NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Kiss

**

Reyhan terdiam sendiri merenung di dalam kamar rawatnya karena kebetulan dua pasien di sebelah sudah pulang sejak tadi pagi. Sejak dia sadar, dia sudah 4 hari berada di rumah sakit ini. Jika ditotal keseluruhan, mungkin dia sudah 11 hari berada di sini.

Banyak hal yang dipikirkannya saat berada di rumah sakit. Dia bukan orang kaya yang bisa berleha-leha seenaknya seperti ini. Dia tidak bekerja, otomatis dia tidak mempunyai uang untuk makan. Kemarin dapat uang banyak, malah dipakai untuk biaya rumah sakitnya. Memang sial sekali hidupnya.

Masalahnya, sekarang sudah ada seseorang yang hidupnya harus ia tanggung jawab. Bukan hanya soal memikirkan soal isi perut dia saja, tapi isi perut Ayana juga. Untuk masalah pekerjaan setelah sembuh, dia memang tidak perlu khawatir karena pihak minimarket tahu keadaanya dan menyuruh Reyhan kembali jika sudah sembuh tapi soal gaji tetap akan dipotong dari pusat.

"Dia kemana coba?"

Semenjak insiden ciuman itu, Reyhan merasa Ayana seperti tengah menghindarinya. Kejadian itu memang terjadi spontan waktu itu, tapi itu hanya ciuman dan seharusnya tidak masalah bukan? Lagipula, mereka juga sudah menikah. Tidak mungkin, di zaman sekarang dengan seusia Ayana, dia belum pernah berciuman?

Orangtuanya juga sedang dalam fase marah kepadanya. Wajar, siapa juga orangtua yang tidak syok saat mendengar anaknya sudah menikah dan tidak memberitahu mereka? Tapi itu bukan mau dia. Reyhan bahkan belum sempat menjelaskan karena waktu itu mereka buru-buru pergi dan tidak kembali lagi ke rumah sakit sampai sekarang.

Jujur, dia sangat merasa bersalah. Setelah sembuh, Reyhan harus segera menemui orangtuanya untuk menjelaskan semuanya dan juga harus meminta restu yang sangat terlambat ini.

Reyhan spontan duduk, kemudian meringis lupa jika perutnya masih sakit. Untung dia lelaki, jika wanita  mungkin dia sudah melahirkan jika terus ditendang dengan brutal seperti itu.

"Gak ada angin, gak ada hujan, tiba-tiba dipukul orang. Siapa sih, mereka? Masa wajah ganteng gue ini mirip samsak?"

Kemarin Bara dan teman-temannya datang untuk menengok Reyhan, mereka juga meminta maaf atas insiden itu. Mereka sudah menyelidiki dan dalangnya memang orang-orang yang merasa sakit hati karena dia menang. Lebih tepatnya, memang musuh mereka juga tapi mereka juga tidak bisa melaporkan insiden ini kepada polisi karena siapapun tahu bahwa balapan waktu itu adalah ilegal.

Kampretnya Bara, masih sempat-sempatnya bilang jangan kapok dan nanti ikut bertanding lagi. Semenjak kedatangan Bara itu, akhirnya Ayana tahu jika Reyhan ikutan balap untuk mendapatkan uang yang sayangnya uang 20 juta itu dipakai untuk pengobatannya. Jadi balapan waktu itu tidak ada gunanya, masih beruntung dia masih hidup.

"Untung, mereka masih bantu biaya berobat."

Walau tidak sebanyak uang 20 juta, Bara memberikan uang kompensasi katanya. Uang itu dia berikan ke Ayana untuk biaya sehari-hari mereka. Apalagi walau sudah keluar rumah sakit, Reyhan masih belum bisa bekerja.

Seharusnya dia bisa pindah kosan, memang uang itu rencananya mau dia gunakan untuk menyewa kosan yang lebih besar dan dibayar satu tahun. Setiap mengingat uang itu rasanya dia mau menangis. Seharusnya, uang itu bisa berguna untuk kehidupannya dengan Ayana.

Reyhan juga merasa bersalah karena kata Bima, dia juga menggunakan uang tabungan Ayana untuk tambahan biaya rumah sakit. Dia harus menggantinya suatu hari nanti.

"Sekali miskin, tetap miskin. Ada aja gangguannya, setiap pegang duit gede."

"20 juta gue melayang buat kasih nafkah rumah sakit, sialan!"

Ceklek

Suara pintu yang terbuka menyadarkan Reyhan dari lamunan nelangsanya.

