Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 — Pertemuan dengan Sang Pengkhianat
Kehadiran Dravos secara langsung mengubah seluruh dinamika situasi dalam sekejap.
Vesna segera mundur selangkah, menundukkan kepala hormat kepada tuannya, sementara Kael dan Seraphina berdiri berdampingan, mempersiapkan diri menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka hadapi bersama.
[Dravos — Klan Vampir Kuno.]
[Perkiraan kekuatan: Domain Realm tingkat tinggi, mendekati Saint Realm.]
Angka itu membuat Kael menahan napas. Kekuatan Dravos bahkan melampaui Sect Master Aldric yang pernah dia temui, jauh di luar jangkauan kemampuannya saat ini meski dengan seluruh kemajuan yang telah dia capai.
"Dravos," Seraphina berkata dengan suara dingin yang menyembunyikan gejolak emosi luar biasa di baliknya, "seribu tahun tidak mengubahmu sedikit pun. Masih sama pengecutnya seperti dulu, menyerang dari bayangan alih-alih menghadapi lawan secara terhormat."
"Pengecut?" Dravos tertawa, suaranya bergema dengan kekuatan yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.
"Aku menyebutnya kebijaksanaan strategis, sayangku. Sesuatu yang seharusnya kau pelajari alih-alih terus berpegang pada idealisme naifmu tentang koeksistensi damai."
"Jangan panggil aku sayang," Seraphina mendesis tajam, matanya berkilat dengan kemarahan seribu tahun yang akhirnya menemukan target langsungnya.
Dravos mengangkat tangannya dalam gestur damai palsu, senyumnya tidak pernah pudar.
"Baiklah, baiklah. Mari kita bicara seperti orang dewasa. Aku sebenarnya tidak berencana untuk bertarung hari ini—aku hanya ingin melihat langsung pemuda yang telah membuat begitu banyak kehebohan ini."
Matanya beralih ke arah Kael, menatapnya dengan intensitas yang membuat kulit Kael merinding meski dia berusaha keras mempertahankan ketenangannya.
"Darahmu benar-benar unik," Dravos berkata, melangkah maju perlahan meski Kael dan Seraphina langsung mengambil posisi bertahan.
"Aku bisa merasakannya bahkan dari jarak ini. Energi Primordial yang telah lama hilang dari dunia ini, entah bagaimana terkandung dalam tubuh sederhana seorang manusia."
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Kael bertanya, mencoba mengulur waktu sambil memikirkan strategi untuk situasi yang jelas berada di luar kendali mereka.
"Aku ingin apa yang seharusnya menjadi milikku," Dravos menjawab, nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan penuh ambisi yang tersembunyi.
"Ribuan tahun lalu, sebelum bahkan klan vampir ada, konon terdapat sebuah kekuatan primordial yang menjadi sumber dari segala kekuatan darah di dunia ini. Legenda mengatakan siapa pun yang berhasil membangkitkan kembali kekuatan itu akan menjadi entitas yang melampaui batasan ras dan realm."
"Dan kau pikir aku adalah kunci untuk kekuatan itu," Kael menyimpulkan, mulai memahami skala penuh dari ambisi yang dihadapinya.
"Aku tidak berpikir," Dravos menjawab dengan senyum penuh keyakinan, "aku tahu. Darahmu adalah bukti nyata bahwa Darah Primordial itu masih ada, tersembunyi dalam bentuk yang tidak terduga. Dengan bantuanmu, sukarela atau tidak, aku akan membangkitkan kekuatan itu sepenuhnya dan mengubah tatanan dunia ini selamanya."
"Aku tidak akan pernah membantumu," Kael berkata tegas, menghunus pedangnya dengan tekad yang jelas meski dia tahu kekuatan lawannya jauh melampaui kemampuannya saat ini.
Dravos hanya tertawa, tidak terkesan sedikit pun dengan penolakan itu.
"Kau berbicara seolah kau punya pilihan, bocah. Tapi aku bukan orang yang terburu-buru. Aku sudah menunggu seribu tahun; aku bisa menunggu sedikit lebih lama sampai kau siap, atau sampai aku menemukan cara lain untuk memperoleh apa yang kubutuhkan darimu."
Dia melirik ke arah Theron yang berdiri melindungi Lyanna di belakang, matanya berkilat dengan sesuatu yang menyerupai kepuasan dingin.
"Aku lihat kalian berhasil menyelamatkan gadis kecil itu. Baiklah, anggap saja ini sebagai hadiah dariku—bukti niat baik untuk pertemuan pertama kita yang beradab ini."
"Kau membiarkan kami pergi begitu saja?" Seraphina bertanya dengan curiga, tidak percaya dengan kemurahan hati yang tiba-tiba dan tidak biasa itu.
