Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Jangan Biasakan Gue dengan Lo
Abis Pensi itu, ada kebiasaan baru yang gak sengaja kebentuk.
Seokjin jadi sering nyariin Clara.
Bukan nyariin yang serem kayak dulu. Bukan yang nongol di depan kelas terus bikin satu kelas langsung diem.
Lebih ke... lewat.
Pagi-pagi, motor gedenya udah parkir di parkiran. Tapi dia gak langsung ke kelas 12. Dia malah lewat koridor kelas 11 dulu.
Ngeliatin dari jendela.
Kalau Clara udah datang, dia cuma angguk sedikit.
Kalau belum, dia lanjut jalan.
Jam istirahat, dia juga gak selalu nongkrong di kantin sama Suga dan yang lain. Kadang dia muncul di dekat stand tempat Clara biasa beli es teh.
Gak ngomong apa-apa.
Cuma beli air putih, berdiri sebentar, terus pergi.
Sore pas pulang, dia sering lewat taman belakang yang sekarang udah bersih.
Ngeliatin bangku kayu itu.
Kalau Clara ada di sana, dia duduk.
Kalau gak ada, dia pergi.
Anak-anak mulai hafal kebiasaan baru itu.
"Eh, Seokjin lewat lagi tuh."
"Nyari siapa, ya?"
Diana sama Safira malah menjadikan itu bahan ledekan hampir setiap hari.
"Ra, tukang lewat udah lewat tuh," kata Safira sambil nyenggol lengan Clara.
Clara pura-pura gak dengar.
Tapi setiap Seokjin lewat, pipinya selalu merah sedikit.
Awalnya Clara risih.
"Kak, jangan keseringan lewat depan kelas gue deh. Nanti digosipin lagi."
Seokjin malah santai.
"Gue lewat doang, bukan nungguin lo. Koridor kan umum."
Clara melotot.
"Alasan."
Seokjin cuma nyengir sebelum pergi.
Alasan yang sebenarnya gak masuk akal.
Tapi lama-lama Clara jadi terbiasa.
Malah...
Nungguin.
Kalau jam 7.15 Seokjin belum lewat, Clara mulai melirik jendela.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berkali-kali sampai Mutiara sadar.
Kalau jam istirahat dia gak melihat Seokjin di kantin, Clara mulai bertanya.
"Mut, liat Seokjin gak hari ini?"
Mutiara langsung nyengir.
"Lah? Katanya risih?"
Clara buru-buru membela diri.
"Enggak. Gue cuma nanya."
"Terus kenapa nanyanya ke gue?"
Clara terdiam.
"Mau balikin jepit cherry kemarin."
Mutiara menatapnya datar.
"Jepitnya udah dibalikin, Clara."
Clara langsung mengambil minum.
"Ya udah. Lupa."
Mutiara cuma geleng-geleng.
Sampai akhirnya hari Rabu datang.
Hari ketika Clara gak masuk sekolah.
---
Malam sebelumnya, Clara sebenarnya sudah merasa gak enak badan.
Pinggangnya sakit.
Bukan sakit biasa.
Nyut-nyutan sampai terasa ke bagian perut. Ditambah mual yang dari sore gak kunjung hilang.
Sekitar tengah malam, Clara muntah dua kali.
Nenek Kamila yang mendengar suara dari kamar langsung panik.
"Ra, kita ke rumah sakit sekarang."
Clara menggeleng lemah.
"Besok aja, Nek."
"Kamu pucet banget."
"Kalau besok masih sakit, Clara mau ke dokter."
Nenek sebenarnya gak setuju.
Tapi Clara terus memohon.
Akhirnya Nenek hanya membantu Clara kembali berbaring dan mengompres dahinya.
Pagi harinya, rasa sakit itu belum benar-benar hilang.
Clara bahkan susah bangun dari tempat tidur.
Tubuhnya lemas.
Wajahnya pucat.
Selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya meskipun udara pagi cukup hangat.
Nenek akhirnya mengizinkannya gak masuk sekolah.
Sebelum berangkat mengurus beberapa keperluan rumah, Nenek mengambil HP dan mengirim pesan ke Mutiara.
Nenek Kamila:
Mut, tolong bilangin Bu Lilis Clara izin ya. Dari semalem kurang enak badan.
Mutiara langsung membalas.
Mutiara:
Iya, Nek. Biar aku yang bilang.
Clara sendiri cuma bisa memejamkan mata.
Dia gak tahu kalau ketidakhadirannya bakal langsung disadari seseorang.
---
Jam 7.15.
Seokjin berjalan melewati koridor kelas 11 seperti biasa.
Langkahnya santai.
Matanya otomatis mencari satu orang.
Clara.
Tapi bangku Clara kosong.
Dia berhenti sebentar.
Melihat ke dalam kelas.
Tas Clara gak ada.
Seokjin melanjutkan langkah.
Tapi alisnya mulai berkerut.
