Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Keheningan Pasca Badai
Pagi hari di lantai 45 disambut oleh siraman cahaya matahari tipis yang menembus kaca raksasa. Keheningan yang menggantung di ruang tamu penthouse terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketakutan akan serangan mendadak Ibu Helen atau ancaman sabotase fisik Dion. Berita penangkapan dua mantan petinggi Dirgantara Group itu telah menjadi tajuk utama di seluruh surat kabar bisnis nasional sejak kemarin sore.
Dania berdiri di dekat meja bar dapur, menggenggam cangkir kopi hangatnya. Pandangannya tertuju pada surat kabar yang terhampar di meja: POLISI TAHAN DION DAN HELEN DIRGANTARA TERKAIT PENYALANAGUNAAN ASET DAN SABOTASE.
Suara langkah kaki yang teratur dan tegap memecah keheningan. Arvin melangkah keluar dari koridor timur. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, tanpa jas atau dasi formal. Wajah tegasnya tampak lebih segar dari biasanya, meski garis rahangnya tetap menyimpan aura keteguhan yang tak tergoyahkan.
Arvin berjalan mendekati meja bar, menyeduh cangkir kranbri hangatnya sendiri sebelum bersandar di sisi meja yang berseberangan dengan Dania.
"Rian baru saja memberi laporan sepuluh menit lalu," ujar Arvin, suara baritonnya yang berat memecah kesunyian. "Dewan komisaris baru saja menyelesaikan rapat darurat. Mereka secara penuh mengukuhkan pembekuan seluruh saham keluarga Ibu Helen dan menunjuk tim independen untuk merestrukturisasi manajemen."
Dania mengangguk pelan, menyesap kopinya. "Berarti... posisi Anda sebagai CEO tunggal dan pemegang hak suara utama sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, Tuan Arvin."
"Tidak ada lagi yang bisa memprotes amanat Kakek," jawab Arvin datar, matanya menatap tajam ke arah Dania. "Dan nama baik ayahmu, Hendra Kirana, sudah resmi dipulihkan dalam catatan sejarah perseroan. Tim hukum kita sedang menyiapkan siaran pers resmi untuk membersihkan reputasi beliau di publik."
Setetes keharuan yang halus merayapi sudut mata Dania. Selama belasan tahun, bayangan kehancuran karier ayahnya menjadi beban tersendiri di dalam dadanya. Kini, keadilan itu berdiri nyata di depan matanya.
"Terima kasih," bisik Dania tulus, menatap mata Arvin. "Untuk semuanya, Arvin."
Arvin diam sejenak, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan selama beberapa detik. Tatapan matanya yang pekat meneliti raut wajah Dania yang anggun. Ada sesuatu yang bergeser di udara di antara mereka—sebuah kenyataan yang tiba-tiba melintas di pikiran kedua orang yang sama-sama berpegang teguh pada logika ini.
Ancaman Dion telah musnah. Posisi Arvin di Dirgantara Group sudah mutlak aman. Kondisi kesehatan Rehan di rumah sakit sudah pulih total dan biaya medisnya terjamin penuh.
Alasan utama yang melandasi Pernikahan Rahasia 1 Tahun mereka... secara teknis telah terpenuhi dalam waktu kurang dari empat bulan.
Dania menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali fokus profesionalnya. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja bar dengan bunyi ketukan halus.
"Karena krisis utama kita sudah selesai," kata Dania dengan nada bicara yang ditata serasional mungkin, "bagaimana kita akan mengatur langkah selanjutnya terkait draf kesepakatan kita?"
Arvin menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya kembali mengeras dan kaku seperti benteng yang tak tertembus. "Langkah selanjutnya?"
"Poin perjanjian kontrak kita," jawab Dania tegas, menatap lurus ke dalam mata Arvin. "Ancaman dari dewan komisaris sudah hilang. Kita tidak perlu lagi bersandiwara atau saling membatasi gerak di rumah ini selama delapan bulan ke depan jika keberadaan saya di sini hanya akan membebanimu."
Arvin menggeser cangkir tehmya perlahan. Sebuah kilatan ketidaksukaan yang amat tipis melintas di matanya, sebelum dengan cepat digantikan oleh tatapan dingin khas sang CEO.
"Kamu berpikir untuk membatalkan kontrak ini lebih cepat, Dania?" tanya Arvin dengan suara rendah yang menekan.
"Saya hanya berpikir secara efisien, Tuan Arvin," balas Dania tanpa gentar. "Tujuan Anda mengamankan lima puluh satu persen saham sudah tercapai. Tujuan saya menyembuhkan Rehan dan membersihkan nama ayah saya juga sudah selesai. Bukankah mempertahankan status pernikahan rahasia ini tanpa adanya musuh bersama hanya akan membuang energi kita?"
Arvin mengikis jarak di antara mereka, melangkah satu pijakan mendekati meja bar hingga aura dominannya terasa mengurung Dania.
"Kamu lupa satu hal penting, Nyonya Dania," desis Arvin, menekankan kata 'Nyonya' dengan ketegasan yang kaku. "Klausul perwalian Kakek Wijaya mengikat status pernikahan kita selama dua belas bulan penuh secara hukum. Jika kita bercerai sebelum satu tahun... tim pengawas warisan independen berhak mengkaji ulang keabsahan pendaftaran saham lima puluh satu persen itu."
Dania tertegun, matanya menyipit menatap Arvin. "Apakah tim pengawas itu benar-benar akan melakukan audit secepat itu saat Ibu Helen dan Dion sudah dipenjara?"
"Di dunia bisnis, celah sekecil apa pun bisa dimanfaatkan oleh musuh baru," sahut Arvin dingin, alasan hukumnya meluncur dengan sangat lancar dari bibirnya—meski jauh di dalam dadanya, ada dorongan lain yang tak sanggup ia akui sendiri. "Kita sudah menyetujui aturan main di penthouse ini sejak hari pertama. Mengubah kesepakatan di tengah jalan adalah bentuk ketidakprofesionalan."
Dania menatap Arvin cukup lama, mencoba membaca apakah pria tegap di depannya ini murni berbicara demi kepatuhan hukum bisnis, atau karena ada alasan pribadi yang enggan diucapkannya. Namun, wajah kaku Arvin tetap rapat bagai topeng baja.
"Baik," sahut Dania akhirnya, menghembuskan napas pelan. "Jika bertahan di sini sampai masa satu tahun selesai adalah apa yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan hukum... saya akan menghormati kontrak itu sampai hari terakhir."
Arvin mengangguk pendek, kepuasan kaku terpancar dari garis bibirnya. "Keputusan yang bijaksana."
Tiba-tiba, suara bel interkom pintu depan berdering nyaring.
Arvin dan Dania seketika menoleh. Arvin melangkah menuju layar monitor di samping pintu. Begitu layar menyala, Rian terlihat berdiri di luar bersama seorang pria tua berambut putih yang mengenakan setelan jas sangat formal—Tuan Sanjaya, ketua tim pengawas warisan peninggalan Almarhum Kakek Wijaya.
Arvin menghentikan gerakannya sejenak, lalu menoleh menatap Dania.
"Sepertinya tim pengawas warisan benar-benar datang untuk melakukan verifikasi berkala pertama mereka," kata Arvin pelan.
Dania merapikan kardigan yang dikenakannya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada mereka betapa sempurnanya pernikahan rahasia kita, Tuan CEO."
Arvin menatap Dania sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dalam sebuah senyuman langka yang sangat tegas. Tanpa kata-kata, ia menekan tombol buka otomatis pintu depan.