Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan Hangat
“Tenang, cuma petir. Jangan takut."
Suara Dirga terdengar rendah, tepat di atas kepala Amira yang bisa merasakan getaran suara itu di dadanya.
Dia sekarang sadar, Dirga melakukan itu bukan untuk mengambil kesempatan, tapi cuma sebatas menenangkan. Petir kembali menggelegar lebih jauh.
Namun kini, yang membuat Amira gemetar bukan lagi suara langit. Melainkan pelukan yang seharusnya tidak terjadi itu. Beberapa detik kemudian, Dirga perlahan melepaskan tangannya.
Dia menarik jarak lebih dulu. Tatapannya berubah, lebih hati-hati.
Beberapa saat kemudian, hujan mulai mereda, menyisakan gerimis tipis. Dirga melihat jam di pergelangan tangannya.
“Udah jam makan siang,” katanya pelan.
Amira yang masih berusaha menenangkan diri hanya mengangguk.
“Kamu pasti belum makan, kan?”
Amira sebenarnya tidak lapar. Perutnya dipenuhi rasa gugup sejak pagi.
“Belum.”
Dirga menutup kotak P3K dan kembali ke kursi depan.
“Ada rumah makan enak, nggak jauh dari sini. Kita ke sana ya.”
“Kita?” ulang Amira pelan.
“Iya. Kamu harus makan. Habis itu minum obat pereda nyeri.”
Amira hanya mengangguk. Mobil melaju pelan meninggalkan area proyek. Tak sampai sepuluh menit, mereka tiba di sebuah rumah makan sederhana namun cukup ramai. Bangunannya bernuansa kayu dengan halaman parkir yang becek sisa hujan.
Dirga turun lebih dulu, lalu berkeliling membuka pintu Amira.
“Pelan,” katanya.
Dia kembali memapah Amira dengan hati-hati. Beberapa pengunjung sempat melirik, mungkin karena cara Dirga memperlakukannya begitu perhatian.
Amira menunduk, pipinya terasa hangat. Mereka memilih meja di sudut ruangan. Aroma masakan hangat memenuhi udara.
Dirga menarikkan kursi untuk Amira.
"Makasih,” bisiknya.
Dirga duduk di depannya, membuka buku menu.
“Kamu suka apa?”
“Terserah,” jawab Amira jujur.
Dirga mengangkat alis sedikit. “Terserah itu paling susah.”
Akhirnya dia memesan beberapa menu tanpa banyak tanya. Saat menunggu pesanan datang, suasana kembali canggung. Namun kali ini bukan karena jarak fisik. Melainkan karena keduanya sama-sama mengingat kejadian di mobil tadi. Hingga akhirnya Dirga memecah keheningan.
“Kamu memang penakut ya?”
Amira langsung tersipu. “Cuma sama kecoa dan petir.”
Dirga tersenyum tipis.
“Kalo Celine, ngga takut apapun.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi entah kenapa, ada nada berbeda di dalamnya. Rasanya seperti sebuah perbandingan.
Tak berapa lama, makanan datang dan mereka makan dalam suasana yang jauh lebih tenang, Dirga terlihat beberapa kali melirik ponselnya, Amira menyadarinya. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran laki-laki itu.
Selesai makan, Dirga akhirnya menghela napas pelan lalu menekan nama Celine di layar ponselnya. Amira yang duduk di depannya langsung menegang. Nada sambung terdengar.
“Iya, Dirga?” suara Celine terdengar cepat, seperti sedang terburu-buru.
“Kamu sebenarnya lagi di mana?” tanya Dirga langsung.
“Amira ikut aku dari pagi. Katanya mau bantu kamu.”
“Oh ya ampun, aku lagi sibuk banget,” jawab Celine tanpa jeda.
“Meeting mundur, terus ada urusan mendadak.”
Dirga mengernyit. “Jadi Amira gimana?”
“Antar dia pulang aja ke rumah. Nanti sore atau malam aku jelasin. Aku benar-benar nggak bisa sekarang.”
Nada Celine terdengar ringan. Terlalu ringan.
“Oke,” jawab Dirga singkat.
Panggilan terputus, Dirga menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya meletakkannya di meja.
“Katanya dia sibuk. Aku antar kamu pulang aja.”
Amira yang sejak tadi menahan napas akhirnya menghembuskannya perlahan.
“Baik, Pak.”
Entah kenapa, ada rasa lega yang sulit dia sembunyikan. Bukan karena ingin menjauh dari Dirga, tapi karena dia takut jika hari ini berlanjut lebih lama, perasaannya akan semakin sulit dikendalikan.
Dirga berdiri lebih dulu, lalu membantu Amira berdiri.
