggur Gagak Merah," tunjuk Liora pada gambar bangunan tersebut. "Di luar, tempat itu tampak seperti kedai minum dan rumah judi biasa untuk para pendekar kelas atas. Namun di bagian bawah tanahnya, terdapat aula lelang terbesar di wilayah perbatasan."
"Gani menjual pusaka guruku di sana?" tanya Hiraisin.
"Gani tidak hanya sekadar menjual barang curian," balas Liora. "Dia telah menjual dirinya kepada Ketua Vane, pimpinan tertinggi Sindikat Gagak Hitam di Kota Angin Kelam. Vane adalah pendekar kejam yang menguasai ilmu Pedang Bayangan Hitam pada Ranah Jiwa Pedang tingkat menengah. Dia melindungi Gani karena Gani menjanjikan Lencana Pimpinan Sekte Awan Putih yang menyimpan kunci perbendaharaan rahasia."
Hiraisin mengepalkan tangannya. Percikan halus warna ungu keemasan melintas sekilas di mata biru-nya.
"Gani menjual kehormatan Sekte Awan Putih demi perlindungan seorang penjahat," bisik Hiraisin. Matanya membara oleh amarah yang membakar batinnya. "Aku akan membunuh mereka berdua jika mereka menghalangi jalanku."
"Aku paham kemarahanmu," sela Liora tegas, menepuk meja kayu untuk menarik perhatian Hiraisin. "Tetapi kau tidak bisa menembus Rumah Anggur hanya dengan mengandalkan otot dan pedangmu. Tempat itu dilapisi oleh Formasi Pelindung Runa Kegelapan."
Hiraisin memicingkan matanya. "Formasi pelindung?"
"Setiap gerbang dan pintu masuk Rumah Anggur dipasangi batu pembaca energi," terang Liora. "Jika seseorang dengan gejolak energi elemen murni—seperti energi petir purba milikmu—melintas, formasi itu akan membunyikan alaram berbahaya secara otomatis. Seluruh pembunuh bayaran di bangunan itu akan mengepungmu sebelum kau sempat melihat wajah Gani."
Hiraisin berdiam diri sejenak. Ia menyadari kebenaran dari ucapan Liora. Kekuatan petirnya memang sangat dahsyat, namun sifatnya yang eksplosif dan mencolok adalah kelemahan terbesar dalam misi penyusupan.
"Apakah kau punya cara untuk menembusnya?" tanya Hiraisin.
Liora tersenyum tipis. Ia berdiri dan melangkah menuju lemari obat di sudut ruangan, mengambil sebuah botol porselen kecil berwarna biru tua serta sebuah kotak kayu panjang.
Ia meletakkan botol porselen itu di depan Hiraisin.
"Ini adalah Pil Meredam Jiwa," kata Liora. "Ramuan khusus ini diciptakan oleh Ordo Penjaga untuk menekan fluktuasi energi elemen di dalam meridian. Setelah meminumnya, energi petir di dalam tubuhmu akan terkompresi rapat di dalam pusat dantianmu selama enam jam."
"Apakah itu berarti aku tidak bisa menggunakan kekuatan petirku?" Hiraisin menatap botol porselen itu dengan ragu.
"Kau masih bisa menggunakannya," jawab Liora. "Tetapi energinya tidak akan meluap keluar menjadi pancaran kilat yang mencolok. Seranganmu akan berubah menjadi serangan fisik yang dilapisi getaran frekuensi tajam. Itu sudah lebih dari cukup untuk menebas leher musuhmu tanpa memicu formasi pelindung."
Hiraisin mengambil botol porselen itu, membuka sumbatnya, dan langsung menelan pil bulat berwarna kehitaman di dalamnya tanpa ragu.
Seketika itu juga, sensasi dingin luar biasa menyebar dari kerongkongannya menuju seluruh pembuluh darah di tubuhnya. Gejolak panas energi petir di meridiannya mendadak tenang, mengendap perlahan ke dasar dantian bagaikan telaga yang membeku di musim dingin.
Hiraisin menarik napas panjang. Ia meresapi perubahan di dalam tubuhnya. Meskipun aura petirnya kini tersembunyi sempurna, ia merasakan kendali atas energinya justru menjadi jauh lebih padat dan efisien.
"Luar biasa..." gumam Hiraisin pelan.
