Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logo Yang Sama
Setelah turun dari rooftop, Haerim tak langsung kembali ke kelas atau ke mobilnya. Ia malah berbelok ke kantin kampus. Haerim menyandarkan dagu di telapak tangan, mata menatap kosong ke luar.
“Apa aku udah keterlaluan?” gumamnya pelan. “Pasti Alexey jadi nggak nyaman abis ini. Bodoh banget sih…”
Ia menghela napas panjang, jari-jarinya memainkan ujung gelas es teh yang belum disentuh. Rasa bersalah menyesak di dada, bukan karena ia takut kehilangan posisi di kelas, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja. Layar menyala, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Terima kasih sudah mau menanyakan tentangku. Dan jangan cerita pada siapa pun tentang ibuku.”
Haerim langsung duduk tegak. Ia membaca ulang pesan itu dua kali. “Apa ini bener Alexey?” gumamnya sambil memantengin layar dengan tatapan curiga.
“Gimana dia bisa dapet nomorku? Perasaan nggak pernah ngasih ke dia…”
Tanpa pikir panjang, jarinya sudah mengetik balasan.
“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu nggak marah padaku. Maaf sudah bertanya hal yang tidak seharusnya.”
Ia kirim, lalu menatap layar tanpa berkedip, menunggu tanda centang biru atau balasan. Detik demi detik berlalu. Tak ada respons.
“Kenapa tidak dibalas lagi sih?” gerutunya kesal sambil mengetuk-ngetuk, gelisah. “Menyebalkan sekali…”
Ia menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas lagi. Pikirannya berputar: Alexey yang misterius, pesan itu, dan sekarang, kenapa ia merasa lebih gelisah daripada marah.
Sementara itu, di area parkiran bawah tanah, Alexey sudah berdiri di depan mobil sport hitamnya. Ia menyandarkan punggung ke pintu pengemudi sejenak, mata menyipit memandang ke arah pintu masuk gedung. Ponsel di tangannya masih menampilkan chat terakhir yang ia kirim ke nomor Haerim.
“Hari ini aku harus menyelidiki tentang bros yang digunakan Minsook,” gumamnya dingin, penuh tekad. “Sudah terlalu lama aku menunda ini.”
Ia meraih handle pintu, berniat segera pergi, menuju alamat yang sudah ia catat di kepala: kediaman lama rektor.
Haerim baru saja memasuki area parkiran. Langkahnya terhenti sesaat saat matanya menangkap sosok Alexey di samping mobil hitam itu. Lalu buru-buru menuju mobilnya.
“Sialan!” umpatnya kesal sambil berjongkok di samping mobilnya sendiri. “Kenapa tiba-tiba ban mobilku kempes sih? Hari ini apes banget, parah!”
Ia bangkit, menghela napas frustrasi, lalu melirik ke arah Alexey lagi. Pria itu baru saja membuka pintu mobilnya, siap masuk.
“Alexey, tunggu!” panggil Haerim sambil berlari kecil menghampirinya. “Tolong aku sebentar. Ban mobilku kempes, nggak tahu harus gimana…”
Alexey berhenti, tangannya masih memegang handle pintu. Ia menoleh pelan. “Terus mau apa?”
Haerim menunduk sebentar, pipinya memerah tipis. “Bisa… bisa minta tolong dianter pulang gak?” pintanya malu-malu, suaranya jauh lebih pelan. “Aku janji nggak bakal lama atau bikin repot. Please…”
Alexey diam sejenak. Matanya menyapu wajah Haerim, pipi yang sedikit merona, mata yang tak lagi tajam.
“Masuk,” perintahnya dengan nada datar dan sedikit terpaksa. “Cepat. Aku tidak punya banyak waktu.”
Haerim tersenyum lega. “Terima kasih, Alexey,” ucapnya lembut sambil masuk ke dalam mobil dengan hati-hati, seperti takut membuat suara terlalu keras. Ia menutup pintu pelan.