“Masih sakit?”
“Sedikit. Tapi sudah lebih baik.”
Dirga tetap menopangnya ringan saat berjalan menuju mobil. Di perjalanan pulang, suasana lebih tenang. Tidak secanggung tadi. Namun, tetap saja ada sesuatu yang menggantung di antara mereka.
Sesekali Dirga menoleh ke arah Amira. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun urung. Sementara Amira menatap ke luar jendela, melihat sisa-sisa air hujan di kaca mobil.
Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Dirga turun lebih dulu, lalu berjalan memutar untuk membantu Amira.
“Kamu bisa jalan sendiri?” tanyanya.
Amira mengangguk pelan. “Bisa, makasih, untuk hari ini.”
Dirga menatapnya sejenak. Tatapan yang sulit diartikan.
“Istirahat yang benar. Jangan banyak jalan dulu.”
“Iya.”
Beberapa detik hening. Lalu Dirga berbalik, kembali masuk ke mobil.
“Aku ke kantor dulu,” katanya singkat sebelum menutup pintu.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman. Amira berdiri sebentar di depan pintu, menatap mobil yang menjauh.
Ada perasaan kosong yang aneh saat kendaraan itu menghilang dari pandangan.
Dia menggeleng pelan, lalu masuk ke dalam rumah. Rumah terasa sunyi. Amira kemudian berjalan pelan menuju kamar yang diberikan padanya.
Dia duduk di tepi ranjang. Hari ini, rasanya seperti mimpi panjang. Amira menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan bodoh,” bisiknya pada diri sendiri.
Amira kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar. Kakinya masih sedikit nyeri, tubuhnya lelah, pikirannya lebih lelah lagi.
Awalnya dia hanya ingin menenangkan diri sebentar. Namun tanpa sadar, kelopak matanya terasa berat.
Rumah yang sunyi, suara pendingin ruangan yang lembut, dan sisa kelelahan sejak pagi, membuatnya akhirnya tertidur.
Dua jam kemudian, Amira terbangun karena suara ponselnya bergetar di atas nakas. Ruangan sudah sedikit temaram, tanda hari mulai beranjak sore.
Dia mengusap wajahnya pelan, masih sedikit linglung. Beberapa detik dia butuh untuk mengingat di mana dirinya berada.
Amira bangkit perlahan, kakinya masih terasa sedikit ngilu. Setelah duduk sebentar di tepi ranjang, Amira memutuskan mandi untuk menyegarkan diri.
Air hangat mengalir, membantu meredakan ketegangan di tubuh dan pikirannya.
Beberapa menit kemudian, dia keluar kamar mandi dengan rambut masih setengah basah, mengenakan bathrobe putih. Di saat itulah, ponselnya bergetar. Nama di layar seketika membuatnya langsung siaga, Celine.
Amira segera mengangkat.
“Halo, Bu.”
“Amira, kamu udah di rumah kan?”
Suara Celine terdengar terburu-buru.
“Iya, Bu.”
“Laptopku ketinggalan di kamar. Bisa nggak kamu bantu kirim salah satu file sekarang juga ke email aku. Kamu bisa kan, masuk ke kamar aku? Nama dokumen, sama alamat email-nya aku kirim lewat chat.”
Amira terdiam sepersekian detik.
"Amira ...."
“Bisa, Bu."
“Tolong kirim sekarang ya."
Amira menelan ludah.
“Baik, Bu.”
Telepon terputus, Amira berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Lalu dia menarik napas panjang, merapikan bathrobe-nya, memastikan terikat rapi, lalu melangkah keluar kamar.
Lorong rumah terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Langkahnya pelan saat mendekati pintu kamar utama. Tangannya terangkat, perlahan, dia membuka pintu, dan melangkah masuk.
Amira kemudian mengambil laptop, lalu duduk di tepi ranjang, dengan posisi memungggungi pintu masuk. Laptop Celine terbuka di pangkuannya.
Tangannya masih sedikit gemetar saat mengetik alamat email dan melampirkan file yang diminta Celine. Dia memastikan sekali lagi, lalu terkirim.
Amira mengembuskan napas pelan, hendak menutup laptop. Namun sebelum jarinya menyentuh tombol power, suara pintu kamar terbuka.
Belum sempat menoleh. Tiba-tiba, sepasang lengan kuat melingkar di pinggangnya dari belakang.
Tubuh Amira membeku. Dekapan itu hangat. Wajah seseorang merunduk mendekat ke tengkuknya. Hembusan napas hangat menyentuh kulitnya yang masih lembap setelah mandi.
Lalu sebuah kecupan singkat mendarat di sana.
“Sayang, aku kangen.”
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..