Reyhan tersenyum tipis, saat melihat Ayana yang menghilang seperti kura-kura ninja itu akhirnya muncul juga. Dia melirik jam di dinding yang menunjukan sudah tengah hari, dimana sudah waktunya untuk dia makan dan minum obat.

Ayana memang datang membawa nampan makanan yang biasanya diantarkan oleh petugas. Entah kenapa jadi gadis itu yang membawanya. Biasanya, gadis itu hanya datang pas ada pemeriksaan dokter saja atau pada saat Reyhan setelah makan untuk memastikan Reyhan meminum obat. Setelah itu, gadis itu menghilang entah berada dimana. Dia baru muncul pada saat waktu tidur, itu saja langsung tidur tidak ada percakapan apapun diantara mereka.

"Waktunya makan!" teriak Reyhan seperti anak kecil, berharap Ayana merespon tapi gadis itu hanya duduk tenang di kursi sembari bermain ponsel. Malah, kursinya digeser agak jauh dari Reyhan.

Reyhan tersenyum tipis, bagaimana melihat sikap Ayana yang memang terang-terangan terlihat menghindarinya. Bahkan sekedar untuk kontak mata saja, Ayana terlihat tidak berani melihat ke arah matanya.

"Kamu kenapa?" tanya Reyhan setelah menyelesaikan suapan kelimanya. Dia memang belum berselera makan.

"Aku, kenapa?" tanya balik Ayana yang sudah mulai menyiapkan obatnya. "Ini diminum dulu!"

Tuhkan, Ayana terlihat sangat menghindar kontak mata dengannya.

"Kita perlu ngobrol." Reyhan mengambil obat dari Ayana, tapi dia juga memegang lengannya. "Tunggu aku minum obat, jangan kabur!"

Reyhan buru-buru meminum obatnya, tidak lepaskan pegangan tangannya dari lengan Ayana.

"Lepas, Rey!"

"Kamu ngomong sama siapa? Kalau ngomong sama orang tatap matanya?"

Ayana terlihat gelisah. "Apaan sih, gak jelas?"

Reyhan tersenyum tipis. "Kamu malu karena ciuman kemarin? Biasanya kalau abis dicium malu-malu gitu, biasanya suka ada rasa. Kamu udah mulai jatuh cinta yah, sama aku?"

Akhirnya Ayana menatap Reyhan, walau dengan tatapan tajam. "Enggak! Jangan geer, siapa yang malu? Siapa yang jatuh cinta?"

Wajah Ayana terlihat memerah, Reyhan yang melihatnya terkekeh. Rasanya dia ingin mencubit kedua pipi yang merah itu, lucu sekali.

"Terus kenapa, hah? Kenapa tiba-tiba menghindar dari aku?" tanya Reyhan masih berniat menggoda, berusaha tidak tertawa saat melihat wajah Ayana yang terlihat semakin gelagapan.

"Gak papa, biasa aja. Gak ada yang menghindari kamu." Ayana berusaha menatap wajah Reyhan. "Terus, kamu kenapa coba jadi manggil 'aku-kamu', gitu?"

"Gak papanya cewek, biasanya ada apa-apanya sih," cibir Reyhan yang jelas masih bisa didengar oleh Ayana. "Aku lagi ngebiasain manggil gitu, karena emang seharusnya manggil gitu. Kita udah nikah. Gak lucu kan, di depan orang-orang malah manggil 'gue-lo'. Apa kata mereka nantinya coba."

"Kata mereka, apa kata Bella mantan kamu yang cantik itu?"

Seketika Reyhan langsung merinding, saat mengingat mantannya yang freak itu, kemudian dia tersenyum saat melihat Ayana. "Kenapa cemburu yah, sama mantan aku yang cantik itu?"

"Ini masih Reyhan yang aku kenal, kan?" tanya Ayana yang langsung diangguki oleh lelaki itu. "Kamu gak lupa ingatan kaya di drama-drama itu, kan? Atau kamu geger otak yang membuat otak kamu jadi bermasalah?"

Seketika, Reyhan langsung tertawa. "Aku masih sehat ini. Jangan kebanyakan nonton drama aneh makanya."

Ayana mendengus. "Kalau masih sehat, kenapa ngomongnya geli gitu? Sejak kapan, hubungan kita ada di fase saling cemburu gitu? Gak inget, hubungan kita itu selalu ada dalam tahap adu bacot gitu."