"Sekarang untuk masalah identitasmu," lanjut Liora seraya membuka kotak kayu panjang yang dibawanya.
Di dalam kotak tersebut, terbaring sestel pakaian tempur dari bahan kulit naga hitam yang lentur, dipadukan dengan mantel panjang berwarna gelap dan sebuah topeng besi yang menutupi separuh wajah bagian atas.
"Malam ini adalah lelang khusus pasar gelap," ujar Liora dengan binar mata penuh kepintaran. "Hanya tamu-tamu terhormat dan pedagang kaya yang diizinkan masuk. Aku memiliki kartu undangan resmi sebagai tabib kehormatan kota. Kau akan masuk bersamaku dengan menyamar sebagai pengawal pribadiku."
Hiraisin memandangi topeng besi dan pakaian tempur hitam tersebut. Ia mengangguk pelan, menyetujui rencana taktis yang telah disusun rapi oleh wanita di hadapannya.
"Gani akan berada di atas panggung lelang untuk menyerahkan pusaka gurumu," bisik Liora, suaranya kembali melembut namun penuh penekanan. "Begitu lelang dimulai, kita akan mencari celah untuk merebut kembali Lencana Pimpinan dan mengeksekusi pengkhianat itu sebelum pasukan Vane sempat menyadari apa yang terjadi."
Hiraisin meraih topeng besi dingin itu dan memasangnya di wajahnya. Mata birunya berkilau tajam dari balik celah topeng.
"Kapan lelang itu dimulai?" tanya Hiraisin.
Liora melirik ke arah jam pasir kuno di atas mejanya yang menunjukkan butiran pasir terakhir baru saja jatuh.
"Lelang dimulai saat tengah malam tiba," jawab Liora seraya mengenakan kembali jubah keemasannya. "Dan tengah malam... baru saja tiba."
Keduanya melangkah keluar dari tempat persembunyian rahasia, menaiki tangga batu dan kembali menyusuri jalanan Kota Angin Kelam yang kini semakin gelap dan guram.
Langit di atas kota dipenuhi oleh awan hitam tebal tanpa sinar rembulan sedikit pun. Angin dingin berembus kencang, memutar-mutar lampion merah yang tergantung di sepanjang jalanan menuju pusat kota.
Di ujung jalan utama, bangunan megah lima tingkat Rumah Anggur Gagak Merah berdiri kokoh bagaikan raksasa hitam yang membisu. Cahaya obor berwarna merah menyala menyinari gerbang utamanya yang dijaga ketat oleh belasan prajurit berzirah besi hitam.
Hiraisin melangkah tepat di belakang Liora dengan tangan kanan bersiap di atas hulu pedang patahnya. Bajingan yang telah menghancurkan hidupnya dan membunuh gurunya berada tepat di dalam bangunan tersebut.
Malam pembalasan dendam pertamanya akhirnya dimulai.
Di depan pintu gerbang utama Rumah Anggur Gagak Merah, dua patung batu berbentuk burung gagak raksasa berdiri membisu dengan mata merah menyala dari pecahan batu permata. Sepasang penjaga berzirah besi kelam, dengan lambang cakar berdarah di dadanya, menatap tajam setiap tamu yang mendekat.
Liora melangkah anggun, menyibak sedikit jubah keemasannya untuk memamerkan sebuah pelat perak berukirkan bunga seroja—tanda kehormatan tabib tingkat tinggi di Kota Angin Kelam.
"Dua tempat di lantai VIP," ucap Liora dingin.
Penjaga bertubuh tinggi besar memeriksa pelat perak itu sejenak, lalu matanya beralih pada sosok Hiraisin yang berdiri membisu di belakang Liora. Hiraisin mengenakan pakaian kulit naga hitam dan topeng besi yang menutupi separuh wajah atasnya. Pedang patah berbungkus kain hitam di punggungnya tampak seperti senjata bekas biasa, tidak memancarkan pancaran energi murni sedikit pun.
Sebuah cermin batu hitam bertatahkan runa merah digantung di ambang pintu—Formasi Pelindung Runa Kegelapan. Saat Hiraisin melintas di bawah cermin tersebut, permukaan batu itu tetap membisu, tidak memancarkan kilatan peringatan sedikit pun. Pil Meredam Jiwa buatan Liora bekerja secara sempurna, mengunci rapat energi petir purba di dasar dantiannya.
