"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALISTAIR BERSATU
"OLIVER!"
Suara Leo menggelegar layaknya guntur yang membelah langit Harper.
Tanpa menunggu kudanya berhenti sempurna, Leo melompat dari punggung kuda yang masih berlari kencang. Tubuhnya melesat bagai anak panah, mendarat tepat di antara Oliver dan ketiga vampir pemberontak itu.
BUMMM
Tanah di sekitar tempat Leo mendarat retak, menciptakan debu yang menghalau para pengepung.
"Kak... Kak Leo?" gumam Oliver dengan napas tersengal.
Mata Oliver yang ungu tampak redup, wajahnya penuh keringat dan debu, di belakangnya, Zara memeluk pinggang Oliver sambil menangis ketakutan.
Leo tidak menoleh, matanya yang kini berubah menjadi cokelat gelap yang sangat tajam terkunci pada tiga sosok di depannya.
"Berani sekali kalian menginjakkan kaki di tanah ini," desis Leo, dengan suara rendah nya, penuh ancaman yang membuat bulu kuduk ketiga vampir itu berdiri.
"Hahaha! Lihat siapa ini? Si pelindung yang lari ke ketiak manusia!" ejek salah satu vampir.
"Minggir, anak muda, kami hanya ingin mencicipi darah bocah bermata ungu itu. Energinya sangat lezat," ucap nya, membuat darah Leo semakin mendidih.
"Langkahi mayatku dulu," jawab Leo dingin.
Tanpa peringatan, ketiga vampir itu menyerang bersamaan, Leo tidak menggunakan senjata., dia bergerak dengan teknik yang dipelajarinya dari Aurora kemarin, kecepatan murni.
BHUK
BHUK
BHUK
SRAKK
Vampir pertama mencoba mencakar wajah Leo, namun Leo merunduk dengan sangat rendah, lalu menghantamkan tinjunya ke ulu hati musuh tersebut.
BUGH
BRAKKKKKKK
"AAAAAHHHKKKKKKKKK!"
Vampir itu terpental hingga menabrak kereta kuda kayu di pinggir jalan sampai hancur berkeping-keping.
"Jangan gunakan kekuatan itu di sini, Kak! Banyak warga yang melihat!" teriak Oliver memperingatkan.
Oliver tahu, jika Leo bergerak terlalu cepat atau matanya berubah perak, rahasia keluarga Alistair akan terbongkar di depan rakyat mereka sendiri.
Leo mengerti, dia membatasi kekuatannya, menggunakan fisik murni seorang ksatria terlatih, dia menangkap lengan vampir kedua, memutarnya dengan teknik kuncian yang menyakitkan, lalu melemparkannya ke arah vampir ketiga yang hendak menyerang Zara.
BHUK
BRAKKKK
"Oliver! Bawa Zara pergi! Sekarang!" perintah Leo tegas.
"Tapi Kak-"
"SEKARANG!"
Oliver segera menggendong Zara dan berlari menjauh. Namun, para pemberontak ini tidak sendirian, dari balik bayang-bayang rumah yang terbakar, muncul lima vampir tambahan.
Mereka bukan prajurit biasa, mereka membawa busur panah dengan ujung yang sudah dilapisi sihir hitam.
"Bidik dia!" teriak pemimpin kelompok kecil itu.
Syuuuuut
Syuuuuut
Syuuuuut
Anak panah meluncur deras ke arah Leo, di saat keadaan yang terdesak itu, Leo teringat cincin pemberian Aurora di jarinya, ada desakan dalam dirinya untuk menghancurkan permata itu dan memanggil bantuan, namun dia sadar bahwa kehadiran Aurora hanya akan memperburuk situasi politik di wilayah Alistair.
Leo mengambil sebuah tameng kayu bekas dari prajurit desa yang sudah gugur, dia menangkis panah-panah itu satu per satu sambil terus merangsek maju.
BRAK
BRAK
BRAK
"Kalian salah memilih lawan!" geram Leo, dengan rahang mengeras.
BRAK
BRAK
BRAK
Puluhan panah yang mereka lepaskan, tidak ada satupun yang berhasil melukai Leo.
Tepat saat dia hendak menghabisi vampir terakhir, sebuah lolongan serigala yang sangat familiar terdengar dari arah hutan belakang kediaman Alistair.
"AUUUUUUUUUUUWWWWWW!
Sesosok serigala abu-abu raksasa melompat keluar dari semak-semak, langsung menerjang para vampir yang mengepung Leo.
"GGRRRRMMMMMMMMM!"
Serigala abu-abu itu adalah Lucian, kakak kembar Leo, dalam wujud serigala murninya.