"Untuk sekarang," Dravos menjawab, senyumnya melebar dengan cara yang mengirimkan kengerian dingin ke seluruh tubuh mereka yang hadir.
"Aku lebih tertarik melihat bagaimana Kael akan berkembang lebih jauh sebelum aku mengambil langkah selanjutnya. Lagipula, kekuatan yang dipaksakan sebelum waktunya sering kali tidak stabil. Aku lebih suka menunggu sampai dia benar-benar siap."
Dia mundur beberapa langkah, memberikan sinyal kepada Vesna untuk menarik pasukannya. "Sampai jumpa lagi, Kael. Seraphina sayangku. Aku menantikan pertemuan kita berikutnya dengan penuh minat."
Dengan gerakan yang tampak seperti larut ke dalam bayangan itu sendiri, Dravos menghilang bersama Vesna dan sisa pasukannya, meninggalkan lorong penjara bawah tanah dalam keheningan yang mencekam.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak, semua orang masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.
"Kita harus pergi sekarang," Tetua Falken, yang baru saja tiba bersama Aria dan Tetua Miriel setelah gangguan mereka berhasil menarik sebagian besar penjaga benteng, akhirnya memecah keheningan itu.
"Sebelum dia berubah pikiran."
Mereka bergerak cepat, membawa Lyanna yang masih lemah namun sudah mulai pulih berkat perawatan darurat dari Tetua Miriel, keluar dari benteng melalui jalur yang sama yang mereka gunakan untuk masuk.
Sepanjang perjalanan keluar, pikiran Kael terus berputar memikirkan kata-kata Dravos—tentang Darah Primordial, tentang ambisi yang telah dia pupuk selama seribu tahun, dan tentang kenyataan pahit bahwa pertemuan hari ini bukanlah akhir dari ancaman itu, melainkan hanya awal dari konfrontasi yang jauh lebih besar yang menanti di masa depan.
Di sampingnya, Seraphina berjalan dengan wajah yang masih tegang, matanya menatap ke depan dengan tekad baru yang jelas terlihat—tekad untuk memastikan bahwa kali ini, mereka akan siap menghadapi Dravos dengan kekuatan yang cukup untuk benar-benar mengakhiri ancamannya selamanya.
Perjalanan kembali menuju Grandis terasa jauh berbeda dari perjalanan keberangkatan mereka sepuluh hari sebelumnya.
Meski misi penyelamatan Lyanna berhasil dengan selamat, pertemuan mengejutkan dengan Dravos telah meninggalkan bayangan berat yang menggelayuti pikiran setiap anggota tim.
Mereka bergerak lebih cepat dari perjalanan pergi, didorong oleh keinginan untuk segera kembali ke tempat yang lebih aman dan memberi laporan lengkap kepada para tetua senior sekte tentang apa yang telah mereka temui.
Lyanna, meski masih lemah dari tiga bulan penahanan, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan, terutama setelah Tetua Miriel memberikan perawatan intensif menggunakan ramuan penyembuhan yang mereka bawa.
Theron tidak pernah jauh dari sisinya, menjaga adiknya dengan kewaspadaan seorang kakak yang telah menunggu momen ini selama berbulan-bulan penuh kekhawatiran.
"Terima kasih," Lyanna berkata suatu malam kepada Kael dan Seraphina, ketika mereka beristirahat di sekitar api unggun kecil.
"Kakakku sudah menceritakan semua yang kalian lakukan untuknya, untuk kami berdua. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan ini."
"Kau tidak perlu membalas apa pun," Kael menjawab dengan senyum tulus.
"Melihatmu selamat dan bersama kakakmu lagi sudah lebih dari cukup."
Lyanna tersenyum lemah, matanya masih menunjukkan bekas trauma dari pengalaman mengerikan yang telah dia lalui, namun juga cahaya harapan yang mulai kembali menyala.
"Aku mendengar sedikit tentang pria yang datang itu—Dravos. Kakakku bilang dia sangat berbahaya."
"Dia memang berbahaya," Seraphina menjawab dengan nada serius, "tapi kau tidak perlu khawatir lagi sekarang. Kami akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau kakakmu lagi."
Percakapan itu berlanjut dengan lebih ringan seiring waktu, mencoba menciptakan suasana positif di tengah bayangan berat yang masih menggelayuti pikiran orang dewasa dalam kelompok itu.
Ketika Lyanna dan Theron akhirnya tertidur di dekat api unggun, Kael dan Seraphina menemukan momen untuk berbicara secara pribadi tentang apa yang sebenarnya mereka hadapi.
