Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Perjodohan
Pada hari liburnya, Lin Dongxue menerima telepon dari Chen Shi.
“Miss Lin, hari ini Anda libur, bukan?” tanya Chen Shi.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Anda belum lupa kalau Anda berjanji akan mentraktir saya makan, kan? Saya baru menyelesaikan beberapa order, dan perut saya sudah keroncongan.”
Lin Dongxue mengingat janji itu. Saat itu ia hanya menjawab sekadarnya, tidak menyangka Chen Shi benar-benar mengingatnya. Ia akhirnya mengalah.
“Baik, aku traktir makan. Bisa jemput aku?”
“Alamat!”
Lin Dongxue memintanya menunggu di Gedung Komersial HuaYun. Setelah Chen Shi sampai, ia menoleh kiri–kanan tapi tidak menemukan siapa pun. Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan gaun hijau dan jaket crop hijau gelap membuka pintu mobil. Mata Chen Shi langsung berbinar.
“Oh, ternyata kau. Sampai tidak mengenalimu!” serunya.
Pakaian kasual Lin Dongxue biasanya cenderung maskulin. Hari ini, ia mengenakan pakaian baru dari ujung kaki hingga kepala.
“Kau memujiku atau bagaimana?” tanyanya.
“Apa menurutmu? Pakaiannya bagus, orangnya lebih bagus lagi. Tidak ada yang percaya kalau kau polisi,” kata Chen Shi sambil tersenyum.
Lin Dongxue mendengus. “Kalau kau bicara begitu, seolah polisi tidak boleh tampan atau cantik.”
“Setidaknya dari polisi-polisi yang pernah kulihat, tak ada yang secantik ini.”
“Kau benar-benar suka menggombal! Memangnya sudah berapa banyak polisi yang kau lihat?”
Lin Dongxue sempat mengira Chen Shi akan mengajaknya ke restoran mahal. Namun, ternyata ia memilih restoran biasa. Ia memesan beberapa lauk sederhana. Lin Dongxue mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya.
“Ini hadiah penghargaan dari kasus kemarin,” ujarnya.
Chen Shi menerima amplop itu dan menghitung isinya—dua ribu yuan.
“Setengah–setengah?” tanyanya.
“Tidak, semuanya untukmu. Menurutku kasus itu hampir seluruhnya kau yang selesaikan. Jadi, penghargaan ini memang hakmu.”
“Kalau begitu akan kuterima. Terima kasih.”
Lin Dongxue melongo. “Tidak sopan sekali kau ini!”
“Aku sudah menerima uangnya, jadi biar aku yang bayar makan siang ini. Bagaimana?”
“Tidak! Aku bilang aku yang mentraktir.”
Makanan segera dihidangkan. Chen Shi makan dengan lahap, seolah makanan itu luar biasa enaknya. Melihatnya, Lin Dongxue ikut merasa lapar. Ia bahkan makan lebih banyak dari biasanya, lalu menyesal dalam hati karena takut berat badannya naik.
Sambil makan, Chen Shi mengobrol tentang kejadian-kejadian unik ketika ia mengemudi sebagai sopir. Lin Dongxue mengamatinya dan merasa bahwa, dari sudut mana pun, Chen Shi memang terlihat seperti sopir biasa.
Hingga akhirnya ia bertanya, “Aku penasaran. Bagaimana kau bisa memecahkan kasus? Kau dapat pelatihan khusus?”
Chen Shi menyiramkan sup ke nasi. “Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menanyakan ini?”
“Aku penasaran! Selain itu, aku polisi. Kalau kau tak mau bicara, aku tetap bisa menyelidikinya.”
“Silakan. Masa lalu seseorang tidak bisa diringkas hanya dalam hitam-putih di atas kertas—terlebih seseorang dengan kehidupan luar biasa seperti aku.”
“Hmph. Sok misterius.”
Selesai makan, Chen Shi menawarkan, “Karena ini hari liburmu dan aku baru dapat dua ribu yuan, bagaimana kalau aku traktir nonton film?”
“Jangan mimpi!” Lin Dongxue mencibir. “Makan siang boleh, tapi aku tidak cukup dekat denganmu untuk nonton film, Pak Tua.”
“Tenang saja, kita pasti bertemu lagi nanti,” godanya.
“Sudahlah. Aku tidak akan mencarimu lagi!”
Namun begitu mereka berjalan melewati area ramai dan tiba di depan bioskop, Chen Shi menunjuk poster.
“Mission Impossible 6 baru rilis. Mau nonton?”
“Apa menariknya film berantem begitu?” ucap Lin Dongxue sinis.
