NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Ruangan Presidential Suite di lantai teratas Hotel Grand Cakrawala benar-benar luar biasa luas.

Bima berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan seluruh penjuru kota dari ketinggian.

Pemandangan kota pada hari Sabtu sore terlihat sangat indah dengan warna langit kemerahan.

"Punya uang triliunan rupiah ternyata memang bisa membeli kebahagiaan dan pemandangan sebagus ini," ucap Bima dalam hati dengan perasaan puas.

"Orang-orang yang bilang uang tidak bisa membeli kebahagian sepertinya mereka tidak punya uang yang cukup banyak untuk membelinya... Jadi mereka bilang begitu, coba kalau punya... Ya bis, hahaha"

Dia berjalan menuju sofa kulit asli yang berada di tengah ruangan dan merebahkan tubuhnya di sana.

Setelah membereskan hama parasit di jajaran manajemen pagi tadi, Bima bebas menikmati fasilitas hotelnya.

Dia mengambil ponselnya dari atas meja kaca dan membuka aplikasi pesan singkat.

Jari-jarinya mengetik sebuah pesan pendek yang ditujukan kepada Nadhira.

"Bu CEO, mau makan malam di restoran rooftop Hotel Grand Cakrawala malam ini? Aku yang traktir."

Bima menekan tombol kirim dan meletakkan kembali ponselnya dengan santai.

Tidak sampai satu menit, layar ponselnya menyala menampilkan balasan dari Nadhira.

"Kamu sedang merayakan pekerjaan barumu sebagai sopir taksi online ya sampai berani mentraktirku di hotel semahal itu?" balas Nadhira.

Bima tertawa pelan membaca balasan yang masih kental dengan nada gengsi tersebut.

"Anggap saja aku sedang merayakan rezeki nomplok, jadi kamu mau datang jam tujuh malam atau tidak?" ketik Bima membalas pesan itu.

"Baiklah, kebetulan aku sedang malas memasak di apartemen, aku akan datang jam tujuh tepat," balas Nadhira akhirnya.

Bima meletakkan ponselnya lalu beranjak menuju kamar mandi mewah yang dilengkapi dengan fasilitas spa.

Dia harus membersihkan diri dan bersiap untuk menyambut tamu VIP spesialnya malam ini.

Tepat pukul tujuh malam, sebuah sedan mewah milik Nadhira yang baru selesai dari bengkel tiba di lobi utama hotel.

Nadhira turun dari mobilnya mengenakan gaun malam berwarna hitam yang sangat elegan.

Penampilannya yang sempurna langsung menarik perhatian banyak orang di lobi hotel tersebut.

Namun sebelum Nadhira sempat melangkah jauh, Frans sang General Manager sudah berlari kecil menghampirinya.

"Selamat malam, Bu Nadhira, sebuah kehormatan bisa menyambut Anda di hotel kami," sapa Frans dengan sangat hormat.

Nadhira sedikit terkejut karena dia tidak merasa membuat reservasi atas nama perusahaannya.

"Selamat malam, Pak Frans, Anda tidak perlu repot-repot menyambut saya," balas Nadhira sopan.

"Tentu saja saya harus menyambut Anda, Bu."

Frans tersenyum ramah dan memberikan isyarat dengan tangannya ke arah lift eksekutif.

"Tuan Bima sudah berpesan kepada saya untuk mengantar Anda langsung ke restoran rooftop VVIP kami."

Langkah Nadhira mendadak terhenti, matanya menatap Frans dengan penuh kebingungan.

"Tuan Bima? Maksud Anda Bima Aditama?" tanya Nadhira memastikan pendengarannya tidak salah.

"Benar sekali, Bu Nadhira, Tuan Bima sedang menunggu Anda di atas."

Nadhira menelan ludah dengan susah payah sambil mengikuti langkah Frans menuju lift.

Pikirannya dipenuhi tanda tanya besar tentang identitas Bima yang sebenarnya.

Seorang pengemudi taksi online tidak mungkin bisa menyuruh General Manager hotel bintang lima untuk menjadi penjemput tamu di lobi.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas hotel, menampilkan restoran mewah yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca.

Restoran itu biasanya dipenuhi oleh para pejabat dan pengusaha, namun malam ini tempat itu benar-benar kosong.

Hanya ada satu meja yang disiapkan di bagian paling tengah ruangan dengan pemandangan kota terbaik.

Di kursi meja tersebut, Bima sedang duduk santai mengenakan kemeja hitam polos berlengan panjang yang lengannya digulung hingga siku.

Penampilannya sangat sederhana namun memancarkan karisma dan kepercayaan diri yang luar biasa kuat.

Nadhira melangkah mendekati meja itu dengan detak jantung yang sedikit berpacu lebih cepat.

Bima berdiri dan menarik kursi untuk Nadhira dengan gerakan yang sangat natural.

"Selamat malam, Bu Nadhira, silakan duduk," sapa Bima dengan senyum menggoda.

Nadhira duduk dengan anggun lalu menatap Bima dengan pandangan yang menuntut penjelasan.

"Kamu menyewa satu restoran penuh hanya untuk makan malam kita berdua?" tanya Nadhira tidak percaya.

Biaya untuk menyewa seluruh restoran VVIP ini di akhir pekan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Aku tidak menyewanya," jawab Bima santai sambil kembali ke tempat duduknya.

"Lalu kenapa tempat ini kosong dan Pak Frans bersikap sangat hormat padamu?" selidik Nadhira tidak mau mengalah.

Bima mengambil gelas air putih di depannya dan meminumnya perlahan sebelum menjawab.

"Karena aku bilang pada Frans kalau aku ingin makan malam dengan tenang malam ini."