“Aku bener-bener makasih banget. Maaf udah bikin repot…”
Mobil mulai bergerak keluar dari parkiran bawah tanah. Mesinnya halus, hampir tak bersuara. Di dalam kabin yang gelap dan dingin, hanya ada hembusan AC dan napas mereka berdua yang terdengar samar.
“Maaf lagi… soal tadi di rooftop.”
Alexey tak menjawab langsung. Ia hanya mengangguk tipis sekali, mata tetap ke depan.
Di dalam mobil Alexey yang melaju mulus di jalan raya Icheon sore itu, ia menyetir dengan satu tangan di setir, mata tetap lurus ke depan, ekspresi tak berubah.
“Alexey, kamu tinggal di mana?” tanya Haerim penasaran sambil melirik ke arahnya.
“Apartemen,” jawab Alexey singkat tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Di sudut kota.”
Haerim terdiam sejenak, mencerna jawaban itu. Memang ada sebuah apartemen mewah yang terletak di pinggiran yang sepi.
“Ternyata dia tinggal di apartemen mewah itu,” gumam Haerim dalam hati sambil menatap profil wajah Alexey. “Tapi kenapa dia milih tempat yang jarang orang tinggali? Sudut kota itu kan terisolasi…”
Tiba-tiba Alexey memecah keheningan. “Rektor Minsook itu pamanmu?” tanyanya tiba-tiba, kesan menyelidik.
“Iya, dia pamanku,” jawab Haerim sambil mengangguk pelan, tatapannya beralih ke luar jendela. “Emangnya kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu? Ada masalah apa sama pamanku?”
“Tidak ada,” ujar Alexey datar, menutupi niat sebenarnya dengan sempurna. “Cuma penasaran saja. Selama ini aku perhatikan kamu tidak pernah berbicara dengan Minsook di kampus.”
“Kami memang tidak terlalu dekat,” cerita Haerim dengan nada sedikit lesu. “Lebih tepatnya, semua keluarga Kang seperti itu. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing.”
“Banyak yang seperti itu,” tanggap Alexey datar. “Keluarga elit biasanya begitu. Sibuk membangun nama, melupakan ikatan.”
“Kamu bener,” setuju Haerim sambil mengeluarkan napas panjang, suaranya kedengeran lelah. “Keluarga kaya tuh emang bosenin.”
Tak lama mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besar rumah keluarga Kang, pagar besi hitam di tengahnya terpampang logo yang langsung membuat Alexey menegang.
“Kenapa ada logo itu di sini?” gumam Alexey dalam hati. “Ini bukan kebetulan…”
“Alexey, mau masuk dulu?” ajak Haerim sambil membuka sabuk pengamannya, suaranya lebih ringan sekarang.
“Sebagai tanda terima kasih udah nganterin aku. Minimal minum dulu atau istirahat sebentar…”
“Baiklah,” jawab Alexey datar sambil mematikan mesin mobilnya. “Aku mau segelas air putih saja.”
Alexey turun dari mobil dengan wajah tanpa ekspresi, tapi di balik tatapan dinginnya, pikirannya sudah berputar cepat. Ini kesempatan untuk menyelidiki logo itu lebih dekat. Mereka berjalan masuk bersama hingga sampai di dalam.
“Tunggu di sofa dulu, ya,” pinta Haerim sambil menunjuk ruang tamu yang luas. “Aku ambilin minumannya bentar.”
“Hmmm,” jawab Alexey singkat.
Ia duduk di sofa menyapu sekeliling ruangan dengan teliti, memperhatikan setiap detail: posisi kamera CCTV kecil di sudut langit-langit, foto keluarga di rak.
“Tidak ada yang mencurigakan,” gumamnya dalam hati, tapi ia tetap waspada. Tak lama Haerim pun kembali dan duduk di depannya.