Disusul oleh Liam dan Noah yang juga sudah berubah, meski tubuh mereka belum sebesar Lucian.
Keluarga Alistair akhirnya berkumpul di medan tempur.
Lucian dalam wujud serigalanya berdiri di samping Leo, matanya yang kuning keemasan menatap tajam ke arah musuh, lalu ia mendengus seolah menyapa kembarannya.
"Kamu terlambat, Kak," ucap Leo sambil menyeka darah di bibirnya, tersenyum tipis ke arah serigala besar itu.
Serigala Lucian hanya mendengus, dan memutar bola matanya malas, melihat adik nakal nya itu.
Para vampir pemberontak itu tampak mulai ragu, menghadapi satu manusia dengan kekuatan aneh saja sudah merepotkan, sekarang mereka harus berhadapan dengan kawanan serigala yang tampak sangat haus darah.
"Serang! Mereka hanya binatang buas!" teriak salah satu vampir mencoba membakar semangat teman-temannya.
SRETTTT
Vampir itu melesat maju dengan kecepatan tinggi, mengincar leher Lucian. Namun, Lucian jauh lebih gesit, dengan satu lompatan vertikal, ia menghindari serangan itu dan membalas dengan cakaran maut di punggung sang musuh.
"GGGGGRRRRRRRRRWWWWWW!"
CRASSS!
"AAAAAKKKHHHH!"
Vampir itu tersungkur ke tanah yang kini bercampur lumpur dan darah.
Di sisi lain, Liam dan Noah bekerja sama dengan kompak, meskipun tubuh mereka lebih kecil, mereka bergerak seperti sepasang bayangan yang saling menutupi titik buta masing-masing.
"Noah, di kananmu!" teriak Leo memberi instruksi.
"GGGGGRRRRRRRRRWWWWWW!"
WUSH
Noah melompat, menggigit lengan vampir yang hendak melepaskan panah sihir, sementara Liam menerjang kaki musuh tersebut hingga terjatuh.
BRAKKK
Leo sendiri tidak tinggal diam, dia memungut sebuah pedang baja milik prajurit desa yang tergeletak, di tangannya, pedang itu bukan lagi senjata manusia biasa.
TRANG
BLASSS
Setiap ayunannya membelah udara dengan desing yang mematikan.
TRANG
TRANG
Pedang Leo beradu dengan kuku tajam seorang vampir murni, benturan itu mengeluarkan percikan api, Leo menggunakan teknik sapuan rendah yang diajarkan Aurora tadi pagi.
SRAK
TRANG
TRANG
Musuh kehilangan keseimbangan, dan tanpa membuang waktu, Leo menghantamkan gagang pedangnya ke pelipis lawan hingga pingsan.
BRAKKKK
Leo sengaja tidak membunuh mereka di depan warga desa agar tidak menimbulkan ketakutan yang lebih besar terhadap kekejaman keluarga Alistair.
"Kalian tidak akan menang!" teriak pemimpin pemberontak itu lagi, ia mulai merapal kan mantra sihir darah.
Langit di atas desa Harper mendadak menjadi merah temaram, lingkaran sihir mulai terbentuk di tanah, mengeluarkan uap panas yang menyesakkan dada para serigala.
"Mundur! Itu sihir pengikat!" teriak Leo memperingatkan saudara-saudaranya.
Lucian, Liam, dan Noah segera melompat mundur, namun tekanan sihir itu membuat gerakan mereka melambat, kaki-kaki serigala mereka terasa seperti tertanam di semen yang mengeras.
"Sial... ini sama dengan yang di jembatan kemarin," gumam Leo, giginya bergeletuk menahan beban aura hitam itu.
Leo memfokuskan diri nya, menyatukan kekuatan yang dia miliki, antara darah Vampir dan darah serigala nya.
BUMM
DUARARRRRR
"AAAAKKKKKKKKHHH! APA YANG KAMU LAKUKAN BOCAH!"
Teriak pemimpin Vampir pemberontak itu marah, saat Leo mematahkan mantra yang sedang dia baca.
"Kau terlalu banyak bicara, mahluk menjijikan," ucap Leo, sinis, walapun nafas nya terdengar berat, akibat energinya terkuras cukup banyak.
DUARRRRRR
DUARRRRRR
"KELUAR KALIAN SEMUA! HABISI MEREKA!!"
Teriak pemimpin Vampir pemberontak itu, menggelegar.
SREK
SREK
SREK
Puluhan prajurit Vampir muncul di hadapan Leo dan saudaranya.
"SERANG!!"
BRAKK
BRAKK
BRAKK