“Tom Cruise kan tampan. Banyak gadis suka.”
“Hmph, aku tidak!”
Chen Shi masuk ke dalam bioskop dan langsung membeli dua tiket.
“Mulai 20 menit lagi. Mau nonton? Mau?”
Lin Dongxue ragu. Ia sudah lama tidak ke bioskop karena terlalu sibuk bekerja, dan sebenarnya ia cukup tergoda.
Chen Shi menawar lagi, “Begini saja. Kita masuk dulu. Kalau kau tidak suka, nanti malam aku traktir makan sebagai kompensasi.”
“Kau benar-benar tidak tahu malu,” gumam Lin Dongxue.
“Ayo, aku juga ingin nonton!”
Akhirnya Lin Dongxue mengalah. Namun baru hendak masuk, ponselnya berdering—dari Lin Qiupu.
Ia mengira sesuatu terjadi di kantor. Namun suara pertama yang muncul justru, “Kau ke mana saja?!”
“Ada apa?”
“Bukankah kukatakan kau ada janji perjodohan hari ini? Lelaki itu sudah menunggu satu jam!”
“Ah! Aku lupa! Kirimkan lokasi restorannya. Aku ke sana sekarang!”
Setelah menutup telepon, wajah Lin Dongxue langsung muram.
Chen Shi bertanya, “Ada apa? Kencan buta? Pantas kau berdandan cantik begitu. Aku bahkan lebih sedih daripada kau!”
“Tidak mungkin aku berdandan begini kalau ingat ada kencan buta!”
“Kalau begitu… kau berdandan untukku?”
Wajah Lin Dongxue memerah. Ia menginjak kaki Chen Shi spontan, membuatnya meringis.
“Wajahmu itu seperti buku terbuka!”
“Itu karena pertanyaanmu menjebak! Perempuan memang suka berdandan cantik kadang-kadang. Tidak harus untuk seseorang! Dasar laki-laki berpikiran sempit!”
“Baiklah, baiklah. Aku antarkan.”
“Tidak usah, kau kan mau nonton. Tonton saja sendiri.” Lin Dongxue berbalik pergi.
Namun beberapa langkah kemudian, Chen Shi menyusul.
“Aku antar!”
“Lalu tiketmu?”
“Akan kuberikan ke orang lain.”
“Kau bagi-bagikan?!” Lin Dongxue terkejut.
“Urusanmu lebih penting,” jawab Chen Shi sambil tersenyum.
Hati Lin Dongxue sedikit tersentuh. Walaupun ia tahu ini trik rayuan pria, entah kenapa ia tak keberatan jika berasal dari Chen Shi.
Setiba di restoran, Chen Shi memberi saran, “Perjodohan itu sederhana kok. Tidak perlu gugup. Cukup bicarakan hal-hal ringan.”
“Mata mana yang melihat aku gugup?”
“Baiklah, kau tidak gugup. Kau hanya berkali-kali berkaca dan membetulkan rambut tanpa berkata apa pun.”
“Aku diam karena… aku malas bicara denganmu!” gerutu Lin Dongxue sambil keluar mobil.
Masuk ke restoran, ia memindai para tamu dan tiba-tiba merasa benar-benar gugup. Seorang pria berjas rapi dengan kacamata berbingkai emas melambai kepadanya.
“Anda Nona Lin?”
“Ah… Anda…” Lin Dongxue mendadak lupa namanya.
“Marga saya Li!” Lelaki itu tersenyum, membuat kerutan muncul di sudut matanya. Penampilannya oke, tetapi wajah dan rambutnya berminyak, membuat Lin Dongxue merasa tidak nyaman.
“Nona Lin berdandan sangat cantik hari ini. Bahkan lebih cantik dari fotonya,” katanya sambil meneliti tubuhnya dari atas sampai bawah dengan cara yang membuatnya merinding.
Setelah duduk, pria itu mulai mengenalkan diri, lalu menanyakan berbagai hal: jumlah anggota keluarga, apakah ia warga lokal, tingkat pendidikan. Lin Dongxue menjawab satu per satu sambil menahan bosan.
Kencan buta memang benar-benar membosankan—seperti yang dikabarkan orang.
Makanan di meja tidak tersentuh. Pria itu terus berbicara panjang lebar soal pengalamannya saat studi di luar negeri sampai Lin Dongxue kehilangan fokus.
Tiba-tiba, ia melihat seseorang berdiri di luar jendela.
Setelah memperhatikan lagi, ternyata Chen Shi—tersenyum dan melambai dengan antusias.