Jam delapan, dia lewat lagi.
Kali ini alasannya memang mau ke toilet.
Setidaknya itu yang dia bilang ke dirinya sendiri.
Dia melirik lagi.
Masih kosong.
Saat istirahat, Seokjin akhirnya ke kantin.
Matanya langsung mencari stand tempat Clara biasanya beli es teh.
Kosong.
Dia melihat Mutiara yang sedang membeli gorengan.
"Mutiara."
Mutiara menoleh.
"Oh, Kak Seokjin."
"Clara mana?"
Mutiara sempat terdiam.
Dia tahu Seokjin perhatian sama Clara.
Tapi melihat cara cowok itu bertanya, Mutiara bisa menangkap ada kekhawatiran yang gak dibuat-buat.
"Clara izin. Sakit dari semalem."
Seokjin langsung mengernyit.
"Sakit apa?"
"Katanya demam."
Seokjin diam sebentar.
"Demam?"
"Iya."
Dia mengangguk pelan.
"Oh."
Cuma satu kata.
Tapi setelah itu dia balik ke meja Suga dan yang lain.
Makanannya gak disentuh.
Suga yang dari tadi memperhatikan akhirnya bertanya.
"Kenapa lo?"
Seokjin memainkan botol air di tangannya.
"Clara gak masuk."
Jhope langsung menoleh.
"Ya terus?"
"Gak ada."
"Lo khawatir?"
Seokjin gak menjawab.
Suga dan Jhope saling pandang.
Seharian itu Seokjin tetap beberapa kali lewat koridor kelas 11.
Padahal dia sendiri tahu Clara gak akan tiba-tiba muncul.
Tapi tetap saja dia lewat.
Seolah-olah kebiasaan itu sudah lebih kuat daripada logikanya.
---
Sepulang sekolah, Seokjin gak langsung pulang.
Dia mampir ke warung dekat gang rumah Clara.
Membeli roti dan susu kotak.
Setelah itu dia berjalan sampai depan gang.
Dia gak masuk.
Cuma berdiri di sana sambil melihat ke dalam.
Seolah sedang mempertimbangkan apakah dia harus datang atau tidak.
Tiba-tiba suara seseorang membuatnya menoleh.
"Seokjin?"
Seokjin langsung berdiri lebih tegak.
Nenek Kamila baru saja keluar untuk membuang sampah.
"Iya, Nek."
"Kamu temannya Clara?"
Seokjin mengangguk.
"Iya."
"Clara lagi tidur. Dari semalam badannya gak enak."
Wajah Seokjin langsung berubah khawatir.
"Masih sakit, Nek?"
"Masih lemas. Tapi tadi udah agak mendingan."
Seokjin mengangguk.
Dia mengulurkan plastik yang dibawanya.
"Ini buat Clara, Nek. Roti sama susu."
Nenek menerimanya.
"Kamu gak mau masuk?"
Seokjin menggeleng.
"Gak usah. Takut ganggu dia istirahat."
Nenek tersenyum kecil.
"Kamu baik juga, Jin."
Seokjin langsung salah tingkah.
"Gak apa-apa, Nek."
Dia pamit dan pergi.
Nenek memperhatikannya sampai cowok itu berbelok keluar gang.
---
Clara baru bangun sekitar jam lima sore.
Demamnya memang sudah turun sedikit, tapi tubuhnya masih terasa berat.
Nenek masuk membawa plastik kecil.
"Nih."
Clara melihat isinya.
Roti.
Susu kotak.
Keningnya berkerut.
"Ini dari siapa?"
Nenek duduk di tepi kasur.
"Seokjin."
Clara langsung bangun sedikit.
"Seokjin ke sini?"
"Iya. Tadi dia nunggu di depan gang."
Clara terdiam.
"Nunggu?"
"Iya. Tapi gak mau masuk. Katanya takut ganggu kamu."
Clara memegang bungkus roti itu.
Masih hangat.
"Dia bilang apa lagi?"
Nenek tertawa kecil.
"Gak banyak. Cuma mukanya khawatir banget."
Clara tersenyum.
"Lebay."
"Padahal kamu senyum."
Clara langsung menunduk.
Nenek mengusap rambutnya.
"Teman kamu baik ya."
Clara mengangguk pelan.
"Iya, Nek."
---
Malamnya, HP Clara bergetar.
Nama Seokjin muncul di layar.
Seokjin:
Udah mendingan?
Clara menatap pesan itu beberapa detik.
Entah kenapa, hanya satu kalimat sederhana bisa membuat dadanya terasa hangat.
Dia mengetik.
Clara:
Udah agak mendingan. Makasih roti sama susunya.
Balasan datang cepat.
Seokjin:
Iya. Jangan sakit terus.
Beberapa detik kemudian muncul pesan baru.
Seokjin:
Bangku taman kosong gak enak.
Clara langsung tersenyum.
Clara:
Emang siapa yang nyuruh nungguin di bangku?