"Silakan masuk, Nona Liora," ujar penjaga itu seraya membungkuk pelan dan mendorong pintu kayu ek tebal di hadapan mereka.
Begitu melangkah melewati gerbang, bau asap kemenyan beradu dengan aroma anggur manis dan wewangian mahal menyergap indra penciuman. Mereka melangkah turun menyusuri tangga melingkar berkarpet merah darah, menuju aula lelang bawah tanah yang dibangun membentang luas menyerupai amfiteater kuno.
Lantai dasar amfiteater dipenuhi oleh puluhan meja batu hitam yang ditempati para pendekar aliran hitam, ketua geng perompak, hingga pembunuh bayaran berwajah seram. Di lantai atas, balkon-balkon privat bertirai sutra tipis disediakan khusus untuk para pemimpin faksi besar dan pejabat korup yang ingin menyembunyikan identitas mereka.
Liora membimbing Hiraisin menuju sebuah alcove remang-remang di lantai dua, sudut yang terlindungi oleh bayangan pilar batu namun memiliki pandangan langsung ke arah panggung utama.
"Tetap tenang," bisik Liora pelan saat mereka duduk. "Aula ini dijaga oleh sekurang-kurangnya lima puluh pembunuh bayaran tingkat atas. Jangan bertindak sebelum Gani membawa keluar pusaka utamanya."
Hiraisin tidak menjawab. Mata birunya yang tersembunyi di balik topeng besi menatap lurus ke arah panggung kayu mahoni di tengah aula, tempat seorang juru lelang bertubuh gemuk sedang mengobral botol-botol pil pemulihan dan senjata bekas.
Suara ketukan palu kayu membentur meja menggema di seluruh ruangan, menandakan barang lelang berikutnya akan segera dipamerkan.
"Hadirin sekalian yang terhormat!" teriak juru lelang gemuk itu dengan suara nyaring melengking. "Kini kita sampai pada sesi paling dinantikan malam ini! Koleksi pusaka langka yang berhasil diambil langsung dari bekas wilayah Sekte Awan Putih!"
Sorak-sorai riuh rendah memenuhi aula. Beberapa pendekar aliran hitam bertepuk tangan tak sabar, sementara para ketua geng mengetukkan cangkir anggur mereka ke meja.
Dari balik tirai hitam di samping panggung, sosok yang sangat dikenali Hiraisin melangkah keluar dengan kepala terangkat tinggi.
Itu adalah Gani.
Pria itu tidak lagi mengenakan seragam putih bersahaja milik murid Sekte Awan Putih. Gani kini terbalut jubah sutra hijau zamrud berhiaskan benang emas, dipadukan dengan cincin-cincin permata yang menghiasi jemarinya. Wajah tampannya memancarkan senyuman culas dan rasa percaya diri yang berlebihan, merasa berada di puncak kejayaannya setelah menjual sektenya sendiri.
"Selamat malam, para Pendekar dan Tuan Tanah yang mulia," ucap Gani seraya memberi hormat secara berlebihan. "Malam ini, atas kebaikan Ketua Vane dari Sindikat Gagak Hitam, aku membawa harta karun terbaik yang selama belasan tahun disembunyikan oleh para tetua tua bangka dari Sekte Awan Putih!"
Dua pengawal berbadan tegap mengangkat sebuah kotak kayu hitam berukir menuju panggung. Gani menyibak kain penutupnya dengan gerakan dramatis.
Di dalam kotak tersebut, terbaring beberapa pedang pusaka berangka perak, gulungan kitab ilmu beladiri tingkat menengah, dan sebuah benda persegi dari batu giok hitam yang memancarkan aura dingin yang lembut.
Itu adalah Lencana Pimpinan milik almarhum Tetua Shan—simbol otoritas tertinggi sekte sekaligus kunci rahasia untuk membuka perbendaharaan pusaka tersembunyi di reruntuhan Lembah Awan Putih.
"Lihatlah ini!" pamer Gani seraya mengangkat Lencana Pimpinan tersebut tinggi-tinggi ke udara, membiarkan cahaya lampion memantul di permukaan gioknya yang mulus. "Lencana kuno milik si Tua Bangka Shan! Pria tua itu mati konyol mempertahankan batu ini, tidak menyadari bahwa di pasar gelap, batu ini bernilai ribuan keping emas murni!"
