Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Penghianatan Di Malioboro
Gery melangkah perlahan mendekati Nadia. Suasana di parkiran industri itu terasa begitu sureal bagi Gery. Nadia, yang biasanya selalu mandiri dan ceria, kini tampak begitu rapuh. Ia dengan pasrah mengulurkan tangannya ke arah Gery, sebuah gestur minta tolong yang tak terucapkan.
Gery sempat ragu. Tangannya tertahan di udara. Ia kembali melirik ke belakang, mencari sosok Vanya di antara kerumunan siswa. Vanya berdiri di sana bersama Reno dan Dion, ia memberikan anggukan mantap dan tatapan mata yang seolah berkata, "Udah, raih aja tangannya. Dia butuh lo."
Dengan perasaan gelisah yang masih berkecamuk, Gery akhirnya meraih tangan Nadia. Jemari Nadia terasa dingin. Mereka mulai berjalan beriringan memasuki area industri, mengikuti rombongan kelas PH2 yang dipandu oleh salah satu petinggi perusahaan tersebut.
Tempat yang mereka kunjungi ternyata adalah unit produksi perlengkapan amenities hotel. Di sana, mereka bisa melihat proses pembuatan sandal hotel yang empuk, pencetakan sabun-sabun kecil harum, hingga pengemasan sikat gigi. Industri ini merupakan bagian dari jaringan perusahaan yang sama dengan hotel tempat mereka menginap di Yogyakarta, sehingga standar kebersihannya sangat tinggi.
Petinggi industri itu mulai memberikan penjelasan teknis tentang standar bahan baku dan efisiensi produksi. Gery mencoba fokus, ia mengeluarkan buku catatan kecilnya dan mulai menulis beberapa poin penting agar tidak tertinggal materi.
Namun, di tengah hiruk pikuk suara mesin dan penjelasan pemandu, Gery merasakan tarikan lembut di lengannya. Nadia perlahan menggeser posisinya, merapatkan tubuhnya ke lengan Gery. Ia menyandarkan sedikit kepalanya ke arah bahu Gery, matanya tertuju pada buku catatan yang dipegang Gery.
"Pinjem liat catatannya ya, Ger... Gue agak pusing, tadi nggak fokus dengerin penjelasannya," bisik Nadia pelan, suaranya masih terdengar parau.
Gery tertegun. Posisi ini sangat intim, mengingatkannya pada momen-momen saat ia masih menyimpan rasa secara diam-diam pada Nadia dulu. Namun, Gery sadar bahwa saat ini Nadia melakukannya bukan untuk menggoda, melainkan murni karena ia butuh tumpuan fisik agar tidak tumbang oleh kesedihannya sendiri.
Gery membiarkan Nadia bersandar di lengannya sembari terus menulis. Dari kejauhan, ia bisa merasakan tatapan teman-teman lainnya, terutama Reno yang sesekali melirik jahil, namun Gery memilih untuk tetap profesional dan menjaga perasaan Nadia.
"Iya, liat aja. Nanti kalau ada yang kurang, lo bisa salin punya gue pas di bus," jawab Gery lembut.
Di antara aroma sabun yang wangi dan deru mesin industri, Gery menjalankan tugas aneh yang diberikan Vanya. Ia menjadi pelindung bagi Nadia, di saat hatinya sendiri masih bertanya-tanya tentang bagaimana akhir dari drama di Kota Yogyakarta ini. Sementara itu, Vanya tampak asyik berdiskusi dengan Dion di barisan depan, seolah benar-benar memberikan kepercayaan penuh pada Gery untuk menjaga sahabatnya.
Setelah sesi kunjungan industri yang cukup melelahkan, Bus 4 kembali membelah kemacetan Yogyakarta menuju jantung kota: Malioboro. Langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, menandakan petang segera tiba.
Di dalam bus, formasi duduk kembali berubah secara alami mengikuti kondisi emosional yang ada. Vanya, dengan kebesaran hati yang sulit dipercaya, membiarkan Nadia tetap berada di dekat Gery. Yola pun terpaksa bergeser dan duduk bersama Vanya di kursi depan mereka.
Suasana di dalam bus cukup tenang. Di sebelah Gery, Nadia menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan Jogja yang mulai menyala. Kesedihannya belum sepenuhnya hilang, namun ia mulai merasa cukup tenang untuk berbicara.
"Ger," panggil Nadia pelan, "Gue baru sadar... sifat lo itu kontras banget sama dia. Lo tenang, nggak banyak nuntut, dan selalu ada pas dibutuhin tanpa harus diminta. Beda banget sama—"
"Nad," potong Gery dengan lembut namun tegas, menghentikan kalimat Nadia sebelum sempat membandingkan lebih jauh. "Lo sama dia udah jalan dua tahun. Dua tahun itu waktu yang sangat cukup buat kalian saling tahu sifat, karakter, bahkan keburukan masing-masing. Itu proses yang panjang."
Gery membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Nadia dengan jujur. "Sedangkan kita? Kita baru kenal belum setahun. Lebih tepatnya baru enam bulan satu jurusan, dan baru bener-bener deket pas masuk semester dua ini. Masih terlalu dini buat lo bandingin gue sama dia."
Ucapan Gery terdengar dingin jika didengar sekilas, namun sebenarnya itu adalah bentuk kejujuran agar Nadia tidak terjebak dalam pelarian emosional yang salah. Gery tidak ingin Nadia memujinya hanya karena ia sedang kecewa dengan orang lain.