“Ini air putihnya,” ucap Haerim sambil meletakkan segelas air di atas meja dengan hati-hati. “Maaf ya, cuma air putih. Aku tidak tahu kamu suka apa…”
“Tidak masalah,” ujar Alexey datar sambil mengambil gelas tersebut. “Ini sudah cukup. Terima kasih.”
Namun kesunyian itu pecah oleh pintu rumah terbuka lagi. Seorang wanita anggun melangkah masuk dengan tatapan selidik saat melihat Alexey.
“Oh, ada tamu?” sapanya dengan nada ramah namun penuh perhatian. “Haerim, ini kekasihmu? Kenapa Mommy baru tahu sekarang?”
“Bukan, Mom. Ini temenku,” ralat Haerim cepat, wajahnya agak memerah. “Dia cuma nganterin aku pulang soalnya ban mobil tadi tiba-tiba kempes.”
Haerim melirik ibunya dengan tatapan penuh tanya. “Mommy kok pulang sendiri? Daddy mana?”
“Daddymu masih di kantor, sayang,” jawab Mommy Haerim sambil meletakkan tas tangannya di meja samping. “Dia bilang ada rapat penting yang akan berlangsung sampai malam. Seperti biasa, pulangnya larut lagi.”
Ia mendekati Alexey, senyumnya tulus. “Terima kasih sudah mengantar Haerim pulang, Nak. Kenalkan, aku Kang Mira, ibunya Haerim. Maaf ya, tadi sempat salah sangka. Siapa namamu?”
“Alexey Liebert, Nyonya,” jawab Alexey dengan nada datar dan sopan, berdiri sebentar untuk membungkuk ringan.
Namun matanya tak bisa lepas dari bros yang terpasang di kerah blazer Kang Mira, bentuk dan polanya persis sama.
“Tidak salah lagi,” gumamnya dalam hati, rahangnya sedikit mengeras. “Itu lambang keluarga Kang. Sama persis dengan yang ada di gerbang… dan yang dipakai Minsook…”
“Alexey Liebert? Nama yang bagus,” puji Kang Mira dengan senyum lembut. “Baiklah, kalian ngobrol saja dulu. Mommy mau beristirahat sebentar di kamar, capek sekali hari ini.”
Kang Mira lalu berpamitan sambil berjalan menuju tangga, langkahnya anggun dan tenang.
“Jangan sungkan ya, Alexey. Anggap saja rumah sendiri,” tambahnya sebelum menghilang di balik tikungan tangga.
“Haah…” keluh Haerim sambil mijat pelipisnya, duduk kembali di sofa berhadapan dengan Alexey. “Mereka tuh selalu sibuk kerja. Aku bahkan jarang ngobrol sama mereka lebih dari lima menit…”
“Apa hubunganmu dengan orang tuamu buruk?” tanya Alexey datar, namun ada nada ingin tahu yang tersembunyi.
“Tidak juga,” jawab Haerim sambil menggeleng pelan sambil menunduk lelah. “Mereka nggak pernah nyakitin aku kok. Malah sayang banget sama aku. Cuma… ya terlalu sibuk aja…”
Alexey mengangguk tipis, tapi matanya kembali melirik ke arah tangga tempat Kang Mira menghilang.
Ia menyeruput air putihnya pelan, tapi pikirannya sudah merencanakan langkah selanjutnya. Ini bukan lagi sekadar kecurigaan. Ini bukti.
Alexey meletakkan gelasnya kembali ke meja. “Terima kasih atas airnya,” katanya datar. “Aku harus pergi sekarang.”
Haerim mengangkat kepala, matanya sedikit melebar. “Sudah? Cepat banget…”
Alexey berdiri, menyampirkan tas ke bahu. “Ada urusan. Terima kasih sudah mengizinkan aku masuk.”
Haerim mengangguk dan hanya bisa melihat Alexey berjalan menuju pintu, langkahnya tenang tapi tegas.
Di luar, Alexey masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya kacau setelah melihat Kang Mira, namun entah kenapa ia sangat berharap kalau keluarga Kang tidak terlibat dalam kasus kematian ibunya.