(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy?
Diruang tamu, Rania duduk di sofa disamping nya Vano terus memeluk nya erat, di sofa single Marco duduk dengan Cantika dipangkuan nya, gadis kecil itu menatap Marco dengan mata polos nya, tangan kecil Cantika terus bergerak menelusuri wajah Marco.
Marry datang membawa cemilan dan berhasil menarik perhatian si kecil Cantika, tangan kecilnya langsung bergerak di udara ingin mengambil cemilan itu. Marco mengambil cemilan dan memberikan pada Cantika.
Marry tersenyum bahagia mengusap airmata nya, melihat keluarga kecil itu.
Rania mengusap tangan anak nya ia menaikan sedikit lengan baju anak nya Vano, dan melihat luka lebam di tangan putra nya.
"Ayah kamu yang pukul?" tanya Rania pelan.
Vano terdiam sejenak lalu menggeleng sambil tersenyum. "Vano jatuh Bunda" jawab nya sambil tersenyum.
Tapi Rania tau luka ditubuh putranya itu pasti ulah mantan suaminya, sejak kecil Vano sudah menghadapi kekerasan dari Ayah nya.
Rania memeluk putra erat, ia telah gagal melindungi anak-anaknya nya.
"Bunda... Paman yang memangku adik itu siapa?" tanya Vano.
Rania terdiam ia tau pertanyaan ini akhirnya keluar juga.
"Dia... Suami Bunda, ayah sambung kamu" jawab Rania pelan.
Marco menatap Ibu dan anak itu, ia tidak tau apa yang kedua orang itu bicarakan karna Rania menggunakan bahasa Indonesia..
"Ayah?" ulang Vano. Rania mengangguk pelan.
Rania terdiam sejenak lalu berkata. "Kamu mungkin tidak mengerti apa yang akan dikatakan nya karna perbedaan bahasa tapi jika ingin memanggil nya, coba panggil ayah sambung kamu Daddy" ujar Rania lembut.
Meski Marco tidak mengerti apa yang dibicarakan Rania dan Vano namun ia mengerti sedikit saat Rania mengucapkan kata Daddy.
"Daddy?" panggil Vano pada Marco.
Marco, pria itu mematung. Ia langsung menatap Vano, perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"hm, hi Son" ujar nya dingin namun ada kelembutan disana.
Cantika gadis kecil itu mulutnya kini belepotan remahan kue yang ia makan. Marco mengusap mulut kecil Cantika.
Malam nya Cantika sedang berada dikamar Vano, menidurkan anak nya itu. Meskipun Vano sudah besar namun saat bersama Rania dia tetap bayi kecil nya yang manja, setelah Vano tertidur Rania mencium kening anak nya lalu menarik selimut menutupi tubuh Vano, lalu beralih ke putri kecil nya yang tertidur di boks bayi yang besar itu, ia mencium kening putrinya lalu keluar dari kamar mereka.
Rania menutup pintu kamar lalu bersandar di pintu tubuhnya merosot kelantai, Rania menangis tanpa suara bahunya gemetar hebat, tadi saat ia menggantikan pakaian putri nya ia melihat luka lebam di seperti dicubit atau dipukul di tubuh putrinya, sebenarnya apa yang terjadi kepada kedua anak nya selama ia tidak ada. Rania mencengkram dadanya kuat dan sesekali memukul nya rasanya jantungnya seperti diremas paksa didalam sana, sangat menyakitkan.
tak jauh dari tempat Rania, Marco berdiri disana, wajahnya dingin rahang nya mengeras, ia berjalan mendekati Rania dan tanpa bicara ia mengangkat Rania kedalam gendongan nya, Rania terkejut dan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Marco.
Marco tidak bicara ia hanya diam menatap lurus kedepan dan berjalan menuju kamar mereka, begitu sampai ia meletakkan Rania di tepi tempat tidur.
"Aku harus pergi, ada pekerjaan" ujar Marco lembut mengusap air mata istrinya.
"kemana?" tanya Rania suaranya bergetar karna menangis.
Marco tersenyum, ia tidak menjawab hanya mencium kening Rania lalu mengecup bibir Rania singkat.
"Aku akan segera pulang" ujar nya lembut, lalu berbalik pergi.
Saat keluar dari kamarnya Jerry sudah menunggu didepan pintu mereka berjalan keluar dari rumah.
"sudah kau temukan?" ujar Marco dingin.
"Sudah Tuan. Dia kita hanya perlu langsung ke Indonesia" jawab Jerry.
Jerry membuka pintu penumpang di belakang, Marco masuk lalu Jerry masuk ke kursi pengemudi, mobil melaju meninggalkan mansion menuju bandara, mobil Mercedes-Benz S-Class melaju membelah jalanan kota Milan, di luar jendela mobil yang sedang melaju gedung-gedung tinggi saling bersaing untuk mencapai puncak, lampu-lampu malam menyala terang menghiasi kota Milan.
Satu jam perjalanan menuju bandara mereka akhirnya sampai. Jerry keluar lebih dulu membuka pintu mobil belakang Marco keluar dan mereka mulai berjalan, Jet pribadi milik Marco sudah menunggu, Marco masuk kedalam dan pintu jet tertutup, tujuan nya hanya satu Indonesia.
Rania berbaring seorang diri diatas ranjang yang besar itu, ia terus menatap tempat tidur disampingnya, tempat dimana Marco sering berbaring, tiba-tiba saja rasanya sangat dingin, entah karna udara yang dingin ditambah AC atau karna memang Rania yang mulai terbiasa dengan kehadiran Marco.
Rania mengulurkan tangannya menyentuh bantal yang biasa Marco gunakan, ia menarik bantal itu dan memeluknya masih ada aroma Marco yang tertinggal di bantal itu. Rania semakin erat memeluk bantal itu.
Perlahan Rania mulai tertidur sambil memeluk bantal yang beraroma Marco itu, tanpa Rania sadari bahwa ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Marco, selama ini pria itu sangat lembut padanya dan selalu memperlakukan nya seperti berlian yang ia pungut dari dalam lumpur.