"Kekuatannya jauh melampaui yang kubayangkan," Kael berkata pelan, masih merasakan dinginnya ketakutan yang dia rasakan saat berhadapan langsung dengan Dravos.
"Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana cara mengalahkannya dengan kekuatanku saat ini."
"Kau tidak sendirian dalam hal ini," Seraphina menjawab, menggenggam tangannya dengan lembut.
"Kita akan mencari cara bersama. Mungkin ada petunjuk lain tentang Darah Primordial yang bisa membantu kita memahami kekuatan sebenarnya yang kau miliki, sekaligus cara untuk menghadapinya."
"Dia bilang dia akan menunggu sampai aku 'siap'," Kael mengulang kata-kata Dravos dengan nada khawatir.
"Apa maksudnya itu? Siap untuk apa?"
"Aku tidak tahu pasti," Seraphina mengakui, "tapi aku curiga dia ingin kekuatan Primordial dalam dirimu berkembang lebih jauh sebelum dia mencoba mengambilnya, mungkin karena mengambilnya sebelum waktunya bisa merusak atau bahkan menghancurkan kekuatan itu sepenuhnya."
Kael merenungkan kemungkinan itu, merasakan beban baru dari pemahaman bahwa pertumbuhannya sendiri, yang selama ini dia banggakan sebagai pencapaian pribadi, mungkin juga menjadi alat yang secara tidak langsung membantu ambisi Dravos.
"Kalau begitu aku harus menjadi lebih kuat lebih cepat dari yang dia perkirakan," Kael berkata dengan tekad baru yang jelas terdengar dalam suaranya.
"Cukup kuat untuk menghadapinya di persyaratanku sendiri, bukan menunggu sampai dia siap mengambil apa yang dia inginkan."
Seraphina menatapnya dengan campuran kekhawatiran dan kekaguman yang mendalam.
"Kau benar-benar tidak pernah berhenti mengejutkanku dengan tekadmu, Kael."
"Aku sudah mati sekali," Kael mengulangi filosofi yang telah menjadi prinsip hidupnya sejak awal perjalanannya di Elyndra.
"Aku tidak akan membiarkan seseorang seperti Dravos menentukan nasibku untuk kedua kalinya."
Mereka melanjutkan perjalanan selama beberapa hari lagi, dan akhirnya, pada hari kesembilan sejak meninggalkan benteng Dravos, mereka melihat siluet familiar tembok Grandis muncul di cakrawala, memberikan rasa lega yang mendalam kepada seluruh anggota tim.
Ketika mereka akhirnya tiba di gerbang kota dan disambut oleh Tetua Marcus yang telah menunggu dengan cemas sejak menerima kabar keberhasilan misi melalui burung pembawa pesan sihir, laporan lengkap tentang pertemuan dengan Dravos segera disampaikan kepada seluruh dewan tetua senior Heavenly Sword Sect.
Berita itu memicu kekhawatiran serius di kalangan kepemimpinan sekte.
Sect Master Aldric sendiri memanggil pertemuan darurat, menyadari bahwa ancaman yang mereka hadapi jauh lebih besar dari sekadar masalah internal sekte atau bahkan kerajaan tunggal—ini adalah ancaman yang berpotensi mempengaruhi seluruh Elyndra jika Dravos berhasil mencapai tujuannya.
"Kita perlu mempertimbangkan langkah selanjutnya dengan sangat hati-hati," Aldric berkata kepada Kael dalam pertemuan pribadi mereka setelah laporan resmi disampaikan.
"Kekuatan yang kau miliki, dan ambisi Dravos untuk mendapatkannya, bisa menjadi titik balik bagi seluruh dunia ini, untuk lebih baik atau lebih buruk."
"Apa yang Anda sarankan, Sect Master?" Kael bertanya, merasakan berat tanggung jawab yang terus bertambah di pundaknya.
Aldric terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati.
"Aku sarankan kau mulai mempersiapkan diri untuk perjalanan yang jauh lebih besar dari yang pernah kau bayangkan sebelumnya, Kael. Perjalanan untuk memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya kau miliki dalam dirimu, dan bagaimana cara menggunakannya untuk melindungi dunia ini, bukan menghancurkannya."
Kael mengangguk, merasakan tekad baru yang mengalir dalam dirinya, sementara di luar jendela ruang pertemuan itu, Grandis terus berdenyut dengan kehidupan yang tidak menyadari bayangan besar yang mulai membentang di cakrawala masa depan mereka, bayangan yang hanya bisa dilihat jelas oleh mereka yang telah berani menatap langsung ke mata sang pengkhianat kuno yang telah menunggu seribu tahun untuk momen kebangkitannya.