"Siapa tahu kan, tiba-tiba kamu jatuh cinta ke aku. Kan ak--"

"Geli banget. Siapa yang akan jatuh cinta ke kamu?" Ayana buru-buru memasukan dua potong apel yang barusan dia kupas ke mulut Reyhan.

"Bilang-bilang dong, kalau mau masukin makanan! Pakai aba-aba, kek! Gimana kalau aku keselek terus meninggal?" Reyhan hampir saja terbatuk-batuk, jika tidak buru-buru mengunyah terus menelan makanannya. Untung saja dia masih selamat.

Ayana malah tertawa melihat Reyhan yang hampir keselek. "Tinggal aku kubur aja. Makanya, kalau ngomong jangan asal."

"Dasar durjana, Kau!"

"Berisik! Ayo abisin apelnya, lumayan gratis terus biar cepat sembuh dan pulang."

Reyhan hanya mendengus, kemudian pasrah saja saat Ayana terus menyuapi apel. Tumben-tumbenan dia mau suapi Reyhan. Terjadi keheningan diantara mereka berdua, sampai Reyhan benar-benar sudah menghabiskan apelnya.

Reyhan kemudian menyandarkan tubuhnya ke tiang ranjang sambil memegangi perutnya. "Gak kenyang."

"Apa?"

"Makanan rumah sakit tadi gak bikin kenyang, terus gak enak juga hambar kaya isi dompetku ini," balas Reyhan nelangsa.

Ayana malah tertawa. "Ya udah, besok aku beliin makanan di luar, mau?"

Reyhan langsung mengangguk antusias. "Mau lah, tapi awas ketahuan para perawat. Eh iya, ada yang mau aku omongin sama kamu."

Wajah Reyhan menjadi serius, membuat Ayana ikut menjadi serius juga. Jarang memang melihat lelaki ini bisa terlihat serius. Pasti ini sangat penting.

"Sorry ... waktu itu, aku cium kamu tanpa izin. Setelah dipikir-pikir lagi, walau kita sudah menikah tetap aja gak seharusnya cium kamu tanpa se-izin kamu dulu. Semuanya tetap  harus persetujuannya berdua untuk apapun itu dalam pernikahan."

Ayana kembali menunduk, tidak berani menatap Reyhan lagi. "Makasih udah minta maaf, karena bagi aku sebuah ciuman itu penting banget. Apalagi, itu ... menyangkut tentang ... first Kiss."

"First Kiss, hah?" Reyhan bertanya tidak percaya, namun Ayana mengangguk seolah memang membenarkan. "Ya Tuhan, kamu beneran belum pernah ciuman? Kalau gitu, emmm .... maaf lagi karena aku udah kasih kesan ciuman pertama yang buruk. Aku tahu, kesan ciuman pertama yang indah itu penting banget buat cewek."

Ayana kembali mengangguk. "Aku dulu sempat bayangin bisa ngerasain ciuman pertama di momen indah kaya di drakor. Tapi udah lah, gak usah dibahas lagi. Ngapain juga coba bahas gituan?"

Reyhan jadi merasa bersalah, merusak momen indah gadis itu. Dia tersenyum tipis, saat melihat rona merah di pipi Ayana lagi. "Malu yah, bahas gituan?"

"Malu, siapa yang malu?" Ayana balik bertanya dengan nada ngegas.

Reyhan tersenyum tipis. "Mau coba lagi gak? Kali ini aku pastikan bakal jadi ciuman yang indah. Anggap yang kemarin gak ada. Kita buat momen baru ciuman yang indah yang gak bakal kamu lupain. Mau gak?"

"Apaan, sih? Jangan aneh-aneh deh." Ayana terlihat sangat malu. "Aku ke luar yah, mau cari angin."

"Tunggu!" Reyhan menarik tangan Ayana. Gadis itu oleng karena belum siap sampai akan jatuh tapi beruntung Reyhan menahannya.

"Lepas sih, posisinya gak enak."

Ayana setengah berdiri, tapi Reyhan menahannya. Jujur, Ayana sangat malu dengan posisinya.

"Eh? Mau ngapain?"

Reyhan sudah membawa Ayana hingga dia duduk di pangkuan cowok itu. "Jangan gini, nanti ada yang datang!"

"Gak bakal." Reyhan menggeleng, melingkarkan sebelah tangannya yang tanpa infus memeluk Ayana. "Jam segini gak bakal ada yang datang."

"Mau ngapain kamu?" Ayana kaget  saat tiba-tiba merasakan Reyhan menciumi lehernya.

