NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

salah sangka

Sardhi menggeser layar ponselnya dengan saksama, sementara keheningan di ruangan itu terasa semakin mencekam.

Cahaya fajar yang mulai menyapu lantai apartemen seolah ikut menanti rahasia yang akan terkuak.

"Nah, ini dia... lihatlah dengan matamu sendiri, Bro," bisik Sardhi seraya menyodorkan ponselnya ke hadapan Cavin

Dalam rekaman video singkat berdurasi lima belas detik itu, terlihat suasana pesta pernikahan yang mewah dan penuh gemerlap.

Namun, fokus kamera bukan pada sang mempelai, melainkan pada sosok wanita yang sangat dikenali oleh Cavin: Alula.

Wanita itu tampak begitu anggun dalam balutan gaun sutra, namun yang menghancurkan hati Cavin adalah jemarinya yang bertaut mesra dengan lengan seorang pria paruh baya yang tampak begitu akrab dengannya.

Mereka tertawa, berbagi bisikan intim yang hanya dilakukan oleh sepasang kekasih tidak mungkin kan itu keluarga nya karena mereka begitu mesra.

Rahang Cavin mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tajam.

Belati pengkhianatan itu menghujam tepat di ulu hatinya. Wanita yang ia puja, wanita yang ia bela di depan para sahabatnya, ternyata tengah mengkhianati nya di belakang nya .

▪️▪️▪️▪️

Setelah kepergian sang dokter dari ambang pintu, Cavin kembali melangkah ke dalam sunyi nya kamar. Di atas ranjangnya sosok istrinya masih terbaring karena pingsan

Dengan langkah tergesa, Cavin berdiri di bawah kucuran air, sebuah pembersihan kilat yang didorong oleh kecemasan yang ia sendiri enggan di akui.

Tanpa sadar Ia berjanji pada batinnya, tak akan sejengkal pun ia melangkah meninggalkan nya sebelum Thalia sadar.

Keheningan ini bermula saat fajar, kala teman-temannya telah berlalu dari apartemen itu.

Cavin yang berniat kembali ke kamar nya tertegun mendapati kamar itu kosong

"Ke mana perginya wanita itu?" monolognya sembari menanggalkan busana, menggantinya dengan jubah tidur sutra yang dingin.

Namun, saat tungkainya melangkah ke dalam kamar mandi, jantungnya seolah berhenti berdetak. Thalia tergeletak di atas lantai kamar mandi, kulit nya pucat pasi seperti melati yang tercabut dari akarnya.

Tanpa pikir panjang, Cavin mengangkat tubuh istrinya membawa keluar dari dinginnya lantai dan membaringkannya dengan lembut di atas tempat tidur.

Ia segera memanggil Dokter Tom, dokter pribadi keluarga, sembari jemarinya dengan tangkas menghubungi sang sekretaris untuk menata ulang jadwal pertemuan yang kian mendesak.

Sementara itu, Dokter Tom yang dilanda kebingungan karena panggilan Cavin terputus sebelum alamat terucap

akhirnya menghubungi kediaman utama keluarga cavin Takdir membawa Mama Hera yang menjawab telepon itu, hingga sang ibu pun turut hadir di apartemen putranya, membawa kecemasan yang meluap-luap.

Di dalam kamar, Cavin terduduk di sofa kulitnya, mencoba membenamkan diri dalam arsip-arsip dokumen penting.

Di lantai bawah, asistennya, Nino, telah bersiap, menunggu aba-aba dari sang tuan untuk membelah jalanan kota menuju kantor.

"Ayah... Mei-mei ingin pulang... Mei-mei takut, di sini gelap..." Sebuah igauan lirih meluncur dari bibir Thalia yang bergetar. Meski matanya ter katup rapat, kristal bening terus mengalir dari sudut netranya, membasahi bantal yang menjadi saksi bisu kerapuhannya.

Entah angin apa yang menggerakkan Cavin, ia bangkit dan dengan jemari yang tak terduga lembut, ia mengusap sisa air mata di wajah istrinya.

"Apa yang sedang kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri, segera menarik tangannya seolah tersengat api, lalu kembali ke sofa, menjauhkan diri dari getaran aneh yang mulai merayap di hatinya.