Gani tertawa terkekeh-kekeh, menyebarkan gelombang keheningan yang dipenuhi keserakahan di antara para pengunjung lelang.
Di balik bayangan balkon lantai dua, tubuh Hiraisin gemetar hebat. Rahangnya menegang keras hingga gigi-giginya bergelut berderit. Darah di dalam pembuluh darahnya mendadak membara, mendorong energi petir di dantiannya untuk meledak dan merobek pakaian kulit hitam yang dikenakannya.
Kata-kata hinaan Gani terhadap almarhum gurunya bagaikan sembilu yang menyayat dada Hiraisin. Duka dan dendam menyatu menjadi badai murka yang teramat sangat.
Czzz...
Percikan listrik tipis berwarna ungu keemasan nyaris menembus pori-pori kulit tangan Hiraisin. Sebelum energi itu meluap keluar dan memicu alaram formasi, jemari halus Liora menggenggam pergelangan tangan Hiraisin dengan erat.
"Tahan, Hiraisin!" bisik Liora tercekat, menatap mata Hiraisin dengan cemas. "Ingat rencanamu. Jangan biarkan kemarahan merusak fokusmu!"
Hiraisin menarik napas panjang secara perlahan, memandangi jemari Liora yang gemetar menahan getaran energi di tubuhnya. Ia memaksa dirinya menekan gejolak amarah itu kembali ke dasar dantian. Matanya kembali dingin, berkilat bagaikan mata pedang yang siap mencabut nyawa.
"Sesi penawaran untuk Lencana Pimpinan Sekte Awan Putih dimulai dari harga lima ratus keping emas murni!" teriak juru lelang gemuk seraya mengangkat palunya.
"Enam ratus keping emas!" teriak seorang pendekar berkepala botak di lantai dasar.
"Delapan ratus keping!" sahut ketua perompak di meja sebelah kanan.
"Satu ribu keping emas murni!" seorang pedagang kaya berjubahkan bulu musang menaikkan harga dengan senyuman lebar.
Gani berdiri di panggung dengan dada terbusung, menikmati sorakan angka-angka fantastis yang diperebutkan para tamu. Baginya, kematian rekan-rekannya dan kehancuran sektenya adalah harga yang sangat murah untuk kekayaan mendadak ini.
"Satu ribu keping emas dari Tuan Feng di lantai dasar! Apakah ada yang berani menawar lebih tinggi?" teriak juru lelang seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Satu ribu keping emas, satu... dua..."
"Sepuluh ribu keping emas."
Sebuah suara dingin, berat, dan bergema pelan memotong ucapan juru lelang tersebut. Suara itu tidak nyaring, namun memancarkan tekanan batin yang begitu tajam hingga mematikan kebingungan dan hiruk-pikuk di seluruh aula lelang dalam sekejap mata.
Seluruh pandangan mata di ruangan itu—mulai dari para pengawal sindikat, pedagang kaya, hingga juru lelang gemuk—sertamerta tertuju ke arah balkon remang-remang di lantai dua.
"Dan nyawa sang pengkhianat sebagai bonusnya."
Kalimat tambahan itu meluncur santai dari bibir sosok bertopeng besi yang berdiri perlahan di samping Liora.
Gani, yang tadinya tersenyum lebar di atas panggung, mendadak membeku kaku. Wajah tampannya pucat pasi dalam hitungan detik. Senyuman culas di bibirnya lenyap, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang mendalam.
Suara itu...
Getaran nada bicara yang berat, dingin, dan penuh dendam itu terasa tidak asing bagi Gani. Itu adalah suara dari bayangan masa lalu yang seharusnya sudah membusuk di bawah reruntuhan sekte.
"Kau..." cicit Gani dengan suara bergetar hebat, melangkah mundur satu tindak secara refleks hingga menabrak meja pameran. "Tidak... tidak mungkin... kau sudah mati..."
Hiraisin melepaskan genggaman tangan Liora. Ia melangkah keluar dari kegelapan bayangan balkon, berdiri tepat di bawah naungan cahaya lampion merah yang menerangi wajahnya yang tertutup topeng besi.
Tangan kanannya bergerak perlahan ke belakang punggungnya, mencengkeram hulu pedang patah yang terikat rapi.
"Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau curi, Kakak Berguru Senior," bisik Hiraisin.