"Dan sebagai pemilik baru hotel ini, kurasa wajar kalau dia menuruti permintaanku."

Pernyataan santai itu meluncur begitu saja dari mulut Bima layaknya sedang membicarakan cuaca.

Namun bagi Nadhira, kalimat itu terdengar seperti bom yang meledak tepat di telinganya.

"Pemilik baru?"

Suara Nadhira terdengar sedikit bergetar karena terkejut.

"Hotel ini baru saja dibeli seharga triliunan rupiah oleh seorang miliarder misterius pagi ini, dan kamu bilang itu kamu?"

Bima menganggukkan kepalanya pelan dengan wajah polos tanpa dosa.

"Begitulah kenyataannya, sepertinya nasibku setelah dipecat dari perusahaanmu lumayan bagus."

Nadhira memijat pelipisnya perlahan, berusaha mencerna semua informasi gila yang dia terima dalam beberapa hari terakhir.

Pria yang dulu hanya menjadi bawahan divisi penjualannya kini adalah seorang triliuner yang jauh lebih kaya dari dirinya.

"Kamu benar-benar pandai menyembunyikan identitasmu, Bima," ucap Nadhira dengan nada sedikit kesal namun kagum.

"Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun, kamu saja yang tidak pernah bertanya," goda Bima sambil mengedipkan sebelah matanya.

Wajah Nadhira sedikit merona merah melihat godaan yang sangat berani dari Bima tersebut.

Selama ini semua pria selalu bersikap kaku dan penuh perhitungan saat berhadapan dengannya.

Hanya Bima yang bisa membuatnya merasa seperti wanita biasa yang sedang diajak berkencan.

"Jadi, Tuan Pemilik Hotel, makanan apa yang akan kau hidangkan malam ini untuk menebus kebohonganmu?" tantang Nadhira mengalihkan pembicaraan.

Bima menjentikkan jarinya ke udara.

Ctek.

Beberapa pelayan berseragam rapi langsung keluar dari dapur membawa berbagai macam hidangan mewah kelas dunia.

"Malam ini kita makan santai saja, tidak perlu membicarakan bisnis atau hal-berat lainnya," ucap Bima lembut.

Makan malam itu pun berjalan dengan sangat hangat dan dipenuhi oleh tawa kecil dari Nadhira.

Bima sangat pintar membawa suasana dengan lelucon-lelucon cerdasnya yang tidak berlebihan.

Nadhira merasa beban berat di pundaknya sebagai seorang CEO luntur seketika saat berada di dekat pria ini.

Akhir pekan itu berlalu dengan sangat cepat dan menyenangkan bagi Bima.

Hari Minggu malam, Bima sudah kembali berada di kamar Presidential Suite-nya untuk bersantai.

Dia berbaring di atas ranjang raksasa yang sangat empuk sambil menonton televisi.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, hanya tersisa satu jam sebelum hari berganti menjadi Senin.

Ding.

Suara mekanis yang sangat familiar tiba-tiba bergema di dalam kepala Bima.

Layar holografik biru yang menyala terang muncul melayang tepat di depan wajahnya.

[Sistem Pekerjaan Impian: Pengumuman Tugas Baru]

[Masa libur akhir pekan telah selesai]

Bima langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk bersandar di kepala ranjang.

"Tugas baru sudah datang ya, mari kita lihat pekerjaan aneh apa lagi yang harus kulakukan kali ini," gumam Bima penuh antisipasi.

Teks putih di layar biru itu terus bergulir menampilkan detail pekerjaan untuk minggu kedua.

[Sistem telah memilihkan profesi yang cocok untuk menguji kesabaran dan pengetahuan Host]

[Profesi: Dosen Pengganti Universitas]

[Durasi: 5 Hari Kerja]

[Target: Dapatkan rasa hormat dan nilai kelulusan sempurna dari kelas paling bermasalah di Fakultas Bisnis]

Bima membaca barisan teks itu dengan kening yang berkerut dalam.

"Dosen pengganti? Di fakultas bisnis?" ulang Bima nyaris tidak percaya.

Ini adalah pekerjaan yang sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari pengemudi taksi online.

Menghadapi penumpang sombong di jalanan tentu jauh lebih mudah daripada harus menghadapi puluhan mahasiswa yang bermasalah.

[Hadiah Pemula untuk profesi ini sedang didistribusikan ke dalam inventaris Host]

Bima merasakan sesuatu muncul di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.

Dia mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah kartu identitas dosen dengan namanya tercetak jelas di sana.

"Universitas Nusantara," baca Bima melihat logo kampus yang tertera di kartu itu.

Itu adalah universitas swasta paling elit dan mahal di kota ini, tempat anak-anak konglomerat dan pejabat menuntut ilmu.

[Sistem menanamkan pengetahuan akademis tingkat profesor ke dalam memori Host]

Tiba-tiba, kepala Bima terasa sedikit pening selama beberapa detik.

Ribuan teori ekonomi, strategi bisnis global, manajemen krisis, hingga psikologi massa mengalir masuk dan tertanam secara permanen di otaknya.

Rasa pening itu menghilang dengan cepat, digantikan oleh kejernihan pikiran yang luar biasa tajam.

Bima tersenyum miring menyadari betapa hebatnya pengetahuan baru yang dia dapatkan ini.

"Menarik sekali."

"Aku benar-benar penasaran seberapa nakalnya anak-anak orang kaya di universitas itu."

Bima meletakkan kartu identitas dosennya di atas meja dan kembali merebahkan tubuhnya.

"Besok pagi aku akan datang ke kampus itu dan memberi mereka pelajaran tentang bagaimana dunia yang sebenarnya bekerja."

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!