Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Anjas masih di tempat para tetua, masih melakukan ijin untuk mendirikan jembatan di tempat itu, karena pemesan mobil dari pabrik Anjas ada di kecamatan itu dan Anjas juga berencana untuk membangun showroom cabang miliknya karena dia tidak mendapatkan ijin mendirikan pabrik di sana.
"Saya tahu ini tidak mudah Mbah, tapi kendaraan itu akan memudahkan transportasi para warga di sini, memudahkan untuk membawa bahan bangunan, jual beli sayuran dari kampung kampung di kecamatan ini dan banyak lagi" ucap Anjas.
"Kami tidak mau kecamatan kami ini di cemari orang orang licik seperti kalian yang bilang ingin membantu tapi ternyata kalian mencuri di tempat kami, Air, pohon bahkan sumber daya alam di sini kalian curi" ucap seorang tetua yang paling di tuakan di sana bernama Panca.
"Saya tidak akan melakukan itu Mbah, saya hanya akan membangun jembatan saja, selebihnya para tetua di sini yang akan mengurusnya, siapa saja yang boleh masuk dan keluar dari kecamatan ini, kalau perlu saya akan pasang plang kalau hanya penduduk sini yang boleh masuk dan keluar dari tempat ini, akan di buatkan pos juga untuk keamanan dan boleh Mbah minta pada warga di sini berjaga" ucap Anjas
Mereka kembali berkumpul dan membicarakan apa yang di usulkan Anjas, semua yang di katakan Anjas membuat mereka tertarik apalagi Anjas juga mengatakan kalau dia hanya ingin menjual kendaraan saja di kampung itu yang memang masih jauh dari kata maju dan masih mengandalkan transportasi sepeda ataupun atupun perahu yang ada di sungai yang di atasnya akan di bangun jembatan.
"Baiklah, kamu punya sesuatu di dalam tubuhmu yang membuat kami tidak bisa menolak kata kata kamu, hanya kamu yang boleh masuk ke sini, dan kami minta satu mobil untuk mengantar orang orang yang akan menjual sayuran dan bahan pangan yang akan mereka jual ke pasar di kota, saya juga minta beberapa ekor kerbau dan sapi sebagai syarat" ucap Panca
"Baik Mbah, saya akan bicarakan dengan kontraktor dan perusahaan yang akan membangun jembatan itu, mereka hanya membantu membangun saja, selebihnya kecamatan ini yang mengurus" jawab Anjas
"Kami terima tawaran kamu" ucap semuanya membuat Juno dan Toni senang karena akhirnya motor dan mobil yang di pesan pelanggan mereka bisa di kirim setelah jembatan selesai.
"Apa aku bilang, cukup kak Anjas yang bicara dan mereka pasti setuju" ucap Juno
××××××××
Di rumah.
"Mama, mama mau minum?" tanya Adisti menyodorkan air minum untuk Aisyah.
"Iya nak, terima kasih ya" ucap Aisyah
"Kenapa Ais?" tanya Rizwan
"Tadi di sekolah Aisyah di guna guna pa, untung kak Delisha tahu dan anak angkatnya menolong Aisyah" jawab Aisyah
"Apa ada yang kamu curigai?" tanya Rizwan
"Dania, dia sering terlihat di penglihatan Aisyah dengan tatapan kesal dan benci, entah karena apa" jawab Aisyah
"Tapi kamu keturunan darah wangi Aisyah, kamu tidak akan mempan dengan teluh atau guna guna" ucap Rizwan heran
"Bukan Aisyah pa, tapi anak anak di perut Aisyah, makanya nenek Martini menjaga mereka karena mereka yang akan terkena guna guna dari orang yang menyerang Aisyah" jawab Aisyah
"Innailaihi, papa baru sadar kalau bayi kamu memang pasti tidak terlindungi dan akan jadi sasaran empuk para mahluk halus itu" gumam Rizwan
"Makanya Aisyah khawatir dengan mereka pa, Adisti juga pasti di incar Dania karena dia tahu sekarang Aisyah menikah dengan mas Anjas" jawab Aisyah
"Adis, nanti Adis jangan terima makanan ataupun minuman dari orang asing saat di sekolah ya, kalau ada orang yang bilang kenal mama atau papa Itu mereka bohong, hanya bu guru di sekolah yang boleh Adis dengarkan saat di sekolah ya" bujuk Aisyah
"Iya ma, Adis tidak akan dekat dekat olang yang tidak di kenal, Adis akan duduk dengan Hinata saja kalau istilahat di sekolah" jawab Adisti
Aisyah kembali merebahkan badannya di atas kasur yang di simpan Anjas di lantai satu untuk tempat Aisyah istirahat, matanya kembali terpejam dan kali ini dia melihat wajah seorang kakek yang tidak lain adalah Suro.