"Aku cuman mau kasih ciuman pertama yang indah." Bibir Reyhan terus menyusuri leher Ayana, sehingga membuat gadis itu merinding.

"Rey?" Ayana tanpa sadar menyebutkan nama lelaki itu dengan napas yang mulai tidak teratur.

"Apa?" Ciuman Reyhan sudah naik ke dagu Ayana, perlahan menciumi pipi Ayana.

Ayana mati-matian menahan desahan aneh yang mau keluar. Kenapa sih, dia menjadi tidak berkutik begini? Harusnya kan, saat ini dia mendorong Reyhan terus menampar lelaki itu. Tapi anehnya, tubuhnya menikmati apa yang Reyhan lakukan.

Reyhan menarik pipi Ayana supaya melihat ke arahnya, tinggal satu jengkal lagi bibir mereka bisa bertemu. Ayana menelan ludah gugup, entah kenapa tatapan Reyhan terlihat berbeda. Seolah dia baru mengenal sosok Reyhan yang seperti ini.

"Ayo kita bermain!"

Setelah mengatakan itu, Reyhan menyatukan bibir mereka. Kembali mencium bibir gadis itu dengan cara yang lebih benar. Reyhan tersenyum, saat melihat Ayana memejamkan mata seolah mengizinkan apapun yang akan Reyhan lakukan.

Reyhan ikut memejamkan matanya,  semakin menekan kepala gadis itu. Sebelah tangannya yang masih diinfus memeluk pinggang Ayana, dia meringis karena merasa sakit.

Ini, manis. Gue suka.

Padahal ini bukan ciuman pertama dia, beberapa kali dia sering melakukan hal ini dengan mantan-mantan pacarnya. Tapi ini pertama kalinya, dia mencium seorang gadis yang halal untuknya, tidak ada dosa saat melakukan ini.

Reyhan menahan diri untuk tidak terburu-buru, berusaha memberikan ciuman pertama yang indah bagi gadis itu. Bibir yang selama ini terlihat menggoda, sekarang bisa dia lumati sepuasnya.

Waras Rey, lo manusia bukan binatang.

"Rey," panggil Ayana di tengah-tengah ciuman mereka.

Reyhan semakin pusing, semua kepalanya terasa pusing. Reyhan berusaha melumati bibir Ayana, sekuat tenaga tidak menggigit bibir gadis itu dan mengajak Ayana bermain lidah. Tidak ada ciuman pertama yang sebrutal itu, Reyhan mau Ayana bisa mengenang ciuman pertama yang indah.

"Rey, mau napas." Ayana seperti kesusahan berbicara, saat bibirnya terus dilumati cowok itu.

Walau tak rela, Reyhan menjauhkan bibirnya dengan kening mereka yang masih menyatu. Gadis itu kehabisan napas, ingat dia manusia bukan binatang.

"Gimana, suka?"

Ayana tersenyum malu, tidak berani melihat mata Reyhan. Saat akan menjauh, Reyhan menahan kepalanya. Dia tidak mau berbicara, karena saat tadi Reyhan berbicara ujung bibir mereka masih bertemu.

"Gak suka?"

Ayana melihat Reyhan, tatapan lelaki itu membuat Ayana merinding. "Su--ka."

Reyhan tersenyum. "Manis, aku juga suka."

"Apaan sih?" Ayana kembali menunduk malu.

Reyhan menarik dagu Ayana agar kembali mendongak. "Gimana, kalau estafet langsung ke adegan ciuman kedua?"

"Ap--pa?"

Reyhan kembali mencium Ayana. Kali ini dia tidak menahan diri, apalagi setelah melihat Ayana memejamkan matanya. Reyhan kembali melumati bibir Ayana, menyesapnya seolah dia ingin menghabiskannya saat ini. Setelah puas, Reyhan mengigit bibir Ayana, membuat gadis itu meringis membuka mulutnya.

"Rey ...."

Tanpa membuang waktu, Reyhan memasukan lidahnya ke mulutnya mengajak gadis itu untuk bermain lidah bersamanya.

"Aw!

Mungkin karena terlalu semangat, Reyhan lupa kalau tangannya sedang diinfus.

"Ke--na--pa?" tanya Ayana disela ciuman mereka.

"Its ok, gak papa."

Reyhan kembali mengajak lidah Ayana bermain, sampai akhirnya gadis itu yang dari awalnya ragu akhirnya bisa bermain lidah dengannya.

Fuck! Sialan! Ini nikmat. Gue bisa gila!

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!