Seokjin:
Gak ada yang nyuruh.
Seokjin:
Kebiasaan aja.
Clara menatap layar.
Jempolnya mengetik sesuatu.
Jangan biasain gue sama lo, Kak.
Dia berhenti.
Lalu mengirimnya.
Clara:
Jangan biasain gue sama lo deh, Kak.
Balasan Seokjin muncul.
Seokjin:
Kenapa?
Clara menggigit bibir.
Sebenarnya dia ingin mengetik:
Nanti gue kangen.
Tapi pesan itu langsung dia hapus.
Akhirnya dia mengetik sesuatu yang lebih aman.
Clara:
Takutnya gue jadi nungguin lo tiap hari.
Beberapa detik.
Lalu—
Seokjin:
Ya udah, biarin aja.
Seokjin:
Gue juga nungguin lo tiap hari kok.
Clara langsung meletakkan HP di dada.
Jantungnya berdetak cepat.
Lebih cepat dari tadi siang.
Dia menatap langit-langit kamar.
Tiba-tiba semuanya terasa jelas.
Dia memang sudah menunggu Seokjin.
Setiap pagi.
Jam 7.15.
Setiap istirahat.
Setiap pulang sekolah.
Dan hari ini, ketika dia gak masuk...
Seokjin mencarinya.
Bahkan sampai ke depan gang rumah.
Rasanya hangat.
Tapi justru karena itu, Clara takut.
Bukan lagi takut digosipin.
Bukan takut sama omongan anak sekolah.
Dia takut karena mulai suka.
Suka beneran.
Clara memejamkan mata.
Masalahnya, ada satu hal yang selalu menariknya kembali ke kenyataan.
Kondisi tubuhnya.
Beberapa waktu terakhir, hasil pemeriksaannya memang menunjukkan fungsi ginjalnya terus menurun. Dokter sebelumnya juga sudah mengingatkan bahwa kalau fungsi ginjalnya turun lebih jauh, Clara harus mulai mempersiapkan kemungkinan cuci darah.
Waktu itu Clara belum diberi keputusan pasti.
Belum ada jadwal.
Belum ada kepastian kapan.
Tapi peringatan itu sudah cukup membuat Clara takut.
Dan sekarang, setelah semua perhatian Seokjin masuk ke hidupnya, rasa takut itu terasa semakin nyata.
Gimana bisa dia memikirkan cinta kalau dirinya sendiri bahkan gak tahu apa yang akan terjadi beberapa bulan ke depan?
Clara mengambil diary biru dari bawah bantal.
Dia membuka halaman kosong.
Lalu menulis.
Hari ini gue gak masuk.
Gue kira gak ada yang bakal nyariin.
Ternyata Seokjin nyariin.
Sampai ke gang rumah. Bawain roti sama susu.
Gue jadi sadar, gue juga nungguin dia setiap hari.
Jam 7.15.
Jam istirahat.
Jam pulang.
Jangan biasain gue sama lo, Kak.
Gue ngomong gitu karena gue takut.
Kalau udah terbiasa, nanti kalau lo gak ada, gue bakal bingung.
Clara berhenti menulis.
Tangannya sedikit gemetar.
Dia melanjutkan.
Dan gue takut jatuh cinta.
Bukan karena gue gak mau.
Tapi karena gue gak tahu masa depan gue sendiri.
Dokter bilang kondisi ginjal gue harus terus dipantau. Kalau makin turun, gue harus siap menghadapi kemungkinan cuci darah.
Gue bahkan gak tahu hidup gue bakal berjalan seperti apa.
Jadi gimana gue bisa berani janjiin masa depan sama orang lain?
Clara menutup diary.
Dia mengambil roti dari Seokjin dan memeluknya sebentar.
Bukan karena rotinya istimewa.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang datang mencarinya tanpa diminta.
Di luar kamar, Nenek Kamila yang kebetulan lewat berhenti sebentar.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Nenek melihat Clara tersenyum sambil memegang roti itu.
Nenek hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Anak muda..."
---
Di rumah cat hijau nomor 12, Seokjin juga belum tidur.
Dia duduk di teras sambil melihat HP.
Chat terakhirnya belum dibalas.
Dia mengetik sesuatu.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Akhirnya dia mengirim.
Seokjin:
Istirahat yang bener.
Seokjin:
Besok gue tunggu di bangku taman.
Gak ada balasan.
Seokjin menaruh HP di sampingnya.
Matanya menatap langit malam.
Aneh.
Biasanya dia gak peduli kalau seseorang gak masuk sekolah.
Tapi hari ini berbeda.
Satu bangku kosong saja terasa mengganggu.
Satu kelas yang gak punya Clara terasa terlalu sepi.
Kalimat Clara tadi terus berputar di kepalanya.
Jangan biasain gue sama lo, Kak.
Seokjin tersenyum kecil.
"Telat, Ra."
Dia bersandar di kursi.
"Gue udah kebiasaan."