"Nak, kamu pasti sudah tahu siapa Anjas yang sebenarnya karena kamu hanya bisa berjodoh dengan pemilik ilmu pelet mati, Mbah ingin menyampaikan sesuatu, Anjas saat ini masih belum bisa melepaskan ilmu itu, masih banyak orang yang harus dia singkirkan dengan ilmu yang dia miliki dan orang orang itu adalah orang orang yang akan membahayakan rumah tangga kalian, termasuk Khal" ucap Suro
"Khal sebenarnya adalah perwujudan sebuah ilmu, dulu dia sempat memiliki wujudkan sesosok kerdil yang ingin hidup dalam tubuh seorang perempuan, tapi ilmunya tidak sempurna karena taring miliknya berada di dalam jantung seseorang, sekarang dia kembali dalam wujud sesosok panglima perang jaman dulu, tapi taringnya tidak bisa dia dapatkah lagi karena sudah musnah, hanya ilmunya saja yang masih bisa hidup dalam tubuh seseorang dan dia memilih anak dari Triana" ungkap Suro lagi.
"Lalu apa yang harus Aisyah lakukan Mbah?" tanya Aisyah khawatir
"Tetap berada di samping Anjas, kamu adalah kekuatan Anjas sekarang, kalau Anjas hilang kendali kamu adalah obatnya begitupun sebaliknya, hidup saling melengkapi dan lindungi bayi kalian" jawab Suro
"Aisyah akan selalu berada di samping mas Anjas Mbah, Aisyah sudah tahu siapa mas Anjas saat mas Anjas tiba tiba saja menginginkan ijab kabul secara mendadak, itu karena ilmu pelet mati mas Anjas tidak mempan pada Aisyah" jawab Aisyah
"Syukurlah, setialah seperti Anjas karena kalau kamu sama dengan ibumu Atikah, kamu akan berakhir melompat dari atas jembatan" ucap Suro membuat Aisyah terkejut karena Suro tahu bagaimana ibunya bos meninggal.
"Mbah tahu siapa ibu saya?" tanya Aisyah
"Lebih dari tahu, aku adalah kekasih ibu kamu yang dia tinggalkan karena dia memilih untuk menikah dengan ayahmu setelah wajahku rusak, padahal dia tahu kalau wajahku rusak karena menolong dia dari penjahat, tapi dia berkhianat dengan memilih Rizwan" jawab Suro semakin membuat Aisyah shok.
"Jadi Mbah pemilik ilmu pelet mati sebelumnya?" tanya Aisyah
"Iya, dan untuk melepaskan ilmu itu aku harus punya murid, Anjas lah muridku dan sekarang aku hanya perwujudan qorin Suro, karena Suro sendiri sejatinya sudah meninggal" jawab Suro
"Apa mas Anjas juga harus punya murid kalau ingin melepaskan ilmunya?" tanya Aisyah
"Sekarang dia punya kamu dan Anjas tidak butuh murid lagi, cukup kalian putuskan tali hitam yang mengikat dileher kalian masing masing dengan ritual pemutusan ilmu" jawab Suro