Ceklek.

Daun pintu terbuka, membuyarkan lamunan Cavin.

"Cavin, kau tidak apa-apa, Nak? Dokter Tom bilang kau memanggilnya dengan terburu-buru. Apa kau sakit?" Suara Mama Hera

memecah kesunyian, tangannya dengan sigap meraba kening sang putra, mengecek setiap jengkal raga buah hatinya dengan penuh kasih.

"Mama, aku baik-baik saja. Aku memanggil dokter untuk memeriksa dia," ucap Cavin sembari mengarahkan pandangannya pada Thalia yang masih lelap dalam ketidaksadarannya.

"Oh, astaga... bukankah dia baru saja keluar dari rumah sakit? apa dia pingsan dan koma lagi" tanya Mama Hera, matanya menyiratkan rasa iba.

"Dia jatuh pingsan biasa di kamar mandi tadi pagi, Ma," jawab Cavin jujur.

"Mungkinkah... mungkinkah istrimu sedang mengandung, Nak?" seru Mama Hera dengan binar antusias yang tak terbendung. "Putraku ternyata sudah dewasa, sebentar lagi aku akan menimang cucu!"

"Tidak, Ma. Dia hanya dehidrasi. Begitu kata Dokter Tom," bantah Cavin datar, mencoba memadamkan api harapan di wajah ibundanya.

"Dehidrasi? Bagaimana bisa?"

"Ia kekurangan cairan, dan kelelahan"

"Kau ini bagaimana! Kenapa tidak bisa menjaga istrimu dengan benar? Pasti dia kelelahan mengurus apartemen luas ini tanpa bantuan pelayan. Lebih baik kalian pulang ke rumah utama, jangan memaksakan diri hidup mandiri jika hanya menyiksa diri," omel Mama Hera penuh penekanan.

"Mana mungkin dia sakit karena bekerja, Ma. Dia itu lebih sering keluyuran daripada menyentuh sapu," ujar Cavin sinis, kembali memalingkan wajah pada layar ponselnya.

"Suka sekali kau memfitnah istri sendiri!"

"Aku tidak memfitnah. Dia hanya pingsan biasa, karena kelelahan"

"Kau yakin dia tidak hamil?" tanya Mama Hera sekali lagi, seolah tak rela melepaskan angan tentang seorang bayi.

"Yakin, Ma. Sangat yakin."

"Lalu kenapa dia bisa pingsan dan dehidrasi apa kalian baru menghabiskan waktu bersama hingga ia jatuh pingsan "

"Ma, Cavin tidak seperti itu dan Dia tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah di sini. Dia dehidrasi karena aku menguncinya di dalam mobil sejak siang kemarin... mungkin dia haus," ucap Cavin tanpa sadar, meluncur begitu saja dari bibirnya yang angkuh.

"Cavin!" bentak Mama Hera, suaranya menggelegar penuh amarah.

Ceklek.

Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang masih memancarkan wibawa kepemimpinan. Xian Ru , sang ayah, melangkah masuk ke kamar sang putra

"Papa, lihatlah putramu ini! Dia menyiksa menantuku, menguncinya di dalam mobil seharian penuh "adu Mama Hera dengan wajah yang memerah karena emosi yang meluap.

"ada yang mau kamu jelaskan Yuan Ru ?" tanya Pak Ru keningnya berkerut dalam bahkan ia memanggil nama asli dari Cavin.

"Anakmu telah bertindak kejam pada menantu kita!" ulang Mama Hera dengan suara yang bergetar sedih.

"Cavin..." Panggil Pak Ru dengan nada yang rendah namun sangat tegas. Karena anaknya hanya menunduk

Ia bukanlah pria yang suka mencampuri urusan anaknya, namun ia tak akan membiarkan air mata istrinya mengalir karena ulah putranya.

"Aku tidak sengaja melakukannya, Pa," bela Cavin, suaranya kini terdengar seperti pembelaan seorang pria yang baru menyadari bahwa tindakannya telah melewati batas kemanusiaan.

Tak hanya dapat siraman rohani dari papanya bahkan mamanya yang dulu tidak begitu dekat dengan istrinya ikut membela nya juga, hingga akhirnya cavin minta maaf dan mengakui kesalahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!