Nadia terdiam sejenak. Alih-alih merasa tersinggung atau marah karena ucapannya dipotong, Nadia justru tersenyum tipis—sebuah senyum tulus pertama yang muncul sejak tadi pagi.
"Justru itu, Ger," balas Nadia pelan. "Ucapannya lo barusan malah makin ngebuktiin siapa lo. Lo nggak mumpung gue lagi sedih terus lo sombongin diri atau ngejelek-jelekin dia. Lo jujur, terbuka, dan nggak mau bohong soal karakter lo cuma buat bikin gue seneng. Itu yang bikin lo beda."
Gery tertegun. Ia tidak menyangka kejujurannya justru membuat Nadia semakin menghargainya. Di barisan depan, Vanya sesekali melirik melalui celah kursi, memastikan sahabatnya baik-baik saja. Ia bisa melihat percakapan serius itu dan merasa bahwa keputusannya membiarkan Gery menemani Nadia adalah hal yang tepat.
Bus perlahan mulai melambat saat memasuki kawasan Jalan Margo Utomo menuju Malioboro. Keramaian khas Jogja mulai terlihat; suara klakson, musisi jalanan, dan aroma bakpia yang tercium dari kejauhan.
"Kita udah mau sampai," ucap Gery, mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu melankolis. "Ayo siap-siap. Kita habisin malam ini di Malioboro. Jangan ada yang nangis lagi ya?"
Nadia mengangguk mantap, menghapus sisa jejak air mata di pipinya. "Oke, Ger. Malam ini gue mau belanja sampai puas!"
Lampu-lampu hias yang mulai berpijar di sepanjang trotoar Malioboro dan denting musik angklung jalanan seharusnya menjadi latar yang sempurna untuk malam yang syahdu. Gery berjalan di tengah keramaian dengan perasaan campur aduk; lengan kirinya masih didekap oleh Nadia, sementara Vanya berjalan di sisi kanannya seolah menjadi penjaga jarak yang tenang. Reno, Dion, Feri, Vivi, dan Yola mengekor di belakang, sesekali tertawa melihat tingkah pedagang asongan.
Namun, suasana damai itu pecah berkeping-keping dalam hitungan detik.
Langkah Nadia mendadak kaku. Cengkeramannya pada lengan Gery terlepas begitu saja. Gery yang merasakan perubahan mendadak itu langsung menoleh, "Nad, kenapa?"
Seluruh rombongan berhenti. Ekspresi Nadia yang tadinya mulai tenang, kini berubah drastis menjadi kombinasi antara duka mendalam dan kemarahan yang meluap. Matanya tertuju pada sebuah titik di dekat bangku taman Malioboro, beberapa meter di depan mereka. Di sana, di antara kerumunan wisatawan, berdiri seorang laki-laki yang sangat Nadia kenali, sedang asyik tertawa sambil menggandeng mesra seorang wanita lain.
"Itu... dia?" bisik Vanya yang juga menyadari arah pandangan Nadia.
Tanpa aba-aba, Nadia berlari secepat kilat.
"Nad! Tunggu!" teriak Gery.
Nadia menerjang kerumunan. Tangisnya pecah menjadi jeritan saat ia sampai di hadapan laki-laki itu. "Jadi ini alasan kamu mutusin aku lewat telepon tadi pagi?! Hah?!" suara Nadia melengking, membelah kebisingan Malioboro.
Laki-laki itu tersentak, wajahnya pucat pasi melihat Nadia tiba-tiba ada di depannya. Wanita di sampingnya tampak bingung sekaligus ketakutan. Nadia, dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya, memaki habis-habisan pacarnya—atau lebih tepatnya mantan pacarnya—dan selingkuhannya itu.
"Nad, istigfar, Nad! Malu dilihat orang!" seru Dion sambil mencoba menahan tangan Nadia yang nyaris melayangkan pukulan.
Gery segera maju ke depan, memposisikan dirinya di antara Nadia dan laki-laki itu untuk melerai. "Udah, Nad, udah! Jangan di sini!" ucap Gery tegas sembari memegang bahu Nadia yang bergetar hebat.
Reno yang biasanya konyol, kini memasang wajah dingin. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan mengintimidasi. "Jadi lo cowok yang bikin sahabat gue nangis seharian? Bagus ya, main di belakang pas dia lagi study tour," sindir Reno ketus.
Vanya segera menarik Nadia ke dalam pelukannya, mencoba meredam teriakan Nadia yang masih histeris. Seluruh pengunjung Malioboro kini melingkar, menjadikan mereka tontonan dadakan.
"Pergi lo dari sini! Sebelum temen-temen gue makin emosi!" bentak Feri ke arah laki-laki itu.
Laki-laki itu, tanpa kata maaf sedikit pun, menarik wanita selingkuhannya pergi menjauh, menghilang di balik kepadatan Malioboro, meninggalkan Nadia yang ambruk di pelukan Vanya. Gery hanya bisa berdiri mematung, menatap ke arah mantan pacar Nadia itu pergi dengan perasaan geram yang memuncak.
Yogyakarta yang tadinya diharapkan memberikan ketenangan, justru memberikan kenyataan pahit yang paling telanjang: pengkhianatan di depan mata.